
“Jadi ... selama ini kamu cuma jadi umpan dagingnya, Pope?” tanya Mo.
Ya. Meskipun pada saat ini dia bertanya dengan nada dingin dan datar seperti biasa, tetapi, entah mengapa ada perasaan aneh menyertai di dalamnya yang membuatku sangat tidak nyaman.
“Sudahlah, Mo,” ujar Ro, entah mengapa dia menengahi aku dan si Mo, “Toh kita berdua juga yang ninggalin dia.”
Ya. Aku tidak mengerti mengapa Ro bilang “Sudahlah ...,” seperti itu, dan seperti sedang memisahkan kami berdua?
“Hei,” tegur Angelica, berdeham penuh wibawa, sebelum berkata, “Ada wanita cantik di sini .. yang mau rekrut kalian—tapi kalian malah cuekin aku gitu aja?!”
Ya. Anak Diberkati Tuhan Wanita di samping kami bertiga ini mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan postur wibawanya.
Kami bertiga menatap Anak Diberkati Tuhan Wanita tersebut. Angelica. Dengan tatapan dingin dan kosong kami seperti biasa.
“Urkh ...?” pekik Angelica, yang entah mengapa dia mundur beberapa langkah, “KK-kkalo kalian mau ngeroyok aku, ayo maju!”
Angelica memasang posisi bertarung aneh.
“Mmm? Kakak kenapa?”
“Ya? Tentu kami pasti bisa jadi umpan daging kakak, tapi ...”
Mo dan Ro memiringkan kepala, terlihat kebingungan; Begitupun aku yang berkedip, mantap Angelica.
“Hei. Aku cuma bercanda, kalian tau ... yaa .. aku juga tau ini cringe, sih,” kata Angelica, kembali seperti biasa. “Jangan ambil serius gitu dong—tapi—ah? Kenapa kalian bertiga liatin aku kayak gitu, ihh ...!? Aku, kan, beneran cuma lagi—tunggu—apa kalian emang lagi musuhan? Aku baru inget .. Pope jarang banget nyeritain tentang kalian berdua.”
Aku, Mo dan juga Ro saling menatap satu sama lain.
“Tidak.”
Ya. Ro yang langsung menjawab Angelica.
“Kita tidak ada masalah .. kan ... Pope?”
Ya. Dan Mo menimpalinya dan bertanya seperti itu padaku.
“Ya. Kami tidak memiliki masalah, Angeclica.”
Ya. Aku menyamakan jawabanku dengan jawaban mereka begitu saja.
Sebab memang mungkin?
Tidak terjadi apa-apa di antara kami bertiga?
Aku tidak tahu pasti. Namun. Mungkin?
Ya. Tetapi mengapa aku merasakan ada yang aneh di dalam pusat tubuhku ini?
Ini ... perasaan yang sangat tidak nyaman, huh, demikian pikirku.
“Yaudah kalo nggak ada apa-apa,” ujar Angelica, menatap Mo lalu kemudian Ro.
““Ya.””
“TT-ta-tapi ... Kalian berdua tau .. aku cuma bisa bayar kalian pake—apa?!”
Mo dan Ro menatapku sejenak, lalu kembali menatap Angelica, dan menganggukkan kepala padanya.
“Kami setuju .. jadi Anggota Party kalian.”
“Ya. Seperti apa yang Ro katakan, Kak .. Kami bisa jadi umpan dagingmu juga.”
Aku menatap Angelica tepat di samping kananku.
“Ah, iya?” gumamku, tanpa sengaja. Bukannya tadi wanita ini bilang mau bayar mereka berdua menggunakan Koin Emas? Kenapa dia malah minta maaf dan—
“Ng? Ada apa, Pope?”
“Tidak. Tidak ada apa-apa,” dalihku, tanpa menatap kedua mata emasnya, “Selamat sudah mendapatkan dua anggota baru, Angelica.”
“Yaps,” balasnya, mengangguk dengan ekspresi penuh semangat, sambil memasang pose aneh seraya meninju langit, “Yay! Akhirnya aku bisa leveling lebih efisien lagi!”
Mo dan Ro pada akhirnya bergabung dengan party yang Angelica buat, hanya dengan bayaran Syringe.
Ya. Sama. Sepertiku.
Kenapa juga mereka berdua malah setuju begitu saja? Aku kira mereka bisa sedikit lebih bernegosiasi dengannya. “Aku pikir Angelica-nya juga pasti—“
“Kamu gumamin apa lagi, Pope, ihh ...!? Liat si Mo mulai kewalahan!”
Ya. Kami semua sedang mulai mencoba mengetes formasi baru party dengan meng-grinding aliens di Puncak Gunung [3].
Berbagai jenis dan warna Goblin Futuristik sedang ditahan oleh aku, Mo dan juga bahkan si Ro.
Ya. Pun Ro yang berada tak jauh dari posisi Mo, seperti yang Angelica bilang kalau Ro memang mulai tampak kewalahan padahal dia hanya menahan seekor aliens tipe kekuatan.
Mereka kewalahan, sampai-sampai Mo, yang tiba-tiba terlempar melewatiku dan Angelica.
“Moo ...!!?”
Lalu kemudian tubuhnya menghantam pohon besar tak jauh di belakang Angelica.
Namun memang jauh sebelum itu bisa terjadi, sinar emas sihir pertahanan Angelica menyelimuti tubuh kami bertiga. Yangmana ia pasti bisa menyelamatkan kami dari luka fatal yang bisa para umpan dagingnya ini terima.
“Dia semakin hebat saja mengontrol skill sihir-nya itu,” gumamku, lirih.
Aku mengambil alih aggro aliens yang telah menghantam Mo dengan telak.
Berbanding terbalik dengan Mo yang terkena serangan telak dan langsung terlempar jauh, Ro yang berada tak jauh di sampingku, mulai bisa menghindar beberapa serangan Roswell dihadapinya.
Serangan Sihir Emas Angelica menghantam telak empat Roswell Aliens yang sedari awal kami bertiga tahan.
“Kayaknya gak ada bedanya, ya.”
Mo baru saja bisa bangkit, tepat di belakang Angelica yang mulai murung dan menggumam lirih seperti itu.
Ya. Pertarungan. Peng-grindingan. Kami. Pun. Pada akhirnya berakhir begitu saja.
“Sebelumnya maaf, ya, aku gak maksud ngerendahin ato apa .. tapi ...”
Ya. Angelica memang naik level beberapa kali—dan jika aku perhatikan—tubuhnya lebih banyak memancarkan sinar putih daripada saat hanya aku dan dia saja yang meng-grinding kelompok monster Class C.
"“Mmmm?“"
Grinding pertama susunan party kecil kami pada akhirnya tidak berjalan lancar.
Mo—serta aku dan Ro menghampiri Angelica.
“ ... Tapi—nggak, sih, bukan apa-apa ... Ayo besok kita coba lagi aja besok! Aku masih punya cukup Syringe, kok.”
Entah berapa hari pada akhirnya telah berlalu. Angelica. Mulai mengeluhkan pengeluarannya.
“Urkh ...!?! Aku mulai kehabisan Syringe dan Stones!! Tolonglah .. kenapa ni cepet banget, sih, abisnya ...!?”
Dia terlihat menurunkan bahunya dan berwajah murung.
“Kalo gini terus ...” gumamnya, menunduk sambil menatap udara kosong di depannya, “aku nantinya harus ....”
Namun aku tahu dia sedang menatap dan menyortir apa yang disebutnya: Panel Inventory.
Angelica menatap aku, Ro—dan lalu tatapan memelasnya berakhir di Mo.
“Aku nggak mau sampe kehilangan kalian!”
Aku, Angelica, Ro dan Mo sedang berada di hadapan Gate Dungeon. Sarang Roswell Aliens.
Tampak dengan sangat jelas perbedaan kemampuan bertarung kami bertiga sebagai umpan daging Angelica.
Yang mana Mo terlihat sangat kacau dan terluka cukup parah. Nafas dia masih berat meski grinding kelompok Roswell Aliens telah cukup lama berakhir. Dia terlihat sangat kelelahan. Namun, Ro sedikit lebih baik darinya, pakaiannya hanya sedikit terkoyak.
Yang mana di sini hanya aku. Umpan Daging Angelica. Yang memang jelas tampak baik-baik saja.
Ah? Aku ingat di sini keadaanku akan mulai tidak baik. Angelica?
Aku menoleh, melihat Angelica di barisan paling belakang party kecil kami.
Anak Diberkati Tuhan Wanita itu sedang melafalkan mantra skill sihir emas AoE-nya.
Ya. Sebab entah dari mana, Roswell Aliens bertipe kecepatan tiba-tiba menyergap Angelica yang berada di posisi paling belakang party kecil kami; Begitupun satu Roswell Gumpal bertentakel menerjang ke arah Mo.
Aku melewatkan aliens itu? Pada saat ini aku memang jelas ceroboh.
Ya. Tetapi Ro yang berada di belakangku langsung melempar batu dan tepat mengenai Roswell yang akan menyergap Angelica. Dia tiba-tiba mengambil aggro-nya, yang ia pasti langsung berbalik menerjangnya.
“Ah?! Makasih, Ro!” ujar Angelica, selesai melafalkan bait terakhir mantra skill sihirnya.
Tetapi seraya dengan itu seekor Roswell Gumpal lalai ditahan oleh Ro; Pun aku malah secara refleks segera melompat ke arah target roswell tersebut; Namun jelas punggungku terbuka lebar.
Ya. Cambukkan bagian lengan elastis Goblin Futuristik langsung merobek punggungku.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanyaku, masih merentangkan tangan, melindunginya, "Tadi hampir saja ...”
Ya. Rasanya aneh saat mengatakan hal tersebut ke seorang pria—yang mana jelas aku bukan sedang merentangkan tangan di hadapan Angelica.
“Mati kalian, aliens sialan!!”
Ya. Aku sedang menyelamatkan Mo; Angelica membantai monster.
Monster tipe aliens yang dia tembak dengan sihir emas berupa cahaya padat berbentuk silinder tipis.
“Kita istirahat grinding sejenak, oke?” desah Angelica, tampak mulai kelelahan.
Dia duduk dan terlihat seperti sedang memikirkan tentang kejadian sebelumnya, lalu menatap Ro yang telah menyelamatkannya.
“Hei, apa tadi kamu ngelempar batu itu, Ro?”
“Ya.”
Pria jangkung itu hanya menjawab singkat datar dan dingin seperti biasa.
“Apa .. apa kamu mungkin punya potensi? Archer, kah?” gumamnya, tiba-tiba meloncat bangkit kembali, “Sini! Coba ulurkan kedua tanganmu, Mo!"
Angelica malah beralih ke pria berambut hitam sebahu di sampingku.
“Ini ...!? Potensi?!” pekiknya.
Angelica menggenggam kedua tangan Mo, dan sedang mencoba menarik Mana keluar dari tubuhnya.
Cahaya biru terang yang memancar terang dari kedua tangan Angelica, perlahan berubah menggelap dan terus menggelap hingga menjadi hitam pekat.
“AA-aadaa ...?!!” jeritnya, mendongak kuat seraya dilanjutkan dengan tertawa terbahak-bahak, “Hahahahaha! Aku nemu harta karun! Kalian bener-bener punya potensi!! Satu Archer satu Mage!? Ahahaha ... ini sempurna!”
Dia kembali secara tiba-tiba memalingkan wajahnya, namun saat ini ke arahku.
“Dan kamu, Pope?! Apa kamu juga ...”***