RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [2] – [22] After Banned & Failed



Kehidupan Setelah Kematian.


Itulah hal yang memang paling menakutkan untuk Umat Manusia bayangkan. Namun tentu masih ada hal yang lebih buruk dari hal tersebut, yakni:


Kehidupan Setelah Kegagalan.


Inilah apa yang sekarang sedang dialami dua Umat Manusia, yangmana sebelumnya mereka ditarik paksa keluar dari Daratan Surga-nya.


Entah apa yang sedang terjadi, dua sosok tersebut bisa berada di Dimensi Dunia dengan Dimensi Waktu yang berbeda—yang ia tiba-tiba bergeser—dan mereka tak lama lagi akan saling bertabrakan.


Entah bagaimana kedua Umat Manusia itu bisa berada di sana—mereka sama sekali tidak mengerti.


Entah mengapa salah satu dari mereka bisa ditarik paksa dari Daratan Setelah Kematian—dia sama sekali tidak tahu.


Di mana ini, pikirnya, kebingungan. Ini ... bukan Daratan Surga? Ke mana Skill Respawn akan membawaku?


Dia berpikir jika Skill Respawn pemberianNya masih berufungsi. Namun, dia malah terus terumbang-ambing di Ruang Dimensi.


Cahaya dengan berbagai spektrum warna dan campuran warna cahaya terang di atas hitam pekat mulai terlihat olehnya.


Lalu tiba-tiba, sebuah Lubang Dimensi muncul di antara kilauan spektrum warna tersebut. Ia akan menabrak Ruang Dimensi di mana dia berada. Dia panik namun tidak bisa melakukan apa-apa.


Kedua sosok Umat Manusia itu memang berbeda Dimensi Ruang Waktu dan Dimensi Ruang Dunia berbeda dari Daratan Surga yang mereka ketahui. Yangmana sekarang, kedua Ruang Dimensi tersebut akan saling bertabrakan.


Dia entah bagaimana bisa keluar dari himpitan dua Dimensi Ruang, yang tak lama lagi akan meledak. Dan sosok Umat Manusia lain terlihat olehnya berusaha keluar dari salah satu dari Ruang Dimensi tersebut.


Siapa?


Ledakan.


Ya.


Sialan!!?


Ledakan sangat besar terjadi akibat tabrakkan dua Energi Ruang dengan dua Celah Dimensi yang berbeda. Tetapi kedua sosok Umat Manusia itu masih bisa selamat dari ledakan tersebut.


Efek Ledakkan tabrakan Dua Energi Ruang tersebut pun sampai-sampai menghancurkan tubuh kedua sosok itu.


Sial. Sialan. Orang itu kenapa ada di—Tubuh, pikiran, serta batin-nya perlahan lenyap seraya dua Dunia Dimensi tersebut menyatu.


Kendatipun bisa mengumpat seperti itu, gelombang ledakan di sekitarnya terus terjadi. Ia menyapu semua spektrum warna, cahaya—bahkan warna hitam sebagai dasarnya pun sampai lenyap.


Sekarang. Hanya. Ada. Kekosongan.


Jeritan kesakitan dua sosok itu terus berlangsung seraya gelombang besar Energi Ruang Dimensi masih menyebar. Namun bukan jeritan dari pita suara, pikiran, maupun batin mereka—ia hanya berasal dari:


Jiwa. Kesadaran. Kedua sosok manusia tersebut.


Namun entah bagaimana dia dan sosok kesadaran lainnya bisa diam, saling berhadapan.


Dua buah kesadaran yang entah bagaimana juga pada akhirnya masih bisa tersisa dari Ledakan Energi Besar di sekitarnya.


Mereka pun heran dan kebingungan satu sama lain—apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya?


Salah satu dari mereka bertanya kepada kesadaran Umat Manusia di hadapannya, “... Wahai Pahlawan Pengintai—kenapa kau berada di sini? Dan ... di mana—”


“Ugh?! Sialan. Aku seharusnya yang bertanya, kenapa—“ umpat sosok kesadaran lain itu, “kenapa kau ada di sini!? NPC bau?!?”


Kesadaran Mantan Pahlawan Pengintai itu. Sol. Tidak menyangka akan ada kesadaran lain di Perbatasan Dua Dunia Dimensi. Lebih tepatnya, Ex Assassin Heroes itu sama sekali tidak menyangka akan ada tabrakan dua Dunia Dimensi dengan Dimensi Waktu berbeda—yang sampai-sampai menghancurkan seluruh tubuh avatar-nya.


NPC (Non Playable Character) itu. Pope. Pun kebingungan dan bertanya-tanya bagaimana Musuh Utama-nya—yang dikiranya sudah mati diinjak Satan Angelica—malah berada di tempat aneh seperti itu bersamanya.


Mereka seperti melayang, mengambang, berputar-putar tidak jelas di sebuah ruang-waktu—yangmana mereka pun hanyalah sebuah: Kesadaran.


Tidak mendapatkan jawaban, NPC itu dengan tenang langsung berencana untuk menyerang Musuh Utama-nya. Dia sudah bisa membayangkan bahwa jika Anak Diberkati Tuhan mati, atau dalam keadaan Respawn Skill-nya aktif, semua Attribute ‘Job’nya—termasuk Attribute Heroes mereka akan hilang sejenak. Pun dalam bayangan di dalam kesadarannya, Sol itu hanya seorang pria kurus-kerempeng jika tanpa Attribute Heroes-nya.


Dan sedari awal mereka berdua bertemu, Mantan Pahlawan Pengintai itu tidak sedikit pun memancarkan Aura Pembunuh Kejam lagi.


Aku harus segera membunuhnya!


Namun sayang sekali, Pope sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Tubuhku hilang lagi?!


Berbeda dengan Pope yang panik dan keheranan, kesadaran Sol tetap tenang.


Mungkin Pope sama sekali tidak menyadari dirinya sekarang telah menjadi sebuah kesadaran kembali? Ya. Ex Assassin Heroes itu pun merasakan hal yang sama.


"Sial, tidak pernah kubayangkan aku bisa terjebak di Dimensi Perbatasan seperti ini ... Ini gara-gara kau, NPC bau!"


Ya. Sol sangat kebingungan sampai-sampai mengumpat dan menyalahkan kesadaran NPC di hadapannya.


Untuk mengulur waktu, Pope bertanya, “Wahai Pahlawan Pengintai, kenapa kau ada di sini? Kenapa


Angelica bisa menjadi Great Satan—dan apa Item Artefak—“


“Berisik, kau, NPC bau!” potong Sol.


Pope sangat menyadari kesadaran Ex Assassin Heroes di hadapannya terasa sangat geram padanya.


“Aku tanya sekali lagi, Wahai Pahlawan Pengintai ... kenapa Angelica menjadi Great Satan? Kalian—para Anggota Sekte Sesat pemuja Kaum Iblis, bukan?”


Pope menyadari bahwa Sol sudah bukan lagi seorang pahlawan. Sedangkan Sol-nya sendiri hanya terdiam, dan kesadarannya seolah menatap Pope dengan tatapan tajam.


“Jangan menyebut nama depannya seperti itu, NPC sialan ... Sekalipun aku tahu, aku tidak akan pernah memberitahumu, bodoh!”


“Beritahu aku, atau aku akan melenyapkan keberadaanmu sepenuhnya dari sini ...”


“Melenyapkanku? Hahahah! Sungguh lucu, NPC bau! Maju sini, sialan ...!!”


Pope sangat serius mengancamnya, namun Ex Assassin Heroes itu membalasnya dengan nada sarkasme.


“Ya. Kalau kamu benar-benar ingin mati, Pahlawan Pengintai ...”


Pope terus mendesak Ex Assassin Heroes itu, karena dia merasa bahwa Sol tahu tentang Angelica yang telah berubah menjadi Great Satan.


“Hahaha!” cibir Sol, “NPC sialan!! Beraninya kau mengancamku ...?!?”


“Ya ...” balas Pope, santai, “Kalau kamu benar-benar ingin mati, aku akan mengabulkannya.”


“Cih. Apa yang NPC bau dan gagal sepertimu bisa lakukan?” cibir Sol, lagi.


Mungkin dalam mimpi terburuknya pun, Ex Assassin Heroes itu tak akan pernah membayangkan Pope memang mempunyai kemampuan untuk melenyapkan dirinya.


Secara perlahan, sesuatu terjadi di hadapan kesadaran Mantan Pahlawan Pengintai itu. Kesadaran Pope tiba-tiba retak menjadi dua bagian, lalu suatu Energi Besar keluar dan merambat mendekati-nya.


“Kau bisa nge-cheat?!! BB-Bagaimana NPC sepertimu bisa—“


“Aku mempelajari ini dari rekanku anehku—ya—meskipun hasil akhirnya pasti akan sama seperti saat kita pertama bertarung—di Puncak Tower Energi ... kau ingat .... Wahai Pahlawan Pengintai?”


NPC itu akan menggunakan Simbol - Simbol Aritmatika beserta seluruh Bilangan Angka Kode Biner di dalam kesadarannya sendiri untuk menyerang Sol.


“Sialan!!? Kau benar-benar ingin menggunakan jiwa—keberadaanmu sendiri untuk melenyapkanku?!!”


Sol mulai ketakutan.


“Sial!” Ex Assassin Heroes itu terus mencari cara untuk melarikan diri saat Cahaya Hijau yang mulai muncul dari retakan ruang-waktu tepat di depannya. “Aku harus melakukan sesuatu—“


Namun, Dunia Dimensi Perbatasan tempat di mana mereka berbincang tiba-tiba bergetar hebat.


Pope terkejut. “Apa yang terjadi ...?”


Mereka berdua ditarik oleh dua Energi Besar dari arah yang berlawanan; Retakan Ruang yang dibentuk Pope tiba-tiba lenyap begitu saja.


“Hahaha! Sayang sekali rencana kau itu selalu gagal, ya, Pope ...” sindir Sol, langsung menyadari sesuatu.


Mantan Pahlawan Pengintai itu akhirnya bisa merasa lega.


“Dan ingat ini, NPC bau ... kau berani mengecamku? Di sini .. aku bersumpah kalaupun kau berada di Arasy—Takhta Tuhan itu serta para DewaNya—!!?”


Bukan hanya dia yang terkejut, Pope pun tiba-tiba meringis kesakitan. Mantan Pahlawan Pengintai dan NPC itu tidak menyangka, dengan sangat tiba-tiba, mereka berdua ditarik keluar kembali dari Dunia Dimensi Perbatasan.


‘—Aku akan membunuhmu!’


Itulah yang terakhir Pope dengar dari kesadaran Anak Diberkati Tuhan itu. Assassin Heroes—Musuh Utama-nya.


Pope dan Sol terlempar terpisah ke arah yang berlawanan. Mereka berdua akan menuju Dimensi Dunia dan Dimensi Waktu yang berbeda.


Namun terlepas dari ia semua, ada juga hal yang lebih buruk nan menakutkan lagi dari dua hal itu, yaitu:


Kehidupan Setelah Dibuang Oleh Tuhan.


Pope mendengar dengan sangat jelas suara Tuhan menjerit kesakitan.***