
“Syukurlah kamu kembali ceria.”
“Iya ... Yang penting kamu bisa senang, itu udah cukup bagi kami.”
Anggelica menatap kedua orang tuanya, namun perasaannya sangat berbeda dengan ekspresi senyum ceria pada wajahnya.
Entah kenapa aku ngerasa nggak sabar pengen ketemu anak kecil NPC di dalam gim itu, demikian pikir Angelica, yang tiba-tiba mengingat janjinya dengan Pope.
Ketika berjalan di lorong menuju lift, ketiga orang dari keluarga kecil itu melihat pemuda yang sedari awal mereka datang langsung undur diri dari ruang kerja Fu Tang No. Pemuda mengenakan jas hitam rapi itu kembali bersama seorang anak laki-laki serta gadis-gadis yang mengekor di belakang mereka.
“Harus, ya?” cibir Son Tang No, “Ajudan ayah menyambut Anak Emas itu?”
Berbanding terbalik dengan Son Tang No yang mencibir, Mu Tang Dojo tersenyum hangat menatap Angelica.
“Aku ke sana dulu, Ma, Pa!”
“Lisa, aku ikut—“
“Ayah,” tegur Mu Tang Dojo, merangkul lengan suaminya, “Lebih baik kita tunggu Lisa di limosin, oke?”
Son Tang No hanya bisa menggerutu saat Mu Tang Dojo mengizinkannya begitu saja.
“Cepat kembali, oke?”
“Oke ~”
Angelica pergi menghampiri anak laki-laki yang disebut ayahnya Anak Emas itu. Mamat. Namun, dia telat karena Mamat sudah masuk ke sebuah ruangan.
“Maaf, Nona Muda ... Juga nona sekalian,” ujar ajudan kakeknya, menghalau Angelica, “Yang tidak diundang dilarang masuk ruangan ini.”
Berbeda dengan pertemuan kecil yang biasa dia dan Mamat lakukan, pertemuan kali ini adalah pertemuan besar, yang memang hanya diperuntukkan orang-orang tertentu.
Angelica memaksa masuk. “Tapi aku cuma mau nyapa—“
Pemuda di hadapannya hanya tersenyum, menutup mata seraya menaikkan kedua alis.
Angelica mendesah, dan berniat untuk berbalik pergi.
“Kami denger kamu mau jadi Pahlawan Nasional, heh?” cibir salah satu gadis yang merupakan harem Mamat.
Giamana mereka bisa tau?! Angelica langsung menoleh, membelalak.
“Heh, gadis bodoh ini gak nyerah-nyerah ngejar Mamat?”
“Dia pasti halu pingin banget sejajar dengan Tuan Muda!”
“Jadi Pahlawan Nasional? Apa gadis ini pikir itu gampang?! Kalau gitu aku juga mau jadi Pahlawan Nasional ah—ahahaha.”
Para harem Mamat mencibir dan menertawakan Angelica.
“Nggak ada yang tau sebelum aku mencobanya!” bantah Angelica.
Para gadis di hadapannya menahan tawa sembari mengangguk-anggukkan kepala—seolah paham.
“Ya ... Coba aja—dan juga semangat!”
“Ya. Semangat!”
“Semangat untukmu! Semoga berhasil!”
Kendati mereka memberi semangat, nada ucapan mereka terdengar jelas sangat sarkasme.
Angelica hanya bisa terdiam sambil mengepalkan tangannya, menatap tajam para gadis Mamat yang berjalan ke arah Ruang Tunggu.
Namun, tepat saat Angelica juga akan membalikkan badannya, Mamat keluar ruang pertemuan.
“Ah!? Hai, Mat,” sapa Angelica, mendekatinya. “Kamu tahu, aku—“
Tetapi Angelica langsung berhenti melangkah saat menyadari Mamat bahkan tidak meliriknya.
“Ke mana mereka?”
“Ng? Gadis-gadis Anda?”
Mamat tidak berbicara dengan Angelica, melainkan ke pemuda yang sedari tadi berdiri diam di depan pintu Ruang Pertemuan.
“Mereka di Ruang Tunggu, Tuan Muda.”
Pemuda itu melirik Angelica, lalu tersenyum padanya dan masih mempertahankan alisnya di atas.
“Aku ...” gumam Angelica, menunduk.
Mamat berjalan menghampirinya yang termenung.
“Hei, Lisa,” sapa Mamat.
“Ah?! Bukannya kamu lagi buru-buru? Aku nggak apa-apa, kok,” dalih Angelica, memaksakan diri untuk tersenyum.
Mamat yatim-piatu dari lahir, tapi karena talentanya, dia diurus dengan baik oleh Keluarga Besar-nya. Dia sedari balita digadang-gadang akan bisa menjadi Pemimpin Anggota Eksekutif Korporat, melampaui ayah dan ibunya. Banyak hal baik tentang Anak Emas ini ... Gimana aku bisa nggak suka padanya coba?! Dan juga dia manis banget, demikian pikir Angelica. Dia menatap anak laki-laki di hadapannya.
“Untuk sekarang, karena hubungan seluruh Keluarga Besar Konglomerat mulai membaik,” ujar Mamat, mengalihkan pandangannya, “Aku memang tidak bisa bersikap dingin lagi padamu.”
“Uh!?” Angelica melongo, tidak terlalu paham.
Namun secerah harapan tiba-tiba tumbuh; dan rasa sakit sebelumnya perlahan mulai menghilang.
“Aku akan mengatakan ini dengan jelas, Lisa,” lanjutnya menatap kembali Angelica, “Aku hanya akan terus menganggapmu sebagai teman.”
Mamat tersenyum, lalu berbalik pergi begitu saja, meninggalkan Angelica yang kembali termenung di tempat.
“Maaf, Lisa. Untuk ke depannya, ayo kita terus berteman dengan baik.”
Ucapan anak laki-laki itu sangat hangat dan ramah, namun entah mengapa, malah mengiris hati perempuan itu.
Angelica sampai-sampai tertegun, mematung di tempat. Dia hanya bisa melihat punggung kecil Mamat yang terus menjauh—ia seperti sangat jauh dan terasa sama sekali tak bisa diraih olehnya.
Menunduk dan menatap lantai pijakannya, dia terus menundukkan kepalanya saat berjalan di lorong. Namun, saat pintu lift baru saja terbuka, Angelica bertemu lagi dengan seorang anak pelayan yang dikenalnya. Sol. Yang datang bersama ayahnya.
“Em? Nona Muda Tang No ternyata,” sapa ayah Sol kepada Angelica.
“Nona Angelica? Kenapa murung seperti itu?” timpal Sol, langsung mendekati perempuan itu.
“Ah?” Angelica sedikit terkejut. “Siang, Om ... juga .. Tuan Muda Sol."
Pria paruh baya mengenakan pakaian hitam bulter itu melirik anaknya yang terlihat sangat bersemangat sekaligus khawatir.
“Ya. Saya permisi, kalau begitu, Nona Muda Tang,” pamitnya, mengangguk mengerti. “Ayah duluan, Sol.”
“Oke, Yah,” sahut Sol, mengangguk, dan langsung kembali bertanya ke perempuan di hadapannya, “Jadi ... kenapa Anda murung, Nona Muda?”
Perempuan cantik itu menjawab seperti terlihat baik-baik saja, namun ekspresi Sol malah berubah serius saat dia menatap Mamat yang baru saja keluar dari sebuah ruangan, tak jauh di belakang Angelica.
“Mamat, kah?” tebaknya, mengerutkan kening.
“Nggak, kok,” bantah Angelica, lagi. Dia mengusap kepala belakangnya sendiri. “Aku beneran cuma lagi nggak enak badan aja ....”
Perempuan cantik itu mengalihkan pandangannya dari Sol.
“Anda memang tidak pandai berbohong, ya, Nona Muda.” Sol terkekeh. “Anak Emas itu emang bajingan. Sebaiknya Anda menjauh darinya saja kalau tidak mau terseret ke dalam masalahnya, Nona Muda.”
Entah mengapa ucapan Sol membuat Angelica tiba-tiba mengerutkan kening. Dia marah dan terlihat sangat tidak senang dengan pernyataan anak pelayan itu.
“Saya yakin anak itu hanya akan terus menyakiti Anda, Nona Muda,” tambahnya, sambil memasang postur elegan seorang pelayan.
Sol menatap dingin Mamat yang memasuki ruang pertemuan.
Namun, berbanding terbalik dengan harapan Sol, Angelica langsung membantahnya, “Itu sama sekali tidak benar—dan juga Anda tidak bisa bicara seperti itu, Tuan Muda Sol.”
Sol terkejut dengan jawaban perempuan di hadapannya, yang mulai menggunakan bahasa serta nada sangat formal.
“Tapi anak itu emang—“
“Saya permisi undur diri, Tuan Muda Sol.”
Angelica berbalik pergi saat kerutan di alisnya masih dalam; yang membuat Sol membelalak sekaligus tertegun.
Kenapa aku sangat marah denger itu darinya, ya, demikian pikirnya, menggeleng.
Sampai keesokan harinya, kalimat terakhir yang Mamat katakan padanya masih teringat jelas olehnya.
“Terus jadi teman, huh,” desah pasrah Angelica, “Aku bahkan belum mengutarakan apa-apa—ah!? Aku harus cepet World In Game!”
Angelica melihat hari telah berganti begitu saja.
Namun setelah telat World In Game pun dia masih sempat untuk mengurus quest hariannya. Angelica menyelesaikan quest tersebut lebih lama dari biasanya.
“Ah, udahlah,” desah Angelica, menggelengkan kepalanya, “Lupakan hal-hal menjengkelkan kemarin—hari ini—aku akan ketemu lagi dengan anak kecil NPC manis!”
Angelica pergi menuju Village.0.
Kami udah sepakat ... dia mau bantu aku setelah ayahnya sedikit pulih. Tapi aku nggak tahu separah apa ayahnya sakit ... dan lagi ... sekarang aku malah telat. Apa dia masih mau nunggu? Biasanya dia cepet-cepet pulang, demikian pikir Angelica.
Dia berjalan memasuki wilayah Taman Kumuh.
“Uh?!"
Melihat seorang anak kecil sedang duduk di kursi taman, Angelica menghentikan langkah kakinya.
“Ah? Dia masih nunggu aku?”
Angelica berjalan perlahan mendekati seorang anak kecil yang ingin ditemuinya.
“Kamu nungguin aku?”
Anak kecil NPC itu menoleh padanya; Angelica tersenyum padanya.
“Maaf aku udah—ada urusan ngedadak, kemarin,” dalih Angelica. “ Urkh ... Kenapa, sih, belakangan ini, rasanya berat banget untukku.”
Angelica mengeluhkan hal itu sambil duduk di sampingnya. Anak kecil tersebut hanya terdiam, menatap dia dengan dingin dan datar. Tetapi Angelica merasa seolah itu adalah hal yang biasa.
“Hei, kamu tau,” jelas Angelica, “Ternyata banyak manfaat jadi Pahlawan Nasional! Entah itu mendapatkan Sumber Daya, Tempat Tinggal, Kekuasaan—tapi apa pun itu—aku cuma mau bisa sejajar dengan Mamat—Ah? Tapi apa ayah kamu udah pulih?”
Anak kecil NPC di sampingnya hanya mengangguk.
“Kalo gitu kamu bisa bantu aku dari sekarang dong?”
Anak kecil NPC itu melihat ke arah matahari senja sejenak, lalu kembali ke Angelica, mengangguk kecil padanya lagi.
Melihat persetujuan anak kecil tersebut, Angelica langsung berdiri seraya tersenyum; anak kecil NPC itu pun berdiri, mengikuti Angelica.
Tanpa bertanya akan pergi dan dibawa ke mana, anak kecil tersebut terus mengikuti Angelica. Mereka berdua pergi ke sebuah Gerbang Hitam Besar, yang memancarkan aura pembantaian dan permusuhan kuat.
Angelica menelan ludah saat menatap Gerbang Hitam Besar di hadapannya, lalu menggeleng.
“Nggak mungkin aku masuk ke sana sendirian,” gumamnya, menggeleng, “Nyari anggota party juga nggak mungkin—karena sekarang—semua player pasti sibuk di sirkel mereka masing-masing—atau pasti lagi fokus perang ...”
Angelica menoleh ke anak kecil di sampingnya.
“Itulah kenapa aku butuh bantuan kamu, Pope.”
“...”
Anak kecil NPC itu entah mengapa tetap terdiam.
“Mungkin ini pertama kalinya kamu ke sini?” tanya Angelica.
Anak kecil itu mengangguk.
Melihat persetujuannya, Angelica tersenyum dan mulai bercerita berbagai hal acak lagi. Mereka berdua pergi ke macam-macan Level Gerbang Dungeon, dan sampai ke perbatasan Field Dungeon.
Hamparan tanah dan pepohonan mati sangat mencekam terpampang di hadapan mereka. Namun anehnya, hutan serta gunung-gunung nun jauh di belakangnya tampak hijau nan rimbun.
“Nah ... kita nggak bisa lebih jauh dari ini,” ujar Angelica, “Ayo kita ke tempat lain.”
Yang anehnya, mereka malah menuju pusat Village.0—Ladang.0 kembali setelah Angelica membawa anak kecil NPC itu jalan-jalan ke tempat yang masih terbilang aman. Dia berhenti sejenak sembari menceritakan kejadian menyebalkan saat dia dirundung oleh harem Mamat.
“Maaf aku dari tadi ngoceh mulu ...” keluhnya, mulai murung kembali, “Belakangan ini terasa sangat berat untukku, Pope.”
Pada akhirnya, perjalanan mereka berhenti di dekat Ladang.0.
“Jadi, apa yang kita lakukan ini, Kak?” tanya Pope, pada akhirnya, menatap Angelica dengan tatapan heran, “Aku pikir ... kakak tidak akan bisa menjadi Pahlawan Nasional jika hanya berkeliling desa ini?”
Angelica menggaruk kepala belakangnya sendiri, kebingungan.
“Urkh ... yaa .. Kamu benar ... Untuk sekarang, aku cuma bisa naikkin level-ku aja, sih?”
“Mmm, Kak ... Apa itu lepel?”
“Ah, iya, aku lupa,” gumam Angelica, menatap lurus anak kecil di hadapannya. Kamu ini, kan, NPC.
Angelica mengalihkan pandangannya ke depan. Dia bisa melihat para NPC Tua sedang mencangkul.
“Level adalah pengukur sekaligus tanda seberapa besar kekuatan kami—para player,” jelas Angelica, tanpa mengalihkan pandangannya. “Aku juga sering ke sini karena quest harian. Untuk player yang nggak terlalu kuat kayak aku, itu metode paling cocok banget untuk naikkin level ... Di Dimensi tempat kamu tinggal ini, level itu dasar dari segalanya. Dan. Ya. Singkatnya ... gitulah .. yang dimaksud: Level.”
Dia menunduk, menatap anak kecil NPC di hadapannya dengan penuh harap.
“Tapi aku pikir ... y-yaa ... seenggaknya ... bahkan cuma untuk dapetin gelar pahlawan aja, minimal aku harus level 100 dan Tier 3 dulu—jadi—mohon bantuannya, oke, Pope!”***