RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [2] – [37] Perisai Daging (2/3)



Pada waktu yang sama pada saat seorang anak kecil NPC sedang merasakan perasaan aneh—yangmana dia sama sekali tidak tahu bahwa perasaan tersebut bernama: kesepian, Angelica telah meminta kepada kedua orang tuanya untuk mengadakan pertemuan dengan tetua keluarga besar mereka.


Selepas World Out dari Gim Serikat Dunia beberapa waktu yang lalu, Angelica langsung mengutarakan tentang apa yang dia inginkan ke orang tuanya.


“Kita sampai, Lisa,” kata seorang pria paruh baya berambut dan mata emas. Dia duduk berhadapan dengan anaknya di dalam sebuah kendaraan.


Duduk di samping pria paruh baya itu, seorang wanita cantik dengan postur bermartabat terus tersenyum. Dia tak sedikit pun mengendurkan senyum di wajahnya.


Keluarga kecil itu sedang naik sebuah kendaraan, menuju ke Bangunan Keluarga Utama mereka. Ia melaju mengikuti orbit transparan yang terletak cukup jauh di atas permukaan daratan. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan berpikir kalau ia merupakan kendaraan terbang. Dengan interior kendaraan tersebut memang cukup luas, sampai bisa menampung 12 orang.


“Apa kamu beneran mau ikut kompetisi Eksekutif Korporat itu?” bujuk seorang wanita cantik yang duduk di depan Angelica, “Xiao Tang No. Sepupumu. Si Jenius itu ikut juga loh ... Kamu sebaiknya memikirkan ini lagi, Lisa.”


Wanita tersebut memiliki perawakan yang sangat mirip dengan Angelica. Jika melihatnya dengan saksama, wanita itu memang terlihat seperti versi dewasanya Angelica. Dia berdiri, dan menoleh ke Angelica sebelum keluar dari kendaraan.


“Kamu yakin nggak mau mundur aja, nih? Mumpung kita belum ketemu kakekmu.”


Angelica berdiri tegap seraya sedikit mendongak, menatap serius kedua orang tuanya.


“Aku udah mutusin gimana pun sulitnya, aku nggak akan mundur, Ma,” tekad Angelica, “Pa ...”


Kedua orang tua itu keluar dari kendaraan berwarna metal, yang melayang 100 senti tepat di atas permukaan Daratan Dunia Nyata.


Angelica mengikuti mereka berdua, menapaki anak tangga energi berwarna biru, yang langsung muncul secara otomatis pada saat kendaraan tersebut mendarat di tempat tujuan.


Banyak kendaraan mewah yang sama tetapi memiliki warna berbeda dengan kendaraan milik perempuan itu. Seperti sebuah benda metal berbentuk kubus, lingkaran, dan oval dengan berbagai warna yang terbang berlalu-lalang cukup jauh di atasnya. Ia semua melaju sesuai dengan orbit, tepat di samping gedung-gedung pencakar langit.


“Ya," desah pasrah ibu Angelica, “udahlah, kalau maunya kamu gitu.”


Sedari kecil, Angelica selalu didukung penuh oleh orang tuanya melakukan apa pun yang dia suka. Jadi pada saat dia ingin menjadi Pahlawan Nasional Utama, dia sudah pasti akan mendapat dukungan dari mereka.


Keluarga kecil Angelica sangat baik, selalu men-suport perempuan itu dengan cara apa pun agar dia tetap ceria. Kedua orang tuanya sampai marah ke Keluarga Nojo Sukarno yang menolak Angelica begitu saja. Namun berbanding terbalik dengan orang-orang di keluarga besarnya. Mereka biasa saja. Tidak mendukung tetapi juga tidak melarang.


Mereka bertiga masuk ke sebuah gedung bertingkat.


“Kalau kamu mau mundur, mundur aja ..." ujar ayah Angelica, "Lupakan aja bajingan kecil itu! Masih banyak pria dan anak yang lebih baik darinya.”


“Ayah!” tukas ibunya.


Berbanding terbalik dengan ibu Angelica yang seperti orang baik, ayahnya terlihat protektif dan sangat tegas.


“Apa kamu nggak inget gimana aku berjuang untuk dapetin kamu?” ungkap ibu Angelica, “Lisa juga sedang berjuang untuk dapetin siapa yang dia sukai ...”


“Tapi anak itu berani nolak putriku,” geram ayah Angelica. “Apa yang kurang dari putri kita?! Anak itu terlalu sombong!”


Mereka terus berdebat di dalam lift transparan yang mulai melesat naik menuju lantai paling atas gedung.


“Cih,” decak kesal ayah Angelica, membuka pintu ruangan yang cukup besar di hadapannya, “Aku cuma gak suka sikap bocah itu ..."


Di dalam ruang kerja yang sangat luas, duduk seorang pria tua di meja kerjanya. Di belakang orang tua itu hanya terpampang kaca yang langsung menunjukkan pemandangan di luar gedung, di mana berbagai bentuk kendaraan terbang serta warna orbit mereka malang-melintang di udara.


“Kamu akhirnya sampai, Son,” sambut pria tua itu kepada ayah Angelica, lalu kemudian beralih ke dua orang di belakangnya, “Kalian juga.”


Angelica mulai terlihat gugup; Wanita di sampingnya tersenyum menawan seperti biasa.


Orang tua berambut putih itu mengangguk ke seorang pemuda yang sedari awal memang ada di dalam ruangan dan berdiri tegap di sampingnya. Yangmana pria tersebut langsung mengerti, meninggalkan ruang kerjanya.


Di meja kerja orang tua tersebut terpampang papan nama hitam di atas putih, yang tertulis:


Fu Tang No – Kepala Keluarga Besar Tang No


“Aku akan katakan dengan jelas, Son,” ujar Fu Tang No, menatap lurus ke arah putranya, lalu ke arah ibu Angelica, “dan kamu juga, Mun ... Kalian terlalu memanjakan Angelica.”


“Tapi kami cuma ingin Angelica menjadi apa yang dia mau, Ayah Mertua—“


“Aku tidak tahu bagaimana cara keluarga bawahan seperti Keluarga Nojo-mu itu mendidik, tapi ini masalah yang sangat serius.”


Untuk pertama kalinya, ibu Angelica mengerutkan keningnya.


Son Tang No langsung melangkah ke depan, tidak terima dengan perkataan ayahnya.


“Ayah!” tukas Son Tang No, “Jangan bicara seperti itu ke istriku.”


Orang tua itu berdiri dari kursinya, lalu melangkah ke hadapan putranya.


Orang tua dengan warna mata seperti warna rambutnya itu sedikit menunduk saat menatap ke arah dua mata emas ayah Angelica.


“Kamu mengerti, kan, Nak?” tegas Fu Tang No, lalu melirik Angelica kecil, “Ng?”


“Tapi aku akan berusaha keras, Kakek ...” janji Angelica, “Sungguh!”


Kakek Angelica menggeleng, kembali ke meja kerjanya.


“Ayah! Aku mohon setidaknya—“


“Kami para tetua sudah memutuskan untuk mengerahkan seluruh sumber daya ke Xiao Tang No,” ungkap Fu Tang No, menoleh ke istri putranya, ”Dan kamu juga waktu itu setuju, kan, Mu?”


“Cih. Waktu itu aku tidak tahu kalau putriku pada akhirnya ingin jadi Pahlawan Nasional juga ...”


“Ya, Ayah ... Kami berdua hanya ingin anak kami bahagia.”


Setelah sedikit geram dan mendecakkan lidah, senyum di wajah ibu Angelica. Mu Tang Dojo. Akhirnya kembali, namun, sorot matanya berubah menjadi sangat dingin.


Duduk kembali ke kursinya, Fu Tang No melihat Angelica yang murung, lalu kembali ke versi dewasa cucunya itu yang melangkah ke samping anaknya.


“Oke,” desahnya, menggeleng sembari menyentuh pelipisnya, “Aku akan beri kamu kesempatan, Lisa.”


Mendengar itu, Angelica mulai bersemangat kembali.


“Tenang, Kek! Aku akan ngelakuin yang terbaik di dalam gim! Kakek, Papa dan Mama pasti nggak akan kecewa!”


Son Tang No dan Mu Tang Dojo tersenyum, senang melihat anak mereka kembali ceria.


“Tapi ini tak akan mudah, Lisa,” jelas Fu Tang No, menatap serius cucunya, “Kendati aku hanya memberimu satu permintaan—jika di gim itu disebut ...”


“Quest, Kek?” sambung Angelica, sangat semangat, “Tiap hari aku ngelakuin apa yang para tetua keluarga daftarkan—aku udah biasa.”


“... Ya, itu,” pungkas Fu Tang No, mengangguk lalu melihat panel biru yang tiba-tiba muncul di hadapannya, “Hanya satu Quest.”


Sebuah panel quest sederhana terpampang di hadapan Angelica, yang langsung terkirim ke jam tangan quantum di tangan kanannya.


“Aku nggak tahu seberapa sulit ini,” kata Angelica, membaca tulisan putih di panel biru yang muncul di jam tangan quantumnya, “tapi aku akan dapetin item ini secepatnya, Kek!”


Angelica membaca lagi quest yang diberikan kakeknya dengan saksama saat berjalan keluar ruang kerja kakeknya.


...[Quest 21-07-4221]...


Berkenaan dengan akan adanya pembukaan Ekspansi Gim Serikat Dunia, para player diharuskan untuk melenyapkan Enemy Class A Distrik setempat.


1.     Melawan Rowell (0/100).


2.     Cari item bernama MX-Z0212 (0/1).


3.     Serahkan akumulasi Energi Inti dari Roswell yang telah dikalahkan (0/100).


Reward:


1.     Slot untuk kualifikasi menjadi Calon Pahlawan Nasional.


Punishment: N/A


[Quest akan otomatis terhapus saat 10 Slot Calon Pahlawan Nasional telah terisi. Masih tersisa (2/10) Slot Calon Pahlawan Nasional]


Roswell, huh ... Kayaknya aku pernah denger, pikir Angelica, membaca quest tersebut sekali lagi. “Ah!? Bukannya mereka akan muncul di uptade GWG nanti?”


Angelica melihat forum Gim Serikat Dunia menggunakan jam tangan quantum di tangannya.


“Ah ... yaa .. aku nggak salah. Untuk sekarang, nggak ada yang bisa aku lakuin selain naikkin level secepatnya,” gumamnya.


“Jadi kamu udah tahu apa yang harus kamu lakukan, Lisa?”


“Kalau ada yang bisa ayah bantu, bilang aja!”


Dia berdiri di ambang pintu keluar, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan hangat.


“Iya, Ma, Pa,” ucap Angelica, “Makasih, ya ... Berkat papa mama, aku akhirnya punya harapan bisa jadi Pahlawan Nasional!”***