
Tentangku dan dia. Kisahku. Pope dan Angelica; Potongan. Memori. Masa kecil. Kami berdua.
Yang mana deretan memori masa kecil kami berdua ini pada akhirnya tak lama lagi akan mencapai puncaknya.
Semua ini memang hanya sebuah memori singkat masa kecil aku dan dia, yang tak terstruktur dengan baik—aku tahu itu.
Aku membantu dia meng-grinding monster kendati diriku sangat tidak berguna. Menahan gerombolan monster seraya menarik aggro mereka agar hanya tertuju padaku.
Beberapa kali aku memang menyelamatkan dia dari kecerobohannya sendiri—sebagai umpan daging-nya.
Namun, aku pikir itu tidak terlalu membantu? Toh Anak Diberkati Tuhan Wanita seperti dirinya pasti akan hidup lagi setelah mengalami kematian.
Ya. Aku mundur; dia langsung melontarkan sihir emas yang langsung membombardir para monster.
Nyaris aku terkena serangan Skill Sihir AoE Angelica.
Ya. Tetapi aku entah mengapa sangat percaya dengan akurasi tembakkan skill sihir-nya itu.
“Apa kamu nggak apa-apa, Pope?!”
Aku terlempar cukup jauh, bahkan saat hanya terkena hempasan gelombang sihirnya. Kendati ia hanya sebuah cahaya berwarna emas, satu serangan Anak Diberkati Tuan Wanita seperti Angelica pasti dengan mudah melenyapkan se-gerombolan Enemy Class E.
“Aku tak apa.”
“Apa kamu terluka?”
Dia berlari ke arahku seraya mengeluarkan sesuatu dari apa yang disebutnya: inventory. Tangannya mengeluarkan partikel-partikel poligon biru, yang melayang di sekitarnya, lalu ia langsung menghilang begitu saja di udara.
“Aku sudah bilang aku tidak apa-apa,” tegasku, berdiri.
“Ihh ... kamu harus tetep vit tau! Kita ini sekarang ada di sarang Monster—harus terus waspada!”
Dia membalasku seperti itu seraya langsung menyuntikkan Syringe.0 ke pahaku.
Ya. Tempat kami meng-grinding ini biasa disebut juga: Sarang Monster.
Padahal, istilah Sarang Monster hanya biasa aku—para Pribumi Daratan Surga katakan.
Ya. Sebab biasanya, jika Anak Diberkati Tuhan seperti Angelica, akan selalu menyebutnya: Mini Dungeon.
Di dalam sini tak berbeda jauh dengan Field Dungeon di kaki gunung. Hamparan Hutan Mati. Yang terasa sangat mencekam.
Namun, tidak seperti di Field Dungeon yangmana akan terus bermunculan monster dari berbagai ukuran gate kecil, di dalam Dimensi Dungeon, monster yang kami lawan sangat terbatas.
Para monster yang kami lawan di dalam sini pasti akan habis setelah kami melawan Boss Monster-nya. Dan lagi kami harus keluar atau dikeluarkan dari dimensi ini setelah mengalahkannya.
Satu serangan sihir Angelica mengenai telak kepala hijau sosok monster hijau bertubuh gumpal.
Goblin King
Entah berapa kali kami berdua mengalahkan Boss Monster bernama Raja Goblin ini.
Aku tahu Boss Monster yang telah kami kalahkan merupakan Monster Class D. Yangmana dulu, Boss Monster yang aku dan Angelica hadapi pada saat ini memang sangat sulit untuk kami kalahkan.
Tapi sekarang, demikian pikirku, menoleh ke belakang.
Tubuh hijau nan besar seekor goblin di belakangku tumbang begitu saja; dan seraya dengan itu seluruh tubuhnya perlahan terpecah menjadi partikel poligon biru—yang ia semua terbang ke sekitar kami berdua.
“Urkh ... kita harus segera cari Gate Dungeon lain, Pope,” ujar Angelica, mengumpulkan suatu item yang keluar dari Goblin King, “Boss di sini udah jadi gampang banget dikalahkan ... juga drop item-nya udah nggak sepadan.”
Angelica pernah memberitahuku kalau memang ada beberapa kelas monster sesuai dengan kelompok kekuatan mereka. Enemy Class E s.d. Class A. Dari slime dan goblin yang merupakan kelompok monster Class E. Pun Roswell Aliens yang pernah aku dan dia lawan, termasuk ke dalam kelompok Enemy Class B.
Ya. Meskipun Roswell yang pernah aku dan Angelica lawan merupakan kelompok monster Enemy Class B, kami masih bisa mengalahkannya.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya melawan kelompok monster Enemy Class A. Roswell Aliens yang pernah kami kalahkan pun tak sekuat aslinya—bahkan ia semua bukan Boss Monster, demikian pikirku.
Ya. Kami berdua belum pernah melawan Enemy Class A sekali pun.
“Mungkin ia disebut Boss Alien? Alien Boss?”
“Ng? Nge-gumamin apa kamu?”
Ya. Angelica menoleh saat mendengar gumamanku.
“Tidak. Bukan apa-apa,” jawabku, mendahuluinya berjalan ke hadapan gate silver-hitam, “Ayo kita segera keluar dari Dimensi Dungeon ini.”
Selama aku bertarung dengan Angelica, hanya beberapa Roswell Aliens Enemy Class B, lawan terkuat yang pernah kami berdua lawan. Ia semua memang lebih kuat dari para monster seperti goblin, orc ataupun hantu maupun makhluk astral sejenisnya.
Ya. Kami pernah salah memasuki Mini Dungeon, melawan beberapa hantu.
Ghost Monster. Hantu. Yang merupakan salah satu makhluk astral yang bisa melayang memang hanya termasuk ke dalam kelompok monster Enemy Class C, tetapi cukup sulit untuk dikalahkan. Ia tak bisa disentuh dan terkadang menghilang-muncul dari pandangan kami.
Pada saat itu. Dalam Dimensi Mini Dungeon. Untuk pertama kalinya aku menahan kelompok monster Enemy Class C. Aku pasti akan mati jika Angelica tidak memberiku Jarum Suntik Penyembuh, item pertahanan tambahan, serta nge-buff diriku secara membabi-buta.
Namun pada akhirnya, aku menemukan cara untuk melawannya. Ia memang tak bisa disentuh namun bukan berarti tak terkalahkan. Aku hanya harus menghancurkan pilar kuburan di sekitar, lalu para hantu pasti akan berubah menjadi wujud fisik. Dan sinar sihir emas Angelica akan mengakhiri musuh kami seperti biasa.
Ghost Monster adalah monster yang berdiam di suatu tempat. Mereka merupakan sekelompok hantu yang membentuk sarang di dalam Dimensi Mini Dungeon, dan mencoba menyerap jiwa. Kesadaran. Siapa pun yang memasukinya.
Terlepas dari potongan memori itu, aku mulai mengerti bahwa akan ada pola tertentu untuk melawan kelompok monster yang lebih kuat. Tidak semuanya harus dikalahkan menggunakan kekuatan kasar.
Dan dari beberapa pertarungan yang telah kami berdua lewati, Angelica selalu mencatat sekaligus mengelompokkan monster-monster yang pernah kami kalahkan, yang ia bisa ditampilkan pada sebuah panel persegi panjang berwarna biru melayang di udara:
Kelompok Monster Enemy Class A memang sangat sulit kami temukan—bahkan jika sampai menemukannya pun, pada saat ini kami berdua masih belum cukup kuat untuk melawannya.
Namun, data tersebut memang sangat berguna untuk memudahkan aku dan dia untuk meng-grinding monster ke depannya. Dengan mengetahui kemampuan serta tipe monster yang aku lawan, aku jadi bisa memaksimalkan sekaligus terus mengasah satu-satunya kemampuan bertarungku, yakni: Menghindar.
“Hei, Pope!?” seru Angelica, tiba-tiba, “Liat itu! Ada party yang lagi bertarung sama Enemy Class A!”
Ya. Jalan pulang kami berdua dihadang oleh Monster Enemy Class A. Manticore. Yang merupakan monster berwujud singa berbulu coklat gelap yang memiliki dua sayap kelelawar. Namun, sepertinya ia sedang melawan satu Party Anak Diberkati Tuhan. Kedua taring serta cakar tajamnya terus merobek udara di wilayah pertarungan party tersebut.
“Mereka kayaknya kesulitan,” papar Angelica, mengerutkan kening, kemudian menengok kepadaku, “Gimana menurut kamu, Pope?”
Ya. Aku tahu kalau Manticore adalah monster langka yang merupakan World Boss Field Dungeon—tapi mengapa ia ada di sini—tempat keluar sebuah Gate Mini Dungeon? Aku bertanya-tanya.
“Aku pikir kita harus menjauh dari mereka, Angelica,” ujarku, menggeleng, “Kita harus benar-benar segera menjauh dari mereka.”
Ya. Seperti yang sudah aku bilang—dalam rentetan memori singkatku ini—Enemy Class A pasti akan terlalu sulit untuk kami berdua kalahkan.
Namun, bukan hanya tingkat kesulitan monster saja yang harus kami berdua perhatikan, karena sejauh ingatan serta pengalaman aku dan dia meng-grinding, kami tidak boleh mempercayai siapa pun lagi.***