
Max menatap ke arah meja di mana tempat Alandra berada, namun ia tidak menemukan gadis itu dan hanya ada tas dan jasnya saja
"Kemana dia?" Gumam Max dengan heran
Max meletakkan kopi buatannya ke atas meja dan menatap ke arah luar, dapat dirinya lihat Alandra sedang menerima telepon dari seseorang
"Apa itu telepon dari si Riki?" Batin Max dan hendak menemui Alandra namun gadis itu sudah menutup teleponnya dan kembali berjalan masuk ke arah caffe.
"Astaga sudah siap?" Tanya Alandra namun Max hanya bisa terdiam dan mengangguk singkat
"Apa ini buatanmu?" Tanya Alandra sekali lagi
Max hanya bisa diam dan membuka celemeknya kemudian meletakkan kembali ketempat semula.
"Dia kenapa sih? Diam diam aja.. emang dikiranya gue ngomong ama tembok kali ye?" Gumam Alandra dengan kesal dan langsung mengambil kopi yang iya yakini milik dirinya dan meminumnya
"OMG... Enak sekali kopinya.. apa ini buatannya?" gumam Alandra dengan tidak percaya akan lidahnya dan kembali merasakan kopi tersebut
Max duduk di tempat dirinya ada dan menatap ke arah Alandra, dapat ia lihat gadis itu sedang menikmati kopi buatannya ini
"Apakah ini kau yang buat? Dari mana kau belajar membuatnya?" Tanya Alandra sekali lagi
Max melirik ke arah Arlojinya dan langsung mengambil jasnya. "Bersiaplah.. kita akan kembali ke kantor"
"Tapi kopi mu saja belum diminum dan kopi ku juga belum habis"
"Masih banyak pekerjaan.. kalau begitu kau pulang naik taksi saja" ucap Max yang hendak pergi namun dengan cepat Alandra menarik tangan Max
"Baiklah aku ikut" ucap Alandra dengan terpaksa.
Iya saja tidak tau daerah ini bagaimana ia bisa menaiki taksi?
Max berjalan duluan dan diikuti Alandra, gadis itu mendumel kesal. Iya tidak mengerti ada apa dengan pria di depannya ini
"Cepat masuk" ucap Max
"Iya iya"
Alandra mendudukkan tubuhnya di kursi samping Max dan masih menatap aneh Max
"Apa obatnya habis? Kenapa dia tiba tiba menjadi pendiam seperti ini?" Batin Alandra saat menatap Max
"Pakai sabuk mu" ucap Max sebelum mengendarai mobilnya
*
"Hei kau kenapa? Apa kau sakit gigi?" Tanya Alandra membuat Max hanya melirik Alandra
"Ternyata iya yah kau sakit gigi... Kalau gitu aku akan merekomendasikan dokter gigi keluargaku padamu" ucap Andra yang hendak mengambil ponselnya namun dengan sigap Max langsung menahan tangan Alandra
"Aku tidak sakit gigi" ucap Max dengan datar
"Lah.. ini bule aneh dah... Gak sakit gigi tapi diam aja.. jadi apa? Kurang sajen?" Batin Alandra dengan kesal
"Siapa yang menghubungi mu tadi?" Tanya Max tiba tiba
"Yang mana? Yang dua jam yang lalu atau yang-"
"Disaat di cafe" ucap Max dengan cepat
"Kak Riki"
"Dia ngomong apa?" Tanya Max membuat Alandra menatap heran Max
Apa perlu dirinya menjelaskan isi dari percakapan tersebut?
"Hei kenapa kau tanya tanya aku? Seperti polisi saja" ucap Alandra yang tidak terima
"Apa yang dirinya katakan padamu?" Tanya Max sekali lagi membuat Alandra menghela nafasnya
"Dia mengajakku jogging besok pagi.. tapi aku tolak karena-"
"Bagus" ucap Max dengan senyum yang tercetak jelas di bibirnya
"Kau tersenyum? Kenapa kau tersenyum?" Tanya Alandra yang tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat
"Ehem... Mana ada saya tersenyum... Jangan mengarang... Sudahlah.. kau atur saja jadwal saya untuk senin nanti" ucap Max membuat Alandra mengerucut kan bibirnya dengan kesal
"Dasar bos gila kerja"
*
*