
"bi besok rumah makan kita tutup dulu, saya mau menghadiri wisuda si adik dulu buka lagi lusa nanti" kata Ropy kepada pekerjanya.
"gak usah tutup bu kami bosan kalau bengong gak ada kerjaan, ibu berangkat aja menghadiri wisuda cep Hartono" jawab bi Ijah hampir bareng dengan yang lain.
"Yakin gak mau libur niiih?" Ropy mengedip ngedipkan matanya.
"Iya bu yakin, ibu tenang aja kami senang melakukannya"
"ooh terima kasih peri - periku" canda Ropy sambil tersenyum.
-
Jam makan siang di rumah makan sibuk sekali, Ropypun ikut melayani pengunjung yang terus berdatangan hingga rela mengantri.
"Ini untuk meja no berapa" ada laki - laki yang mengambil nampan yang Ropy bawa.
"meja no delapan...eh Wan gak usah biar aku saja" kata Ropy sambil berjalan membawa nampan.
Hartawan ingin membantunya supaya Ropy cepat santai, dia berniat mengajak ngobrol sambil makan di situ tentunya.
"gak apa - apa Rop biar cepat, kamu layani meja lain aja" Hartawan kekeuh ingin membantu.
Ropy menyajikan makanan di meja delapan, lalu mengajak Hartawan ke belakang untuk mengambil pesanan para pengunjung.
Setelah dua jam lebih berkutat melayani pelanggan, akhirnya dia bisa makan siang dengan santai karena bisa di handle pekerjanya saja.
"masakannya enak, terasa pas di lidahku" kata Hartawan membuka obrolan.
"oh ya... Terima kasih" jawab Ropy sambil melanjutkan makan.
"besok aku makan di sini lagi jadi ketagihan nih, makanannya hangat dan enak di temani perempian cantik lagi"
"makan aja Wan, tapi aku besok gak bisa temani soalnya mau menghadiri wisuda si bungsu"
"Oh ya... selamat buat si adik, smoga ilmunya bermanfaat dan menjadi jalan untuk sukses"
"Aamiin... Terima kasih Wan"
"Gini Rop, sebetulnya aku kesini aku mau membicarakan lamaranku yang tempo hari kita bicarakan di telpon... Kamu sudah tiga tahun sendiri dan akupun begitu, ayok kita saling menjaga saling menyayangi di sisa umur kita ini... Menikahlah denganku... Insyaallah aku akan melindungimu sampai akhir hayat"
Hartawan menggenggam tangan Ropy, dia berharap lamarannya di terima. Semenjak pertemuannya di kantor dua minggu lalu dia langsung jatuh cinta dengan pandangan pertama, hampir tiap hari dia makan di rumah makan milik Ropy. Dan selalu menelpon atau bertukar pesan dengan Ropy... (seperti abg saja... Tapikan ada ya puber kedua hehehe... Lagian sah-sah aja mencintai walaupun usia setengah abad yang penting tidak mencintai istri/suami orang 🤭 apa sih autor ngomong sendiri 🤭)
"kemarin aku sudah membiicarakannya sama anak - anak, mereka setuju - setuju aja asal mamahnya bahagia. Tapi apa anakmu sudah mengijinkan?"jawab Ropy.
"Aku sudah ijin dari anakku, dan dia sudah mengijinkan aku menikah lagi dari setahun yang lalu malah. Anakku paling dekat denganku walaupun dia anak laki - laki tapi dia manja sama aku, makanya pas di pindah ke sini aku senang sekali karena bisa tinggal bersama anakku...dia anaku satu satunya, dan insyaallah cocok dengan anak - anakmu karena karakternya hampir sama dengan anak - anakmu tidak aneh - aneh dan insyaallah tahun depan dia wisuda juga" jelas Hartawan panjang lebar.
"bismilah... Smoga keputusan kita di restui dan diberkahi allah... insyaallah aku siap" kata Ropy yakin.
"alhamdulillah terima kasih Rop sudah nerima aku, dua minggu lagi kita menikah"
"terlalu mepet waktunya Wan bagaimana kalau sebulan lagi"
"dua minggu itu cukup Rop, aku punya teman yang punya wedding organizer aku sudah bicara dengannya dia siap kapan aja walaupun kita nikah minggu depan juga dia siap katanya."
Hartawan senyum -senyum masih menggenggam tangan Ropy, dia senang lamarannya di terima. Walaupun tidak lamaran resmi di hadiri banyak orang, tapi dia pikir berdua aja cukup mengingat usia mereka. Dan seminggu lagi sebelum acara pernikahan mereka berencana mengenalkan keluarga keduanya dengan makan bersama anak - anak mereka dan emak dan abah juga kakak- kakak Ropy, untuk minta ijin secara resmi. Kebetulan Hartawan anak tunggal dan orang tuanya sudah meninggal jadi dia hanya membawa anak dan pamannya untuk makan bersama keluarga Ropy.
"Eeh kak, dek... Sejak kapan kalian di sini" Ropy tersipu malu kepergok anaknya tangannya di genggam Hartawan
"Sudah lama ya kak" si bungsu menggoda padahal mereka baru aja tiba.
"iya... Santai aja mah gak usah malu - malu gitu" goda si sulung jail...
Mereka mencium tangan dan pipi ibunya lalu mencium tangan Hartawan calon ayah tirinya.
"apa kabar oom?" kata mereka
"alhamdulillah baik dan sehat, apa kabar juga jagoan - jagoan papa yang ganteng paripurna...baik - baik aja kaan?" jawab Hartawan menggoda juga.
"Alhamdulillah baik oom" jawab mereka lagi.
"panggil papa aja biar lebih dekat, lagian kami akan segera menikah ya kan mah?" kata Hartawan sambil mengedip - ngedipkan matanya menatap Ropy.
"cieeee mamah ceritanya sudah menerima lamarannya yaaa"
Ropy mengangguk dan menyuruh anaknya duduk untuk gabung.
"kalaian gak apa - apa kan papa menikahi mama kalian?" tanya Hartawan penuh harap.
"gak apa - apa, kami setuju - setuju aja asal mama bahagia... Tapi kalau om macam - macam sama mamah, om bakal berhadapan dengan kami" ujar Hartono mengancam sambil menatap tajam kepada calon papa tirinya.
"aduh papa takuut hahaha... Terima kasih kalian sudah mengijinkan kami menikah, kalian tenang aja mama kalian aman bersama papa" kata Hartawan sambil menepuk - nepuk pundak calon anak tirinya. "oh ya besok adik wisuda ya... Selamat yaa... Smoga ilmunya bermanfaat, berkah dan jadi jalan menuju sukses" lanjutnya...
"Aamiin" mereka serentak mengaminkan.
"Kakak dan adik mau makan apa, biar mama ambilkan" Ropy bertanya kepada anaknya, dia sengaja ngasih waktu kepada anak - anaknya dan calon suaminya supaya mereka bisa ngobrol lebih dekat.
"Seperti biasa aja mah kesukaan kami, sup sapi, ayam goreng dan tumis capcay, tapi mamah duduk aja disini biar kami ngambil masing - masing... nanti papa baru kita merindu kalau mama tinggal hehehe" goda si sulung jail.
"apaan sih kalian godain mama terus, ayo makan sudah jam tiga nih kelewat makan siangnya tuh..." kata Ropy tersipu.
"tadi abis jumatan kami udah makan baso mah, jadi belum terlalu lapar... Oh ya mah nanti malam ayah menginap di rumah kakak perkiraan jam delapan malam nanti ayah sampai" ujar Hartono memberitahu mamanya.
"nenek ikut kesini gak?" tanya Ropy.
"sepertinya tidak...kata ayah nenek sering sakit sakitan jadi badannya lemah, kalau di ajak kesini takut drop kasian katanya. Ayah cuma sendiri kesininya" jelas si bungsu.
"tanteu Sarah nggak ikut?" tanya Ropy lagi....
"nggak, enggak boleh ke sini...aku tidak mau bertemu tanteu Sarah... Dia jahat sama kita" kata si bungsu tegas.
"adik harus berusaha mengikhlaskan semuanya, cobalah belajar menerima keadaan... Toh semuanya sudah terjadi" kata Ropy sambil mengelus punggung anaknya.
"Pokonya enggak, aku gak mau bertemu dengan tanteu Sarah titik... aku malu sama teman - teman kalau tau kelakuan ayah... Dan bukannya terlihat bahagia dan rapi setelah hidup dengan tanteu Sarah malah tambah murung, setiap kali bertemu ayah wajahnya sendu dan badannya kurus seperti tidak terurus terlihat kucel walau bajunya bagus" Hartono keukeuh dengan pendiriannya.
"tapi adik harus belajar menerima, karena sudah jalan hidup kita seperti ini... Pelan - pelan aja ikhlasin tidak baik menyimpan dendam, karena dendam dapat mengotori hati kita. Jangan sampai hati kita di penuhi dendam, karena akan merusak pikiran kita... Mamah mohon belajarlah untuk ikhlas, mama sayang adik dan kakak... Mama tidak mau anak - anak mamah punya hati pendendam... Mama percaya kalian pasti bisa mengikhlaskan semuanya yang sudah terjadi pelan - pelan aja, supaya hidup kalian tenang" Ropy menasehati anaknya sambil memeluk mereka dengan sayang.
"papa setuju dengan mama kalian... anak papa juga awalnya membenci ibunya, tapi lama - lama dia menerimanya walaupun masih cuek kalau mereka bertemu. Tapi paling tidak dia sudah tidak marah - marah dan ketus lagi sama ibunya" Hartawan menimpali sambil menepuk - nepuk pundak kedua calon anak tirinya.