
Ropy sedang asik membuat puding buah kesukaan keluarganya rencananya hari ini mau merayakan kehamilan menantunya, dia dan para karyawannya sibuk membuat hidangan untuk makan siang bersama nanti.
Tidak hanya dia, suami dan anak-anaknya Ropy juga mengundang besannnya untuk makan siang bersama.
"duh calon nenek satu ini sangat antusias menyambut calon cucunya, wajahnya semakin cantik dan glowing sampai aku silau di buatnya"
Budi menggoda tantenya dia ikut senang melihat tantenya bahagia, tapi memang keluarga Ropy senang bercanda jadi biasa kalau saling menggoda.
"iya dong Bud, walaupun usia tanteumu ini sudah mau kepala lima tapi terlihat dua puluh taun lebih muda kan? Dan nanti pasti orang bilang ini cucunya atau anaknya sih? Dan saat itu tiba tanteumu ini akan terlihat semakin glowing karena sinar kebahagiaan terpancar dari wajah tanteu"
"dih tanteu narsis banget hahaha...."
Mereka yang ada di dapur semua tertawa melihat tingkah Ropy yang balik mengejek ponakannya dengan menirukan ibu-ibu sosialita yang centil dengan bibir di menyon-menyon dan jari tangan di jentik-jentik.
-
-
-
Mereka semua sudah berkumpul di meja makan, Ropy keluar dari kamar setelah selesai mandi dan ganti baju karena tadi habis memasak dan ikut gabung bersama mereka.
"ayo kita mulai makannya mungpung masih hangat, pak Darwanto silahkan pimpin do'anya!"
Ropy meminta besannya memimpin do'a sebelum makan dan do'a untuk kesehatan cucunya dan untuk keberkahan hidupnya kelak, selesai berdo'a mereka langsung menikmati makanan yang di sajikan di meja itu.
"pudingnya benar-benar enak dan lumer di mulut, siapa yang bikin ini saya mau minta resepnya?"
Ibunya Sinta memuji puding buatan Ropy dan dia meminta resepnya segala.
"pasti ini buatan mama, soalnya kaka sangat mengenal rasa dan teksturnya buatan mama beda dengan buatan orang lain"
Hartanto memuji mamanya di depan mertuanya, karena dia tau puding buah ini selalu di buat mamanya kalau lagi ngumpul keluarga seolah-olah makanan wajib di saat bersama.
"nanti kita bikin bersama membuat puding untuk dibawa pulang, kalau melihat praktek langsung biasanya lebih mudah"
Ropy mengajak besannya membuat puding buah, dia mau praktek langsung dengan besannya
"iya mam kita lihat bersama cara mama membuat puding, supaya aku juga bisa kalau mas Hartanto menginginkan puding buah"
"iya ayo"
Sinta, mamanya dan mertuanya sepakat untuk praktek membuat puding, Sinta ingin banyak belajar dari mertuanya tentang memasak kesukaan suaminya soalnya dia belum pandai memasak.
Mereka suda selesai makan tapi belum beranjak dari meja makan, mereka cerita apa aja sampai lupa waktu untung hari minggu.
"ayo mah kita mulai bikin pudingnya takut keburu sore"
"ayo kita ke dapur"
Mereka bertiga beriringan berjalan menuju dapur Ropy mengumpulkan bahan-bahannya dan mulai membuat puding, Sinta merekam mertuanya sambil memperhatikan caranya dia membuat video supaya memudahkan saat nanti dia praktek sendiri.
Puding selesai di buat dan didinginkan, sambil menunggu dingin mereka kembali lagi gabung bersama yang lain.
"nak Sinta kerjanya di mana?"
"sekantor dengan ayah pah di kantor pemerintahan, kebetulan ayah kepala TU di kantor itu"
"bukannya kuliahnya satu jurusan dengan kakak, ko bisa masuk pemerintahan?"
"kami beda jurusan pah tapi satu universitas, Sinta jurusan managemen kalau kakak jurusan teknik. Jadi Sinta bisa masuk pemerintahan dan alhamdulillah tahun ini sudah menjadi PNS"
"alhamdulillah dalam usia muda sudah jadi PNS selamat ya"
"terima kasih pah, mungkin dewi keberuntungan lagi berpihak sama Sinta jadi sekali ikut ujian PNS eh langsung lolos"
"syukurlah berarti kamu memang hoki Sin"
"iya ya pah hehe...."
Hartawan berbincang dengan Sinta menantunya, beliau tidak canggung walaupun hanya orang tua sambung.
"tidak terasa ini sudah jam tiga, ayo mah kita pulang soalnya kita paling jauh rumahnya"
Pak Darwanto mengajak istrinya pulang karena waktu sudah sore, Ropy beranjak dan pergi ke dapur untuk mengemas puding dan makanan buat besannya.
" tunggu sebentar yah, mama mau ngambil puding dulu"
Bu Narti menyusul besannya ke dapur, dan terlihat Ropy sedang mengemas berbagai masakan.
"ini buat besan makan malam, nanti kalau mau hangat tinggal memasukan ke microwave aja karena wadahnya tahan panas"
"duh jadi merepotkan"
"tidak apa-apa jarang-jarang nyobain masakan kami"
"terima kasih ya, permisi saya pamit pulang dulu. Sesekali datanglah ke rumah kami"
"sama-sama, iya insyaallah"
Bu Ropy dan bu Narti beriringan keluar dari dapur masing-masing menjinjing makanan, lalu Ropy menyodorkan kotak makanan susun ke hadapan Sinta menantunya.
"terima kasih mah, wih makan enak terus hari ini"
"sama-sama, lain kali kalau mau makan sesuatu bilang aja sama mama nanti di kirimin"
"wih senangnya punya mertua yang perhatian"
Sinta memeluk mama mertuanya manja dia sudah tidak canggung sama sekali, melihat itu Hartanto dan orang tua Sinta sangat senang.
"adik juga pingin punya mertua dong, aku jadi iri sama kak Sinta"
"makanya buruan nikah jangan jomblo"
"allah mentang-mentang sudah punya istri, padahal kakak juga usia tiga puluh baru nikah"
"biarin tiga puluh baru nikah yang penting sekarang sudah, dan tujuh bulan lagi akan menjadi papa"
"iya iya calon papa, ingat ya kita beda empat tahun jadi kakak jangan sombong dulu, siapa tau di usia dua puluh delapan tahun aku sudah menikah dan punya anak dan kalau itu terjadi berarti aku ysng lebih unggul"
"sudah-sudah ayo kita pulang mas"
Sinta memeluk tangan suaminya ngajak pulang orang tua Sinta pamit untuk pulang di susul Sinta da Hartanto, mereka beriringan menuju mobil dan langsung melaju menuju rumah masing-masing.
-
-
-
"Bud mau enggak kalau tinggal di rumah kakak?"
"entar ya aku pikirin dulu"
"gitu aja di pikirin"
"abisnya gimana ya, tinggal di sini merasa nyaman selain banyak orang disini bebas mengambil makanan apa aja gratis lagi hehee"
"lha memangnya di rumah kakak harus bayar? ya enggaklah Bud"
"bukan begitu kak, kak Tono kan sibuk kerja sering pulang malam kalau aku rata-rata pulang kuliah jam empat sudah di rumah. Jadi sama aja sendirian"
"ya udah terserah kamu Bud, tapi kalau nanti berubah pikiran langsung aja bilang sama kakak"
"iya kak terima kasih"
"Don, Bud nonton avatar yuk ke bioskop, nanti jam lima tayangnya"
"hayu kak, Doni bosan sendirian di rumah"
"iya ayo, kita nonton bertiga sama-sama jomblo"
"ih apaan kamu ini masih kecil ya jangan ngomongin jomblo"
"tapi aku sudah dewasa, usiaku sembilan belas tahun kak"
"dih usia segitu mah masih kecil, jangan nyebut jomblo yak, ingat itu"
"inga-inga ting hahaha..."
"ayo kita berangkat sekarang nanti keburu sore takut macet di jalan"
"mah,pah kami nonton dulu ya"
"iya hati-hati kalau sudah selesai langsung pulang ya langsung istirahat, besok hari senin hari sibuk"
"iya pah, assalammualaikum"
"waalaikum salam"
"nanti kalian jangan lupa makan malam ya"
"siap mah"
Mereka bertiga pamit ke orang tuanya untuk berangkat ke bioskop.
"mah kita juga pulang yuk, papa sudah kangen anumu"
"ih papa coel-coel di sini ada mang Agus tuh"
"biarin mang Agus juga pasti begitu sama istrinya"
"iya iya, ayo pah kita pulang nanti kita lakukan gaya katak yang mau melompat"
"wih asiknya punya istri yang pengertian, ayo sayang jadi gak sabar ini"
"ayo siapa takut"
Hartawan memeluk pinggang istrinya, setelah pamitan kepada karyawannya akhirnya mereka pulang ke rumahnya.