
Jikalau Pribumi Daratan Surga menyelesaikan satu saja Quest National Heroes, mereka pasti akan memulai pemberontakan terhadap penjajah mereka.
Mamat, Solitian, Queti dan beserta beberapa harem Calon Vanguard Heroes itu sendiri masih berada di:
Field Dungeon, Kaki Gunung [12], Malam hari.
Solitian tertangkap oleh Mamat serta party kecil-nya; Sedangkan Nanang berhasil lolos dan kabur sendiri.
“Sial, Tuan Muda,” lapor seorang assassin perempuan, yang sosoknya muncul tiba-tiba di hadapan mereka, “Saya kehilangan jejak Berseker itu. Maaf.”
“Lupakan orang itu ...” tukas Quest, yang tampak geram terhadap Calon Assassin Heroes. Solitian. Yang telah mencoba membunuh Mamat, “Toh kita bisa tinggal tanya aja orang ini, kan.”
“Kamu pikir aku akan membongkar rekan-rekan yang telah berkolusi denganku begitu saja, Ti?” cibir Solitian, menyilangkan kedua lengannya.
“Sudah ... Kita tak perlu tahu Berseker itu siapa,” ujar Mamat, acuh tak acuh, “Aku yakin dia akan kembali ke hadapan kita lagi. Kan. Sol?”
Apa yang dia duga memang benar. Nampak jelas kebenaran tersebut dari senyum misterius Calon Assassin Heroes itu.
“Kamu nggak mau jawab, Sol?!” geram Queti, “Sumpah, Mat, ayo bunuh aja orang ini sampe ke level nol lagi!”
“”Ya!””
“Lebih baik Tuan Muda Sukarno cepet bunuh aja dia daripada nanti buat masalah yang lebih serius.”
Mamat menggeleng, tetap tidak setuju dengan saran harem-nya itu.
“Sayang kalau player seperti Solitian kembali ke level nol lagi,” papar Mamat, menatap Calon Assassin Heroes, “Tapi bukan berarti saya akan memaafkanmu gitu aja, Sol.”
Mamat mengeluarkan sebuah Equipment. Peralatan Aneh. Dari inventory-nya.
“HAHAHAHA!” Queti tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, “Kamu tetap kejam ternyata, Mat! Aku suka ini!!”
Tanpa menoleh ke Calon Healer Heroes itu, Mamat menyodorkan sebuah Kalung Belenggu Hitam ke Solitian.
“Kamu bebas memilih, Sol,” ujar Mamat, menatap Calon Assassin Heroes di hadapannya, “Kembali ke level nol—“
Solitian mengacungkan belati hitam-abunya ke hadapan wajah Mamat, dan kemudian mencibirnya, “Kau pikir aku mau pake equipment terkutuk nan tolol-mu itu, ha?!?”
“—dan saya akan ambil Quest Legendary yang sudah susah payah kamu dapatkan itu,” lanjut Mamat, menyipitkan matanya saat melihat ujung bilah belati di tangan Solitian, “Atau kenakan equipment ini sampai aku bisa mencapai tujuanku?”
Semua orang di sekitar mereka berdua tercengang dengan apa yang telah dikatakan Mamat.
Queti pun tercengang, namun tetap mendesak Mamat, “Orang ini yang akan jadi Pahlawan Pengintai?! Apaan—di mana pahlawan-pahlawannya! Jangan becanda dengan aku—ayo kita bunuh dan ambil quest itu dari orang tolol ini, Mat!!”
Calon Healer Heroes itu mendesak Mamat, tetapi Mamat dan bahkan Solitian hanya terdiam dan mulai saling menatap tajam satu sama lain.
“Sialan, kau, Mat,” umpat Solitian, dengan nada berbisik seraya membelalak, cukup terkejut, “Kau udah tau aku punya quest ini?!”
“Siapa lagi kalau bukan kamu, kan, Sol?” puji Calon Vanguard Heroes itu, menyeringai, “Yang benar-benar pantas menyelesaikan quest itu.”
“Ceh ...” decak kesal Solitian, meraih Equipment di tangan Mamat, “Tai, lha .. kalian semua!”
Dengan raut wajah yang sangat enggan, Calon Assasin Heroes itu pada akhirnya mengenakan Kalung Belenggu Besi Hitam di lehernya.
“Hahaha!” Queti tampak senang. “Rasain kau, Sol! Suruh siapa berani lawan Tuan Muda Sukarno ini .. Ahahaha ...”
“Aku gak tau kamu bersama orang ini, Ti,” gerutu Solitian, membuang muka, “Sial ....”
Cursed Equipment yang baru saja dikenakan Solitian merupakan sebuah Kalung Budak Terkutuk. Berbeda dengan Kalung Budak pada umumnya yang hanya akan langsung membunuh seorang budak jikalau membantah, memberontak atau menyerang si pengontrol kalung tersebut, Kalung Budak Terkutuk lebih berbahaya lagi karena ia akan merusak jiwa si pelanggar, bahkan sampai jiwa si pelanggar tersebut hilang sepenuhnya.
Berarti Solitian tak akan pernah bisa respawn kembali apabila dia melanggar perintah Mamat.
Mulai dari sini, Calon Assassin Heroes itu—karena kegagalannya mencuri Quest Legendary Main Heroes—malah menjadi budak Mamat sekaligus menjadi seorang informan gratis untuk pemegang Quest Legendary National Heroes itu sendiri.
Wilayah Khusus Keluarga Konglomerat Soro Dojo, Kediaman Mewah Nanang, hari berikutnya setelah Calon Assassin Heroes menjadi budak Mamat, namun pada waktu yang sama:
Malam hari
Nanang berhasil kabur, tetapi dia tidak menyadari, sebenarnya Pria Berseker itu hanya dibiarkan pergi karena kebaikan Mamat.
“Sial!! Kita gagal gitu aja!?" umpat Nanang, "Kenapa Calon Helear Heroes ada di samping Mamat?! Kalau dia tidak ada, Anak Emas itu sudah pasti mati!"
Rencana pencurian Quest Legendary dengan cara membunuh Mamat telah digagalkan oleh Queti. Calon Healer Heroes. Begitu saja. Dengan formasi sempurna party harem Mamat, Nanang bahkan tidak bisa menyentuh Calon Pahlawan Nasional Utama itu.
Pria Berseker itu hanya bisa melihat Calon Assassin Heroes—rekan kolusinya—tertangkap oleh Mamat.
Dia mengeluh akan hal itu, “Sial ... kami benar-benar gagal kemarin?” sambil duduk di dalam Ruang Kerja-nya.
Nanang sama sekali tidak menyadari kalau dia sangat beruntung karena dia tak akan diperbudak party Mamat layaknya Solitian. Dia hanya berasumsi kalau Assassin Heroes itu pasti sudah mati dibunuh mereka.
“Lupakan saja itu, Tuan Muda,” ujar seorang wanita tua, berpakaian layaknya pelayan Nanang pada umumnya.
Dia mendongak, melihat wanita tersebut.
“Sina?”
“Sepertinya Anak Emas itu sama sekali tidak melaporkan tindakan Tuan Muda kemarin.”
“Cih ... Anak itu emang seperti itu—ya—setidaknya kita harus GB-in level Soli—“
“Saya pikir itu tidak perlu, Tuan Muda,” ungkap Sina, berjalan ke hadapannya sambil mengeluarkan sebuah panel biru dari arloji quantum-nya, yang ia melayang vertikal di atas Meja Kerja Nanang, “Lihat ini ...”
“Hah? Apa?” tanya Nanang, menyipitkan matanya, “Apa itu—sial?! Solitian mau aja jadi budak Mamat?! Apa dia bodoh ...!?”
Nanang bangkit dari kursi, membelalakkan kedua mata silver-nya dan terlihat sangat terkejut; Sina menggelengkan kepala, dan terlihat tak setuju dengan pernyataan Tuan Muda-nya itu.
“Saya pikir itu merupakan keputusan yang tepat, Tuan Muda.”
“Tepat apanya?! Apa kamu juga bodoh, Sina? Lihat Kalung Budak yang dipakainya! Itu jelas bukan Kalung Budak biasa ...”
“Tentu. Itu. Bukan Cursed Equipment biasa ... tapi apa Tuan Muda Nanang lupa? Orang ini punya quest yang tak biasa juga.”
“Ah? Yaa ... Kamu benar,” gumam Nanang, lirih, dan dia seolah tampak sedang melamun, “Kalau aku punya quest itu juga, aku akan memilih tetap menyimpannya daripada diambil orang lain—dan juga kita semua tahu si Mamat orangnya emang terlalu baik.”
Selagi Tuan Muda Soro Dojo itu sedang melamun, Sina menampilkan panel biru lain dan langsung mengirimkan-nya ke Nanang.
“Lupakan saja kegagalan Anda kemarin,” ujar Sina, “Selesaikan aja quest ini ... Quest itu permintaan langsung dari Kepala Keluarga kita.”
Nanang nampaknya tidak peduli dengan quest apa pun—bahkan jika ia diperintahkan langsung oleh Kepala Keluarga Konglomerat Soro Dojo-nya sendiri, dia tetap nampak tidak peduli sedikit pun.
“Dan. Ya. Tuan Muda tahu .. Keluarga Nojo Sukarno ... benar-benar tidak akan mendeklarasikan perang atau permusuhan ke kita,” papar Sina, setelah membaca panel biru berisi pesan terbaru di hadapannya, lalu kemudian dia tersenyum penuh arti saat menatapnya.
“Guh,” desah Nanang, menggeleng, “Okelah ...”
Sina memberi Nanang sebuah Quest Sederhana supaya dia bisa segera melupakan kegagalannya kemarin.
“... Toh aku juga harus terus bertambah kuat,” gumam Nanang, menundukkan kepala saat berjalan keluar Ruang Kerja-nya, “kan.”
Pada akhirnya, Nanang berpikir, dia memang harus segera bertambah kuat sampai bisa meraih segala sesuatu yang dia inginkan dengan semua kekuatan dan rencananya sendiri—tanpa harus berkolusi dengan siapa pun lagi.***