RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [3] – [64] Pahlawan Daratan Dunia Lain I (3/3)



"Maksud Tuan Muda?!"


Tidak mungkin tuan mudanya itu. Nanang. Menyerang party Mamat sendirian saja.


"Aku tidak akan memilih anak-anak dari keluarga kita, ngomong-ngomong," papar Nanang, acuh tak acuh. "Siapkan aja item-item penyembuh, dan peralatan tambahan di daftar ini—setelah itu—kirimkan semuanya padaku."


“Oke,” jawab pelayan Nanang, “Saya akan kirim semuanya segera.”


Dia meninggalkan Nanang yang sedang menghubungi anggota party sebelumnya, yang mana anggota party-nya tersebut baru saja terbantai oleh Calon Assassin Heroes.


Setelah menerima item-item penyembuh dari pelayannya, orang-orang yang Nanang hubungi langsung bermunculan di halaman kediamannya.


Mereka baru saja berteleportasi dari berbagai tempat di Daratan Surga ke kediamannya tersebut; Orang-orang itu seperti tiba-tiba muncul dari udara kosong di halaman kediaman mewah Nanang; Mereka bermunculan dari udara kosong satu-per-satu dengan disertai kedipan garis cahaya pada tubuh avatar mereka.


“Ayo kita balikin level kalian,” ajak Nanang, “Kita grinding di tempat yang sama saja ... Aku rasa sekarang udah aman.”


Mereka menjawab serempak, “”Oke, Tuan Muda!”” seraya mengikutinya, berjalan ke arah Aula Teleportasi lagi.


Nanang ingin mengembalikan level dan experience rekan satu party-nya yang telah hilang.


Memang bukan rahasia jikalau player akan kehilangan exp. dan bahkan level setelah terbunuh.


Meskipun jelas rekan satu party Nanang itu masih dalam keadaan lemah untuk beberapa waktu, Nanang tetap memimpin mereka untuk meng-grinding monster.


GB. Grab Bus.


Merupakan istilah dalam Game MMO untuk seorang yang menggendong rekan pemain lebih lemah supaya level dan perkembangannya bisa lebih cepat dari biasanya. Seperti layaknya orang-orang naik bus dengan hanya satu supir yang mengendarai bus tersebut, yang mana supir tersebut diibaratkan sebagai seorang yang paling kuat dan menggendong para penumpangnya.


Itulah apa yang akan dilakukan Nanang pada saat ini.


Dia sedang mengaktifkan Globe Besar di hadapannya, lalu kemudian ber-teleportasi kembali ke Filed Dungeon yang sama.


Kaki Gunung [12]


Dia mendaki kembali ke Puncak Gunung [12] bersama beberapa anggota party-nya yang sama.


“Kali ini aman, Tuan Muda,” lapor assassin pengintai untuk ke-2 kalinya, “Tidak ada yang aneh di puncak sana.”


Nanang memimpin semua anggota party-nya memasuki Sarang Monster. Sarang Aliens. Yang terletak di sebuah tebing tinggi yang membentang membagi dua Puncak Gunung tersebut.


Mereka memasuki mulut Gua Metal dengan ukiran rune unik nan rumit pada dinding mulut gua tersebut. Rune tersebut sampai menjalar ke dalam gua layaknya tanaman atau akar pohon yang menempel pada sebuah tebing bercelah.


Baru saja mereka memasukinya, berbagai monster dan aliens aneh langsung menyergap mereka.


“Kalian fokus last hit saja,” ujar Nanang, menerjang monster-monster tersebut sambil menggenggam Kapak Merah Besar-nya, “Aku akan membuka jalan sampai ke Bos Monster gate ini.”


“”Siap!”” jawab mereka, serempak mempersiapkan senjata dan item serta buff yang diperlukan.


Anggota party Nanang mempersiapkan serangan mereka masing-masing, untuk menyerang monster serta aliens yang sekarat setelah diterbangkan Nanang.


Mereka tiba di tahap akhir Gate Dungeon dan mengalahkan Bos Monster-nya begitu saja.


Nanang menyerang sekaligus melindungi anggota party-nya hanya menggunakan satu Skill Berseker saja.


“Yey! Aku dapet last hit!” seru seorang Cleric Wanita, saat putaran angin puyuh yang mengelilingi Manticore. Bos Monster. Tak jauh darinya mulai menghilang.


Whirlwind Slash


Hanya skill tersebut yang Nanang gunakan. Yang mana ia memang merupakan skill andalannya, walaupun damage atau kerusakan kemampuan serangan tersebut tak terlalu mematikan.


Namun, menggunakan skill tersebut, dia bisa menyerang seraya bertahan dan sekaligus melindungi apa-apa saja yang harus dia lindungi. Sebagai Vanguard. Sebab itulah Nanang menyukai kemampuan Whirlwind Slash.


Masing-masing dari tubuh anggota party Nanang tiba-tiba memancarkan cahaya putih terang berulang kali—yang menandakan mereka sedang naik level beberapa kali. Terutama Cleric Wanita yang mendapatkan last hit. Pukulan Terakhir. Tubuhnya tidak berhenti mengeluarkan cahaya terang bahkan setelah rekan-rekannya berhenti naik level.


“Level kita kembali cuma satu kali grinding?!”


“Hebat! Bahkan gak ada satu pun dari kita yang mati!”


“Terimakasih banyak, Tuan Muda!”


“Ya .. Makasih banget udah GB-in level kami.”


Tuan Muda Soro Dojo. Nanang. Yang memimpin mereka sama sekali tak menghiraukan pujian dan ucapan terimakasih dari anggota party-nya itu. Dia terlihat seperti sedang menunggu seseorang tiba.


“Sudah waktunya, Nang,” ucap seorang pria serak dari dalam kekosongan dan kehampaan, “Ikuti aku ... kita akan bersiap dulu.”


Anggota party Nanang terkejut, dan mereka langsung memasang posisi waspada.


“Siapa itu?!”


“Semuanya! Cepat atur formasi—“


Nanang mengangkat tangannya, memberi sinyal untuk mereka tetap tenang.


“Tapi ...” bantah Cleric Wanita, terlihat enggan kembali terlebih dulu tanpa dirinya.


Nanang menoleh padanya, dan dengan tegas berkata, “Kembali saja ... ini akan lebih berbahaya dari kemarin.”


Mereka melihat seorang assassin yang sosoknya perlahan muncul tak jauh dari hadapan mereka. Dia dengan santainya sedang bersandar di tembok metal gua.


“Apa aku harus mengantar mereka kembali?” tanya Sol, namun dia menghunus belati hitam-abunya, “Tenang saja ... ini hanya akan sedikit menyakitkan, kok."


Anggota party Nanang mundur selangkah, ketakutan. Mereka masih ingat jelas rasa dari sayatan bilah belati hitam-abu yang telah menyayat dan memenggal kepala serta tubuh mereka. Tubuh mereka bergetar ketakutan kendati mereka memasang posisi bertarung.


“Kami—!?”


“Kalian mundur saja, aku akan ikut bersamanya.”


“Tapi—Tuan muda ...”


Nanang masih menoleh, dan tak berbicara lagi. Sorot mata dan ekspresinya menandakan itu adalah perintah.


“Oke, kami akan pulang duluan—tapi—kalau Tuan Muda perlu bantuan, kami akan langsung bergegas!” tegas salah satu ketua assassin pengintai Nanang.


Anggota party Nanang lainnya mengangguk dan berseru serempak, “”Ya!””


Calon Assassin Heroes tak jauh di hadapan mereka, menyarungkan senjatanya kembali.


“Ayo, Nang .. Sebentar lagi mereka akan keluar.”


“Oke”


Di luar Mulut Gua Metal, malam hari.


Anggota party Nanang kembali menggunakan Teleport Stones; Sedangkan Nanang sendiri berjalan menghampiri Solitian.


Mereka berdua akan mencoba mencuri Quest Legendary Mamat, dengan cara membunuhnya.


Tak jauh dari posisi Mulut Gua Metal—tempat Nanang meng-grinding sebelumnya—Mamat serta harem-nya baru saja keluar dari Sarang Monster lainnya.


Ini item yang sangat bagus, huh, demikian pikir Nanang, saat bersembunyi tak jauh dari posisi targetnya.


Dia sedang mengenakan Equipment Invisible Cloak pemberian Sol, dan berdiri tak jauh dari party Nanang yang sedang beristirahat sejenak; Assassin itu pun tak perlu repot untuk sembunyi, dia hanya bertengger pada dahan pohon di atas Nanang.


“Saat aku udah menghilang,” kata Sol, dalam komunikasi pribadi dengan Nanang, “kau langsung pake Hammer Punch untuk mengejutkan mereka.”


Seraya menghunuskan Kapak Merah Besar-nya, Nanang menjawab, “Oke!”


Pria Kapak Merah itu memasang posisi acang-ancang akan menerjang seraya menggenggam senjata-nya dengan satu tangan; Dan dengan tangan lainnya mengepalkan tinju yang sangat kuat.


Mereka berdua menyergap party kecil Mamat, saat mereka semua sedang turun ke Field Dungeon di Kaki Gunung. Dan juga rencana mereka cukup sederhana, di mana Nanang akan menahan para harem Mamat selagi Sol menyerang Mamat, hanya dengan satu serangan fatalnya.


Sekarang! Nanang berseru dalam hatinya, saat merasakan jika Sol sudah benar-benar menghilang.


Sol dan Nanang mengaktifkan Death Lock Stones mereka serempak. Dua kabut hitam langsung mengikat sekaligus menandai jiwa Mamat yang berada tak jauh dari mereka.


Solitian tiba-tiba berada di belakang Calon Pahlawan Nasional Utama yang jiwanya telah ditandai itu—dengan tidak adanya Ranger yang cakap—Mamat langsung terkena serangan fatalnya.


“Hammer Punch!” teriak Nanang, mengalihkan perhatian anggota party Mamat.


Seraya dengan hantaman tinju merah Nanang yang menggetarkan pijakkan mereka, HP Bar Mamat langsung berkurang drastis. Ia seakan akan habis dalam hitungan detik—namun—tepat saat HP Mamat berada di ambang 10%, tubuhnya tiba-tiba memancarkan sinar putih dan hijau.


Kedua sinar cahaya tersebut menyatu sampai-sampai membutakan semua orang di sekitarnya.


Penyergapan Sol dan Nanang gagal begitu saja; Death Lock Stones mereka digagalkan seseorang menggunakan Skill Unique; HP Mamat mulai kembali pulih oleh skill seorang Healer; Nanang terkejut sekaligus sadar dan langsung melompat mundur.


“Sial?!!” umpat Solitian, yang dia juga langsung melompat ke samping, “Apa itu—Dispel?!”


Namun, sebuah tangan dari dalam cahaya yang membutakannya tiba-tiba meraih bahu kanannya dan langsung menjatuhkan tubuhnya.


Kekuatan yang sangat kuat dari cengkeraman tangan tersebut membuat Calon Assassin Heroes itu tidak bisa bergerak sedikit pun; Ditambah Mamat mulai berjongkok seraya menambahkan berat tubuhnya untuk menahan pergerakan Sol.


“Sialan, kau, Mat! Menyingkir—“


Calon Assassin Heroes itu tak menyangka akan adanya satu-satunya Calon Pahlawan Nasional Penyembuh. Healer Heroes. Di belakang Mamat.


“—Queti?! Kenapa kamu ada di sini?”


Namun Queti tidak menjawab Solitian, dan hanya berujar, "Ayo kita bunuh mereka sampai ke level Nol lagi, Mat! Jangan biarin kedua orang tolol ini gitu aja ..."


Queti menyarankan hal itu, namun Mamat pada dasarnya memang pemimpin yang baik. Pemegang Quest Legendary Main Heroes itu pada akhirnya memang akan memaafkan kolusi Nanang dan Sol.


"Kita semua udah tidak punya waktu lagi, Ti ..." tegas Mamat, melepaskan cengkeraman tangannya, dan berdiri begitu saja, "Coba pikirkan lagi .. gimana jadinya kalau ada salah satu Pribumi Daratan Surga di dimensi ini. NPC Game World Guild ini. Berhasil menyelesaikan Quest Pahlawan Nasional?"


Mereka membelalak, terkejut. Ya. Itu memang situasi yang tak akan pernah diharapkan oleh semua Anak Diberkati Tuhan. Player. Manapun.***