Remember

Remember
(Bab 03) Indah



“REMEMBER”


Saat ini jam istirahat makan siang. Aku dan Ihsan membenamkan diri di


salah satu meja taman sekolah dekat kantin.


Berbeda dengan anak di depanku ini, aku justru membawa


bekal sendiri dari rumah. Dua potong roti sandwich, dan susu kotak yang


kubeli dari kantin tadi, membuatku merasa aneh jika dibandingkan dengan


anak-anak lain, terutama lelaki.


Mau bagaimana lagi, aku cuma diperbolehkan memakan


makanan seperti ini oleh pengawasku. Cih!


Karena merasa tak nyaman, jadi kubiarkan saja sejenak di


atas meja.


"Dy, tugas dari Pak Bambang kemarin yang sudah kau


kumpulkan itu ... aku minta referensi lain soal bab 6."


Ihsan terus mengoceh, tapi aku memberi jawaban dingin


yang sama setiap kali dia mengoreksi jawaban pada lembaran miliknya.


"Ya, nanti aku jelaskan."


Ihsan melirik ke arah makananku. "Kau tidak


memakannya? Sayang sekali, ’lho," tanyanya seraya mengambil dan memakan


roti terakhirku. Anak ini!


"Niatnya kumakan nanti, tapi sialnya aku punya


teman rakus sepertimu."


"Hahaha. Maaf, maaf."


"Kau tadi sudah makan banyak, ’kan? Apa perutmu


tidak meledak?"


"Ahu mahih hapar. Hadi helum semfah sahapan."


"Telan dulu makananmu, baru bicara!"


Ihsan langsung meminum es tehnya dan mengemasi


lembaran-lembaran tersebut.


"Aku mau menyerahkan soal-soal ini dulu. Soalnya


harus dikumpulkan sebelum bel istirahat selesai."


"Ya, nanti langsung balik ke kelas saja. Sebentar


lagi mau masuk."


"Ya sudah. Aku pergi dulu."


Dengan begitu Ihsan pergi dan menyisakan aku di tempat


ini.


Di penghujung istirahat makan siang, kuhisap susu dalam


kemasan ini lewat sedotan, dan bisa kurasakan embusan angin sedang membuai


diriku.


Mataku yang sempat melihat sekitar menangkap sosok gadis


yang sekelas denganku tengah membawa lembaran sendirian. Sama seperti Ihsan,


sepertinya dia juga hendak mengumpulkannya ke Pak Bambang.


Tapi, bukan itu yang menarik perhatian dan membuat


mataku terus mengikuti langkahnya. Melainkan aura kesepian yang bisa kurasakan


darinya.


"Mau sampai kapan kau terus melihati Gita?"


Angin yang sama ikut membawa suara yang tak asing ke


telingaku. Saat aku menoleh, kulihat Putri sudah berdiri sambil mendekap


beberapa lembaran setebal satu centi. Dia kali ini tampak berbeda dengan yang


biasanya dia perlihatkan.


Oh, ya. Kalau aku perhatikan, Putri tidak mengenakan


riasan yang berlebihan seperti saat SMP dulu. Wajahnya jadi terlihat lebih


natural. Itu adalah bukti kalau dia telah berubah walaupun hanya sedikit. Juga saat dia tersenyum, mata indah


dan wajah belianya itu jadi tampak semakin menawan.


"Tumben sendirian, Dy? Ihsan mana?"


"Ke meja kerja Pak Bambang."


"Hmm. Kenapa tidak ikut?"


"...."


Kenapa juga harus ikut, sementara sebentar lagi mau


masuk?! Lagian kakiku juga masih sakit gara-gara Gita kemarin. Dasar, kenapa


dia tidak peka begitu, ’sih?!


"Kau sendiri mau kemana?" tanyaku balik.


"Oh ...," sesaat dia melihat


lembarannya," aku mau mengumpulkan ini juga. Anak-anak di kelas banyak


yang menitipkannya padaku."


"Terus, kenapa tidak bilang ke Gita untuk


menitipkan padamu juga?"


"Eh?" Putri berpaling dan terlihat gusar.


"Ah, itu ...."


"Ada apa? Aku perhatikan selama ini kau dan Ihsan


tidak begitu dekat dengan Gita. Kalian bertengkar?"


"Bu-bukan, bukan! Kami tidak sedang bertengkar,


’kok!"


Putri buru-buru berusaha menyangkal anggapanku. Namun,


entah kenapa dia termenung sejenak, kemudian dengan tenang duduk di sebelahku


dan bertanya dengan nada serius.


"Soal masalah Kak Sinta ..., kau sudah tahu?"


"Sudah. Termasuk soal dituduh menggelapkan uang dari Desa."


Sewaktu mendengarnya, wajah Putri menegang. "Kau


tahu dari mana?"


"Dulu Gita menelponku."


menggumamkan sesuatu. "Jadi ... Gita lebih memilih bercerita denganmu,


ya?"


Suaranya begitu pelan bahkan nyaris tak kudengar. Yang kulihat hanya bibirnya komat-kamit sambil menatap ke meja. Mantra


apa 'sih yang dia baca barusan?


"Ada apa, Put?"


"Eh? Tidak ada apa-apa, ’kok."


"Sungguh?"


"Sungguh! Hanya saja ... aku merasa Gita jadi


berubah semenjak kakaknya pergi. Dia seolah semakin


menjauh dari semua orang yang pernah bergabung di tempat itu."


"Bahkan denganmu?"


"Iya." Suara Putri semakin memudar. "Aku


jadi sangat khawatir dengannya."


Sejenak aku memikirkan sesuatu saat melihat wajah sendu


Putri. Kenapa Gita menjauh dari sahabatnya sejak kecil ini? Kenapa dia menjauh


dari kami? Kenapa dia seolah-olah tidak ingin ada orang lain masuk di


kehidupannya?


Jika dia benar-benar ingin menjauh, tentu saja dia tidak


akan bersikap ramah saat bertemu denganku di basecamp waktu itu.


Dari semua itu, aku hanya bisa menerka bahwa Gita tidak


tahu harus berbuat apa. Gita mungkin secara tak langsung sedang dikucilkan oleh


sekitarnya karena masalalu tentang kakaknya itu. Dan alasan dia menjauh dari


kami, bisa jadi karena dia tidak ingin sahabatnya jadi ikut terkucilkan hanya


karena berteman dengan adik dari orang yang dulu dituduh bermasalah.


Aku jadi mengerti kenapa dia menelponku waktu itu.


Mungkin hanya aku teman dekatnya yang tidak ada di sana. Jadi, dia bisa


mencurahkan kesedihannya.


"Gita tidak benar-benar berubah. Dia tidak ingin


menjauh dari kita," ujarku.


"Maksudmu?"


"Sebelumnya aku tanya padamu. Kalau aku mengajak


kita semua membuat suatu acara atas nama organisasi kita dulu, kau mau


ikut?"


"He?"


"Itu yang dia inginkan," aku buru-buru


memotongnya. "Saat kami bertemu di tempat itu, Gita masih bersikap seperti


dulu. Bahkan dia juga bercerita kalau dia masih merindukan kenangan kita


dulu."


"Tapi ..., bagaimana caranya? Desa juga sudah


memandang buruk organisasi kita. Kegiatan kita pasti juga tidak akan


disetujui."


"Aku tahu. Tapi kalau kita tidak mencoba, apa


gunanya?"


"...."


"Pertama-tama kita kumpulkan anggota yang dulu


pernah bergabung. Tidak harus semua, ’kok. Yang mau dan niat saja. Oh ya,


bilang kalau aku yang mengajak. Jangan Gita."


"Kenapa?"


"Nanti bakal banyak yang tidak mau, ’kan?"


"Hmm. Baiklah kalau begitu, nanti aku akan mengajak


yang lain."


"Oke. Terus, Minggu pagi kita kumpul di basecamp,


ya. Aku mau memberitahu sesuatu."


"Iya, nanti aku kasih tahu yang lain," ujar


Putri dengan suara yang semakin memelan.


"Kenapa? Kau keberatan?"


"Tidak, aku hanya gugup berbicara dengan Gita


nanti."


"Tenang saja. Gita belum berubah, ’kok. Kalau tidak


percaya nanti aku dan Ihsan akan mengerjainya."


"Kau ini ada-ada saja."


Saat mengatakannya, Putri hanya tertawa kecil dan


terdengar hampa. Lalu dengan senyum yang masih tertinggal di wajahnya itu, dia


berpaling ke arah lain.


Tak lama kemudian, bel yang menandakan berakhirnya jam


istirahat pun berbunyi.


"Ayo balik, Dy."


"Oke."


Putri pun beranjak menuju kelas. Sementara aku mengikuti


di sampingnya dan perlahan merasa sedikit aneh.


Ketika mulai sampai di pintu kelas kami, langkahku


perlahan terhenti. Putri merasa heran karena aku terus menatapnya, dan dia juga


ikut berhenti.


"Ada apa, Dy?"


Tepat saat dia bertanya, aku menyadari sesuatu yang


kurasa aneh tersebut. "Bukannya tadi kau mau mengumpulkan


lembaran-lembaran itu?"


"Hm? ... Aaah!"


※ ※ ※ (Bab 03) ※ ※ ※