
Pagi hari
Alandra terbangun dari tidurnya, ia melirik ke arah jam wekernya namun betapa terkejutnya ia saat melihat jamnya itu mati, dengan cepat ia meraih ponselnya dan matanya membulat penuh. Bagaimana tidak, ini sudah jam 9 pas yang artinya dirinya benar-benar terlambat.
dengan segera, Alandra langsung bangkit dari tempat tidurnya menuju ke arah kamar mandi... ia tidak perduli lagi namanya mandi yang ia perdulikan saat ini adalah sampai dengan selamat ke kantornya tanpa mendengar ocehan bos gilanya itu.
Setelah ia mencuci wajahnya itu dengan cepat ia langsung mengambil salah satu setelan bajunya itu dan memakainya dengan secepat kilat... ia benar benar mengutuk kebodohannya saat ini.
drt...drt...drt...
"halo" ucap Alandra sembari mengambil tasnya dan memakai sepatunya
"kau dimana?" tanya Max dengan suara datar membuat Alandra menelan salivanya dengan susah payah.
jika ia mengatakan bahwa dirinya masih di apartemen, bisa ia pastikan gajinya itu akan dipotong dan tidak lupa ia pasti akan mendapatkan ceramah pria itu.
"a-aku sedang di jalan, disini sangat macet bos... maka dari itu saya telat" ucap Alandra sembri menekan lift dan menunggu lift tersebut
"benarkah?" tanya Max
"tentu saj-"
ting
"-a, Max" gumam Alandra dengan terkejut saat melihat Max yang sedang menatap datar dirinya di dalam lift
"kenapa tidak masuk" tanya Max dengan dingin membuat Alandra tersadar dan dengan lemah berjalan memasuki lift tersebut
"Apa kau tau ini sudah jam berapa?" tanya Max membuat Alandra hanya menatap kedua sepatunya dengan takut
"jawab saya Alandra" ucap Max membuat Alandra menarik nafasnya sebentar
"jam 9" gumam Alandra dengan takut
Alandra hanya menunduk dengan takut, ia benar benar tidak mengerti mengapa pria ini berada di apartemennya ini? ingin rasanya ia menanyakan itu namun apalah daya, untuk menatap mata pria itu saja ia takut apalagi untuk bertanya
Ting
pintu lift terbuka, dengan cepat Max berjalan keluar dan diikuti oleh Alandra yang berjalan cepat juga.
"silahkan tuan" ucap supir saat membukakan pintu mobil
Max masuk ke dalam mobil tanpa berbicara diikuti Alandra yang duduk di samping Max
"Apa dosaku hingga aku bisa bertemu pria gila ini dengan cepat" batin Alandra dan hanya menatap jendela mobil
"ini untukmu" ucap Max tiba tiba sembari memberikan sebungkus roti membuat Alandra menoleh ke arah Max dan menatap aneh Max
"apa anda sakit tuan bos?" tanya Alandra dengan heran
Max membulatkan matanya, apa yang salah? iya hanya memberikan gadis ini roti kenapa gadis ini menanyakan pertanyaan bodoh seperti ini?
"kalau aku sakit, untuk apa aku disini" ucap Max membuat Alandra mengangguk setuju dengan ucapan Max
"kau mau tidak?" tanya Max membuat Alandra langsung mengambil roti itu dan tersenyum senang. "hanya orang bodoh yang menolak roti mahal ini" gumam Alandra dan mulai memakan roti tersebut
"kau bilang apa?"
"ah bukan apa-apa" ucap Alandra dan melanjutkan memakan rotinya
Max melirik ke arah Alandra, dapat ia lihat tingkah lucu gadis itu saat memakan roti. Rasanya ia seperti melihat anak kecil yang sedang makan roti
"kenapa kau berantakan sekali kalau makan?" ucap Max dan langsung mengelap sudut bibir Alandra dengan sapu tangannya membuat gadis itu terkejut akan tingkah laku pria di sampingnya ini
ckitttt
cup
"anda tidak apa-apakan tu-an?" ucap supir tersebut sembari melirik dari kaca spion tengahnya
Dengan cepat Alandra langsung mendorong tubuh Max, sedangkan Max.. pria itu langsung merapikan jasnya dan berdehem pelan
"berhati-hatilah" ucap Max
tanpa sadar, Alandra memegang dadanya... ntah mengapa jantungnya saat ini berdetak kencang dan jangan lupa ia merasakan wajahnya yang memanas.
"apa aku terkena penyakit jantung? atau karena efek ciuman tanpa sengaja ini?" batin Alandra pada dirinya
"berkasnya mana?" tanya Max yang menyadarkan Alandra dari lamunannya
"ah, iya ini" ucap Alandra dengan salah tingkah dan kembali menatap jendela
Max berdehem pelan sebentar, ia menatap dokumen itu dengan wajah serius namun sesekali ia melirik ke arah Alandra
"kenapa bibir Alandra begitu manis" batinnya dan tanpa sadar langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat
"ada apa? apa ada yang salah dokumennya?" tanya Alandra dengan heran membuat Max berdehem pelan "tidak-tidak ada" ucap Max dengan singkat.
Max benar-benar tidak mengerti, mengapa isi pikirannya begitu kotor saat ini... apa ada yang salah dengan dirinya ini.. sepertinya ia harus berkonsultasi kepada psikolog agar tidak menimbulkan pikiran gila seperti ini lagi.
*
Honey Caffe
"aku ingin ke kamar mandi" gumam Alandra saat berada di depan pintu sebuah cafe
Max melirik kesal ke arah Alandra, bagaimana bisa gadis ini baru turun dari mobil sudah ingin ke kamar mandi
"apa kau tidak bisa menahan sebentar? kita sudah terlambat menemui klien ini" bisik Max
"kau gila? coba kau di posisiku.. pasti kau hmmmmphhh-"
"sudah-sudah sana cepat" ucap Max yang langsung menutup mulut Alandra membuat gadis itu memutar bola matanya dengan kesal
Alandra berjalan ke arah kamar mandi dengan tergesa, ia benar benar sudah tidak tahan lagi... jika saja bos gila nya merasakan seperti dirinya saat ini apa bos nya itu bisa menahan sampai rapat itu selesai?
*
Max berjalan ke arah sebuah tempat duduk dimana ada seorang pria dan seorang wanita yang sedang duduk menunggu dirinya.
"selamat pagi tuan Riki, maaf saya terlambat karena ada kekacauan sedikit" ucap Max dengan sopan
"tidak apa-apa tuan Max.. saya bisa memakluminya kok.." ucap Riki dengan tersenyum tipis
"oh iya, ini proposal saya.. bisa anda lihat terlebih dahulu" ucap Max yang dibalas anggukan Riki
"maaf tuan bos saya terlambat" ucap Alandra dengan sopan membuat Riki menoleh kerah suara tersebut
"Andra?"
"Kak Riki?" gumam Alandra dan Riki bersamaan.
*
*
hai..... jangan lupa like, komen dan vote