
Tiap hari Ropy di sibukan dengan rutinitasnya, mengurus suami, memasak karena suaminya sangat menyukai pasakannya, mengelola rumah makan dan mengantar makan siang untuk suami.
Kalau anak anak sudah pada besar jadi sudah tidak mengurusnya setiap hari, paling weekend kalau ngumpul baru di masakin spesial.
Untuk bersih - bersih rumah, mencuci dan nyetrika dan lain - lainnya sudah ada art di rumahnya jadi tidak kewalahan, tapi kalau masak untuk suaminya hampir tiap hari Ropy melakukannya.
Tidak terasa sudah satu tahun Ropy menikah dengan Hartawan, dia semakin cantik dan mempesona. Karena selalu bahagia di manjain suami yang mencintai dan menyayanginya, dan dia selalu menjaga penampilannya.
"assalammualaikum" Hartanto dan Hartono masuk.
"waalaikum salam adik, kakak ada apa?" tanya Ropy kepada anak - anaknya baru datang dan memeluknya erat.
"mah nenek meninggal satu jam yang lalu kata ayah barusan nelpon, kita harus kesana sekarang karena nenek mau di kuburkan hari ini juga" jelas Hartanto.
"innalillahi wainna illaihi rajiun... mama juga mau ikut, tapi mama ijin papah dulu ya" kata Ropy sambil mengambil ponselnya di tas.
"assalammualaikum sayang, sudah kangen ya baru jam sembilan sudah telpon?" kata Hartawan di seberang sana.
"waalaikum salam ini pah ibunya mas Wendy meninggal satu jam lalu, kami mau melayat kesana pah" jelas Ropy.
"innalillahi... Smoga husnul khotimah... Ok mah papa juga ikut, kita pergi sama - sama ya" jawab Hartawan.
"aamiin pah terima kasih" Ropy.
"sama - sama sayang tunggu ya papa merapikan dulu berkas - berkas sebentar, itu si kakak sama si adik sudah ijin dari kantor?" tanya Hartawan sambil merapikan berkas yang ada di meja lalu mapnya di masukin ke laci - laci lemari yang ada di ruang kerjanya.
"sudah pah kakak dan adik sudah ijin, Doni juga sudah di kasih tau barusan telpon. tapi dia tidak ikut karena lagi mempersiapkan acara buat wisuda katanya"
Mereka semua siap -siap, termasuk ema dan abah karena mau ikut.
Mereka ber enam berangkat ke kota B untuk melayat ibu Nenih.
Dua jam lebih mereka sampai di kediaman bu Nenih langsung masuk untuk menyampaikan kata duka cita, dan mendo"akan yang wafat.
Keranda jenajah di keluarkan dari ambulance, lalu di usung menuju kuburan tempat jenajah bu Nenih akan di semayamkan.
Setengah jam berlalu penguburan jenajah sudah selesai, terlihat gundukan tanah merah dan batu nisan. Lalu semua berdo"a yang di pinpin oleh kiyai setempat.
Tepat jam empat sore semua sudah selesai Ropy dan keluarga pamitan mau balik lagi ke Jakarta, mereka menghampiri Wendy dan saudara - saudaranya.
"ayah yang tabah yah, nenek sudah tenang di sana" kata Hartanto memeluk ayahnya lalu di susul Hartono mereka bertiga berpelukan.
"mas kami pamit pulang ya sudah sore, takut kemalaman di jalan" kata Ropy sambil menggandeng tangan suaminya, menghampiri mantan suami yang sedang berpelukan dengan anaknya.
"iya mah terima kasih sudah melayat oh ya kemarin ibu titip salam buat kamu beliau minta kamu memaafkanya" kata Wendy menatap mantan istrinya sendu.
"iya mas sama - sama, aku sudah memaafkannya dari dulu" jawab Ropy.
Setelah berpamitan ke Wendi, anak - anak dan Ropy dan Hartawan pamit ke keluarga yang ngumpul di sana.
"beda ya kalau sudah di Jakarta semakin cantik dan glowing, sekarang terlihat berkelas kamu Rop ada yang nyesel tuh" kata istri mas Juna sambil memeluk Ropy, hanya dia yang menyayangi Ropy dulu.
"ah teteh bisa aja, aku pamit ya teh" jawab Ropy memeluk mantan iparnya.
"huuh sombong ya mentang - mentang sudah sukses" kata teh Nina sambil mencibir dia gak rela sekarang Ropy lebih sukses dan berkelas, sedangkan dia makin nyungsep karena gaya hidupnya tidak sesuai dengan pendapatan jadinya dia tekor deh.
Ropy cuek aja di bilang sombong oleh orang sombong, bukan mengabaikan teh Nina tapi memang teh Nina berdirinya paling ujung jadi dia terakhir menyalaminya
"apa sih mamah jangan cari gara - gara, ingat kita lagi ada di mana" bisik mas Juna ke istrinya.
Tidak terlihat Sarah di pemakaman itu "mungkin dia lagi di luar kota" pikir Ropy, ah bodo amat ngapain mikirin dia.
Setelah berpamitan mereka pun meluncur ke kota Jakarta, untuk pulang kerumahnya.