Remember

Remember
Kebenaran yang menyakitkan



"saya minta maaf tuan dan nyonya Angkasa, saya benar-benar tidak mengetahui bahwa nona Alandra adalah anak anda" ucap Steven sembari berlutut membuat Alita menatap datar pria di depannya.


"Sekarang kau tau bukan, apa kau masih ingin menuntut putriku? Jelas jelas adikmu yang begitu jahat.. sampai ia menghina menantuku" ucap Alita dengan murka namun dengan cepat Ivan langsung menggenggam tangan istrinya itu.


"Saya benar-benar tidak tahu nyonya Angkasa.. saya tidak akan menuntut nona Alandra.. s-saya akan memberi pelajaran pada adik saya nyonya, tuan... Tapi saya mohon jangan hancurkan perusahaan saya.. hanya ini satu satunya sumber kehidupan saya" ucap Steven sembari membungkuk di hadapan Alita


"Sudah ma..sudah" ucap Alan yang menenangkan mamanya itu diikuti dengan Alexa yang memeluk mertuanya itu.


"A-Alexa aku mohon bantu aku... Aku ben-nar minta maaf.. aku akan mengajari Airin pentingnya sopan santun"


"Berdirilah tuan Steven" ucap Alan dengan pelan


"Maafkan saya tuan Alan maafkan saya"


"Ayo berdiri tuan Steven" ucap Alan membuat Steven dengan pelan berdiri


"Kami tidak akan menghancurkan perusahaan mu... Jika kau melakukan satu syarat ini" ucap Alan


"Syarat apa tuan, saya rela melakukan apa saja asal perusahaan saya jangan hancur"


"Kau hanya perlu menyuruh adikmu meminta maaf kepada istriku dan saudara kembarku... Maka perusahaan mu akan aku akan berinvestasi di perusahaan mu" ucap Alan


"Kau hanya membutuhkan waktu 3 hari... Jika adikmu tidak melakukannya maka siap siap saja perusahaan akan hancur" ucap Alita dan pergi begitu saja membuat Ivan langsung mengejar istrinya itu.


"Terimakasih tuan Alan.. terimakasih Alexa" ucap Steven sembari menangis.


"Ayo sayang kita pergi" ucap Alan dan langsung merangkul pinggang istrinya itu.


"HAAA....AIRIN... KAU MEMBUATKU HANCUR AIRIN" teriak Steven setelah kepergian Alan dan langsung menghancurkan semua yang ada di atas meja kerjanya.


*


*


"Kamu kenapa sih terlalu baik Alan, apa kamu tidak tau bagaimana mereka melakukan hal kejam itu kepada Alandra?" Tanya Alita dengan kesal


"Ma, kita boleh memberi pelajaran tapi jangan menghancurkan hasil jeri payah orang ma" ucap Alan membuat Alita menghela nafasnya


"Lagi pula kamu sudah memberinya waktu sayang... Biarlah kita menunggu..  jika belum juga.. itu terserah kamu" ucap Ivan membuat Alita menghela nafasnya dengan kasar.


"Bunda ratu, ayo minum dulu... Cuaca ini panas jangan tambah panas.. ayo minum dulu" ucap Raka sembari memberikan sebotol air pada Alita membuat Alita menatap datar putra bungsunya itu


"Ini anak, udah tau enyaknya lagi kek macan.. malah nyari gara gara" celutuk Ivan dengan kesal


"Siapa yang kamu bilang macan mas? Hah? Siapa?"


"Pak supir jalan" ucap Raka dengan cepat sembari menatap adegan yang begitu indah.


Apalagi kalau bukan adegan gelut orang tuanya.


"Ayoo bung siapa yang menang... Ayoo" ucap Raka memanasin orang tuanya sembari tertawa kecil.


"Siapkan mobil kita ke rumah sakit"


"Wanjay napa ini volumenya kagak gue stel dulu dah" ucap Raka yang tiba tiba terhenti akibat teriakan suara Steven dari loud speaker mobilnya yang membuat kedua orang tuanya memberhentikan kegiatannya.


"****, karena gadis itu perusahaan ku diambang batas hancur... Aku tidak akan memaafkanmu Airin.."


"Baik tuan"


"Wah tempramennya sangat menggelikan yah bund" gumam Raka sembari mengotak ngatik ponselnya.


"Mau dengar bagian Airin gak?" Tanya Raka dengan senyum misterius nya


"Raka" ucap Alita dengan kesal


"Eh iya kanjeng mami, sebentar" ucap Raka dengan cengengesan dan menekan sesuatu di ponselnya.


"Kau tau Jen, aku baru bertemu dengan seseorang yang sangat freak.. dia adalah pengantar bunga..  tampang pas pas an tapi gaya nya bagaikan pejabat"


"Ihh nenek lampir, kagak tau fashion" celutuk Raka dengan kesal sedangkan Ivan. Pria itu tidak bisa menahan tawanya saat mendengar itu.


"Tampangnya sangat pas-pas an jika dibandingkan dengan chaki anjing ku.. lebih imut lagi chaki"


"Kalau begitu bye bye..."


"HAHAHAHAHA dibandingin sama anjing" ucap Alan yang tiba tiba tertawa dengan keras bebarengan dengan Ivan


"Papa, Alan" ucap Alita membuat Alan dan Ivan menahan tawanya.


Brakk...


"AIRIN!!!"


"ada apa kak? Kenapa wajah kakak seperti ini? Apa ada masalah?"


Plakk....


"Astaga ditampar" gumam Raka terkejut saat mendengar tamparan yang begitu keras


"Hei diamlah, kami juga tau itu tamparan" ucap Ivan dengan kesal


"Diam dulu mas" ucap Alita dengan kesal dan masih mendengarkan percakapan tersebut.


"Kenapa kakak tampar Airin?"


"Kau memang pantas ditampar..  karena membantumu... Perusahaan ku diambang batas kehancuran"


"Maksud kakak? Kakak kenapa sih?kak Airin ini adik kakak... Kenapa kakak seperti ini"


"*Adik? Kau bukan adik kandungku j*lang... Kau hanya anak pungut yang di pungut oleh orang tuaku...dan apa dari orang tuaku memungutmu? Hasilnya kau malah menusuk mereka dari belakang... Kau malah menghancurkan perusahaan yang sudah dibangun oleh orangtuaku*"


"M-maksud kakak, A-Airin bukan adik kandung kakak itu bohong kan?"


"Astaga" ucap Alita dan Alexa bebarengan yang begitu shock mendengar percakapan tersebut


"Astaga hidup seperti drama saja" gumam Raka yang tidak habis pikir dengan pendengaran nya saat ini.


*


*


Halooo... Like, komen dan vote