Remember

Remember
kedekatan Empat Seksoy



Drt...drt..


"Halo"


"..."


"Baik saya segera kesana" ucap Max dan langsung mematikan ponselnya sepihak


Max mengambil piring yang berisi buah yang sudah ia potong dan berjalan ke arah Alita


"Tante ini buahnya, maaf saya harus kembali ke kantor" ucap Max dengan sopan


"Terimakasih Max.. hati hati yah" ucap Alita yang dibalas anggukan Max dan langsung pergi begitu saja.


Alandra menatap kepergian Max, tanpa sadar ia tersenyum.. ntah lah ia juga tidak tau mengapa saat ini ia tersenyum begitu tiba tiba


"Senyum senyum bae.. kepincut yee" ucap Alita membuat Alandra tersadar dan membulatkan matanya dengan kesal


"Ih.. apaan sih mama" ucap Alandra dan langsung memakan buah yang sudah dipotong Max


"Lagian kak Max cocok sama kamu ndra" ucap Alexa membuat Alandra menatap malu Alexa


"Ihh apaan sih kalian berdua.. gak ada gak ada.." ucap Alandra yang langsung mengibaskan kedua tangannya di depan wajahnya membuat Alita dan Alexa terkikik geli


*


*


"Mau makan apa nanti kita gengs?" Tanya Raka sembari menatap ponselnya.


"Kau ini, makan saja tau mu Raka" ucap Alan dengan kesal


"Gini yah kakak tercinta.. sebenarnya adikmu ini juga tidak ingin memikirkan makanan tapi apakah kau tau.. bahwa kalau kita tidak makan sebelum ke rumah sakit.. kita bakalan jadi babu kak Andra sampai ia sembuh.. apakah papa tidak ingat waktu kaki kak Andra patah itu?" Tanya Raka membuat Ivan berhenti dan menatap Raka dalam diam


"Untung saja kau mengingat kannya nak.. papa hampir lupa.. ayo Lan kita makan.." ucap Ivan membuat Raka mengangguk semangat


"Baiklah.. ayo kita makan terlebih dahulu" ucap Alan yang langsung merangkul adik dan papanya itu.


"Udah ye bang gak usah rangkul.. geli tau.. dikira orang kita tiga homo" ucap Raka dengan kesal


"Eitt.. kita tiga? Oh tidak nakku.. kami udh punya istri.. tidak ada yang bisa mengatakan itu pada kami.. tapi kalau kau sih adaa.. secara pacar aja gak punya" ejek Ivan yang dibalas anggukan setuju Alan


Raka memutar bola matanya dengan kesal.. rasanya ia ingin memutar waktu kembali agar tidak mengucapkan kata kata keramat itu.


"Dahlah dah.. canda nya jelek.. gak like" ucap Raka dengan kesal dan berjalan mendahului Alan dan Ivan membuat mereka berdua tertawa keras


"Tunggu kami mblo" teriak Alan membuat Raka menatap kakak nya itu dengan tatapan laser.


Raka menatap lift dengan kesal.. rasanya ia ingin pergi meninggalkan papa dan abang nya itu . Namun apalah daya.. pintu lift saja belum terbuka sama sekali.


Ting..


"Akhir- Max?" Ucap Raka yang terkejut saat melihat musuh bebuyutan kakaknya itu


Dapat ia lihat aura Max bagaikan seorang pembunuh yang ingin membunuh musuh bebuyutannya..


"Ngapain itu orang kesini yah?" Gumam Raka dengan heran saat melihat Max yang langsung berlari meninggalkannya


"Pasti ada sesuatu yang gak beres" gumam Raka dan langsung membalikkan badannya..dan dapat ia lihat Max juga berlari meninggalkan kakak serta papanya itu.


"Wah wah gue mencium bau bau gelut ini" gumam Raka dan langsung kembali menghampiri kakak dan papanya itu


"Itu bukannya Max?" Gumam Ivan yang bingung


"Memang dia Max" ucap Alan sembari memutar bola matanya dengan kesal


"Lah dia ngapain yah?" Tanya Ivan yang masih belum mencerna dengan baik kedatangan pria itu


Brakk..


Bugh...


"Woilah diam bae kalian.. ayo lihattt" ucap Raka sembari berlari melewati kakak dan papanya itu


"Udahlah pa ngapain diurusi" ucap Alan malas


"Ini anak.. kalau ada apa apa sama si Max.. pasti kita yang pertama kali disate mamamu" ucap Ivan yang langsung menarik tangan Alan membuat pria itu dengan malas mengikuti langkah papanya.


"Memang brengsek banget loh.. gue gak nyangka adik lo yang hampir membunuh Alandra" teriak Max yang langsung menonjok perut dan wajah Steven


"Gue bisa jelasin Max" ucap Steven yang sudah tidak berdaya dalam melawan Max


"Woiii anak orang woii... Tahan" ucap Raka yang langsung menarik tubuh Max dengan sekuat tenaga


"TOLONGGGG" Teriak Raka yang langsung membuat Ivan dan Alan membantu Raka dalam menarik Max


"Sadar.. lo hampir bunuh dia" bisik Alan membuat Max melemaskan tangannya dan menurunkan emosinya.


Max terduduk dengan lemas.. ia menatap Steven dengan tatapan kecewa bercampur emosi


"Yang salah adiknya bukan dia.. dan lo hampir aja bunuh dia" ucap Alan membuat Max menatap datar Alan namun hatinya menyetujui perkataan pria di sampingnya ini


"Kami tau kak Max lapar.. mendingan ikut kami makan" ajak Raka kembali


Max melirik ke arah Alan sebentar dan dapat ia lihat wajah Alan begitu kesal


Max menarik sudut bibir nya sebentar, ntah mengapa ia ingin membalas perbuatan pria di sampingnya ini


"Baiklah.. ayo kita makan" ucap Max yang langsung merangkul Raka membuat Ivan dan Alan terkejut


"Saya saja yang bayarin" ucap Max membuat Ivan tersenyum senang


"Baiklah Max kita akan makan.."


"****** plot twist banget idup guee" gumam Alan dengan kesal dan berjalan ke arah Steven yang sedang pingsan


"Oke masih hidup" gumam Alan dan langsung berlari menghampiri adik, papa serta musuh bebuyutan nya.


*


Restoran


"pilih aja apapun biar saya yang bayar" ucap Max dengan sopan membuat mata Raka membulat terkejut


"Benar nih kak Max?" Tanya Raka yang dibalas anggukan Max


"Wahhh baik banget kamu Max..padahal kami yang ngajak kamu makan.. tapi malah kamu yang bayarin kami makan" ucap Ivan


"Gak papa om.. lagi pula ini sebagai permintaan maaf saya karena tidak menjaga Alandra dengan baik" ucap Max


"Kenapa gak makan kak?" Tanya Raka saat melihat Alan hanya menatap makanannya dengan malas


"Gak lapar" ucap Alan membuat Raka menautkan kedua alisnya dengan heran


Krukkk...


"Buahahahakk.. yakin gak lapar?" Ejek Max membuat Alan menatap kesal pria di sampingnya


"Gak usah malu malu.. atau mau di suapin" goda Max membuat Ivan tertawa keras


Alan mendecak kesal, dengan kesal ia langsung meraih sendok di depannya dan memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya


"Malu malu tapi mau yah bund" ejek Raka yang langsung saja dibalas pelototan mata dari Alan


*


*


Dilain sisi,


Alandra menatap ponselnya dengan bosan, rasanya saat ini ia ingin sekali keluar dari rumah sakit ini.


"Ma, keluar yok.. bosan" ucap Alandra membuat Alita langsung memelototkan matanya dengan tajam


"Xa.. keluar yok.. ngopi gitu" ucap Alandra membuat Alexa juga memelototkan matanya sama seperti yang dilakukan mertuanya itu


"Yah.. kagak seruu..."


"Kagak seru kagak seru ndasmu.. kamu pikirin luka itu... Kalau pendarahan lagi gimana?" Ucap Alita dengan kesal


"Yah jahit lagi" jawab Alandra yang langsung mendapat kan pukulan maknyuss dari mamanya


"Aduhh ihh mama.. kok dipukul sih" ucap Alandra yang mengadu kesakitan


"Makanya diam aja ndra.. ribet banget dah kamu.. ngomong ngomong siapa pelaku yang nusuk kamu?" Tanya Alita membuat Alandra langsung terdiam


"Nah kan.. ini anak malah bengong.. jawab ndra" ucap Alita dengan kesal


"Oke.. Andra tidur aja.... Mama jangan berisik" ucap Alandra yang langsung menutup matanya membuat Alita menatap kesal putrinya


Ia tidak mengerti akan tingkah laku putrinya saat ini.


"Ngomong ngomong.. kenapa mama sama Alexa cepat banget sampai sini?" Tanya Alandra yang langsung membuka selimutnya dan menatap mata mamanya dengan tatapan bingung


"Halo jeng.. iyaa .. oh bentar yahh berisik disini" ucap Alita sembari meletakkan ponselnya di telinganya


"Ckckxk... Kenapa Xa?" Tanya Alandra membuat Alexa menatap bingung Alandra


Cklek...


"Xa.. tante indri mau bicara sama kamu juga ini di telpon" ucap Alita saat membuka pintu


"Ah iya ma" ucap Alexa yang langsung berjalan ke arah Alita


"Pasti mereka rencanain sesuatu" gumam Alandra dengan heran


*


*


Holaaa.. jangan lupa like, komen dan vote