
Aku dipanggil oleh Angelica dari gang kecil antara dua Toko Kumuh—tempat pertama kalinya kami berdua bertemu.
“Aku dapet Hidden Quest nih, Pope!” ungkap Angelica, dengan nada sedikit berbisik.
Dia sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa kebahagiaannya.
Hidden Quest? Pikiranku pada saat ini sangat buruk jika mengingat kata quest, sebab terakhir kali kami ingin menyelesaikan sebuah quest. Angelica. Mati dan langsung murung kembali saat quest-nya gagal kami selesaikan.
Ya. Quest-nya waktu itu. National Heroes Quest. Yang mana kami harus mengumpulkan item serta menyelesaikan beberapa persyaratan khusus untuk menyelesaikannya. Angelica. Sangat berharap mendapatkan Slot Pahlawan Nasional di Dimensi Dunia Nyata-nya.
“Ya! Quest tersembunyi ini kayaknya seru ... Ayo kita selesain," ajaknya.
Ya. Tentu. Dan. Jelas. Aku ingin menolak.
"Ya," jawabku, tetapi pada akhirnya hanya bisa menerimanya, "Besok aku akan langsung beri tahu Mo—"
"Nggak ihh ..." tukas Angelica, mendekatkan wajahnya ke hadapan wajahku seperti biasa, "Biarin aja mereka istirahat! Aku cuma mau ama kamu aja!"
Kemarin, di gang biasa, dia mengajakku untuk menyelesaikan Hidden Quest-nya tersebut, hanya berdua saja.
Aku tidak mengerti kenapa hanya kita berdua saja? Aku bertanya-tanya.
Kami berjalan melewati sebuah Gerbang Dimensi berbentuk oval berwarna hitam pekat, yang ukurannya lebih tinggi dari tinggi badanku serta lebih lebar dari lebar tubuh kami berdua.
Gate Dungeon? Pikiranku pada saat ini entah mengapa hanya mengingat kejadian waktu di mana Angelica mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku.
Ya. Kegagalan quest Angelica sebelumnya; Kegagalan pertama aku sebagai umpan daging-nya.
Rasanya menyesakkan jika mengingat kejadian itu, demikian pikirku, yang entah mengapa aku tiba-tiba mengingat Angelica yang pada saat itu merentangkan tangannya seraya melantunkan sihir pertahanan terkuatnya, hanya untuk membiarkanku melarikan diri.
Ya. Aku tidak mau jika sampai itu terjadi lagi.
Ini lebih pagi dari biasanya, di mana kami memasuki sebuah Gate Dungeon.
Ya. Namun terlepas dari rasa menyesakkan ini, aku ingat, di sini, apa aku akan melakukan hal yang sama?
Entahlah.
Namun anehnya, quest Angelica kali ini menuntun kami berdua ke sebuah tempat Reruntuhan Kuno. Aku jelas merasa dan ingat ini adalah pertama kalinya aku melihat sebuah reruntuhan di dalam Gate Dungeon.
Aku memang sangat waswas, namun Angelica di sampingku terlihat biasa saja. Dia dengan riang berjalan dan terus menunjukkan kebahagiaannya.
“Hey, Pope, bukannya ini kayak kencan?” kata Angelica.
Aku tidak tahu apa itu kencan. Aku hanya menengok ke samping kanan, melihatnya yang sedang menyeringai padaku. Pada saat ini, entah mengapa aku tidak mau bertanya apa itu kencan.
Bukannya situasi di sini aneh, pikirku, mengalihkan pandanganku darinya, dan bergumam, “Huh? Kenapa tidak ada satu pun monster dan aliens di sini?”
“Ng?” Angelica menengokkan kepalanya padaku sembari memiringkan kepalanya. “Yaa ... di quest kali ini, kita cuma ngelawan satu target aja, kok.”
Di sini aku heran, mengapa dia berkata ‘target’ bukannya ‘aliens’ atau ‘monster’ seperti biasanya.
Keluar dari Reruntuhan Kuno, kami berdua memasuki sebuah Kastil Kuno setelah menaiki ratusan anak tangga.
“Hey, kenapa kita ada di sini? Bukannya kita cuma harus ngalahin beberapa slime aja, ya,” gumam Angelica, menatap sambil menunjuk-nunjuk udara kosong di depannya, “Iya, ihh ... Udah itu aku nanti dapet hadiah khusus! Tapi, kok, kita malah ketemu perempuan terpasung itu?!”
Aku tidak tahu. Namun seingatku, kami sama sekali tidak menemukan satu pun monster sedari awal kami berdua memasuki Gate Dungon ini.
“Pope ...”
“Ya?”
Kami berdua menatap perempuan yang Angelica maksud. Hanya ada satu perempuan aneh, yang mengenakan pakaian putih compang-camping sedang terlelap, menutup kedua mata, dengan kedua tangan dan kakinya terpasung di tengah dinding ruang takhta Kastil Kuno ini. Dia yang berambut putih panjang itu berada tepat di belakang sebuah kursi takhta berwarna merah bertakhtakan emas.
“Terserah kamu, Angelica,” balasku, yang hanya seorang umpan daging-nya.
“Cih,” decak Angelica, kemudian kami berdua mengitari Kastil Kuno terlebih dulu, mencari sesuatu, namun kemudian dia kembali ke tempat perempuan terpasung tersebut, “Toh kita nggak nemuin satu pun slime juga dari tadi—ayo kita coba bebasin perempuan itu aja!”
Aku berjalan ke arahnya, hanya bisa mengangguk.
“Bagaimana cara membebaskannya, Angelica?” tanyaku.
“Aku pikir di sekitarnya ada semacam penghalang sihir, Pope,” sidiknya, tanpa menatapku, “Ayo bombardir dulu aja, lha!”
Angelica melafalkan mantra skill sihirnya, lalu menembakkan skill sirih emas-nya tepat ke arah penghalang sihir tersebut.
“Eh??”
Tepat saat Bola Emas Sihir langsung menghancurkan penghalang tersebut, Angelica menggumam seperti itu.
“Aku kira kita harus beberapa kali nembakin—“
Aku dan Angelica pada saat ini mungkin tidak sadar, jika kami baru saja membangkitkan sosok berbahaya.
“Kenapa quest ini tiba-tiba berubah?!!” pekik Angelica, panik, "Aku nggak bisa ngebatalin ini, Pope! Gimana ini ... Padahal aku cuma mau dapetin perlangkapan unik dari Hidden Quest aja untuk kamu .. kok jadi kayak gini, ihh!?"
Angelica panik selagi sosok yang kami berdua tidak ingin lihat mulai bangkit.
“Ini jadi Epic Quest?!!” jerit Angelica, malah terlihat tambah panik, “Nama quest-nya jadi: 'Fallen Angels', Pope! Nama quest ini bahaya banget!! Ayo kita cepet pergi dari—“
Dari sini, pada saat ini, aku mulai ingat, kami berdua malah tak sengaja membangkitkan sosok nan agung—aku ingat jelas ini pertama kalinya aku bertemu sosok Dewi—namun—sepertinya tidak untuk Angelica?
“Kita bertemu lagi,” ujarNya, menatap Angelica, “Wahai Jiwa Diberkati Tuhan.”
Saat berujar seperti itu, Dia masih terpasung di dinding dan hanya menatap Angelica.
Aku dan Angelica bertemu dengan Dewi Cinta bernama:
"Dewi ....”
Angelica yang mengucapkan namaNya seperti itu dengan lirih.
“Aneh banget, ya ... Dewi punya nama Dewi .. Apa ada Dewa yang namaNya Dewa juga?!”
Angelica bergurau seperti itu juga selagi kami berdua sama sekali tak bisa bergerak.
Ya. Sudah jelas pada saat ini, aku tidak tahu Aturan Dunia yang kami tinggali ini. Aturan. Hukum. Yang sangat krusial nan penting:
Jangan pernah menatap langsung pada ".Nya”, “-Nya”, atau bahkan pada sosok yang hanya seperti sosok"Nya"!
Sosok yang berada tepat di hadapan kami pada ingatan berantakanku pada saat ini merupakan salah satu dari tiga keberadaan agung tersebut.
Kami berdua tak sengaja bertemu denganNya. Pun aku ingat jelas ini pertama kalinya aku bertemu sosok Dewi, namun, seperti yang sudah aku bilang, sepertinya ini memang bukan pertamakalinya untuk Angelica.
“Kami: Dewi Cinta,” ucapNya, membebaskan diriNya dari belenggu pemasungan, tetapi kedua tangan dan kakiNya masih terbelenggu rantai berkarat, “Apa kamu mau membantu membebaskan Kami sepenuhnya, Wahai Jiwa Diberkati Tuhan?”
Tidak seperti namaNya, sosok Dewi Cinta ini lebih terlihat seperti Dewa/Dewi Perang, yang mana baju putih polosNya berubah jadi Zirah Valkirie, dan kedua mataNya hanya memancarkan cahaya putih tanpa adanya skalera bahkan pupil. Rambut yang terurai panjang berwarna setengah hitam dan setengah putih. Dia menggenggam sebuah tongkat yang entah muncul dari mana. Tongkat tersebut memiliki bentuk bulan yang memancarkan cahaya bintang.
Aku ingat, pada saat ini, memang tidak akan ada pertarungan antara kami berdua melawanNya.
Namun, aku ingat jelas juga setelah ini, aku dan Angelica akan dikutuk olehNya; Di mana kami, tidak akan pernah bisa hidup tenang jikalau kami berdua terus bersama, selamanya.***