
“REMEMBER”
(Bab 02) Pertemuan
Mari merenung sejenak.
Apakah sebaiknya yang
menjadi fokus seorang remaja?
Saat kita sudah
menginjak masa SMA, pertanyaan seperti itu pasti sempat melintas di kehidupan
kita. Terutama ketika pelajar sudah dihadapkan dengan jenjang yang akan
ditempuh kelak. Dan jawaban terbesar dari mereka, sudah pasti akan mengarah ke
keberhasilan dalam studinya.
Tak ada yang salah
dengan pendapat itu. Lagipula tujuan itu juga termasuk bagian dari masa indah
remaja yang sering orang-orang katakan.
Namun, benar-benar
mengharapkan masa indah tersebut, membuat seseorang menjadi terlena dalam
menjalani kehidupan. Mungkin karena hanya terfokus dengan "masa remaja itu
masa paling indah", lalu menemukan kenyataan hidup yang sebenarnya.
Membuat kekecewaan muncul setelah semua terjadi tanpa sesuai dengan ekspetasi
kita.
Sakitnya seorang remaja
adalah banyaknya memilih apa yang baru dihadapkan dalam hidup, itu karena anak
muda sendiri diberkati oleh ketidak-stabilan dalam jiwanya. Mereka seolah sudah
merasa tahu mengenai permasalahannya, padahal belum paham betul. Sedangkan
masalah utamanya adalah; belum jelasnya masa depan, sumber pendapatan, pasangan
hidup, serta kesetiaan antar satu sama lain.
Tak ada yang mereka
kejar dari itu semua selain kebahagiaan yang indah dalam masa remaja mereka.
Sejatinya, sesuatu yang
indah dalam hidup adalah menaunginya dengan hal-hal yang baik, terutama untuk
orang lain. Karena sebaik-baik manusia itu yang hidupnya bisa memberi manfaat
kepada sesama.
Juga ... eh? Kenapa
pagi-pagi aku malah membahas hal seperti ini?
Sekarang aku sedang
mengikuti Bu Sri dari belakang. Beliau adalah Wali Kelasku yang baru. Ah,
tidak. Justru aku lah "yang baru" itu.
Sesuai yang kukatakan
waktu itu, aku akan melanjutkan sekolah sebagai murid SMA kelas 2 di tempat
ini, SMA 1 Trenggalek. Sebuah kota kecil di pesisir selatan provinsi Jawa Timur
yang dikelilingi oleh pegunungan. Hampir 60% wilayahnya dipenuhi dengan pegunungan
dan hutan, sisanya dataran rendah dan diakhiri dengan pantai. Karena itu, kota
ini memiliki tempat wisata yang lumayan banyak. Terutama pantai-pantainya,
seolah menyaingi keindahan pegunungan di sekitar yang begitu memanjakan mata.
Kami menyusuri sepanjang
lantai tanpa berucap sepatah kata pun, dan aku mulai penasaran kelasku nanti
seperti apa. Lagian sudah cukup lama aku tidak merasakan bersekolah di sini.
"Kita sudah
sampai."
Ruangan di mana Bu Sri
menghentikan langkahnya ini dari luar sudah terlihat cukup sederhana. Hanya
angka romawi "II" saja yang tertera pada plat pintunya. Selagi
kutatap plat tersebut dengan jeli, tiba-tiba Bu Sri membuka pintunya.
Pada saat itu, aku
merasa sangat gugup kala pintunya terbuka. Kemudian, semua mata sekaligus
melihatku. Tidak ada seorangpun yang berbicara, keheningan sudah menyelimuti
seluruh kelas.
Yah, apa yang kubenci
adalah suasana seperti ini.
Selama mendapat
pandangan tidak enak dari semua orang, aku menjawab dengan keheningan selagi
memasuki kelas dengan langkah berat. Sesaat terdengar bisik-bisik dari beberapa
orang yang bertanya ’dia murid pindahan itu, ya?’.
"Selamat pagi
anak-anak!" sapa Bu Sri.
"Selamat pagi,
Bu!" jawab mereka serempak. Yah, meski sebagian besar dengan nada yang tak
bersemangat.
"Pagi ini ada
kabar dari Kepala Sekolah bahwa kelas kita kedatangan murid baru. Namanya
Muhammad Ferdy Susanto, mungkin di antara kalian sudah tahu. Beliau ingin
kalian menyambut teman baru kalian, serta membantunya menyesuaikan diri,"
ujar Bu Sri.
"Baik, Bu!"
Lagi-lagi jawaban yang datar.
Ya ampun, kalian ini.
Dan juga jangan terus memasang "wajah penasaran" kalian itu padaku!
Beliau beralih padaku,
lalu berkata dengan kalem, "Silakan duduk di bangku itu. Ibu kembali
dulu," ujar beliau.
"Baik, Bu."
Aku pun melangkah,
lebih tepatnya mengarah pada deretan paling kiri bangku nomor empat. Tempat
duduk ini memang sudah diatur sesuai dengan nomor absen dan terpisah-pisah.
Jadi, kalau dilihat dari situ, berarti absenku nomor empat. Jujur aku tidak
suka dengan nomor awal-awal, lagian itu angka sial!
Aku duduk, lalu kembali
mengamati sekitar yang dari mereka semua masih melirikku sesekali. Alhasil, aku
hanya bisa membalas dengan senyum malu-malu.
Sungguh, aku merasa
sangat tidak nyaman! Jadi tolong kalian berhentilah memandangiku seperti itu!
Akan tetapi, dari semua
pandangan itu, hanya satu orang saja yang tak melihati kedatanganku. Dari
bangku pojok kanan depan, diduduki seorang gadis berambut lurus panjang yang
tengah menyangga pipinya. Dia dengan hening menatap ke depan seolah sedang
merasa bosan.
Saat itulah, perasaan
aneh muncul. Aku merasa sebuah déja vu ketika mengamati gadis tersebut.
Tepat beberapa detik
setelah itu, suatu suara mungil terlontar padaku.
"Ferdy!"
Aku menoleh ke samping
kanan demi melihat siapa yang memberi panggilan ambigu tersebut. Lalu mendapati
seorang gadis berambut ponytail tengah tersenyum.
Dia ... eh? Bukannya
dia ini ....
"Putri?"
"Ah, kau masih
ingat?"
Dia adalah salah satu
teman akrabku selain Ihsan sejak kami SD. Dia ini gadis yang sangat ceria, dan
sekarang sepertinya masih belum berubah. Dulu Putri juga selalu bersama dengan
Gita kemanapun dia pergi.
Oh iya. Kalau Putri di
sini, berarti dia juga ....
"Lama tidak
bertemu, kau terlihat banyak berubah. Bagaimana kabarmu, Dy?"
"Alhamdulillah
baik. Kau sendiri?"
"Alhamdulillah aku
juga sehat. Aku tidak menyangka kalau murid pindahannya itu kamu."
Aku tersenyum getir.
"Ah, iya."
"Kabarnya kau
masih dalam tahap penyembuhan, ya?"
"Iya. Aku disuruh
pulang oleh pelatihku. Jadi, aku akan sekolah di sini sementara waktu. Oh ya,
dengar-dengar kau mau ikut turnamen bulutangkis tingkat nasional, ya?"
"Ah, iya. Akhir
bulan ini pertandingannya dimulai."
"Berarti sebelum
ramadhan?"
"Iya, Dy. Doakan
nanti bisa menang, ya. Biar terpilih dan bisa mewakili negara. ’Masa cuma kamu
saja yang sudah merasakan main di luar negeri."
"Hahaha, iya. Aku
doakan supaya menang."
"Hey, kalian
berdua nanti saja reuniannya!"
Kalimat barusan
tiba-tiba memotong perbincangan kami. Aku dan Putri menoleh ke arah bangku
depanku, sementara lelaki tersebut hanya menolehkan separuh wajahnya ke
belakang.
"Ihsan? Kau
ternyata di sini juga?" tanyaku.
"Kau baru sadar
kalau aku duduk di sini?" Ihsan memberengut.
"Ah,
ma-maaf."
"Ya ampun, ternyata
kau masih belum berubah, Dy." Putri tergelak.
"Sudah, sudah!
Lihat! Guru sudah datang. Pelejaran mau dimulai."
Sesuai dengan apa yang
disampaikan Ihsan, beberapa detik kemudian seorang guru wanita masuk ke kelas.
Tentu saja semua murid langsung membenahi sikapnya masing-masing.
Beliau memberi salam
dan sambutan sebagai tahun ajaran baru untuk kami yang sudah menginjak kelas
dua. Sementara mendengar beliau bernarasi, mataku kembali sesekali tertarik
pada bangku pojok kanan depan tadi.
Dia masih saja bersikap
seperti itu. Terlebih lagi, kenapa aku seolah merasa kenal dengannya?
※※※
Kuambil tasku yang
tidak ada hal penting di dalamnya dan berdiri. Setelah pelajaran hari ini
selesai, orang-orang dengan cepat berangsur keluar dari kelas menuju tempat ekskul
masing-masing atau berjalan pulang ke rumah.
Ketika sudah melewati
pintu kelas dan berjalan keluar, sesosok anak lelaki tiba-tiba langsung
menghampiri dan berjalan di sampingku.
"Dy, kau langsung
pulang?" tanya Ihsan.
"Iya, lagian tidak
ada yang bisa kulakukan di sini. Aku juga tidak mau menjadi pusat perhatian
terus."
"Hmm. Oh ya, hari
ini kau mau mampir ke sana?"
"Ya. Tadi aku juga
mau ajak Putri, tapi katanya dia mau latihan dulu. Kau mau ikut?"
"Ah, kapan-kapan
saja, ’deh. Aku juga ada kegiatan ekskul hari ini."
Kami tiba di
persimpangan jalan.
"Ya sudah, aku
langsung ke sana dulu," ujarku seraya berbelok menuju jalur keluar.
"Oh ya, Dy!"
Langkahku terhenti.
"Ya?"
"Gita mungkin
sudah di sana."
"Ah, iya. Aku
tahu. Gita memang orangnya seperti itu," ujarku tersenyum getir.
"Tapi omong-omong
...."
"...?"
"Ah, tidak jadi.
Ya sudah, aku ke sana dulu, ya. Sampai nanti!"
Dia langsung lari
berlawanan arah dengan buru-buru.
Ada apa dengan
reaksinya? Sejak kemarin sikapnya agak aneh.
Kulanjutkan melangkah
kembali untuk bergerak pulang.
Lorong kelas tenggelam
dalam suasana yang damai. Murid-murid berjalan bolak-balik menuju arah yang
berbeda. Mereka tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti meskipun berjalan begitu
santai.
Aku memilih untuk
berjalan di sisi yang tidak terkena oleh sinar matahari agar tidak merasakan
panas. Kemudian menuruni tangga dan memperhatikan kepadatan siswa yang tidak
setinggi seperti tadi. Mungkin sebagian besar dari mereka tak memutuskan untuk
langsung pulang. Meski menjadi pusat perhatian, tidak ada seorang pun yang
memanggil atau bertanya padaku selagi terus berjalan ke gerbang depan.
Mulai dari sini, aku
menunggu dan menaiki bus yang menuju ke arah rumah. Meski begitu, aku lebih
memilih bus dengan rute yang berbeda dari yang biasa kunaiki.
Butuh sekiranya lima
belas menit untuk sampai di tempat tujuan dan turun di halte dekat jembatan
besar.
Selagi berjalan tenang
melintasi pinggiran sungai, aku melihat ke atas dan menjumpai gumpalan-gumpalan
awan raksasa yang melayang lembut di langit cerah. Berlanjut melewati sebuah
pasar kecil di depan persawahan. Sesekali merasakan sebuah nostalgia ketika
berjalan melewati toko mainan, toko roti, taman kecil, atau di depan SD.
Suhu di daerah sini
tengah turun meski cuaca sedang cerah, bahkan rasa dinginnya masih menembus
jaketku. Juga hawa tersebut membuat kaki kiriku jadi agak ngilu. Sesekali aku
berhenti untuk sekedar memijat-mijatnya agar lebih rileks sebelum melangkah
kembali.
Setelah belok kanan,
terdapat barisan kecil pohon cemara yang sudah gundul. Pada sisi kanan dalam
pandangan, aku bisa melihat bangunan usang dengan atap yang menghitam akibat
lumut. Bangunan yang mirip dengan rumah ini terlihat jelas lebih kecil jika
dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya. Namun, tempat ini memiliki halaman
yang luas. Terdapat meja dan kursi kayu berwarna cokelat di teras, juga sebuah
petak bunga yang dikelilingi dengan batu bata merah pada tamannya.
Walaupun begitu,
sekarang warna pelitur dari kursi dan meja kayu itu telah memudar karena
terkikis waktu, dan yang masih tertinggal dari petak bunga tersebut hanyalah
tanah pucat yang kering.
Dia terlihat kelam
tatkala ternaungi sinar terik cahaya matahari, dan itu membuatku hanya bisa
menatap sendu.
"Ada apa ini?
Kenapa jauh berbeda saat terakhir aku meninggalkan tempat ini?"
Aku jadi tidak bisa
berbuat apa-apa, kecuali menelan ludahku. Tempat yang dulu sangat berkesan saat
aku masih kecil, kini telah menjadi bangunan terbengkalai.
Oh ya, kalau tidak
salah Ihsan tadi juga ingin mengatakan sesuatu saat aku hendak kemari. Atau
jangan-jangan memang hal ini yang ingin dia sampaikan.
Ketika teringat hal
tersebut, suatu suara memanggil dari belakang.
"Ferdy?"
Aku berbalik menengok.
"... Eh?"
Hatiku yang terasa
sesak entah kenapa berganti dengan perasaan lega. Tubuhku membeku, saat melihat
sosok itu yang berdiri sekitar tiga langkah di belakang. Cahaya menjelang sore
yang redup entah kenapa kembali menunjukkan sinarnya dan menjatuhkan kilau emas
pada sosok tersebut.
Gadis berambut hitam
panjang yang nampak indah oleh pancaran mentari. Tubuhnya yang ramping itu
terbalut dengan sweater rajut putih nan cerah. Di lehernya
terlingkari sebuah liontin berbentuk mawar putih yang berkilau. Serta wajah
polos yang manis dengan mata indah tengah menunjukkan raut terkejutnya.
Dia ... siapa?
Kulihat di balik sweater-nya,
dia memakai baju seragam yang tak asing. Setelah memperhatikan kembali, aku
menyadari bahwa itu adalah seragam siswi di sekolahku.
Tunggu dulu. Kalau
tidak salah, dia ini gadis yang duduk di bangku pojok kanan depan tadi, ya? Itu
mungkin alasan dia tahu namaku karena kami satu kelas.
Tapi yang jadi
pertanyaan, kenapa dia datang kemari?
"Lama tidak
bertemu, Dy. Kau masih ingat tempat ini ternyata."
"Ah, iya."
Aku tersenyum getir. "Omong-omong, kamu dulu pernah ikut di sini,
ya?"
"...."
"...."
Begitulah yang kupikir,
tapi malah keheningan berlarut-larut yang menyapaku sebagai balasan. Hanya deru
laju sepeda motor tua yang menerjang keheningan.
Selagi kehilangan
kata-kata, dia menatap lurus padaku dan ... memberengut?
Kenapa? Apa ada yang
salah dengan pertanyaanku?
"Sudah kuduga. Kau
lupa denganku," ujarnya.
"Heh? Eh ..., aku
...."
Tanpa mendengar
penjelasan apapun, dia melangkah melewatiku menuju pada bangunan tersebut.
Setelah dia melintas, saat itulah aku jadi ingat raut wajahnya yang sedih pada
tiga tahun yang lalu.
"Gita!"
Spontan aku memanggil sembari mengikuti dari belakang. "Ma-maaf, Git.
Bukan maksudku begitu."
"Sama Ihsan dan
Putri saja masih ingat," sindirnya.
"Iya. Tapi aku
...."
Dia mengabaikanku
selagi mengeluarkan kunci dari dalam tasnya.
"Git,"
panggilku lagi.
"...."
"Mau bagaimana
lagi? Kau sudah berubah sekali. Waktu itu rambutmu masih pendek, dulu kau juga
memakai kacamata. Makanya aku tidak langsung mengenalimu."
"Alasan."
"Ya ampun, aku
tidak bohong! Dan juga kau sebenarnya tidak ingat denganku, ’kan? Di sekolah
Setelah pintunya
terbuka, Gita entah kenapa langsung berhenti dan menoleh, lalu masuk ke dalam.
Apa boleh buat, kuikuti
saja apa maunya.
Aku melangkah ke dalam,
dan mendapati ruangan mirip sebuah kelas yang amat kusam.
Ada kursi di dekat
jendela. Dari tengah terdapat beberapa meja panjang. Kursi yang lain ditumpuk
di atas satu sama lain bersama-sama dengan meja yang tidak terpakai. Tak ada
lemari, bahkan perabotan yang dulu seingatku masih ada di sini juga menghilang.
Di atas meja itu
terdapat lapisan debu tipis dan tumpukan kecil dokumen-dokumen yang sudah
memberitahu perputaran waktu di dalam ruangan ini.
Ini adalah pemandangan
yang amat berbeda dari dugaan. Perasaan tak nyaman mulai bergejolak. Tak ada
apapun yang bisa dikatakan sebagai perubahan yang baik dari tempat ini.
Aku memandang dengan
perasaan sedih, seakan mengusik dari kerinduan masa lalu.
"Sejak kapan jadi
begini?" tanyaku.
Sekali lagi Gita mengabaikanku
dan lebih memilih menaruh tasnya pada sebuah gantungan dekat pintu, begitu juga
dengan sweater yang baru dia lepas. Di dekat dia berdiri terdapat sebuah
sapu yang masih tersegel plastik. Kalau dilihat dari situasinya mungkin dia
yang membeli untuk hal ini.
Gita terpusat dengan
pekerjaannya, bahkan tanpa suara membersihkan ruangan ini.
Aku tanpa berpikir
panjang langsung ikut menaruh tas di gantungan, lalu dengan egois meraih alat
bersih lain untuk membantu. Ketika baru meraih kursi dan mulai menatanya,
tanganku dihentikan oleh sebuah suara.
"Tidak usah!"
Gita tidak menghentikan tangannya yang bekerja dan meneruskan kata-katanya
tanpa melihat ke arahku. "Aku bisa melakukannya sendiri."
“Tapi-,”
"Aku bisa
sendiri."
Begitulah kalimat kekeh
itu terlontar, tapi melihat ruangan yang sekotor ini pasti sangatlah sulit.
Ternyata Gita masih
keras kepala seperti dulu, dan mungkin tidak ingin merepotkan orang lain.
Buktinya dia mau saja membersihkan tempat ini sendirian.
Meski begitu, bagaimana
dia mencoba sebisanya sendirian itu sangatlah menakjubkan. Itulah kenapa aku
cukup tertarik dengannya.
"Jadi ... selama
ini kau menangani tempat ini sendirian, ya?"
Dengan bising kudorong
kursinya ke tembok, dan itu membuat Gita mengintip ke arahku. Ekspresinya entah
kenapa terlihat kesepian, lalu perlahan menjatuhkan matanya.
Dengan bangga
kutunjukkan kembali senyumku. "Tapi, aku bukan orang yang hanya bisa diam
melihat keadaan seperti ini."
"...."
Gita melihatku dengan
kosong, lalu berjalan ke arahku dan berhenti tepat satu langkah di depan. Dia
melirik ke bawah dan-
’Dug!’
-dengan ringan
membenturkan ujung sepatunya pada kaki kiriku.
"...!"
Seketika suatu rasa
sakit yang tajam menusuk dan menerjang tulang keringku. Rasa sakitnya bahkan
membuat sekujur tubuh langsung bergetar hebat.
"Aaaargh!"
Aku langsung dibuatnya
meringkuk sambil memegangi bagian yang luar biasa sakitnya tersebut. Sementara
Gita tertawa puas setelah mengerjaiku.
"Sudah kubilang,
’kan? Biar aku yang melakukannya sendiri."
“Iya, tapi jangan
menendang kakiku juga kali!”
"Tadi itu cuma
pelan."
"Pelan jidatmu!
Aku masih belum sembuh total!"
"Makanya, biar aku
saja yang membersihkan tempat ini. ’Sok keren, ’sih."
Sial! Gadis ini
langsung membuang jauh-jauh harga diriku. Aku benar-benar sakit baik fisik maupun
mental!
"Ya sudah. Kalau
begitu kau yang menyapu. Untuk bagian angkat-angkat biar aku saja. Terus ...
bffhahaha!"
"Jangan
tertawa!"
"Ya ampun, perutku
sampai sakit!"
"Woy!"
"Ah, maaf-maaf.
Ini sapunya."
Dengan hening tanganku
hanya bisa menerima sapu itu darinya. Cih! Sialan gadis ini!
Setelah mengatakan itu
terbalut tawa kecil yang masih tersisa, Gita berhenti mencoba untuk mencegahku
bekerja. Dengan begitu bersih-bersihnya dimulai tanpa ada cekcok lagi.
Meski sepanjang waktu,
aku terus meringis kesakitan sambil mendengar Gita menahan tawa.
※※※
Tiga jam berlalu, dan
kami akhirnya sudah membersihkan tempat ini. Yah, meskipun tidak seluruhnya,
lagian hari sudah mulai sore, jadi kami memutuskan untuk melanjutkan besok
saja.
Berhubung rumah kami
searah, kami berjalan bersama untuk pulang. Rumah kami memang tidak jauh,
mungkin butuh waktu sekitar lima belas menit jika melewati jalan pintas.
Mentari bergerak lembut
semakin condong ke barat. Di hamparan jalanan yang masih tak beraspal ini
terpancar cahaya jingga khas petang. Suara langkah kaki kami yang tak teratur
tersaingi oleh lalu-lalang kendaraan dan kicauan burung. Sesekali mataku
melirik gadis di sampingku, dia terlihat seolah bermain dengan bayangannya.
Berbeda dengan wajah lesuku, orang ini begitu ceria dari terakhir kulihat
beberapa tahun yang lalu.
Jadi emosinya sudah
stabil, ya? Entah kenapa dia bisa melupakan kemarahan soal aku yang sempat lupa
tadi.
"Jadi ..., sampai
kapan kau di sini?" tanya Gita tiba-tiba.
Mataku bergeser ke
arahnya beberapa detik, dan kembali ke depan. "Kalau tidak ada apa-apa
mungkin sampai naik kelas tiga."
"Jadi sekitar satu
tahun, ya?" gumamnya. Dia lalu melirik kakiku. "Kau ... terlalu
memaksakan dirimu, Dy."
"Ya ampun, kenapa
semua orang bilang begitu padaku?"
"Ya jelas, ’lah!
Kenapa kau malah terus menerobos? Bukannya mereka jelas-jelas ingin
mencideraimu."
Jadi waktu itu Gita
melihat pertandingannya? Yah, wajar saja. Soalnya pertandingan final, ’sih.
Saat itu tim kami sudah
di ambang keletihan. Satu per satu dari kami mengalami kram, dua di antaranya
sudah tak mampu lagi berlari. Sementara jatah untuk pergantian pemain sudah
habis.
Ajaibnya, kami bisa
menahan gempuran serangan mereka dan memaksa untuk pertandingan waktu tambahan.
Kami berniat untuk menghalau sampai adu penalti. Namun, melihat keadaan
tersebut tak sesuai dengan harapan, kami hanya bisa pasrah sampai waktu habis.
Akan tetapi, suatu
keberuntungan tiba-tiba muncul di detik-detik akhir. Di saat serangan lawan
terus menghujam, kami berhasil membuat serangan balik dengan cepat. Aku yang
hanya satu-satunya di depan mendapat umpan terobosan yang ditunggu-tunggu.
Tentu saja aku tidak ingin menyiakan kesempatan ini. Karena bagiku, adu penalti
lebih menguras mental dan semangat kami.
Aku terus berlari
menggiring bola, hingga sampai satu lawan satu dengan penjaga gawang. Saat itu
otakku benar-benar tak karuan karena letih yang amat sangat. Yang aku pikirkan
hanya ’Cepat masukkan bola itu sebelum waktu berakhir!’. Karena itulah aku
memutuskan untuk menendangnya keras-keras. Akan tetapi, penjaga gawang itu tak
hanya menghadang bola saja, tapi juga berniat menjegal. Hingga benturan yang
fatal mengenenai kakiku dengan telak akibat tackle-nya.
Aku terjatuh, dan tak
bisa merasakan apa-apa pada kakiku. Hatiku merasa sangat kecewa karena telah
menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku telah gagal menyelamatkan teman-temanku dari
siksaan mental adu penalti.
Di tengah rasa putus
asa tersebut, peluit mulai menggema dan semua hiruk-pikuk manusia telah
berhenti seakan lenyap ditelan waktu. Aku sudah tidak bisa membedakan apakah
itu peluit tanda pertandingan berakhir atau bukan. Mungkin saja itu peluit
karena pelanggaran, hanya itu yang pasti.
Akan tetapi, suara riuh
penonton langsung menggema di dalam stadion. Itu adalah suara teriakan kebahagiaan,
dan memaksa rasa penasaranku untuk menatap ke depan. Hingga aku menyadari
sebuah bola yang nampak samar tengah terdiam sendirian di dalam sangkar musuh.
Setelah itu aku
benar-benar tak ingat apa-apa lagi, kecuali wajah teman-temanku yang amat sangat
khawatir sebelum dibawa oleh ambulans.
"Yah, memang
benar. Tapi semua sesuai dengan perjuangan kami untuk negara," ujarku yang
terkenang akan momen mengharukan tersebut.
Gita membuang wajah
sedihnya ke depan dan bergumam, "Sudah kuduga, kau memang tidak berubah."
"... Oh ya.
Omong-omong, kenapa tempat kita sekarang jadi begini?"
Gita masih diam sambil
mempertahankan kemurungannya. Lalu dengan suara pasrah dia mulai bercerita.
"Semenjak
kepergian Kakak, tempat itu makin lama makin tak terurus. Semua anggota tidak
punya semangat lagi seperti dulu."
"Apa tidak ada
yang jadi penerusnya?"
"Ada. Tapi ya
...," Gita terhenti sejenak mengingat sesuatu, "semua tidak seperti
sebelumnya. Sebagian besar dari kami lebih memilih untuk fokus bekerja, bahkan
tak sedikit yang memilih untuk menjadi TKI."
Jadi begitu? Aku bisa
memakluminya. Meski sumber daya lumayan banyak, tapi SDM masyarakat setempat
masih belum meningkat dan membuat perekonomian di sini benar-benar tidak
menjanjikan. Mereka masih minim kesadaran akan pentingnya kegiatan yang
mengasah potensi generasi muda, seperti Karang Taruna dan sebagainya.
Akan tetapi, di sisi
lain aku tidak bisa menyalahkan mereka. Karena untuk menghidupkan sesuatu yang
sulit dihidupkan, harus membutuhkan tekad yang kuat.
Di dalam sebuah
organisasi, kelompok, atau perkumpulan, kita pasti pernah menjumpai hal semacam
ini. Ada beberapa orang yang mampu membuat organisasi tersebut menjadi hidup,
bahkan mampu menjadi daya tarik banyak orang. Namun, ketika mereka tergantikan,
organisasi itu perlahan meredup dan bahkan mati. Padahal tidak ada yang salah
dengan metode yang diterapkan oleh si penerus.
Mengapa demikian?
"Setiap masa ada
orangnya, dan setiap orang ada masanya." Aku menggumamkan jawaban yang
mungkin sesuai dengan keadaan ini.
"Dan aku akan
mengembalikan masa-masa itu," lanjut Gita.
Aku bisa merasakan
semangat Gita melalui ungkapan tersebut. Jadi karena itu dia memutuskan untuk
mempertahankan tempat ini sendirian.
"Kenapa kau masih
bertahan?" tanyaku.
Langkah Gita kian lama
mulai melemah. Wajahnya agak tertunduk, serta matanya seolah melihat masa lalu.
"Aku ... hanya
ingin memberikan perubahan yang lebih baik untuk Desa, terutama generasi muda.
Aku seolah merasa kesal, kenapa mereka yang memiliki bakat justru malah memilih
untuk mengikuti alur yang mengekang ini? Kenapa hanya sebagian kecil dari kita
yang bisa membanggakan Desa?!"
Sepanjang dia
berbicara, matanya mulai berkaca-kaca. Kemudian, nada kesal dan bergetar mulai
menyelip dari lanjutannya.
"Kenapa kita malah
menerima kenyataan yang jelas-jelas bisa kita rubah?! Dan juga kenapa
masyarakat masih saja tidak mendukung Kakak yang mati-matian berjuang untuk
mereka?! Kenapa mereka-."
"Gita!"
"...!"
Segera saja aku
memotong, sebelum air mata Gita yang sudah di ambang itu bakal terjatuh.
Gita berpaling, mencoba
menyeka dan menyembunyikan tangisnya dari pandanganku. "Maaf, aku malah
bicara yang tidak-tidak."
"... Kau melakukan
ini ... apa karena kepergian kakakmu?"
Gita tak menjawab,
suara sendatannya mulai terdengar selagi masih menyeka air mata. Itu
mengingatkanku akan Almarhumah yang selalu menyemangati kami untuk terus
berjuang.
"Aku hanya tidak
terima Kakak diperlakukan seperti itu, bahkan Kakak sampai tertekan dan bunuh
diri. Aku benar-benar tidak terima!" gumamnya terbalut tangis.
"Tapi
kenyataannya memang seperti itu," -pikirku.
Di dunia yang mulai
aneh ini, usahamu tak akan dinilai sebelum mendapatkan hasil. Inilah pemicu
terjadinya "menghalalkan segala cara". Orang lain tak akan peduli
seberapa keras perjuanganmu demi meraih hasil yang dicapai tersebut. Mereka
hanya bisa meremehkanmu saat memulai, mencibir saat kau melangkah, dan tertawa
saat kau gagal. Tawa mereka akan semakin keras jikalau kau sudah terpengaruh
oleh mereka dan memutuskan untuk menyerah.
Itulah tujuan iblis
yang sebenarnya, agar manusia gagal meraih keberhasilan yang hakiki.
Amarah mulai bergejolak
di dalam diriku. "Apa kau merasa kalau waktu itu ... Kak Sinta dijebak?”
Gita mengangguk,
berusaha untuk menahan isakan yang serak. Bahkan sekarang air matanya kembali
menetes. Ini pasti menyakitkan baginya.
"Aku akan
membantumu," kataku tersenyum.
Tekadku sudah bulat.
Aku tidak ingin lagi ada air mata kesedihan yang tumpah akan keputusasaan ini
setelah kepergianku nanti.
Namun tanpa diduga
justru tawa mungil yang dia beri atas keputusanku barusan. "Kau memang
tidak berubah," ujarnya sambil menyeka air mata.
Selagi Gita berkata
begitu, kami melanjutkan laju kami.
"Apa yang hendak
kau rencanakan?" Suara Gita lebih pelan dari biasanya.
"Mungkin ...
dimulai dengan mencari anggota dulu. Bagaimana?"
Meskipun Gita entah
kenapa tidak terlihat yakin, dia masih mengangguk tanpa bersuara. Kami tidak
mengatakan apapun selagi kembali melangkah. Matahari terbenam perlahan ke dalam
ujung barat bumi dengan dikelilingi oleh angin sore.
Senja hari ini sedikit
terasa hangat.
"Oh ya. Aku belum
bertemu dengan Dimas semenjak pulang kemari," ujarku.
"Dia sudah pindah
sejak lulus SMP."
Aku diam sejenak untuk
melirik Gita, lalu dengan enggan bertanya, "Kau ... masih dekat dengan
Dimas?"
"Iya. Kami masih
saling kontak." Dia juga melirikku sembari tersenyum. "Kau sendiri
juga masih akrab dengan Putri."
"Mentang-mentang
kami dulu pernah digosipkan, kau malah masih saja berpikir begitu."
"Habisnya kalian
langsung bisa saling ingat pas bertemu."
"Jangan mulai,
’deh!"
"Hahaha. Iya,
iya."
Aku meliriknya dalam
hening kembali. Sementara Gita masih menyisakan senyumnya.
"Omong-omong,
kenapa kau memanjangkan rambutmu?" tanyaku.
"Emm ...,"
Gita meraih sebagian rambutnya sambil melihatnya, "aku cuma ikut saran dari
seseorang. Katanya sekali-sekali aku harus mencoba memanjangkan rambutku."
"Hmm. Siapa?
Dimas?"
"...."
Kemudian langkahnya
terhenti selagi menatapku dengan hening. Wajahnya memberengut kembali, persis
saat tadi di depan pintu.
"Eh? Ada apa,
Git?"
Tanpa basa-basi Gita
menendang kakiku kembali seraya berteriak.
"Bukannya kau
sendiri yang menyarankanku?!"
※ ※ ※ (Bab 02) ※ ※ ※