
Robot AMP menebaskan Pedang Besar-nya ke arah kami secara horizontal. Tetapi kami berdua berhasil menghindarinya, dan dengan mudah langsung menyerang balik.
“Kau pikir kita akan melawannya bersama, kawan?” cibir Pendekar Pedang Kayu itu. “Robot ini mangsaku! Pergilah ...!!”
Seorang NPC—sebuah akronim yang sering disebut oleh para Anak Diberkati Tuhan untuk kami:
Pribumi Daratan Surga
Yangmana Pribumi Daratan Surga ini anehnya memiliki ekspresi, semangat dan tingkah laku aneh. Dia mengayunkan Pedang Kayu-nya dengan sangat baik, serta bertarung dengan senyum pada wajahnya yang memang sangat aneh untuk seorang NPC.
Aku mengungkapkan sesuatu yang bodoh, “Ngomong-ngomong," seraya menghindari tebasan Pedang Besar Robot AMP, "aku adalah penyelamatmu dari masa depan."
Pria Pedang itu mundur, berdiri di atas tempat sampah sembari memperhatikanku dengan tatapan aneh.
“Hahahaha!” Dia tertawa, menerjang kembali ke sisiku. “Candaan yang sangat bagus, kawan!”
Aku mundur sejenak, berdiri tegap di tempat dia sebelumnya mundur sejenak.
“Aku: Pope ... Kita harus bekerja sama untuk mengalahkan AMP itu.”
Aku bisa berkata santai di atas tempat sampah seperti itu, tetapi sebenarnya, pria di hadapanku ini sedang intens baku hantam dengan Robot AMP—masih hanya menggunakan Pedang Kayu-nya.
“Aku: Kirito,” katanya, dengan sangat percaya diri. “Kau diam saja di sana, Pope! Kirito ini bisa membereskan rongsokan bodoh kayak gini sendirian! Hahahaha!”
Aku tidak tahu bagaimana Pedang Kayu dipegangnya itu tidak hancur-hancur. Pun aku tahu pria ini memang bisa mengalahkan Robot AMP itu sendirian, namun dengan bayaran yang sangat fatal untuknya nanti.
“Oke. Dry. Kau urus bagian kiri-nya,” saranku, mengabaikan guyonannya.
Di kehidupanku sebelumnya, cedra yang dia dapat di pertarungan saat ini akan memperburuk keadaannya saat menyelamatkan aku, Mo dan si Ro. Dan pada akhirnya dia mengorbankan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan kami bertiga.
Aku tidak ingin itu terjadi di kehidupanku yang sekarang.
“Hey!?” sahutnya, melirikku sedikit, dengan kedua mata bulatnya melebar, “Bagaimana kau tahu namaku?!!”
Kami masih memiliki musuh-musuh yang sangat kuat—bahkan aku pun tak percaya diri jika harus melawan mereka tanpa orang aneh ini.
“Aku sudah bilang, bukan? Aku dari masa depan.”
“Kau sungguh dari—“
“Itu terukir di pedangmu, ngomong-ngomong ... Aku hanya menebak.”
Dry terdiam sejenak; menangkis Pedang Besar AMP dengan mudahnya. Tetapi jika diperhatikan dengan jelas, dia tidak menangkisnya—orang itu hanya mengalihkannya ke samping sambil sedikit menghindar.
“Matamu sangat jeli, ya, Pope?”
“Seperti itulah.”
Aku tahu Dry tidak akan pernah membicarakan tentang keanehan ataupun mengungkap rahasiaku. Karena orang yang mempunyai rahasia besar, pasti mengerti perasaan orang yang memiliki rahasia.
Terlepas itu, aku kagum dengan kejelian serta ketepatan waktu dia saat mengalihkan Pedang Hitam Tajam Robot AMP hanya dengan Pedang Kayu-nya.
“Ngomong-ngomong,” ungkapnya, seraya terus menyerang bagian kiri Robot AMP, “Jangan menahan diri saat bertarung, Pope. Perilaku seperti itu sangat berbahaya.”
Entah mengapa Dry mulai memasang ekspresi serius.
Dan, bagaimana dia bisa tahu aku sedang menahan diri? Aku cukup terkejut.
Aku mulai mengerahkan tenaga lebih, melawan Robot AMP di hadapan kami. Dengan satu tebasan Belati-ku ke kaki AMP, yang langsung membuat-nya sedikit bergeming.
“Kenapa kau bisa membunuh anomali itu dengan sekejap, tapi melawan Robot AMP ini sangat kewalahan?” tanyaku padanya, heran.
“Anomali—para Anak Diberkati Tuhan itu hanyalah kumpulan dari ‘angka’, Pope ...” jelasnya dengan santai seraya menghindari serangan, namun masih berdiri tegap di posisi yang sama. “Tidak lebih dari itu. Tapi Robot ini ... masih bagian dari ‘kita’.”
Sampai sekarang aku tidak mengerti dengan maksud dari perkataannya kalau: ‘Anak Diberkati Tuhan hanyalah kumpulan dari angka’, tetapi aku tahu maksud dia tentang si AMP ini adalah bagian dari ‘kita’.
Dia menerjang bersamaan denganku, dan kami berdua behasil memukul mundur Robot AMP di hadapan kami.
Kami berdua terus menyayat dan menebaskan senjata kami masing-masing dengan sangat baik. Sampai saatnya, aku langsung mengerti saat si Dry mengalihkan perhatian AMP sejenak—memberiku celah untuk melompat ke atas Kepala Robot-nya.
Dengan pijakkan di bahu kanan dan Setengah Wajah Metal Hitam Robot AMP, dan dengan Ujung Bilah Tajam Belati di genggamanku yang menghadap ke belakang, aku menusukkan Belati-ku dari atas ke bawah tanpa jeda satu detik pun—tepat ke arah mata biru kiri-nya.
“Bagus, Pope,” puji Dry saat aku sedang melompat mundur. “Kau membutakan mata kiri-nya agar aku yang menghabisinya, kan?!”
“Tidak,” dalihku, menggeleng, “Hanya kebetulan.”
Dia menyelesaikan bagiannya dengan baik. Menyerang sendi tangan, kaki, serta tubuh utama Robot AMP di hadapannya tanpa meleset satu serangan pun.
Ya. Ini berakhir, demikian pikirku saat melihat Robot AMP di hadapan kami mulai goyah.
Dengan tusukkan Pedang Kayu yang sangat kuat tepat ke Pusat Energi AMP; serta Belati-ku menancap kuat di mata kiri-nya, musuh kami langsung hancur berkeping-keping.
“Pertarungan yang cukup menyenangkan, Pope.”
Aku mengabaikannya, mengambil sesuatu di antara kepingan besi AMP yang mulai lenyap.
“RM-0 ... Lumayan,” gumamku, menggenggam sebuah Botol Biru berisi cairan putih bercahaya sebesar Belati-ku. “Ah, Dry. Lanjut ronde berikutnya?”
“Apa!?”
Dia sangat terkejut dengan ucapanku.
Walaupun terlihat sangat kelelahan, tetapi pria aneh itu masih bisa mengikuti arah pandanganku.
3 Robot AMP muncul dari atas atap pabrik dan langsung menerjang ke arah kami berdua.
“Siap!!! Ayola—“
“Tentu kita akan kabur, bodoh.”
Aku mendahuluinya, kabur dengan memasuki sebuah bangunan agar sulit terdeteksi.
“Sialan. Tunggu aku!!”
Aku tahu dia akan mengikutiku. Pendekar Pedang Kayu itu bukanlah orang yang bodoh dan gegabah.
“Hahahaha! Salah satu dari mereka menemukan kita. Apa kita habisi saja?”
Namun dia hanya orang aneh.
Dry berlari di sampingku sambil menyarungkan Pedang Kayu di punggungnya.
“Tunggu sebentar lagi,” ujarku, terus berlari dan menunggu sesuatu.
Aku menyayatkan Bilah Tajam Belati ke pipi kiriku sendiri.
“Hei ...!? Apa yang kau lakukan?!”
“Rekanku agak menyebalkan―hanya tidak ada waktu bagiku untuk menjelaskan padanya.”
Aku berlari menuntunnya ke tempat persembunyian si Ro dan Mo.
“Hei, Pope,” seru seseorang, memanggilku, “Di sini.”
Kami berdua berada di sisi lapangan terbuka, dengan pohon berukuran sangat besar, menempel pada tembok beton putih di samping kami.
“Temanmu, Pope?” tanya Dry dengan seringai lebar di wajahnya.
“Ya. Kita masuk ke sana,” jawabku.
Kami berdua memasuki sebuah celah kecil di antara rimbunnya akar pohon besar, dan sedikit berseluncur ke bawahnya.
“Hai. Aku Kirito,” canda Dry ke si Ro dan Mo.
“Aku pikir akar ini tidak akan bertahan lama,” sidik Mo, maju dari gelapnya celah akar pepohonan. Dia melihat luka di pipiku dan langsung terdiam. “Apa yang harus kita lakukan? Kalian berdua yang membawa mereka kemari.”
Kami semua terkurung di bawah akar pohon besar yang menempel di dinding perbatasan kota. Robot AMP di atas kami terus menebas akar pohon dan mencoba menerobos masuk―ia tidak bisa masuk karena celahnya terlalu kecil untuk dimasuki Pedang Besar serta Tubuh Besar-nya.
“Hahahaha! Kalian dengar? AMP lain kayaknya datang―kami membawa 3 AMP, ngomong-ngomong,” ungkap Dry, yang anehnya dia bangga.
“Ya. Kami berdua juga baru lolos dari 4 AMP,” ungkap Ro.
“Ya. Kita harus pergi dari sini,” lanjut Mo, juga mengungkapkan situasi kami yang sangat tidak aman sekarang, “Tidak ada pilihan lain ... Akar-akar itu tak akan bertahan lama.”
Meskipun kami semua aman sekarang, Robot – Robot AMP di luar akan terus bertambah dan ditambah Pedang Besar Robot AMP terus memotong akar pohon satu per satu.
“Aku hanya akan mengajarkan kalian sekali,” ucapku, menarik perhatian mereka. “Keluarkan Kepingan Pentagon Biru yang kalian dapat.”
Masing-masing dari mereka mengeluarkan satu keping Pentagon Biru.
Aku meremukkan satu Pentagon Biru dipegangku, dan dari inti kepingan tersebut langsung mengeluarkan sebuah Energi Cahaya Biru. Ia menyelimuti tangan kananku dan akan terus menjalar ke seluruh tubuhku. Namun, ia otomatis berhenti hanya sampai bahuku.
“Pertahankan cahaya biru ini di bagian tubuh yang mau kalian perkuat,” jelasku, singkat, “Masukan ia ke kesadaranmu kalau ingin memperpanjang rentang hidup kalian.”
“Jadi,” Dry tiba melebarkan mata bulatnya, mulai mencoba sesuatu, “aku juga bisa melakukan ini―hah!?!”
Pendekar Pedang Aneh itu mengacungkan Pedang Kayu-nya ke atas; dia mengalirkan Energi Biru ke Pedang Kayu-nya.
“Ini berhasil! Hahaha! Aku super-jenius! Hahaha!"
Ide yang sangat brilian. Namun, seharusnya dia mendapatkan ide itu setelah beberapa bulan bertarung dan menjarah di kota nanti.
Aku pun mengikutinya, dengan mengalirkan titik berat Energi Biru di lengan kananku ke sebuah Belati.
“Ya. Kau sangat jenius, Dry ... Ini tidak buruk.”
Kami berempat membuat rencana singkat tentang formasi bertarung kami saat melawan Robot AMP nanti. Aku menyebut formasi ini dengan sebutan: Formasi Belah Ketupat.
Di mana aku paling depan sebagai Vanguard, Dry sebagai Swordman di kanan, Ro di kiri, dan si Mo harus tetap di belakang.
“Oh. Mereka ada 12!!?” Senyum lebar di wajah Dry terus markah, setelah mendorong mundur satu Robot AMP dengan Pedang Kayu-nya yang telah diperkuat. “Hahahaha! Ini sangat hebat!”
“Tidak mungkin kita akan melawan semuanya,” ujar Mo, mengingatkannya.
“Ya. Aku tahu itu!” pungkas Dry, membuka jalan untuk kami.
Ro mengangguk. “Ya. Apapun yang terjadi, jangan sampai terpisah.”
“Ya. Benar ... Kita akan bertahan sambil terus mundur,” saranku, menerbangkan satu AMP, lalu kemudian menghancurkan Kepingan Poligon Biru lain, "Kita ke utara.”
Aku tidak ingin terlalu mencolok tetapi dengan keadaan masa depan menjadi sangat rumit, bagaimanapun caranya, aku harus membuat rekan-rekan party-ku ini menjadi kuat secepat mungkin.***
{N/A: [GWG] REHHAT ini UP setiap pukul 03.00.00! Untuk para neet di sana yang tak ada kerjaan dan selalu begadang, tentunya. Pun aku NeeT juga, tapi dengan Big N & T!! Dan mohon jangan lupa 'Like'nya kalau2 cerita-ku memang bisa dinikmati.}