Remember

Remember
Klarifikasi?



"bisa kau jelaskan maksudnya Max?" Tanya Frananda membuat Max menatap datar ibunya


"Apa yang harus kujelaskan? Bukankah mommy yang bilang ini demi perusahaan?" Tanya Max yang masih berkutik dengan laptop nya


Frananda mendudukkan tubuhnya ke sofa dan menuangkan minuman ke gelas di depannya


"Apa kau tidak mau jujur?" Tanya Frananda membuat Max diam namun masih melanjutkan kegiatan nya


"Apa mommy tidak sibuk? Aku sangat sibuk.. mommy bisa pulang sekarang dan aku akan menyuruh Axerson mengantar mommy" ucap Max membuat Frananda bangkit dari sofanya


"Apa kau harus mengusir mommy mu seperti ini? Mommy tidak mau keluar" Tanya Frananda dengan tatapan mata melotot membuat Max menghentikan pekerjaannya dan menghela nafasnya.


Max bangkit dari tempat duduknya dan mengambil jasnya yang ada di kursinya.


"Baiklah kalau mommy tidak mau pergi, aku saja yang pergi" ucap Max membuat Frananda menatap tak percaya putranya.


"Apa maksudmu?"


"Tidak ada.. kalau begitu.. hubungi axerson jika mommy butuh sesuatu.. aku pergi" ucap Max yang keluar dan menutup pintu ruangannya


"Aish.. anak ini.. tidak pernah berubah sedikit pun"


*


Max menatap kearah Alandra, gadis itu masih berkutik dengan komputer nya saat ini.. ntahlah seperti iya sedang fokus akan sesuatu tapi apa itu?


Max berjalan mendekat ke arah tempat Alandra untuk melihat lebih jelas apa yang dilakukan sekertaris nya itu.


"Shibal... Bisa bisanya mati" maki Alandra dengan kesal


"Apakah menyenangkan bermainnya nona Alandra?"


"Tentu saja, permainan ini- eh tunggu dulu" ucap Alandra yang tersadar dan membalikkan tubuhnya


Dapat ia lihat wajah tampan Max yang menatap dirinya dengan datar


Dengan cepat Alandra langsung menekan sesuatu di komputer nya dan menampilkan sebuah data seolah iya sedang mengerjakan sesuatu.


"Tuan Max, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Alandra dengan santainya


"Kau sedang apa?"


"Tentu saja sedang bekerja.."


"Jangan membohongi ku nona Alandra"


Alandra menghela nafasnya dan tersenyum manis.. ini merupakan senjata terakhir nya yaitu tersenyum manis bila ia ketahuan melakukan sesuatu.


"Kenapa kau tersenyum?"


"Tidak ada.. hanya ingin tersenyum.. apa kau ingin kopi? Aku bisa membuatkannya atau membelinya"


"Kopi? Ide bagus.. ayo"


"Eit.. tunggu dulu.. mau kemana?"


"Minum kopi kan? Yah ayo"


"Iya maksudnya.. biar saya saja yang membeli kopinya tuan.. tuan di dalam ruangan saja"


"Tidak.. saya ingin minum kopi dengan mu.. ayo" ucap Max


"Eh tunggu dulu" ucap Alandra yang langsung mematikan komputer nya dan mengambil tasnya.


"Cepatlah.. aku tidak mau menunggu mu" ucap Max yang sudah jalan duluan


"Iya" ucap Alandra dengan kesal dan menghentakkan kakinya


Frananda mengintip keluar dari pintu ruangan putranya itu, ia tersenyum senang.. tampaknya ia akan segera memiliki menantu dengan cepat jika seperti ini.


Dilain sisi,


"Lihatlah, pria cecunguk ini tidak tau malu" ucap Alan sembari meletakkan ponselnya ke atas meja dan memberikan sebuah foto yang berisi kembarannya itu


Alward mengambil ponsel Alan dan tertawa kecil, mengapa sahabat nya inu masih menganggap Max adalah musuhnya. Jelas jelas bahwa ia merupakan suami Alexa yang notabenya Max tidak akan merebut kembali Alexa.


"Kenapa kau tertawa, apa ada yang lucu?" Tanya Alan dengan kesal


Alaward meletakkan kembali ponsel Alan dan berdehem sebentar.


"Kau sangat lucu dude... Kenapa kau mempermasalahkan hal kecil seperti ini.. lagi pula Max bukanlah seorang suami yang memiliki istri.. dia seorang single.. dia tidak punya pasangan.. tentu saja hal ini normal jika ia memiliki hubungan dengan seorang wanita"


"Hei.. dia memang normal jika berhubungan dengan wanita.. tapi untuk hal ini dia tidak normal.. bagaimana bisa ia berhubungan dengan kembaranku.. kau tau bukan kalau Max itu merupakan pria brengsek.. aku takut Alandra akan sakit dibuatnya"


"Oh astaga... Dia memang orang kaya tapi tidak pernah bercermin" gumam Alward membuat Alan memelototkan matanya


"Apa maksudmu?" Tanya Alan dengan emosi


"Eh eh.. selow.. baby selow... Jangan marah... Aku hanya mengatakan hal yang benar Lan.. bukankah kau juga pria brengsek sama seperti Max?" Tanya Alward membuat Alan terdiam


"Bahkan kau juga lebih parah.. kau membuat hubungan palsu dengan Alexa dan membuangnya begitu saja.. kau sama saja seperti Max.. tapi kau tidak pernah sadar akan dirimu sendiri"


"Tapi dia-"


"Lan, seharusnya kau bercermin.. apakah kau pantasan mengatakan itu atau tidak.. lagipula Max dan Alexa sudah masa lalu.. dan jika Max dan Alandra memiliki hubungan yah biarkan saja.. kita tidak bisa memisahkan mereka.. Dan aku percaya Max bakalan gak nyakitin Alandra.. wong Alandra samson wanita" ucap Alward namun diakhir ucapannya ia merendahkan suaranya agar sahabat nya itu tidak mendengar kan lebih jelas ucapannya


"Tapi tetap saja-"


"Eit... Dah yah.. mending kita ngopi.. cheers"


*


*


Hula hula hup... Annyeong yeorobun... Tetap vote author.. lope lope u