RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [3] – [73] Pria Kapak Merah



Aku ingat jika player sudah mencapai ranah kekuatan tertentu, ia bisa membuat dirinya sendiri melayang.


Seorang Anak Diberkati Tuhan tiba-tiba terlempar keluar dari celah retakan aneh Gerbang Dimensi. Dia terlempar sampai menabrak pohon. Namun, kendati dia menabrak pohon sampai pohon tersebut hancur, siluet silver tubuhnya menampakkan kalau dia sama sekali tidak terluka, tetap berdiri tegap, dan langsung mendongak ke atas langit—menatap sosok hitam berkabut di bawah langit senja.


"Ini masih Wilayah Khusus Kekuasaan Keluarga Tuan Muda ini," papar seorang pria berambut silver, yang baru saja terlempar keluar dari Gate Dungeon tersebut, "Beraninya kalian! Party Kecil Konglomerat Wun?! Membuat keributan di sini! Aku minta penjelasanmu, Tuan Muda Toro?"


Apa pria yang dipanggil Tuan Muda Toro itu bisa melayang karena pada saat ini dia sudah berada di Tier Empat? Ingatanku mulai kacau, sebab pada saat ini, bahkan Angelica masih menantang ujian Tier.3-nya.


"Ohh ..." decak sosok hitam di atas langit, "Kamu ternyata muncul, Tuan Muda Nanang?"


"Kalian segera pergi dari sini atau ...," ancam Anak Diberkati Tuhan disebut Nanang itu.


"Atau apa?" sambung sosok hitam tersebut dengan nada sarkas.


Aku ingat mereka saling menatap cukup lama di sini, sehingga Ro dan Mo bisa berlari mendekatiku tanpa diperhatikan mereka.


“Apa Anak Diberkati Tuhan Kapak Merah Besar itu akan melindungi kita, Pope?”


“Aku pikir iya. Tuan Muda berambut silver itu sepertinya sedang melindungi kita.”


Bukan aku yang menjawab, melainkan itu adalah hipotesis Mo menjawab pertanyaan Ro. Aku hanya menatap kedua pria itu sepintas dan mengangguk sedikit.


“Mungkin,” balasku, kembali mendongak dan menatap sosok Tuan Muda Toro di atas langit.


Entah mengapa mereka terdiam cukup lama, situasi yang aku—kami bertiga—tepatnya, memang sama sekali tak mengerti pada saat ini.


Ya. Namun, kelak aku akan tahu jikalau situasi seperti sekarang ini merupakan cara untuk mengukur kekuatan lawan atau musuh yang setara.


Keheningan yang rasanya tidak ada akhirnya sampai Anak Diberkati Tuhan dipanggil Nanang, mulai menghunuskan Kapak Merah Besar di punggung lebarnya.


Ya. Untuk pertarungan kelas atas seperti yang akan dimulai sekarang ini, perencanaan dan pengukuran sangat matang memang jelas akan meningkatkan kesempatan untuk menang.


“Jadi kalian benar-benar enggan mundur, heh,” desah Nanang, terlihat menggenggam erat senjatanya dengan kedua tangan.


Ya. Dari sini, saat dia berjalan ke hadapan keempat orang dari Konglomerat Wun itu, aku mulai ingat kalau Tuan Muda bernama Nanang itu merupakan sepupu Angelica.


Jadi mungkin itu sebabnya dia melindungi kami pada saat ini? Pikiranku pada saat ini memang tidak salah, namun aku ingat jelas kalau di Dunia Dimensi mana pun tidak ada yang namanya makan siang gratis.


“Hehehe,” ejek Tuan Muda Toro di atas langit, “Apa yang bisa kamu lakukan kalau cuma merangkak di atas tanah seperti itu?”


Tanpa menolehkan kepala, Pria Kapak Merah itu melirik ke arah langit yang cukup jauh di belakangku. Lalu kemudian dia menyeringai ke arah lawannya yang melayang di atas langit.


“Menahan kalian semua sampai bala bantuanku tiba?” balas Nanang, memasang posisi bertahan.


Kami bertiga melihat dia semakin menggenggam Kapak Merah Besar-nya dengan erat.


“Kalian bertiga diam dulu aja,” ujar Tuan Muda Toro, melirik tiga rekan party pemula di bawahnya, dan kemudian menyipitkan kedua matanya saat menatap Nanang, “Aku mau liat apa yang bisa Tuan Muda Tier Tiga ini lakukan.”


Ketiga orang dari Keluarga Konglomerat Wun itu mengikuti perintahnya dan langsung menyarungkan senjata mereka masing-masing.


“Heh ... apa yang bisa dilakukan Player Tier Tiga di hadapan Tuan Muda kita? Apa dia nggak tau jauhnya perbedaan kekuatan ranah antar Tier?!”


“Benar .. Kelas. Job. Dari kedua Tier itu aja udah pasti di ranah yang beda—kami bahkan tidak bisa menahan satu serangan Tuan Muda.”


“Ya! Nanang ini terlalu sombong, aku yakin dia pasti mati dengan menyedihkan di tangan Tuan Muda kita!”


Tebasan Pedang Besar Hitam sosok melayang di atas langit memulai pertarungan mereka.


Sebuah energi pedang berbentuk bulan sabit melesat cepat ke arah Nanang.


Dia mau menebas Energi Pedang Gelap itu?


Bukan hanya aku yang terkejut melihat sikap yang diambil Nanang, semua orang di sekitarku pun terkejut dan memikirkan hal yang sama.


Seraya mengeratkan genggaman kedua tangannya lebih kuat lagi, dia menebaskan Kapak Merah Besar-nya ke depan secara vertikal.


Warna merah darah pada bilah tajam Kapak Merah Besar tersebut terbentuk dan mengekori lintasan tebasannya.


Bentrokan dari dua energi besar menciptakan sebuah gelombang energi sampai menghempaskan kami, kecuali Vanguard Wanita Konglomerat Wun yang berada tak jauh di bawah Tuan Muda-nya itu.


Pria Kapak Merah di daratan yang tak bisa melayang, dengan berani melawan seraya menahan serangan sosok kabut hitam di langit yang terus menebaskan Pedang Hitam Besar.


Aku melihat dua Anak Diberkati Tuhan dengan kekuatan puncak mereka, bertarung satu sama lain.


Kapak Merah Besar melawan Pedang Hitam.


Meskipun melawan Tier.4, dengan masih berada di ranah kekuatan Tier.3, Pria Kapak Merah itu sama sekali tidak terlihat akan kalah.


Tuan Muda Konglomerat Wun itu. Toro. Awalnya sangat memojokkan kami bertiga. Namun, Nanang bisa dengan mudah menarik perhatian-nya sambil terus menahan serangan Pedang Hitam Besar yang mulai membabi-buta.


Pertarungan ini terus berlangsung sampai malam hari.


Apa ini kekuatan Anak Diberkati Tuhan Vanguard yang sebenarnya?


Jo, Siti, dan Sera. Ketiga Player Party Pemula Pengejar kami itu. Beberapa kali mencoba menangkap aku, Mo dan Ro tetapi Nanang bisa melindungi kami bertiga seraya menahan serangan sosok di atas langit tersebut.


“Heh,” dengus Toro, mulai menyipitkan matanya saat menatap ke bawah, “Aku ingin tahu sampai kapan kamu bisa bertahan ... Coba tahan seranganku ini—“


“Tuan Muda!” tukas seorang Archer Pria bernama Jo, secara tiba-tiba mengingatkan Toro, “Lihat itu! Tier Empat Konglomerat Soro Dojo mulai berdatangan!!”


“Cih,” decak kesal Toro, melihat ke arah yang ditunjukkan Jo.


Nanang yang masih berdiri di tanah, melompat ke dahan pohon dan menyerang Toro dengan sekuat tenaga seraya mengejeknya, “Mau mundur? Jangan harap!”


“Enyah!” umpat Toro, menebaskan senjatanya secara vertikal.


Nanang memang terhempas dan langsung terjun ke tanah dengan sangat cepat. Tetapi Toro, yang masih melayang di atas langit, terlihat mundur beberapa langkah akibat hantaman Kapak Merah Besar Nanang.


Dari jauh di belakangku, dua rekan Anak Diberkati Tuhan Pria Kapak Merah itu mulai menembaki keempat player dari Konglomerat Wun.


"Tuan Muda!? Anda selamat?" teriak sosok Assassin Pria dari jarak yang sangat jauh, dan dia terlihat berlari serta melompat dengan sangat cepat ke arah kami, "Kenapa Anda bisa berada di luar Gate Dungeon sebelumnya?!"


Memimpin mereka, beberapa sosok emas menembak cepat ke arah sosok hitam di atas kami semua; Melihat sosok emas, Toro terlihat berwajah gelap dan langsung menyerah serta memerintahkan ketiga orangnya untuk kabur.


“Kejar mereka!!”


“Jangan biarkan mereka kabur!"


“Beraninya mereka membuat ulah di wilayah kami!!”


Saat para sosok emas melesat terbang mengejar Toro, dan beberapa orang berlari mengejar tiga orang Party Konglomerat Wun, Nanang tidak mengikuti pengejaran tersebut dan malah menoleh ke kami bertiga.


"Gimana kalau kalian ikut ke wilayahku untuk sementara?" ajaknya, sambil menyandangkan Kapak Merah Besar secara diagonal di punggungnya, "Toh Angelica-nya juga masih menantang ujian Tier Tiga-nya, kan?"


Aku membelalak, terkejut.


Dia tahu Angelica sedang pergi meninggalkan kami?***