Remember

Remember
(Bab 01: Awal)



 “REMEMBER”


(Bab 01: Awal)


 


(Dua tahun yang lalu)


Bergoyang-goyang.


Begitulah rasanya


ketika menaiki mobil ini. Pergerakan tersebut membuat kesadaranku ditarik


keluar dengan lembut akan damainya alam mimpi.


Itu adalah sebuah


pertanda bahwa aku hampir sampai di desaku tercinta. Maklum saja, untuk menuju


kemari harus melewati bukit-bukit kecil dan jalanan yang berkelok-kelok.


Duduk di depan sembari


membuka jendela. Tubuhku yang letih bersandar dengan santai, menikmati


pemandangan luar, dan merasakan embusan angin tatkala mobil sedan ini tengah


melaju.


Kenyamanan momen ini


begitu membuatku terbuai untuk tidur kembali. Meski begitu, buaian tersebut


kali ini sudah tak mempan lagi, semenjak jajaran pegunungan mulai terlihat


dengan jelas.


"Wuaaah~!" -pikirku.


Bagi seseorang asli


warga desa yang tinggal di dataran tinggi, pegunungan merupakan pemandangan


yang sangat ampuh untuk mengikis kerinduan setelah lama pergi.


Pada hari yang cerah


nan terik, bayang-bayang pesisir pantai mulai bisa terlihat. Namun aku tidak


begitu sering bisa menatap lautannya dengan jelas akibat terhalangi pepohonan


yang rimbun seperti ini. Alhasil, mataku hanya mampu tertuju pada pegunungan


itu saja.


Dengan begitu,


keheningan kembali menyelubungi mobil ini.


Anehnya, kian lama aku


merasakan suatu nostalgia dengan pemandangan semacam ini.


"Kenapa wajahmu


merengut begitu?" tanya pamanku, yang tengah mengendarai mobil.


"Aku jadi teringat


pas naik bus studi wisata sewaktu SD."


"Kenapa


memangnya?"


"Dulu aku duduk di


belakang, tepatnya dekat dengan guru-guru pengawas. Sementara berusaha menahan


mual sepanjang perjalanan, guru-guru pengawasku malah berisik merumpi di kursi


belakang."


Paman lalu tergelak.


"Kasihan sekali kau, Nak."


Benar-benar kenangan


yang menjengkelkan!


Mobil ini terus melesat


bagai tembakan panah, hingga menjumpai deretan kendaraan lain yang lumayan


panjang di depan kami. Sekarang adalah hari Minggu biasa, namun jalanan sudah


dipenuhi dengan berbagai kendaraan. Terkadang, kemacetan singkat sempat


terjadi.


"Jalannya lumayan


ramai," keluhku.


"Kau tahu, Dy?


Daerah sini mulai banyak dikunjungi wisatawan, bahkan luar pulau."


"Hmm. Aku tidak


tahu tempat ini mulai terkenal."


"Ya, begitulah.


Apalagi ada orang terkenal yang datang kemari. Pasti tambah


ramai."


Jawaban beliau


membuatku berpaling ke luar jendela sambil menahan tawa getir.


"Ya, dan bakal


dilupakan lagi," bisikku.


Sekarang setelah mulai


melambat dan meninggalkan dataran tinggi, kami masuk lebih jauh ke dalam


jalanan pedesaan. Mobil ini kemudian menyusuri jalan yang agak menyempit dengan


tanpa ada hambatan.


Omong-omong, bisa


berhenti melihat-lihat ibu-ibu muda dan agak fokus ke depan, Paman? Sebelah


mobil kita ini jurang, ’lho!


※ ※ ※


Aroma khas dari rumput


yang lebat adalah hal pertama yang menyapa kami. Entah kenapa rasanya


seolah-olah ada banyak ruang untuk bernapas.


Di suatu tempat pada


halaman tersebut, aku diam sejenak memandangi bangunan yang tepat di hadapanku.


Itu adalah rumah


tercintaku. Biarpun kecil dan nampak bergaya jadul, tempat ini menyimpan banyak


kenangan.


Ketika mengambil tas


kami dari mobil seperti yang diperintahkan Paman, muncullah dua orang dari


rumah dalam tersebut. Ibu dan adikku tengah memasang wajah ceria.


"Kak Ferdy


pulaaang!"


Fairus memekik,


berlari, dan langsung menerjang tubuhku. Aku merangkul dan menggendong tubuhnya


yang imut tersebut.


"Fairuuus! Ya


ampun, kau sudah semakin besar sekarang!" Sejenak kucium pipinya.


"Duh, makin cantik saja adikku ini."


"Kakak bawa


oleh-oleh?"


Astaga, anak ini. Dia


pasti sangat lama mengharapkan itu ketika mendengar aku akan pulang.


"Iya, ini di dalam


tas ada mainan buatmu. Tapi Kakak mau istirahat dulu, ya. Badan Kakak masih


sakit."


"Kalau masih sakit


cepat masuk sana!" tandas Ibu. "Kau ini sudah kebiasaan sering


memaksakan diri!"


"Maaf, Bu."


Aku tersenyum masam. "Oh, ya. Ibu mau ke mana? Pagi-pagi sudah bawa tas


belanja," tanyaku setelah menyadari ada sesuatu di tangan Ibu.


"Ya mau ke pasar,


’lah!" Sekali lagi Ibu memberengut. "Baru tinggal di luar negeri kau


sudah lupa, ya?"


"Eh, i-iya."


"Lagian kenapa


kasih kabar mendadak kalau mau pulang? Ibu jadi belum mempersiapkan


apapun."


"Ah, tidak perlu


repot-repot, Bu."


"Ya sudah, Ibu mau


ke pasar dulu," ujar beliau, lalu meraih tangan adikku.


"Ah, iya.


Hati-hati, Bu."


Dengan begitu beliau


dan Fairus melangkah pergi meninggalkan kami berdua.


Aku kemudian membawa


barang-barangku sendiri ke kamar. Saat membuka pintunya, kudapati tempat yang


sudah beberapa tahun tak dihuni ini sangat terlihat rapi.


"Ibu ternyata


menjaga kamarku begitu baik. Terima kasih, Bu," -pikirku.


Paman membawa sisanya


ke ruang keluarga, lalu setelah selesai beliau langsung pamit pulang.


Sekarang, tinggal aku


sendiri yang berada di rumah ini.


Kakiku bergerak menuju


ke jendela besar di sisi timur kamar. Jemari yang terasa hangat-hangat tipis


ini berusaha membuka gorden berwarna biru muda, kemudian cahaya silau mentari


khas pagi langsung mewarnai seluruh kamar dengan kuning pucat.


Dari jendela ini, aku


bisa melihat jelas lapangan yang membentang sekitar 20 meter dari sini. Nampak


begitu hijau, seolah akan terasa sangat nyaman jika mencoba untuk merebah di


atas sana. Pada hamparan hijau tersebut, aku juga melihat sekelompok anak-anak


tengah asyik bermain bola.


Kuambil jaketku kembali


yang sebelumnya berada di atas kasur, kemudian bergegas keluar dari rumah dan


menuju lapangan tersebut.


Kurang dari satu menit,


itulah waktu untuk sampai ke tempat itu.


Aku berdiri di sisi


lapangan, memandang jeli setiap pergerakan akan permainan mereka. Oper sana,


oper sini, melewati hadangan pemain belakang, berhadapan satu lawan satu dan


...!


"Goool!" pekik


sebagian dari mereka seraya membuat selebrasi.


Sungguh itu adalah


permainan yang amat bagus bagiku. Terutama kerja sama mereka yang menawan.


Oke, sekarang


pertandingan kembali berlanjut. Pihak lawan memulai tendangan awal. Mereka


mengoper ke belakang untuk memancing musuh keluar dari wilayah pertahanan.


Nampaknya pihak lawan


tidak mengendurkan semangat setelah kebobolan. Terbukti mereka begitu terampil


membuat pola serangan melalui umpan "antar provinsi" yang sangat


cepat!


Si penyerang


mengelabuhi dua pemain belakang lawan, dan pertarungan satu lawan satu dengan


penjaga gawang pun tak terelakkan! Pergerakan "kelok 9"! Mengecoh


penjaga gawang, dia menendang keras dan ...!


’Dwang!’


Tanpa diduga tendangan


"jebret!" itu akhirnya dihadang oleh kokohnya tiang gawang. Sayang


sekali, pemirsa!


Omong-omong, kenapa aku


jadi seperti penyiar sepak bola begini?


Saking kerasnya


terpental, bola itu melambung jauh dan mengarah padaku. Semua mata memandangi


pergerakan bola, tak terkecuali aku sendiri.


Secara tak sadar aku memusatkan


mata pada benda bulat tersebut. Ketika bola itu sampai, aku menyambutnya dengan


dada.


Saat itulah instingku


muncul secara spontanitas. Bola itu memantul sesuai dengan yang kuinginkan.


Mengarah ke atas dan berhenti tepat di kepala, lalu menahannya selama tiga


detik penuh. Kupantulkan kembali dan mendarat tepat di tengkuk kaki. Melakukan


gerakan jagling beberapa detik dan berakhir mengoper ke arah


anak-anak tersebut.


"Tangkap! ...


Eh?"


Aku dengan semangat


menendang bola itu ke depan, namun yang kudapat malah wajah diam mereka yang


begitu tertegun.


"Itu Kak


Ferdy!" pekik salah satu dari mereka.


Pekikan itu seolah


sebuah tanda untuk mereka berlari menuju ke arahku.


"Heh?! Eh,


tu-tunggu dulu!" Ungkapan pasrah itu hanya bisa muncul tak beraturan,


setelah melihat wajah mereka yang sangat bersemangat semakin mendekat dan


berhenti tepat satu langkah di depanku.


Apa ini? Apa mereka ini


anak burung yang melihat induknya sedang membawa makanan?


"Wah! ’Beneran Kak


Ferdy yang asli!"


Bocah ini! Memangnya


aku ada versi yang KW-nya?!


sejak kapan?!"


"Bagaimana Kak


rasanya bermain di Eropa?!"


"Kakak sudah


sembuh, ’kan?"


"Kak, ayo lakukan


seperti tadi!"


Hujaman kalimat


tersebut tak henti-hentinya mereka lontarkan. Aku hanya bisa memasang senyum


getir dan berkeringat dingin karena bingung harus bicara dari mana dulu.


"Kakak akan main


lagi ke Timnas, ’kan?"


Nah, yang satu ini


kujawab. "Yah, sepertinya."


"Lalu kapan Kakak


main lagi? Rasanya kalau tidak ada Kakak, Timnas tidak begitu kuat."


"Jangan bilang begitu,"


bantahku lembut. "Mereka semua sama seperti Kakak. Mereka juga hebat,


tanpa kerjasama tim, kita tidak mungkin bisa jadi juara."


"Ya, benar!"


Tiba-tiba aku menangkap


suara lain yang familier tepat di belakang.


Aku menoleh, melihat


siapa si pemilik suara tersebut. Sementara orang itu berjalan dengan santai


menuju ke arah kami sambil berbicara.


"Seorang anak


berbakat, bergabung dengan Timnas U-16 saat usianya masih 13 tahun. Membawa


Indonesia lolos ke putaran final dan menjuarai piala asia. Beberapa tahun pada


kompetisi berikutnya, dia juga berhasil mengantarkan negara menjadi juara dunia


U-16 dengan gol semata-wayangnya di menit-menit akhir. Namun sayang, kemenangan


itu harus dibayar dengan cideranya pemain andalan Timnas tersebut."


Tepat setelah selesai


bernarasi, dia berhenti di hadapanku selagi tersenyum.


"Ihsan?"


tanyaku sembari mengingat-ingat kembali wajah sahabatku dari kecil tersebut.


"Lama tidak


bertemu, Dy."


 ※ ※ ※


Kami berdua dengan


damai duduk di bawah naungan pohon besar nan rindang. Memandang ke depan,


terutama pada anak-anak barusan yang melanjutkan pertandingan mereka.


Ihsan sesekali meneguk


air mineral dari botol yang dia bawa. Nampaknya dia sangat lelah sekali,


terbukti suara tegukannya begitu keras. Peluhnya tak henti mengalir, bahkan


nyaris seluruh bagian punggung kaos hijaunya menjadi gelap.


"Habis dari mana,


San?"


"Dari


kebun."


Oh, benar juga.


Keluarga Ihsan punya banyak perkebunan yang lumayan luas. Pasti saat ini dia


sangat kerepotan mengurus perkebunan tersebut. Ditambah lagi dia adalah anak


tertua dari lima saudaranya.


"Baru datang


kapan?" tanya Ihsan.


"Sekitar jam 8


tadi."


Dia melirik ke arah


kakiku. "Bagaimana cideramu?"


"Ah, sudah


mendingan. Meski tadi sempat nyeri pas menendang bola."


"Ya iya, ’lah.


Patah tulang itu jangan diremehkan! Ini malah dibuat menendang. Jangan


memaksakan diri!"


"Cerewet! Kau ini


ibuku, ya?!"


Ihsan tergelak, dan


masih tertawa dia bertanya, "Terus, bagaimana rasanya pas waktu itu?"


Seketika wajahku


mengernyit, membayangkan kenangan kelam yang masih teringat dengan jelas.


"Rasanya ...


benar-benar mengerikan. Bahkan aku masih ingat patahan tulang keringku sampai


menembus kaos kaki. Aku benar-benar tidak bisa merasakan kaki kiriku selain


rasa sakit yang tak karuan. Bahkan setelah operasi pun kakiku masih mati


rasa."


"Begitu, ya? Tapi


kenapa kau malah pulang ke Indonesia? Bukannya kau masih dalam tahap


penyembuhan, ’kan?"


"Bukan aku yang


minta pulang, tapi pelatihku."


"Pelatihmu?"


"Katanya aku harus


banyak-banyak istirahat dan tidak boleh banyak bergerak untuk waktu yang sangat


lama. Karena itulah aku disarankan untuk pulang, sekalian menenangkan pikiran.


Bahkan sampai dibawakan beberapa orang medis dari klub mereka untuk


merawatku."


"Oh.Mungkin mereka


merasa kau bakal tertekan setelah mengalami hal tersebut. Secara kau itu pemain


muda."


"Bisa jadi.


Padahal aku sendiri sama sekali tidak merasa begitu. Di sana aku seolah-olah


diperlakukan berlebihan."


"Mereka mungkin


merasa bersalah padamu. Final kemarin Timnas melawan negara mereka, ’kan?"


"Iya. Tapi, aku juga


tidak ingin diperlakukan seperti itu. Mendapat cidera fatal di olahraga ’kan


wajar."


Mendengar jawaban


tersebut, Ihsan mengernyit heran. "Kau ini antara tahan banting dengan


masokis tidak beda jauh, ya."


"Ya, ya, ya.


’Ngoceh teruus~!"


"Hahaha. Maaf, maaf."


Ihsan sejenak meneguk airnya. "Oh ya, bagaimana rasanya bisa bergabung


dengan klub besar di Spanyol?"


Ekspresi agak depresi


mulai menaungi wajahku. "Aku tidak mengerti mereka bicara apa."


"Makanya,


tingkatkan dulu bahasa inggrismu."


"Mereka pakai bahasa


spanyol! Kalau pakai bahasa inggris terus aku juga bisa. Dan juga, pas


awal-awal aku tidak terbiasa dengan makanannya. Jadi aku terpaksa memasak


sendiri di asrama."


Ihsan tergelak kembali.


"Ya ampun, kau norak sekali."


"Mau bagaimana


lagi."


Aku terus diam setelah


menggumamkan kalimat tersebut. Sementara Ihsan sendiri masih saja menertawaiku.


Tawanya seiring


berjalannya detik demi detik kian memudar, hening, dan kembali mengarah ke


depan melihati anak-anak tersebut. Dari sini mereka sudah di ambang keletihan,


dan kemudian pertandingan itu berakhir dengan sendirinya.


"Terus, kau di


sini sampai kapan?"


"Kira-kira satu


tahun. Dan juga ... aku melanjutkan sekolah di sini."


"...."


Hal pertama yang dia


lakukan adalah berhenti mematung dan menatapku tanpa suara selama 3 detik


penuh. Kemudian, tanpa mengatakan sepatah kata dia membuka mata lebar-lebar.


"Hah?! Kau sekolah


di sini?!"


"Iya."


"Di mana?"


"SMA sini, ’lah.


Prosesnya juga sudah lama selesai."


"... Begitu,


ya?"


"Kenapa?"


"Ah, tidak. Aku


hanya kaget saja."


"Hmm. Oh ya, San.


Bagaimana dengan tempat kita dulu? Masih baik-baik saja, ’kan?"


"Heh?! Ah,


i-iya," jawabnya gusar.


Ada apa dengan


reaksinya itu? Kenapa dia seolah-olah sedang menyembunyikan sesuatu?


Tepat saat


menerka-nerka hal tersebut, ponsel di saku celana Ihsan berdering. Dia sejenak


mengambil dan memeriksanya, lalu mulai beranjak.


"Aku balik dulu,


Dy. Mau ambil obat anti hama di tokonya Pak Sugeng. Nanti aku mampir ke


rumahmu."


"Ya, aku


tunggu."


Ihsan berbalik dan


berjalan menuju sepeda motornya yang berjarak dua meter dari punggungku. Ketika


tengah memandangi kepergiannya, pergerakan Ihsan terhenti saat dia sudah


menyalakan motornya.


"Oh ya, Dy. Aku


lupa memberitahumu sesuatu."


"... Apa?"


"Kalau kau


penasaran, datang saja ke sana."


"Ya. Nanti aku mampir


ke tempat itu."


"Dan satu


lagi," dia tersenyum, "Gita masih sekolah di sini."


"... ...!"


"Sampai


jumpa!"


Dengan begitu Ihsan


memutar gas dan melesat semakin jauh. Sementara aku hanya bisa diam tanpa


membalasnya.


Berkat apa yang


disampaikan Ihsan barusan, aku mengingat kembali suatu kenangan yang sudah


tertimbun di memori.


Terutama ... di saat


raut wajah gadis itu yang tersenyum dan menangis.


"Jadi ... dia


tidak melanjutkan sekolah di Surabaya?" gumamku.


Aku beralih ke depan,


dan menghirup udara dalam-dalam seraya menikmati suasana hangat ini. Wajahku


menengadah ke langit melihat awan yang berjalan lembut. Terkadang, cahaya


matahari muncul dan bersembunyi di antara celah-celah gumpalan putih tersebut.


Awalnya aku merasa


begitu nikmat akan suasana ini. Namun semakin lama, saat cahaya mentari mulai


meredup karena tertimbun awan, ada suatu perasaan sesak menjalar secara


perlahan di hati. Perasaan itu muncul kembali, yang sering menghantui hidupku


dan begitu mengganggu.


Tanpa sadar bibirku


bergumam kembali dengan sendirinya.


"Apa dia ... masih


marah padaku?"


※ ※ ※ (Bab 01) ※ ※ ※