
“Argh ...!!!” geram seorang Pria Gumpal di hadapan Panel Persegi Transparan yang melayang di hadapannya, “Sial ... Aku gagal lagi!!”
Dia memukul permukaan meja metal; layar tersebut langsung mati begitu saja. Walaupun terbuat dari metal, orang itu memukul meja tersebut dengan sangat kuat tanpa merasakan rasa sakit sedikit pun.
“Game Kuno ini sangat membosankan, ternyata!” gerutunya, menyalakannya sepuntung rokok. “Padahal aku sangat menginginkan Flag Onee San itu!!”
Kaos putih polos dikenakannya mencerminkan Pria Gumpal itu layak untuk disebut sebagai seorang NEET. Namun anehnya, Kamar Apartemen yang dia tinggali bisa dibilang mewah nan luas.
Bagaimana cara nge-flag untuk mendapatkan wanita itu? Aku udah nyelesain Flag – Flag lain tapi hanya ini aja yang sangat susah, sial, demikian pikirnya. Dia terus menggerutu hebat dalam hatinya dan mulai malas untuk bermain gim kuno itu lagi.
Pada akhirnya, dia menghisap rokok sembari melihat sebuah Portal Terminal Berita.
Korporat ini-lah, korporat itu-lah! Pada akhirnya mereka semua cuma pelanggan-pelanggan setiaku, cibirnya dalam hati.
Pria Gumpal itu menaikkan sudut bibirnya, lalu melemparkan tubuh besarnya ke kasur di sudut ruangan.
Sebuah ruangan di suatu Apartemen Distrik Negara Bagian Barat yang telah dibelinya secara tunai. Kendatipun Pria Gumpal itu terlihat layaknya NEET pada umumnya, dia masih bisa hidup mewah.
Tidur terlelap di atas kasur kotor dan kumal layaknya seekor boar, dia terbangun oleh alarm jam dengan suara gadis yang terus berulang-ulang seperti: “Dayo ~ “
“Ugh,” keluhnya seraya bangkit dari tidur panjangnya, “Aku harus memberi mereka makan, ya ....”
Pria Gumpal itu pergi ke dapur dan mengambil sebuah panci besar. Dia pun memasukkan bahan makanan secara acak dari dalam kulkas besarnya.
“Tu-tu-tu-tu-tu ~ ”
Bersenandung ria di ruangannya sendiri seperti itu, dia sudah bisa terlihat seperti psikopat murni.
“Aku akan membuat makanan untuk mereka lebih banyak saja!”
Dia memasukkan bahan makanan ke dalam panci besar secara acak dan tak masuk akal.
Nasi, roti, ikan asin serta makanan-makanan ringan yang terlihat sudah lewat masa kadaluarsanya dia masukkan ke dalam panci berisi air begitu saja.
Pria Gumpal itu mengaduknya dengan centong besar seraya berjoget ria seolah dia tidak memiliki masalah.
Dia memakai dua sarung tangan anti panas berwarna pink bertelinga kelinci yang sangat imut, lalu membawa panci besar berisi makanan aneh itu ke Ruang Bawah Tanah Apartemen Mewah-nya.
“Huft ... Untung tubuhku besar dan kuat!”
Dia berkata tubuhnya besar tetapi sebenarnya perawakannya seperti boar gemuk.
Menuruni anak tangga, dia dengan mudahnya membawa panci besar tersebut.
Sebuah Ruang Bawah Tanah dengan koridor panjang yang terdapat deretan sel jeruji besi di sisi kanan-kirinya, seperti sebuah penjara biasa.
Namun, tidak ada satu pun penjahat di dalamnya.
Hanya ada plang metal di atas sel-sel kosong yang bertuliskan: Sold Out!
“Siapa saja yang harus aku beri makan minggu ini?” gumamnya, seperti melupakan sesuatu, “Ah!? Hanya tersisa kalian saja?”
Di ujung koridor penjara itu terdapat satu sel jeruji besi dengan plang besi bertuliskan: Quick Sell: Diskon 20%!!! Yang tampak sangat kotor dan tak terawat.
Pria Gumpal itu membawa panci besar ditangannya, lalu menyimpannya di hadapan sel jeruji besi tersebut.
“Huft ... ini sangat berat, ternyata, sialan!!” gerutunya sambil menopangkan kedua tangannya di pinggang.
Tanpa membawa mangkuk atau sendok, dia memasukkan panci besar tersebut ke dalam sel jeruji besi.
“Waktunya makan, Nak!!” ujar Pria Gumpal itu, sambil mengetuk-ngetuk panci besar dengan centongnya, “Habiskan makanan ini ...”
Dia berkata tentang makanan tetapi di dalam panci besar tersebut sama sekali tidak layak untuk disebut sebagai: ‘makanan’.
Bagaimanapun, beberapa anak tetap keluar dari gelapnya sudut sel jeruji besi selagi si Pria Gumpal keluar sel dan menguncinya kembali.
Mereka semua yang berada di dalam sel jeruji besi seperti belum makan beberapa bulan. Tubuh kurus dengan hanya terlihat kulit dan tulang mereka adalah buktinya.
Di hadapan si Pria Gumpal, anak-anak serta gadis-gadis di dalam sel perlahan mendekati panci besar dengan ekspresi berbinar.
Pria Gumpal itu mengeluarkan nampan bento plastik dari kabinet di sudut koridor, lalu memasukkannya ke microwave di atas kabinet tersebut.
Dia menyiapkan meja dan kursi kecil di hadapan sel jeruji besi, menghadap sel.
Pria Gumpal itu memakan sebuah bento hangat di hadapan anak-anak malang di dalam sel tersebut.
“Apa? Kamu mau tamago ini?!” Dia melepaskan sarung tangan anti panas bermotif imut yang dikenakannya seraya menaikkan alis, menggoda mereka, ”Menarilah di sana―aku akan memberimu satu gigit!”
Tidak ada yang mau menari dengan mengenakan pakaian menakjubkan nan tipis seperti itu.
“Ya ... Sudahlah kalau tidak mau?”
Di tempat itu, anak laki-laki dari berbagai penjuru Negara dan Kerajaan beserta gadis-gadis sangat kurus adalah milik si Pria Gumpal.
“Pus-pus-pus ....” Pria Gumpal itu mengerucutkan bibirnya seraya mendekat ke hadapan jeruji besi. “Sini pus manis-ku ....”
Pria Gumpal itu memberikan satu tamago dengan sumpit dan memperlakukan salah satu dari mereka seperti hewan peliharaannya.
”Beri Onee San-mu tamago ini―jangan sampai dia mati sebelum aku bermain dengannya,” ujarnya kepada satu anak gadis tak jauh dari jeruji besi, “Hehehe ~ ”
Gadis perempuan yang dimaksudnya itu ditatap diam oleh anak-anak lainnya seolah mereka berkata, “Cepat ambil itu!” padanya.
Gadis itu pun dengan enggan mengambil satu gulungan telur yang disodorkan dari luar sel jeruji besi.
Pria Gumpal itu menyeringai seraya terkikik menjijikkan saat tamago di sumpitnya diambil; Senyuman menjijikkan nan menakutkan pada wajah gumpalnya sampai-sampai membuat semua anak-anak di dalam sel menggigil-ketakutan.
Gadis itu langsung berlari ke sudut sel, dan berkata, “Kak ...”
Lalu terlihat olehnya seorang Onee San Cantik mengenakan pakaian putih tipis nan menakjubkan sedang dipasung di dalam dinding sel tersebut.
Dia menjawab adiknya yang sangat ketakutan, “Ya ...?”
“Ini ....” ujarnya walaupun gadis itu menelan ludah saat melihat tamago di tangannya.
Dia memakan gulungan telur kuning di tangan adiknya, lalu mengangguk ringan.
“Jangan bantah pria itu, oke?” ujar Onee San itu padanya.
Kakak perempuan si gadis itu tahu bahwa Pria Gumpal di luar sel sangat membenci bantahan seseorang, sebab membantahnya-lah dia dipasung di sudut sel.
Gadis itu mengangguk dan kembali memasuki kerumunan anak-anak, mengitari panci besar.
Dan setelah memakan satu suapan cairan sop aneh di dalam panci dengan tangannya, dia meraup cairan tersebut dan membawanya ke si Onee San.
“Kak ... ini ....”
“Makanlah ... Kakak udah kenyang.”
Gadis itu tampak ragu karena dia pun masih lapar, tetapi dia dengan tegas menggelengkan kepalanya.
“Nggak, Kak, ini-aku ...” ucap adiknya, berbohong dengan lirih, “Disuruh pria itu.”
Tanpa bertanya lebih jauh lagi, kakak perempuan si gadis memakan cairan aneh yang ditampung dengan kedua tangan kecil adiknya.
Pria Gumpal itu bangkit sambil melemparkan sampah bento plastik ke dalam sel.
”Ya ~” ucapnya, parau, “Tunggu dengan si manis di sana ... Setelah aku menyelesaikan Game Galge sialan itu―”
Ada sebuah suara bell di setiap sudut koridor penjara yang memutus ucapan Pria Gumpal itu. Suara bell tersebut disertai alarm lampu darurat berwarna kuning yang terus berkelap-kelip.
Seluruh koridor sel jeruji besi Ruang Bawah Tanah-nya itu menyilaukan warna kuning dengan kelap-kelip khasnya sebuah lampu darurat.
Mengabaikan anak-anak di dalam sel jeruji besi yang sedang memperebutkan sisa makanannya, dia mengerutkan keningnya.
“Ada pembeli?! Sial! Aku cuma punya lima budak ini!”***