Ropy

Ropy
Mengelilingi Kebun Bunga Tulip



Semua siap-siap untuk melanjutkan tour mereka, setelag berkumpul mereka langsung bersngkat menuju Jerman.


Kurang dari dua jam akhirnya sampai ke Jerman mereka poto - poto hanya di Gerbang Brandenburg.


"Waaw gerbangnya sangat kokoh ya pah padahal di bangun abad ke delapan belas ya, usianya sudah sangat tua tapi masih rapi. Patung dewi klasiknya juga masih terlihat baru" kata Ropy takjub melihat bangunan lama tapi bagus.


"kan sering di pugar mah di pelihara, kalau tidak di pugar dan di pelihara ya lapuk sudah berabad abad mah" jawab Hartawan sambil terus menggandeng istrinya.


"Iya ya pah kalau tidak di pelihara, kita juga akan kusam ya hehe..." Ropy bercanda.


"bener mah, kita ini tua berjiwa muda dan kuat, kekuatan kita jarang dimiliki seusia kita lho mana ada mereka kuat lima sampai tujuh kali sehari kalau lagi libur haha..." Hartawan tertawa bangga.


Ropy tersipu malu mendengar candaan suaminya, dia melirik kanan kiri takut rombongan yang lain ada yang mendengar. Dan ternyata benar di samping mereka ada yang mengacungkan jempol sambil tersenyum ke arahnya. Ropy memerah mukanya dan menunduk.


"papah ih hal privasi ngomongnya keras jadi di dengar orang tuh mamah jadi malu" Ropy berbisik.


"ngapain malu sama mereka yang lebih muda justru mereka ingin seperti kita sehat dan kuat" narsis Hartawan.


Mereka bergantian mengambil gambar untuk kenang- kenangan nanti.


Selesai mampir dan berkeliling di Jerman mereka bersiap untuk menuju ke Belanda.


-


-


-


Sampai di Amserdam Belanda mereka istirahat untuk makan dan minum setelah itu mrelanjutkan perjalanan menuju kebun bunga tulip Keukenhof.


Selama di perjalana mereka takjub dengan pemandangan rumah - rumah yang halamannya luas dan rapi.


Mereka berkeliling dan poto - poto di depan tama bunga.


"papa ada labirin ayo kita masuk ke sana pah" Ropy menggenggam jari tangan suaminya masuk labirin.


"Iya mah labirinnya cukup luas juga ya ayo kita selfie" mereka terus berkeliling di dalam labirim.


"mama mau naik bangunan itu nanti kita poto dari atas supaya labirinnya kepoto pah"


Setelah sampai di tengah labirin ternyata ada bangunan semacam panggung beratap tanpa dinding, hanya di pagari pinggirnya saja dan lumayan agak tinggi naiknya lewat tangga . Cukup untuk poto - poto dengan bagron labirin.


"Ayo sayang kita naik" Hartawan menggandeng istrinya mereka jalan berdua naik bangunan itu, supaya labirinnya terlihat semua dari atas.


"Wah indah banget ya pah terlihat semua labirinnya dari sini" kata Ropy takjub.


Selesai mengambil gambar di labirin, mereka keluar dari labirin itu dan mengelilingi kebun bunga tulip lagi.


Ropy mengambil gambar lagi di depan kincir angin yang di bangun tahun 1892, waw lama sekali ya.


Mereka mengambil poto lagi di depan bunga tulip warna merah, terus di depan yang kuning dan lain lain, karena bunga tulipnya warna warnii di susun satu kotak merah, kotak yang lain putih, ada segi panjang, ada seperti L , ada segitiga tulip yang ungu dan bentuk lainnya. Pokonya bunga tulipnya indah dan tertata rapih dengan warna yang cantik - cantik.


"wooww indah dan cantik banget bunga - bunganya pah, andai dekat rumah kita pasti kita tiap minggu ke sini wawww cantiiik cantik semua" Ropy terkagum - kagum dengan keindahan bunga tulip di Keukenhof itu.


"Iya mah, coba kalau di Indonesia udaranya dingin sudah pasti papa nanam bunga tulip khusus untuk kamu seorang sayang" jawab Hartawan sambil mengecup kening istrinya.


Ropy mendokumentasikannya dengan video dan poto, disitu juga ada semacam danau buatan dan nusa kecil di tumbuhi pohon pohon tapi tertata rapi dan terlihat indah kita bisa melewati danau kecil itu lewat pijakan beton - beton yang berbentuk lingkaran dengan cara melompatinya satu persatu.


Setelah merasa cukup menjelajahi kebun tulip Keukenhof mereka keluar lagi menuju toko supenir, mereka ingin membeli cendra mata buat kenang - kenangan nanti.


Setelah selesai belanja supenir mereka naik kendaraan lagi menuju hotel.