RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [3] – [76] Potensi NPC



"..., Set, pimpin pengetesan mereka bertiga. Bawa ketiga NPC ini ke Gate Dungeon, dan jangan lupa serahkan analisis pertempuran kalian langsung padaku!" Pria Kapak Merah itu memberi perintah ke bawahannya, tanpa sedikit pun memperhatikan tiga NPC tersebut, “Selesaikan secepat mungkin.”


Nanang hanya terfokus pada dokumen di atas meja serta berbagai data di panel biru yang melayang di hadapannya. 


"Oke, Tuan Muda," jawab Assassin Pria itu, langsung. 


Nanang telah menyelamatkan Pope. NPC Utama. Yang memang dia tahu milik sepupunya sendiri: Angelica. Beserta dua NPC lainnya juga. 


Dia jelas tahu juga kalau ketiga NPC tersebut pasti tak akan bisa menolak perintahnya. 


Nanang berharap ketiga NPC yang sedang dites—diberi ujian olehnya itu benar-benar memiliki Potensi Pertumbuhan Besar.


Bukan pertama kalinya Tuan Muda Soro Dojo itu memberi dan menganalisis para NPC yang memiliki potensi. Sebab itulah Nanang tidak terlalu antusias layaknya beberapa orang dari Konglomerat Wun sebelumnya yang dengan susah payah ingin menangkap Pope, Mo dan Ro.


Kami memang tidak terlalu dekat, tapi bagaimana Angelica ini bisa sangat beruntung mendapatkan NPC berpotensi tinggi di Village Point Zero?


Nanang masih duduk di kursi meja kerja-nya, memperhatikan rekaman sosok wanita mengenakan zirah putih sedang menggrinding Kelompok Monster Class B bersama tiga NPC.


Ketiga NPC dalam rekaman yang ditonton Nanang itu terkadang hanya menjadi Umpan Daging sosok wanita berambut emas itu. Angelica. Yang mana dia sama sekali tidak mengerti mengapa game play sepupunya itu sangat buruk.


“Aku tahu dia hanya Tier Dua,” geram Nanang, menggertakkan giginya, merasa sangat gemas, “tapi kenapa mainnya bego begini—apa dia ini bener-bener sepupu aku?!”


Nanang menggenggam pelipisnya sambil menggelengkan kepala, merasa tidak tahan melihat rekaman di panel biru yang melayang di hadapannya.


“Tidak aneh dia terjebak di Tier 2, huh,” gumam Nanang, menggulir panel tersebut dan melihat sebuah statistik perkembangan Keluarga Besar Konglomerat-nya. /Aku benar-benar tidak tahan melihat game play seperti itu ... Skill Kepemimpinan si Set bahkan jauh lebih baik dari sepupu aku?! Sial .. rasanya aneh melihat bawahan lebih hebat dari tuannya.


"Terlepas dari NPC bernama Pope, jika dua NPC Angelica lainnya benar-benar punya Potensi Pertumbuhan yang cukup besar, Keluarga Konglomerat-ku pasti menang kalau perang sudah kumulai!" gumam Nanang, melihat salah satu panel grafik yang melayang di hadapannya. “Dan ... Bagaimana dia bahkan terus meng-grinding tanpa meningkatkan skill—dan bahkan tidak memberi tiga NPC-nya itu skill-skill dasar terlebih dulu?! Apa, sih, yang ada di dalam kepala Angelica itu?”


Nanang tidak akan pernah menduga kalau apa yang ada di dalam kepala sepupunya itu hanyalah sosok-sosok anak kecil yang menggemaskan.


Huh .. lupakan! Masih banyak yang harus aku kerjakan, pikirnya, menggelengkan kepala. “Aku harus benar-benar mengorganisir dan menyusun pasukanku dengan benar!”


Dia masih mengingat jelas game play Party Kecil Angelica, meskipun rekamannya sudah dimatikan. Dan dia menatap tajam salah satu panel biru yang menampilkan salah satu statistik yang menunjukkan komposisi dan kekuatan salah satu party kecil di Keluarga Konglomerat-nya.


Satu per satu avatar dari party kecil tersebut Nanang amati.


Kita benar-benar kekurangan NPC berpotensi, demikian pikir Nanang. “Party kecil kami ini Cuma ada 1 umpan daging? Aku baru sadar ini lebih buruk dari yang aku perkirakan.”


NPC Umpan Daging memang tidak selangka NPC Mage atau NPC Archer seperti Mo dan Ro, namun mereka biasanya akan dimobilisasi secara besar untuk Party atau Squadron Utama dalam Keluarga Konglomerat mana pun.


Pertumbuhan NPC memang tergantung pada potensi yang dimiliki mereka. Jika pertumbuhannya besar, mereka bisa menjadi semakin kuat dan dengan mudah mempelajari Skil - Skill Unique, bahkan memungkinkan untuk mempelajari Skill Book yang dimiliki Player. 


Yang penting lagi, di mana Peralatan, Item, serta Equipment yang bisa dipakai NPC pun tergantung pada berapa besar potensi NPC tersebut. Bahkan untuk mengambil Drop Items High Class, NPC butuh poin potensi yang cukup. Tidak mungkin untuk seorang NPC Budak bisa mengambil Drop Item Lobak.1.


Tak terasa waktu berlalu begitu saja di dalam Ruang Kerja Nanang, dan waktu mulai menunjukkan dini hari yang sebentar lagi akan menuju pagi, namun, nampaknya Tuan Muda Soro Dojo itu masih berkutat pada panel-panel biru yang melayang di hadapannya.


Poin Potensi bisa diketahui dengan analisis seorang Player Assassin saat mereka ber-Party atau meng-Grinding bersama. Sebab itulah Nanang memerintahkan Set. Assassin Pria. Yang membawa Pope, Mo dan Ro untuk dites sebelum menjadi bawahan party kecil-nya.


"Sial ... melihat pertumbuhan Konglomerat Tang saja membuat kepalaku sakit!" geram Nanang, memindahkan slide grafik lainnya, "Apalagi ini ... Si Mamat udah sangat kuat--tapi kenapa keluarganya terus berada di Puncak Kekuatan! Bahkan Lembaga Korporat masih mendukungnya saja."


Nanang melihat dan terus menganalisis sampai waktu tak terasa sudah siang hari. Tuan Muda Soro Dojo itu terus berpikir bagaimana caranya menyeimbangkan kekuatan jikalau Perang Dunia Daratan Surga benar-benar akan dipeloporinya. 


“Mereka belum juga kembali?” gumam Nanang, melihat pintu kayu cokelat, tak jauh di seberang meja kerjanya.


Namun, semakin dia memperkirakan kemenangan Perang Dunia yang akan dipelopori, semakin Nanang merasa frustasi. 


Jumlah pasukan NPC memang sangat berpengaruh apabila sebuah perang antar Player Kelas Atas terjadi  Apalagi apa yang akan Nanang pelopori bisa dikatakan perang antara negara. 


Kalau seperti ini, aku cuma punya kesempatan 30% bertahan dari gempuran mereka semua? Pikiran Nanang terus mencari cara bagaimana supaya bisa jadi Pelopor Perang Dunia dan menang. "Sial ... Apa Hidden Quest ini emang mustahil untuk diselesaikan pada tahap permainan sekarang?"


Nanang bingung, sebab ini bukan lagi Tahap Awal Gim. Para player seperti dirinya sudah bisa beradaptasi setelah Lock World berlangsung.


Nanang membutuhkan banyak NPC berpotensi tinggi untuk menjadi pion-pion menyelesaikan Hidden Quest-nya. 


Untuk Menjadi Pelopor Perang Dunia. Dia tahu hal seperti perang, pertempuran, maupun pertikaian memang hanya event hiburan untuk kekuatan puncak seperti Tuhan, Dewa, atau malaikat-malaikatNya.


Tidak beda jauh dengan para Eksekutif Korporat di Dunia Nyata Nanang yang memang melakukan hal yang sama. Namun, perang di Dunia Nyata pasti akan lebih menakutkan bagi siapa pun.


Karena Nanang mendapatkan quest tersebut, dia membutuhkan pasukan NPC yang memiliki potensi tinggi sebanyak mungkin 


Sebab itulah dia bersikeras ingin merekrut Pope, Mo dan Ro untuk jadi Umpan Daging-nya sendiri. 


Namun, "Kekuatan kami masih kurang," dia mengerutkan kening, "dan masih banyak celah. Keluarga Konglomerat kami akan kalah bahkan jika cuma melawan Konglomerat Tang. Sial. Bagaimana caranya aku bisa menang?" 


Tidak mungkin Nanang menjadi Pelopor Perang Dunia. Memulai Perang tersebut. Apabila dia tahu kalau dia sendiri akan kalah begitu saja. 


“Apa kami ber-kolusi dengan Keluarga Konglomerat lain saja?!" gumam Nanang, kedua mata silver-nya tiba-tiba membelalak dan mulai bersinar terang.***