RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [1] - [21] Tuhan Yang Sebenarnya



Mati untuk yang ke-2 kalinya memang hal yang sangat buruk untuk mentalku.


Kesadaranku kembali ke Daratan Setelah Kematian. Ia dengan kecepatan penuh melewati Lorong Putih dan sampai di Ruang Putih kosong seperti sebelum kematianku yang ini—tidak ada apa-apa lagi—selain kesadaranku di sini.


“Hahahaha!”


Pun untuk yang ke-2 kalinya tawa menjengkelkan itu terdengar olehku.


“Jangan bilang tawa Kami menjengkelkan, Pope ...”


Oh. Ya. Dia memang bisa mendengar kesadaranku—aku lupa.


“Hahaha. Tapi tidak apa. Kami adalah makhluk yang maha pemaaf,” paparNya, "Kau mati lagi, ngomong-ngomong, Pope.”


Ya. Aku. Mati lagi dan lagi-lagi, aku mati dengan cara kepalaku dipenggal.


“Kau masih bisa menggunakan Skill Respawn-mu, Pope. Kita masih harus bertemu 30 Tahun lagi, bukan? Kami akan memberi kau apa pun permintaan yang kau minta.”


Aku pikir itu tidak perlu. Toh Angelica juga sudah menghilang, dan—


“Wanitamu masih hidup; Dewi-mu itu muncul di Daratan Surga.”


Aku—apa?


“Hahaha! Sayangnya kau malah mati, Pope ... Dan meninggalkan rekan-rekanmu begitu saja.”


Bisakah aku melihat mereka lagi? Sekarang, maksudku.


“Hahaha! Tidak ada yang tidak bisa Kami lakukan.”


Entah mengapa aku sangat terburu-buru—ingin sekali melihat mereka—hanya melihat pun tak apa. Perasaan aneh apa ini? Padahal ini hanyalah kesadaranku.


“Lihatlah!”


Aku diberi tubuh sementara lagi. Dan Tuhan itu memperlihatkan sebuah Panel Kaca Transparan yang melayang di hadapanku.


Ini seperti ... Panel Pengintai?


“Ya! Nikmatilah pertempuran sengit mereka, Pope ... Hahahaha!”


Aku melihat pertempuran yang mulai sengit di Dimensi Daratan Surga. Di mana Assassin Heroes sedang mengikat Sosok Hitam—Pahlawan Mamat, dengan Energi dan Angka – Angka serta Simbol – Simbol yang tidak kukenal.


Kode Biner apa itu?


“...” Tuhan itu tidak menjawab.


Noir Soldat? Bagaimana Pahlawan Nasional Utama bisa mendapatkan Kutukan Legendaris itu?


Aku mengerutkan kening, sangat terkejut. 


Legenda mengatakan, ia adalah Kesatria Hitam terkuat. Karena telah mengalahkan 1.000 Sage Magicaster.


Kesatria Hitam. Noir Soldat.


Aku bahkan tidak tahu dia memiliki kekuatan itu di kehidupanku yang sebelumnya.


[Sial!? Apa itu?!! Hahaha!]


Tawa menyebalkan itu ... Dry ... Pria Pedang itu ... Selamat?


[Kita harus pergi dari sini, Dry, Ro!]


Mo .. Apa itu—Ya ... Kalian harus cepat pergi dari sana.


Aku melihat sebuah Robekan Ruang semakin membesar dan seperti akan keluar sesuatu dari robekan tersebut.


[Ada celah di sini! Ayo pergi!]


Aku harus segera menyelamatkan mereka—Ya Tuhan—apa aku bisa menggunakan Skill Respawn sekarang?


“...” Tuhan itu tetap diam.


Kaki Abu Besar keluar dari Robekan Ruang, yang langsung menginjak Rotzell dan Soro. Kaki Besar tersebut langsung melenyapkan apa pun yang diinjaknya.


Dan, dari dalam Robekan Ruang, muncul sosok Raksasa Iblis Besar.


Dalam balutan kabut abu-abu, aku melihat Angelica—walau—Dia—yang ternyata—sudah menjadi Great Satan?


Kulit hitam, sklera hitam, retina mata ungu, corak merah darah bergerigi di pipinya, serta kedua tanduk domba di kepalanya membuat Dia terlihat layaknya Iblis Sejati.


Namun, entah mengapa Dia masih tampak sangat cantik nan menawan di mataku; Dia tampak sangat cantik walau rambut sebahunya menjadi hitam pekat dan sorot matanya dipenuhi dengan amarah.


“Tunggu aku, Angelica!” Aku akhirnya bisa membuka mulutku, tetapi entah mengapa, wajah beserta kepalaku terasa sangat ringan. “Bagaimanapun caranya, aku akan menyelamatkanmu!!”


Mengabaikan Mamat yang seluruh tubuhnya diremas Tangan Besar Satan Angelica, aku memperhatikan Mo dan Ro, yang sekarang, mereka berdua mempunyai sedikit emosi. Dan, mereka selamat? Hebat!!


Aku ingin bertemu dengan mereka semua; aku ingin menyadarkan Angelica kembali. Tidak apa jika aku harus bergabung dengan Faksi Iblis, kalau itu memang harus!


Ya. Aku bersumpah tidak akan gagal lagi.


Ya. Seperti biasa. Skill ini memang sungguh menakjubkan.


Seraya teriakkanku menggema di Daratan Setelah Kematian ini, seluruh tubuhku mengeluarkan cahaya putih-emas yang menjunjung tinggi ke atas.


Namun, tepat setelah tubuhku menghilang, aku melihat sekilas ada pemberitahuan aneh muncul di atas kepala Musuh Utama-ku. Assassin Heroes. Di Daratan Surga sana:


...[Announcement Un-Detected Item Used]...


...This player have been temporarily banned from the game and we bsite due to: Permanently banned from the game....


Ia sesuatu yang terakhir kulihat di atas kepala Musuh Utama-ku. Solitian. Dan aku tidak tahu apa artinya itu, bahasa apa itu, dan kenapa ia bisa muncul di atas kepalanya.


Yang kuingat hanyalah kesadaranku ditarik Kode Biner Merah. Lalu pada saat-saat Skill Respawn aktif, aku dikeluarkan dari Daratan Surga dengan paksa.


Dan, beberapa saat yang lalu saat kesadaranku ditarik oleh Kode Biner Aneh yang tak kukenal, Tuhan itu menjerit kesakitan.


Dan, entah di mana aku sekarang.


Dan, apa yang terjadi padaku? Di mana ini?


Ini bukan Daratan Surga maupun Daratan Setelah Kematian.


“Kenapa data NPC bernama Pope ini menghilang sendiri?! Ada apa ini?!!”


Aku mendengar seseorang menyebut namaku.


Kenapa aku melihatnya dari atas—aku melayang?


Aku melihat sosok yang sangat menyedihkan sedang panik sendiri saat melihat Huruf, Angka serta Simbol – Simbol Aneh pada layar monitor hitam pipih.


Di layar tersebut terdapat gambar hologram tubuhku, yang entah mengapa, ia perlahan mulai menghilang dengan sendirinya.


“Sialan—Virus Irational menyebar ke seluruh NPC!!? Bagaimana cara menghentikan virus ini?!?” Dia mengetik panel keyboard biru di atas meja kaca transparan dengan sangat cepat. “Kenapa yang lainnya malah liburan di saat-saat seperti ini, sih, sial ...”


Entah apa yang sedang dilakukan sosok ini. Tetapi sepertinya dia ingin melakukan sesuatu padaku? Karena seraya dengan menghilangnya hologram tubuhku di layar itu, aku merasakan ada yang aneh dengan tubuh dan kesadaranku di Dimensi Dunia Asing ini.


Dan ruangan sangat kuno ini ... Aku memperhatikan sekitarku saat sosok itu sedang berusaha keras menyelamatkan orang-orang yang disebutnya NPC—termasuk aku ... Dan biasanya, ruangan ini disebut: ‘kantor’? Kalau aku tidak salah.


Aku melihat papan nama jabatan di atas meja kuno sosok di bawahku:


Rama Dwinastia Sukarno—Analyst Programer.


Semakin dia mengetikkan sesuatu, tubuh transparanku mulai kembali seperti semula.


Tubuhku yang terus melayang turun ini seperti Monster Ghost di Mini Dungeon.


“Sial. Gim ini—plot, alur, dan bahkan karakter-karakter NPC-nya sangat kacau! Kenapa juga ini harus sangat laku!?” desah prihatin sosok itu di hadapan sebuah, komputer? Ia sungguh teknologi kuno, dengan wajahnya yang suram dan terlihat sangat frustrasi.


Saat kedua kakiku menyentuh karpet ungu, tubuhku perlahan semakin menjadi nyata kembali. 


Ini .. jelas bukan Skill Respawn dari si Tuhan itu, Aku merasakan kedua kaki telanjang-ku menyentuh permukaan karpet. Aku dihidupkan lagi tanpa Skill Respawn!!?


Apa sosok ini adalah Tuhan-ku Yang Sebenarnya?!


Tunggu ...?!? Aku melihat Dia sedang memperbaiki data hologram lain di layar monitor sebelah kiri. Kenapa ada data Angelica di layar monitor itu? Dia adalah Anak Diberkati Tuhan—berbeda denganku.


Aku sangat kebingungan. Mengapa Angelica ada di situ?


Terdapat ratusan monitor hitam yang menempel di dinding ruangan ini, dan, semua hologram di dalamnya adalah Pribumi Daratan Surga. Atau Anak Diberkati Tuhan biasa menyebut kami:


NPC (Non Playable Character)


Aku harus bertanya kepada-Nya semua hal tentang Angelica!


Virus-Ir terlihat pulih serta data-data NPC di seluruh layar monitor hitam dan mulai normal kembali.


Lalu tepat setelah tubuhku menjadi nyata seutuhnya, Dia meregangkan kedua tangan-Nya ke atas seraya berdiri.


“Akhirnya ... aku berhasil ...!! Mengerjakan ini sendiri sungguh sangat rumit dan merepotkan. Ugh. Sial ... Aku juga mau liburan dan—“


“Permisi, Ya Tuhan-ku? Aku ingin menanyakan sesuatu,” ucapku.


Dia terkejut dan tiba-tiba langsung menoleh ke arahku; Aku melihat jelas kedua mata coklat-Nya membelalak.


****


...[Arc.1 - My Lord]...


...****...


...[End,]...


...****...


...{N/A: Ya. Well. Arc Point One akhirnya beres. Lha. Ya. Beres! Terlepas dari itu, beri aja saya kopi. Huh. Kendati. Punggung saya. Tetap. Sakit. Sih ... Ugh.}...