Remember

Remember
Raka Ditipu Ivan?



Keesokan Hari


"Apa kamu sudah siapin semuanya?" Tanya Alan pada Raka yang sedang mengotak ngatik ponselnya


"Tentu saja sudah dong, Raka gitu loh" ucap Raka dengan nada angkuhnya


"Gimana tampilan papa? Tampan gak?" Tanya Ivan yang tiba tiba muncul dengan pakaian formalnya


"Biasa ajaa tuh" ucap Raka dengan datar


"Iyuhh iri iyuhh" ucap Ivan dengan geli membuat Alan menghela nafasnya.


"Mama mana pa?" Tanya Alan dengan heran


"Di kamar tuh, sama istrimu.. gak tau ngapain palingan bentar lagi mereka berubah jadi power range" ucap Ivan dengan santai.


Cklek..


Tidak berapa lama pintu kamar terbuka menampilkan sosok Alita dan Alexa yang sedang berjalan dengan pakaian mewah dan elegan dan tidak lupa dengan kacamata hitam yang mereka gunakan.


"Astaghfirullah istri sultan" gumam Raka dengan tampang bodo nya


"Astaghfirullah istriku" batin Ivan kala melihat tampilan Alita yang tampak begitu baddas.


"Kenapa kalian diam disini saja? Ayo pergi" ucap Alita yang langsung meninggalkan para laki laki itu dan berjalan duluan bersama dengan Alexa


"Memang susah memang klo lawan perempuan" gumam Raka dan langsung mengikuti langkah mama dan kakak iparnya itu.


"Woii kalian gak ikut?" Tanya Raka kala dirinya berbalik ke belakang dan melihat kakak dan papanya itu sedang terdiam


"Eh.. ehemm.. ayo pa" ucap Alan yang tersadar dan langsung merangkul papanya itu.


*


*


The Nelson Hospital


"Apa kau yakin dia bisa ngelakuin dengan baik?" Tanya Alita sembari melihat Raka yang sedang berjalan memasuki rumah sakit sembari membawa buket bunga di tangannya.


"Ntahlah, berdoa saja supaya dia bisa melakukannya dengan baik ma" ucap Alan sembari menatap adiknya dari kejauhan.


Dilain sisi


Raka berjalan dengan gagah dan penuh percaya diri, banyak yang menatapnya dengan tatapan kagum akan ketampanannya ini.


"Memang susah kalau orang tampan jalan, sekali langkah dah banyak orang natap" gumamnya dengan PD


"Gak usah pd bambank, lagian gantengan gue daripada elu.. dahlah cepat ke ruangan nenek sihir itu.. mama udah gak sabar mau nampol mulut steven" ucap Alan membuat Raka menghela nafasnya kala mendengar suara kakaknya itu dari alat pendengar yang dirinya letakkan di telinga.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya seorang perawat dengan ramah.


Raka menampilkan senyum manisnya sebentar membuat perawat itu salah tingkah


"Dimana ruangan nona Nenek sihir?" Tanya Raka dengan keceplosan.


"Nenek sihir?" Tanya perawat tersebut dengan heran


"Kan dah betul feeling mama... Gagal nih klo dia yang lakuin" ucap Alita sembari memijit pangkal hidungnya.


"WOIII RAKA NAMANYA BUKAN NENEK SIHIR... WOILAH... NAMANYA Airin Stevan" teriak Alan dengan kesal


Alita mendecak kesal, sudah ia duga apa yang dilakukan Raka akan hancur seperti ini... Seperti dirinya memiliki firasat yang begitu kuat bahwa putra bungsunya akan melakukan kesalahan.


"Ehem, maaf ... Maksud saya nona Airin adiknya tuan Stevan" ucap Raka dengan senyum manisnya.


"Tunggu sebentar tuan" ucap perawat tersebut dan mengetik beberapa kata di keyboard komputernya.


"Nona Airin berada di ruangan VIP tuan... Apa anda mau saya antar?" Tanya perawat tersebut dengan genit.


"Oh tidak perlu repot repot, terima kasih.." ucap Raka dan langsung bergegas ke tempat ruangan Airin berada.


"Kenapa kau menyebutnya nenek sihir kak? Kau tau aku sangat malu.. untung saja mereka tidak mengerti arti kata nenek sihir" bisik Raka dengan kesal


"Kau saja yang sangat pintar, sudahlah selesaikan tugasmu.. mama sudah tidak sabar ingin menyumpal mulut Steven dengan emas yang ada di tangannya" ucap Alan yang langsung saja dibalas geplakan oleh mama tercintanya itu.


Raka mematikan panggilannya dan memutuskan untuk fokus, bisa bisa ia gagal dalam misi ini.


"Akhirnya ketemu" gumamnya saat melihat ruangan Airin yang tepat berada di depannya.


"Baiklah Raka... Ayo mulai" gumamnya dengan pelan.


Cklek..


"Selamat pagi nona Airin" ucap Raka dengan tersenyum manis membuat Airin yang sedang bermain ponsel menghentikan kegiatannya.


"Kau siapa?" Tanya Airin dengan tatapan aneh.


"Ah saya merupakan pengantar bunga yang diutus oleh tuan Steven" ucap Raka dengan senyum manisnya


"Pengantar bunga? Tapi kenapa pengantar bunga berpakaian seperti ini?" Tanya Airin dengan heran


"Kenapa nona? Saya tampan yah? Memang semua orang-"


"Berhenti omong kosong, letakkan saja bunga itu disana dan kau boleh pergi" ucap Airin dengan tatapan jijik membuat Raka rasanya ingin menjambak rambut nenek sihir di depannya ini.


Raka menghela nafasnya sebentar dan berjalan ke arah nakas, tidak lupa ia langsung menempelkan chip yang dimana berfungsi untuk menyadap suara yang ada di ruangan ini.


"Baiklah nona semoga harimu senang" ucap Raka dan dengan sengaja menjatuhkan pulpen miliknya yang ada di kantong.


"Astaga kenapa sampai jatuh pena ini"  ucap Raka dan dengan cepat langsung mengambil pena tersebut dan menempelkan sebuah chip di bawah ranjang Airin.


Sedangkan Airin? Gadis itu masih sibuk berkutik dengan ponselnya sembari tertawa kecil


"Kau sudah selesai kan? Cepat keluar sana" ucap Airin


"Ah iya, kalau begitu saya permisi nona" ucap Raka dan langsung keluar begitu saja.


"Aku akan menyuruh Kakak untuk tidak membeli bunga di tempat itu... Geli sekali jika yang mengantar bunga itu adalah pria gila itu" ucap Airin saat Raka sudah pergi.


*


*


Ruang Parkir


"Gimana apakah semuanya sudah kau kerjakan dengan rapi?" Tanya Alan saat Raka langsung memasuki mobil.


Raka menghela nafas sebentar dan menatap ke arah keluarganya. "Aku tidak mau berurusan dengan nenek sihir itu lagi... Rasanya ingin saja ku robek mulut lantamnya itu"


"Kenapa sayang? Ada apa? Cerita pada mama sayang" ucap Alita dengan heran saat melihat putra bungsunya itu merengut kesal.


"Sudahlah lupakan saja ma, ayo ke misi selanjutnya" ucap Raka dengan kesal


"BUAHAHAHAK... Sudah papa katakan kau tidak usah menggunakan jas ... Kau tetap ngotot yah gini hasilnya" ejek Ivan membuat Alita dan Alexa menatap heran.


"Maksud mas?" Tanya Alita dengan heran.


Ivan melirik ke arah putra nya itu dan tersenyum devil, ia mulai menceritakan saat dimana ia dan Alan yang mendengar percakapan antara Airin dengan Raka.


"Jadi kak Alan dan papa ikut turun?" Tanya Raka yang tidak percaya


"Tentu saja, siapa suruh kau mematikan alat itu... Kami jadi khawatir" ucap Alan sembari menunjuk alat yang berada di telinga Raka


"Kalau aku tidak melepaskannya tentu saja dia akan curiga" ucap Raka


"Iya benar, gimana sih kalian" ucap Alita yang membenarkan ucapan Raka


"Ma, mama lupa yah... Kita menyuruhnya untuk menyamar menjadi pengagum nenek sihir itu bukan menjadi kurir bunga.... Untuk apa ia memakai jas, dasi kalau ujung ujung nya dia menyamar menjadi kurir" ucap Alan membuat Raka membulatkan matanya


"Tapi kata papa-"


"Ah ayo jalan" ucap Ivan dengan cepat pada supirnya


"ISSSS..... PAPA!!!!"


*


*


Haloo semua... Author balik lagi... Jangan lupa like, komen dan vote


Dan terimakasih atas ucapan dan doanya... author sayang kalian semuaaaa


*up setiap hari sabtu :)