
“REMEMBER”
(Bab 04) Kita
Ketika dengan semangatnya mengayuh sepeda kesayanganku, sejenak aku berpikir mengenai hubungan antara "peraturan" dengan "kebebasan".
Dalam artian sederhana, peraturan adalah sebuah aturan yang bersifat mengekang yang
bertujuan untuk menciptakan ketertiban. Kalau dihubungkan dengan
"kebebasan" terdengar bertentangan, bukan?
Akan tetapi, hal semacam itu tidaklah sepenuhnya benar. Terkadang "peraturan"lah
yang memberi kita kebebasan yang sesungguhnya. Namun, kebanyakan manusia tak
menyadari dan mencari kebebasan semu dengan melanggar aturan tersebut.
Seperti yang aku lakukan sekarang. Sebenarnya bersepeda seperti ini tidak dianjurkan karena
kakiku yang belum sembuh. Tapi, dengan masa bodoh kugunakan untuk menuju ke
tempat basecamp.
Aku melesat sepanjang pinggiran sungai dan menjauh dari jalan raya. Perlahan-lahan jarak antara rumah-rumah tergantikan oleh persawahan yang sangat luas. Hawa hari ini
begitu dingin dan menyejukkan, padahal jam sudah menunjuk angka dua siang dan
langit begitu membiru tak bernoda.
Demi bersembunyi dari terik mentari, sejenak aku berhenti di pepohonan depan sebuah
pabrik kecil untuk meneguk air. Setelah selesai aku melesat kembali.
Sepanjang jalan ini tidak ada apapun selain hamparan persawahan di kedua sisi jalan. Selagi
memutar pedal, aku mulai bersenandung dengan riang. Senyumku tak memudar
semenjak pagi tadi, karena kali ini aku merasa lumayan bersemangat. Hingga
menemui jalur yang dinaungi banyak rumah di setiap sisi.
Akan tetapi, ditengah mempertahankan senyumku, aku malah disambut tampang yang tidak enak
oleh beberapa orang ketika sudah masuk di halaman basecamp tersebut.
"Ah, ini dia orangnya!"
Segera sebelum membuka mulut untuk menyapa mereka, sebuah suara keras memotongku. Dia menggelengkan kepalanya dengan tidak senang.
Itu adalah Ihsan, yang sepertinya hendak menelponku. Begitu juga dengan Gita, Putri, serta dua anak perempuan dan satu laki-laki yang tak kukenal. Mereka tengah duduk-duduk pada bangku di bawah naungan pohon besar. Jujur, sampai sekarang aku tak tahu nama dari pohon berdaun lebat dan kecil ini. Yang kutahu setiap memimpikan Kak Sinta, aku selalu berada di bawah naungan pohon tersebut.
"Kau ini lelet sekali," keluh Ihsan.
"Ban sepedaku kempes. Aku sempat kesulitan mencari pompa di rumah."
"Lagian kenapa malah naik sepeda? Kau mau kakimu patah lagi?"
"Astaga, kau ini ibuku, ya? Omelanmu persis saat tadi aku ketahuan membawa sepeda kemari."
"Kalian berdua ini masih belum berubah, ya?" sela Putri dengan wajah yang keheranan akan kami berdua. "Bisakah alian lebih tenang sedikit? Ada junior kita ’lho di sini."
"Junior?" Aku lalu melirik tiga orang yang tak kukenal tadi. "Ah, maaf, maaf,"
ujarku tersenyum getir.
"Jadi, apa alasannya kita dikumpulkan kemari?" tanya Gita.
"Tentang
yang aku katakan kemarin, ’kan?"
Gita lalu
terlihat seperti tidak mengerti. "Bukannya kau kemarin bilang kalau kita
akan membahas mengenai anggota?"
Aku tersenyum,
menegakkan tubuhku. "Benar. Kita akan mengadakan sebuah acara untuk
organisasi kita."
"...."
Mereka semua
terdiam, tanpa ekspresi.
Hey, apa-apaan
dengan tampang kalian itu? Apakah ini kurang memberikan impact ?
"Ya ampun.
Jadi kaubilang cepat-cepat kemari cuma hal semacam ini? Aku sampai bela-bela
izin dari latihan," gerutu Putri.
"Bukankah
kau masih belum pulih? Jangan jadi bocah bandel."
“Cerewet
sekali. Kalau tidak begini kalian mana mau datang,” ujarku.
"Jadi,
intinya kau mengumpulkan kami yang pernah jadi anggota dulu, untuk membahas hal
itu?" tanya Putri.
"Ya ...,
begitulah."
"Lalu,
dengan cara apa?"
"Emm,
pertama aku ingin mengumpulkan siapa yang ingin ikut dulu. Sebelumnya itu
memang sulit, tapi setidaknya aku ingin kalian yang ada di sini ikut berjuang.
Aku tahu ini agak mendadak dan sedikit memaksa. Tapi, apa kalian tidak apa-apa
membiarkan tempat penuh kenangan kita dulu jadi seperti ini?"
"Kau
memang ada benarnya, Dy," sahut Ihsan. "Tapi kau juga tahu, ’kan?
Masyarakat sudah tidak berminat lagi seperti dulu. Ditambah lagi organisasi ini
sudah mati semenjak dua tahun yang lalu."
"Ya, aku
tahu. Makanya kita harus berjuang secara mandiri, baik itu tentang dana dan
sebagainya."
Putri mendesah.
"Jujur itu sangat sulit, Dy."
"Ya
makanya, aku butuh kalian. Kita ’kan sudah bersama-sama sejak kecil. Apa kalian
mau melupakan kenangan kita dulu?"
"...."
"Terlebih
lagi, kalian apa tidak ingat dengan pesan Kak Sinta?"
Perlahan mata
Ihsan dan Putri melebar, begitu juga tiga orang juniorku. Mereka yang sedari
tadi terus memperhatikan, kini sesekali melirik ke arah Gita yang tengah
memasang wajah suram.
"Aku sudah
tahu," ujarku. "Mengenai Kak Sinta yang gagal dalam menyelenggarakan acara
itu, aku sudah tahu."
Aku tidak tahu
kenapa aku jadi mengatakan hal tersebut. Apa hanya karena terbawa suasana, atau
karena hal yang tak kumengerti mengenai semua ini.
Kak Sinta, yang
tak lain adalah kakak Gita mengalami masalah yang berat. Di saat awal
kepemimpinan beliau, banyak yang kagum akan dirinya. Akan tetapi, lambat laun
semua berubah dengan hal yang buruk. Dia yang masih SMA itu sudah dipilih
menjadi ketua karena kehebatannya dalam memimpin. Kak Sinta selalu dijegal
dengan sesama temannya yang iri akan kesuksesan beliau. Dia selalu mendapat
perlakuan yang tidak enak saat di belakang juniornya.
Kami yang
menyadari itu semua sangat kesal, namun dia justru melarang kami untuk membalas
perlakuan mereka. Hingga saat-saat terakhir pun, yang dia berikan hanyalah
"senyum penyemangat" untuk kami dan orang-orang yang membencinya.
"Gita
...."
Putri
memanggilnya dengan suara nyaris tak terdengar, tapi Gita tidak berpaling
sedikitpun. Meski begitu, kelihatannya suara Putri sampai pada dirinya. Sebab
dia berbicara dengan suara kecil yang bergetar.
"Tenang
saja. Aku tidak terlalu memikirkannya."
Napasku seolah
berhenti melihat raut wajah Gita sekarang. Tadi itu seperti kalimat yang pernah
kudengar saat menelpon Gita setelah kakaknya meninggal dulu.
Angin dingin
melintas seakan sedang memisahkan kami. Gita dengan perlahan berpaling seakan
angin itu membuatnya terganggu. Mata berairnya tidak memiliki kekuatan apapun
selagi dia duduk dan meremas tali tasnya.
"Maaf, Kak
...."
Di tengah
keheningan ini, angin tersebut juga membawa suara yang penuh keraguan. Salah
satu perempuan dari juniorku tengah memasang wajah yang suram pula. Meski
kutahu dia sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu.
"Mengenai
Kak Sinta, kami juga merasa begitu. Entah kenapa kami merasa ada yang aneh
dengan para senior seangkatan beliau. Kami hanya bisa diam karena merasa tidak
bisa berbuat apa-apa. Terlebih lagi, Kak Sinta sendiri juga berkata pada kami
bahwa semua ini wajar saja dan mereka tidak bermaksud buruk. Tapi, ternyata
semua tidak sebaik yang kami kira. Andai saja waktu itu kami langsung
bertindak, kami pasti ...."
Suara gadis itu
kian memudar, seolah secara mendadak merasakan sesak di dadanya ketika hendak
menyelesaikan kalimat terakhir itu.
Desahan napas
berat yang menarik perhatian mereka semua, tanpa sadar keluar begitu saja dari
bibirku.
"’Andai
saja’, ya?" Wajahku berpaling pada bangunan suram tersebut. "Saat
menyesali sesuatu, kata-kata itu hanyalah alasan yang sering melintas dan mudah
menghilang begitu saja. Bagiku itu hal yang wajar, karena penyesalan itu bagian
dari rahmat-Nya, yang diberikan kepada setiap manusia agar tidak terlalu larut
dalam kepedihan. Serta tidak terlalu terlena dengan kebahagiaan yang di berikan
oleh-Nya."
Mereka semua
mebisu memandangku. Kalimat itu adalah kalimat yang dulu pernah disampaikan Kak
Sinta pada kami.
Sebuah
kehidupan.
Banyak yang
disyukuri, banyak pula yang disesali. Banyak yang disyukuri dan disesali secara
bersamaan. Banyak yang diharapkan lebih baik, dan juga banyak yang diharapkan
tidak pernah terjadi. Bermacam-macam keinginan setiap manusia untuk menjalani
takdir hidupnya. Dalam menyiasati pun haruslah dengan hati yang jernih.
Mengambil semua hikmah dan segera melupakan rasa derita.
Tetapi, manusia
lebih banyak yang merasa pesimis pada dirinya. Sehingga hidupnya berisi
coretan-coretan dari masalalu yang masih dibaca setiap hari sebagai doa.
"Ya sudah.
Daripada terus menyesali hal itu, lebih baik kita melakukan sesuatu dulu untuk
tempat ini," ujarku merubah suasana.
"Melakukan
apa?" tanya Ihsan.
"Ya
bersih-bersih, ’lah?"
"Heh?!"
Ya ampun,
mereka kompak sekali kagetnya.
"Jangan
bilang ’Heh’! Ayo kita bersihkan tempat ini," ujarku lalu menuju ke
bangunan itu bersama Gita. Sedangkan sisanya mengikuti dari belakang.
“Caramu memaksa
kami benar-benar curang, Dy. Kau memanfaatkan perasaan kami,” sindir Putri.
“Kau seperti
baru tahu sifatku saja.”
"Aku masih
capek setelah dari kebun," keluh Ihsan.
"Kau ini
lelet sekali."
"Jangan
samakan kau yang seorang atlet!"
"Itu tidak
ada hubungannya."
Setelah
mengatakan itu, perbincangan kami terhenti saat sudah berada di depan pintu.
Kami sesaat menunggu Gita untuk membukanya.
"Oh ya, Dy.
Apa kakimu tidak apa-apa digunakan untuk melakukan pekerjaan berat?" tanya
Putri.
"Tenang
saja, masih diperbolehkan, ’kok."
"Jangan
terlalu dipaksakan, Dy."
"Iya, iya.
Seharusnya kaubilang begitu pada Gita saja.”
Pintu terbuka,
tentu saja semua melihat ke depan. Akan tetapi, Gita tengah menoleh ke belakang
seolah menghadang kami dengan tatapan tidak senangnya padaku.
"Apa?"
tuntutku.
Mata Gita
beralih ke yang lain. "Kalau kalian kesal dengan anak ini, tendang saja
kakinya."
"Woy!
Jangan menyarankan hal yang aneh-aneh!"
Sial! Mereka
semua menertawaiku.
Kami semua
masuk, dan yang mereka lakukan adalah mengamati sejenak sebelum menaruh tas
kami di gantungan.
"Kalian
berdua kemarin membersihkan tempat ini?" tanya Ihsan.
"Iya.
Sekarang kita tinggal mengurus sisanya," jawabku.
Kemudian Ihsan
dan aku melingkis lengan kaos, lalu aku merasa Putri yang berada tepat di
samping kiriku tengah memperhatikan dengan tampang murung.
"Ada apa,
Put?"
Dia masih diam
untuk beberapa detik. Tas punggungnya masih tertenteng di tangan kanannya.
"Tidak,"
dia berpaling dan menaruh tas ke gantungan, "tidak apa-apa. Aku cuma
penasaran, kenapa tasmu terlihat penuh sekali."
"Oh, itu.
Aku juga bawa minuman dan camilan untuk kita nanti."
Wajah Putri
tersenyum getir. "Kau ini terlalu memaksakan diri."
"Tenang
saja. Aku sudah agak mendingan."
"Benar,
Put," sambung Ihsan. "Kalau tidak percaya tendang saja kakinya."
"Woy! Bisa
tidak, jangan bilang hal itu lagi?! Kau ingin merepotkan Timnas di seleksi
piala dunia nanti, ya?" ujarku.
"Memangnya
kau bakal ikut main? Kau sendiri bukannya enak-enak di luar negeri malah pulang
kemari."
"Siapa
juga yang ingin pulang! Aku cuma disuruh!"
"Kalian
bertiga kalau sudah ’ngobrol tidak ada berhentinya, ya?"
Suara dingin
itu menghentikan perdebatan kami. Gita yang tanpa kusadari sudah mulai bekerja
dengan para junior.
"Kau
sendiri kenapa tidak ikut nimbrung?" balasku.
"Iya. Diam
terus dari tadi," ujar Ihsan.
"Kalau
tidak ada yang diobrolkan jadi sepi, ’kan?"
"Kau ini
dari dulu terus jadi pendiam, Git."
"Oh ya.
Atau kita bahas soal Gita dulu yang masih kikuk, San?"
"Hmm?
Memangnya dia yang sekarang tidak kikuk?"
"Masih,
’sih. Lihat, memasang taplak meja saja terbalik," ujarku menunjuk meja
yang waktu itu aku dan Gita bersihkan.
Setelah itu
kami berdua tergelak geli, semua yang mendengar kecuali Gita bahkan ikut
tertawa. Itulah yang aku dan Ihsan katakan untuk menggoda Gita. Akan tetapi
karena hal itulah, suatu hawa menyeramkan muncul dari dalam Gita.
’Crakk!’
Gagang sapu
yang Gita pegang patah hanya karena genggaman erat tangan kanannya. Matanya
"Kalau
kalian terus ’ngobrol dan tidak bekerja, akan kupatahkan kaki kalian!"
Suara datar yang bagi kami amat menakutkan keluar dari bibirnya. Astaga! Red
Mode Gita akhirnya muncul!
Dengan begitu
kami hanya bisa menjawab ’Iya’ dengan lirih dan mulai bekerja. Kami tidak ingin
berurusan dengan mantan juara karate se-provinsi ini.
※※※
Sepanjang hari
kami hanya membersihkan tempat ini dari sudut ke sudut. Perbincangan hangat dan
lucu juga sempat mewarnai pekerjaan kami. Cerita tentang keseruan masalalu,
baik saat ada kegiatan maupun hal-hal lain, semua masih tertampung jelas di
memori kami.
Oh ya, mengenai
tiga junior kami ini, mereka baru bergabung ketika aku sudah pergi ke luar
negeri.
Salah satunya
Deni. Lelaki yang terlihat kalem ini lumayan enak untuk diajak bicara. Buktinya
sedari tadi aku dan Ihsan lebih sering ’ngobrol dengannya.
Sedangkan dua
sisanya bernama Septi dan Dewi. Dua bersepupu ini sepertinya begitu akrab dengan
Gita dan Putri. Maklum, mereka bertetangga soalnya.
Tapi yang
jelas, hari ini aku bisa senang melihat Gita tidak murung dan mulai dekat
dengan mereka seperti dulu lagi.
Saat ini,
setelah selesai membersihkan tempat ini, kami tengah duduk-duduk melingkar di
atas tikar. Pada tengah-tengahnya terdapat makanan dan minuman yang kubawa
tadi, kami dengan santai menikmatinya.
"Omong-omong,
habis ini kita mau bagaimana?"
"Pulang,
’kan?"
"Bukan
itu!"
Putri memulai
perbincangan, yang dia maksud adalah tentang kegiatan kami. Namun, Ihsan
menjawab dengan candaan.
"Kalau
boleh tahu, kegiatan apa yang gagal waktu itu?" tanyaku.
Akan tetapi,
wajah mereka kembali murung sejenak, dan Gita mulai menjawab dengan singkat.
"Festival
Ramadhan."
"Penyebabnya?"
Kali ini giliran
Ihsan yang menjawab. "Anggaran Desa yang diberikan pada kami tiba-tiba
habis sebelum di pertengahan."
"Apa tidak
direncanakan dulu?"
"Kalau itu
jelas sudah. Tapi, entah kenapa sebagian besar senior seperti tidak
menghiraukan. Justru Kak Sinta dan beberapa anggota lain yang terus memikirkan
jalan keluarnya."
"Terus,
kenapa cuma Kak Sinta yang dituduh bersalah?"
Ihsan berhenti
sejenak untuk menarik napas. Lalu dengan perasaan berat dia bercerita.
"Karena dana habis tidak sesuai dengan yang ditetapkan, dan alasannya yang
tidak jelas, Desa mulai mencurigai kami. Seluruh panitia utama diperiksa, dan
setelah itu ...."
Ihsan berhenti.
Tepat saat itu aku mulai merasakan sesuatu yang buruk.
"Kak Sinta
tiba-tiba dituduh telah menggelapkan uangnya. Dia dituntut untuk mengganti dana
yang hilang tersebut kalau tidak ingin dilaporkan ke polisi."
"...
Lalu..., bagaimana reaksi Kak Sinta saat itu?"
"Bisa kau
tebak sendiri"
Apa-apaan ini?
Apa maksud dengan semua ini? Kenapa dengan mudah hal seperti itu bisa terjadi?
Kak Sinta pasti sudah tahu penyebabnya, tapi kenapa dia mau saja mengalah dan
mengganti kerugian?
Kak Sinta dan
Gita hanya tinggal dengan neneknya. Seingatku, setelah kedua orangtua mereka
meninggal, mereka ditinggali beberapa lahan persawahan. Kemudian Kak Sinta
mengurusnya demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Oh ya. Tadi aku
kemari sempat melewati lahan tersebut. Kalau tidak salah, lahan itu sekarang
sudah jadi ....
Perasaan curiga
dan jengkel mulai memenuhi kepalaku.
"Sekarang,
Kades dan perangkat Desa sudah ganti?" tanyaku.
"Sudah.
Kebetulan pamanku yang menjabat," jawab Ihsan.
"Terus
bagaimana dengan para senior seangkatan Kak Sinta yang sekarang?"
"Kalau
dari pendapatku sendiri, sekarang sungguh aneh."
"Aneh?"
"Beberapa
dari kami ada yang bergabung dengan Karang Taruna. Aku merasa para senior yang
menjabat ketua sekarang ini, hanya menanggapi anggota-anggota yang dekat dengan
mereka saja. Tidak ada kegiatan seperti dulu, seolah Karang Taruna hanya
menjadi tempat ’nongkrong. Padahal mengenai kas, kami tidak ada
kekurangan."
"Setelah
itu kalian keluar," ujarku meneruskan.
"Iya."
"Lalu,
sekarang, apa pemimpin Karang Taruna yang baru itu senior seangkatan dengan Kak
Sinta?"
"...
Bagaimana kau bisa tahu?" Putri terkejut.
"Aku cuma
menebak."
Sudah kuduga
ternyata seperti itu. Mereka memanfaatkan kepolosan dan kebaikan dari Kak
Sinta. Aku yakin tidak hanya Kak Sinta yang dituduh. Aku bisa membayangkan
bahwa Kak Sinta dulu tidak bisa berbuat apa-apa. Dia lebih memilih mengalah
demi melindungi tempat ini dan rekan-rekannya yang tulus berjuang bersama.
Selain itu,
mereka yang menjebak juga memiliki tujuan lain. Dan tujuan itu sendiri yang
paling membuatku amat sangat jengkel.
Seiring aku
mengeratkan jemari tangan kiriku, Gita yang sadar kalau amarahku tengah
bergejolak sedang melirik dengan perasaan khawatir.
"Sebentar
lagi ramadhan, ’kan?" tanyaku mengubah topik.
"Iya."
"Bagaimana
kalau kita mengadakan ’Festival Ramadhan’ lagi?"
"Heh?!"
"Sudah
kubilng, jangan bilang ’Heh’!"
"Tapi,
Kak. Saat ini kita ’kan-."
"Kekurangan
segalanya, ’kan? Aku ada ide untuk itu," aku langsung memotong tanggapan
Deni. "Soal anggota, kita bisa ajak teman-teman sekolah kita. Aku
menugaskan kalian bertiga dan Putri yang mengurusnya. Untuk masalah tempat dan
Humas, Ihsan dan Gita yang mengurus."
"Aku?!"
Ihsan dan Gita berkata nyaris serempak.
"Iya.
Pamanmu ’kan Kades saat ini, San. Kau bisa membujuknya. Lagian beliau dulu juga
pernah mendukung organisasi kita."
"Iya juga
’sih. Tapi, kenapa dengan Gita?"
"Gita ’kan
ketuanya. Jadi wajar, ’kan? Apalagi kalau kalian berdua yang bicara, aku yakin
beliau akan mendukung."
"Jadi ...
soal dananya?" gumam Gita sambil melirikku.
Di hadapan
tatapan mereka yang terpampang wajah heran akan senyumku, aku mengangkat bahu
dan berbicara.
"Untuk
dana, biar aku saja yang mengurus."
※ ※ ※
Sore hari
selepas dari basecamp, aku melesat menuju jalanan pulang.
Sepeda yang tak
kutunggangi beberapa tahun ini mulai berteriak. Bunyi decit kayuhan berbaur
dengan suara tersebut. Terlintas di benak sebaiknya besok aku perbaiki saja
sepeda ini dan kugunakan untuk pergi ke sekolah.
Di tengah
pemikiran itu, aku menyadari sosok yang familiar tengah menyusuri pinggiran
aspal. Pada tangan kanannya menggantung tas belanja yang terisi penuh,
sedangkan yang kiri terpegangi oleh sosok mungil nan lucu.
Aku mempercepat
kayuhan hingga sampai dan berhenti tepat di sampingnya.
"Sini,
biar aku yang bawa, Bu."
Ibu dan Fairus
menoleh, dan dengan senyum dia menyerahkan tasnya padaku. Tas itu aku gantung
di stang, lalu dengan tenang menuntun sepeda.
"Ibu
belanja banyak sekali," ujarku.
"Iya.
Sebentar lagi mau ramadhan, ’kan. Jadi, Ibu belanja jauh-jauh hari sebelum
harganya naik."
"Ooh."
"Sudah
selesai bersih-bersihnya?"
"Sudah."
"Terus,
bagaimana tadi?"
"Awalnya
kupikir mereka bakal canggung. Tapi saat aku tiba di sana, ternyata mereka
malah ’ngobrol-ngobrol di luar."
"Syukurlah
kalau mereka masih akur." Ibu melirikku sejenak. "Kau sendiri juga
terlihat mulai ceria."
"Hm?"
"Selama
ini kau sering murung, ’kan?"
"Tidak.
Aku cuma merasa lega."
Setelah kujawab
begitu, keheningan sejenak terjadi. Ketika aku berusaha menghindari
tatapannya, aku bisa merasakan kalau Ibu tengah memperhatikan dengan senyum.
"Oh ya,
Bu. Aku mau minta izin sesuatu."
"Apa?"
"Begini,
Bu. Mengenai tabunganku ..., aku-."
"Boleh, kalau
memang acaranya butuh dana lebih."
"Heeh?!
Aku belum selesai bicara!"
Ibu langsung
saja menjawab, dan yang lebih mengejutkan lagi, dia bisa tahu alasanku. Apa dia
bisa membaca pikiran?! Kau membuatku merinding, Bu!
"Itu ’kan
uang hasil jerih payahmu. Asal digunakan untuk hal positif, Ibu pasti
mendukung."
"Iya, tapi
...."
"Tidak
apa-apa. Ibu masih ada tabungan sendiri. Lagian uang yang kauberi pada Ibu dulu
masih utuh. Jadi, tenang saja."
Aku terdiam,
sementara Ibu melihat dan menepuk pundakku.
"Jangan
khawatir. Ibu sudah tahu alasanmu untuk pulang, jadi Ibu bisa mengerti."
"... Ibu
sudah tahu tentang Kak Sinta juga?"
"Tentu
saja. Sinta ’kan selalu curhat ke Ibu."
"Begitu,
ya?" Wajahku agak tertunduk. "Kak Sinta selalu baik ke keluarga kita.
Dulu ketika aku sangat terpukul ketika ayah meninggal, dia selalu menghiburku.
Rasanya ... seperti kakakku sendiri."
"Apa kau
melakukan itu semua karena kejadian yang menimpa Sinta?"
"...
Iya."
"Ibu
mengerti perasaanmu, tapi kau jangan terlalu larut dengan semua yang
terjadi."
"... Aku
hanya ingin segera menyelesaikan semua ini, lalu kembali dengan tenang tanpa
ada penyesalan."
"Begitu?
Jadi kau menyetujui tawaran mereka?"
"Iya.
Mereka bilang aku sebaiknya segera tinggal dan melanjutkan di sana. Tapi aku
menundanya sampai lulus nanti."
"Jadi ...,
mengenai Gita nanti, kau juga-."
"Aaah,
Ibu! Stop-stop-stop!"
Aku segera
memotong pertanyaannya. Sial! Kenapa dia juga tahu soal itu?!
Ibu tergelak
geli. "Ada apa? Ibu benar, ’kan?"
"Iya, tapi
jangan dibahas juga kali!"
"Hahaha.
Iya, Ibu mengerti, ’kok." Beliau menaruh tangannya di atas kepalaku
dan mengusap lembut. "Kau ini seperti ayahmu dulu. Lekaslah bilang.
Katanya kau ingin kembali tanpa ada penyesalan."
"Iya,
iya."
Aku hanya
semakin tak mampu menatapnya selama melangkah. Aku tidak ingin Ibu membaca
ekspresi wajahku yang semakin merona.
Meski kutahu,
rahasia ini jadi agak sia-sia karena Ibu sudah bisa menyadarinya. Pada
akhirnya, kuberitahu saja rencanaku yang baru pada Ibu.
“Bu. Sebenarnya aku punya benda itu.”
Ibu memerhatikan benda kecil yang kukeluarkan dari kantong tasku, dan
wajahnya langsung menegang.
※ ※ ※(Bab 04) ※ ※ ※