
“REMEMBER”
Saat ini jam istirahat makan siang. Aku dan Ihsan membenamkan diri di
salah satu meja taman sekolah dekat kantin.
Berbeda dengan anak di depanku ini, aku justru membawa
bekal sendiri dari rumah. Dua potong roti sandwich, dan susu kotak yang
kubeli dari kantin tadi, membuatku merasa aneh jika dibandingkan dengan
anak-anak lain, terutama lelaki.
Mau bagaimana lagi, aku cuma diperbolehkan memakan
makanan seperti ini oleh pengawasku. Cih!
Karena merasa tak nyaman, jadi kubiarkan saja sejenak di
atas meja.
"Dy, tugas dari Pak Bambang kemarin yang sudah kau
kumpulkan itu ... aku minta referensi lain soal bab 6."
Ihsan terus mengoceh, tapi aku memberi jawaban dingin
yang sama setiap kali dia mengoreksi jawaban pada lembaran miliknya.
"Ya, nanti aku jelaskan."
Ihsan melirik ke arah makananku. "Kau tidak
memakannya? Sayang sekali, ’lho," tanyanya seraya mengambil dan memakan
roti terakhirku. Anak ini!
"Niatnya kumakan nanti, tapi sialnya aku punya
teman rakus sepertimu."
"Hahaha. Maaf, maaf."
"Kau tadi sudah makan banyak, ’kan? Apa perutmu
tidak meledak?"
"Ahu mahih hapar. Hadi helum semfah sahapan."
"Telan dulu makananmu, baru bicara!"
Ihsan langsung meminum es tehnya dan mengemasi
lembaran-lembaran tersebut.
"Aku mau menyerahkan soal-soal ini dulu. Soalnya
harus dikumpulkan sebelum bel istirahat selesai."
"Ya, nanti langsung balik ke kelas saja. Sebentar
lagi mau masuk."
"Ya sudah. Aku pergi dulu."
Dengan begitu Ihsan pergi dan menyisakan aku di tempat
ini.
Di penghujung istirahat makan siang, kuhisap susu dalam
kemasan ini lewat sedotan, dan bisa kurasakan embusan angin sedang membuai
diriku.
Mataku yang sempat melihat sekitar menangkap sosok gadis
yang sekelas denganku tengah membawa lembaran sendirian. Sama seperti Ihsan,
sepertinya dia juga hendak mengumpulkannya ke Pak Bambang.
Tapi, bukan itu yang menarik perhatian dan membuat
mataku terus mengikuti langkahnya. Melainkan aura kesepian yang bisa kurasakan
darinya.
"Mau sampai kapan kau terus melihati Gita?"
Angin yang sama ikut membawa suara yang tak asing ke
telingaku. Saat aku menoleh, kulihat Putri sudah berdiri sambil mendekap
beberapa lembaran setebal satu centi. Dia kali ini tampak berbeda dengan yang
biasanya dia perlihatkan.
Oh, ya. Kalau aku perhatikan, Putri tidak mengenakan
riasan yang berlebihan seperti saat SMP dulu. Wajahnya jadi terlihat lebih
natural. Itu adalah bukti kalau dia telah berubah walaupun hanya sedikit. Juga saat dia tersenyum, mata indah
dan wajah belianya itu jadi tampak semakin menawan.
"Tumben sendirian, Dy? Ihsan mana?"
"Ke meja kerja Pak Bambang."
"Hmm. Kenapa tidak ikut?"
"...."
Kenapa juga harus ikut, sementara sebentar lagi mau
masuk?! Lagian kakiku juga masih sakit gara-gara Gita kemarin. Dasar, kenapa
dia tidak peka begitu, ’sih?!
"Kau sendiri mau kemana?" tanyaku balik.
"Oh ...," sesaat dia melihat
lembarannya," aku mau mengumpulkan ini juga. Anak-anak di kelas banyak
yang menitipkannya padaku."
"Terus, kenapa tidak bilang ke Gita untuk
menitipkan padamu juga?"
"Eh?" Putri berpaling dan terlihat gusar.
"Ah, itu ...."
"Ada apa? Aku perhatikan selama ini kau dan Ihsan
tidak begitu dekat dengan Gita. Kalian bertengkar?"
"Bu-bukan, bukan! Kami tidak sedang bertengkar,
’kok!"
Putri buru-buru berusaha menyangkal anggapanku. Namun,
entah kenapa dia termenung sejenak, kemudian dengan tenang duduk di sebelahku
dan bertanya dengan nada serius.
"Soal masalah Kak Sinta ..., kau sudah tahu?"
"Sudah. Termasuk soal dituduh menggelapkan uang dari Desa."
Sewaktu mendengarnya, wajah Putri menegang. "Kau
tahu dari mana?"
"Dulu Gita menelponku."
menggumamkan sesuatu. "Jadi ... Gita lebih memilih bercerita denganmu,
ya?"
Suaranya begitu pelan bahkan nyaris tak kudengar. Yang kulihat hanya bibirnya komat-kamit sambil menatap ke meja. Mantra
apa 'sih yang dia baca barusan?
"Ada apa, Put?"
"Eh? Tidak ada apa-apa, ’kok."
"Sungguh?"
"Sungguh! Hanya saja ... aku merasa Gita jadi
berubah semenjak kakaknya pergi. Dia seolah semakin
menjauh dari semua orang yang pernah bergabung di tempat itu."
"Bahkan denganmu?"
"Iya." Suara Putri semakin memudar. "Aku
jadi sangat khawatir dengannya."
Sejenak aku memikirkan sesuatu saat melihat wajah sendu
Putri. Kenapa Gita menjauh dari sahabatnya sejak kecil ini? Kenapa dia menjauh
dari kami? Kenapa dia seolah-olah tidak ingin ada orang lain masuk di
kehidupannya?
Jika dia benar-benar ingin menjauh, tentu saja dia tidak
akan bersikap ramah saat bertemu denganku di basecamp waktu itu.
Dari semua itu, aku hanya bisa menerka bahwa Gita tidak
tahu harus berbuat apa. Gita mungkin secara tak langsung sedang dikucilkan oleh
sekitarnya karena masalalu tentang kakaknya itu. Dan alasan dia menjauh dari
kami, bisa jadi karena dia tidak ingin sahabatnya jadi ikut terkucilkan hanya
karena berteman dengan adik dari orang yang dulu dituduh bermasalah.
Aku jadi mengerti kenapa dia menelponku waktu itu.
Mungkin hanya aku teman dekatnya yang tidak ada di sana. Jadi, dia bisa
mencurahkan kesedihannya.
"Gita tidak benar-benar berubah. Dia tidak ingin
menjauh dari kita," ujarku.
"Maksudmu?"
"Sebelumnya aku tanya padamu. Kalau aku mengajak
kita semua membuat suatu acara atas nama organisasi kita dulu, kau mau
ikut?"
"He?"
"Itu yang dia inginkan," aku buru-buru
memotongnya. "Saat kami bertemu di tempat itu, Gita masih bersikap seperti
dulu. Bahkan dia juga bercerita kalau dia masih merindukan kenangan kita
dulu."
"Tapi ..., bagaimana caranya? Desa juga sudah
memandang buruk organisasi kita. Kegiatan kita pasti juga tidak akan
disetujui."
"Aku tahu. Tapi kalau kita tidak mencoba, apa
gunanya?"
"...."
"Pertama-tama kita kumpulkan anggota yang dulu
pernah bergabung. Tidak harus semua, ’kok. Yang mau dan niat saja. Oh ya,
bilang kalau aku yang mengajak. Jangan Gita."
"Kenapa?"
"Nanti bakal banyak yang tidak mau, ’kan?"
"Hmm. Baiklah kalau begitu, nanti aku akan mengajak
yang lain."
"Oke. Terus, Minggu pagi kita kumpul di basecamp,
ya. Aku mau memberitahu sesuatu."
"Iya, nanti aku kasih tahu yang lain," ujar
Putri dengan suara yang semakin memelan.
"Kenapa? Kau keberatan?"
"Tidak, aku hanya gugup berbicara dengan Gita
nanti."
"Tenang saja. Gita belum berubah, ’kok. Kalau tidak
percaya nanti aku dan Ihsan akan mengerjainya."
"Kau ini ada-ada saja."
Saat mengatakannya, Putri hanya tertawa kecil dan
terdengar hampa. Lalu dengan senyum yang masih tertinggal di wajahnya itu, dia
berpaling ke arah lain.
Tak lama kemudian, bel yang menandakan berakhirnya jam
istirahat pun berbunyi.
"Ayo balik, Dy."
"Oke."
Putri pun beranjak menuju kelas. Sementara aku mengikuti
di sampingnya dan perlahan merasa sedikit aneh.
Ketika mulai sampai di pintu kelas kami, langkahku
perlahan terhenti. Putri merasa heran karena aku terus menatapnya, dan dia juga
ikut berhenti.
"Ada apa, Dy?"
Tepat saat dia bertanya, aku menyadari sesuatu yang
kurasa aneh tersebut. "Bukannya tadi kau mau mengumpulkan
lembaran-lembaran itu?"
"Hm? ... Aaah!"
※ ※ ※ (Bab 03) ※ ※ ※