
‘Seperti yang udah kita sepakati, oke? Mulai dari sekarang, kamu bantu aku naik level! Pope ... kamu cuma harus ngumpulin para monster, lalu aku yang ngabisin mereka pake sihir AoE! Tenang ... kamu pasti aman, kok. Aku akan bayar kamu pake Golden Candy dan Syringe Point One, gimana?’
Itulah apa yang dulu pernah dikatakan oleh Anak Diberkati Tuhan Perempuan di hadapanku ini. Aku masih mengingat percakapan kami itu dengan sangat jelas.
Ya. Syringe.1 memang memiliki efek penyembuhan lebih baik daripada Syringe.0 yang pernah dia berikan kepadaku sebelumnya. Selama ini pun aku dan ayahku memang sangat tertolong oleh dua jenis Jarum Suntik Penyembuh itu.
Grinding. Adalah istilah untuk suatu kegiatan penggilingan monster. Namun, aku tidak tahu di mana bagian penggilingannya. Aku hanya membantu Anak Diberkati Tuhan Perempuan. Angelica. Untuk terus menaikkan apa yang disebutnya level.
Ya. Karena kesepakatan yang telah kami buat, kami pun telah tumbuh bersama menjadi seorang remaja, yang setiap hari kami berdua meng-grinding monster untuk leveling Angelica.
Leveling. Sedangkan istilah ini digunakan untuk kegiatan memperkuat kekuatan keseluruhan para Anak Diberkati Tuhan.
Satu-satunya penyesalanku ... kenapa, ya, aku tidak bertanya dulu level berapa dia saat itu, demikian pikirku, berkedip.
Aku menatap punggung seorang perempuan berambut emas, sedang memimpin jalan di depanku. Rambut panjangnya berkibas saat dia menoleh padaku.
“Ng? Ada apa, Pope?”
Dia mengenakan zirah bercorak emas yang terukir di atas warna dasar putih susu—kendati dia seorang penyihir. Lebih tepatnya corak tersebut ialah rune emas yang terukir sangat simetris nan rapi. Yang mana zirah tersebut akan membuat siapa pun tahu jika ia merupakan barang berharga dan langka.
Kami memasuki sebuah Gate Dungeon seperti biasa, dan tiba-tiba, tak jauh dari posisi kami berdua, lorong-lorong dimensi dengan berbagai ukuran lingkaran gate kecil, langsung bermunculan dari kehampaan. Dari monster goblin sampai orc, berlari keluar dari gate-gate tersebut. Mereka semua langsung menerjang ke arah kami.
Dan sini, aku, harus menjadi pengalih perhatian gerombolan monster itu.
Aku langsung berlari ke depan, sampai jarak tertentu.
Ini terbilang cukup mudah, sebab aku hanya harus berbalik kembali saat para monster tersebut mengunci target mereka padaku.
Aku berlari ke arah Angelica.
“Cepet nunduk, Pope!”
Dia berseru seperti itu setelah merapalkan sihirnya.
Cahaya emas tiba-tiba menyinari seluruh tubuh Angelica, lalu kemudian membentuk bola cahaya padat. Kedua tangannya menjulur ke depan; dan aku yang tak jauh di hadapannya langsung tengkurap.
Entah sudah berapa kali aku melakukan ini selama bertahun-tahun terakhir, sampai aku dan dia menjadi seorang remaja seperti sekarang.
Ya. Di atas punggungku—yang sedang tengkurap ini—ada jalur serangan sihir Angelica. Ia melesat menjadi gelombang sihir berwarna emas, dan langsung melenyapkan seluruh monster yang dilewatinya.
Seperti yang sudah aku bilang, level adalah pengukur kekuatan para Anak Diberkati Tuhan.
Ya. Dan inilah apa yang kami sebut: Leveling dengan metode Grinding Monster.
“Leveling di sini sekarang terlalu lama! Ayo kita ke Field Dungeon, Pope,” gerutu Angelica, yangmana tubuhnya tiba-tiba mengeluarkan sinar putih berkilauan. “Aku pikir kita udah lumayan kuat.”
Ya. Sinar tersebut adalah pertanda kalau dia sedang naik level.
Ini aneh. Tetapi dari dulu dia selalu seperti ini; pun penampilannya selalu terlihat sama. Aku bertanya-tanya.
“Kenapa kamu liatin aku kayak gitu, Pope?” tanyanya, saat aku berkedip.
Angelica memiringkan kepalanya, menatapku.
“Kamu selalu terlihat seperti ini ...”
“Ng ...?”
“Maksudku—“
Angelica tiba-tiba membelalak, terlihat sangat terkejut, seolah dia melupakan sesuatu yang sangat penting.
“Ah!? Iya bener ... sekarang umur dan penampilan kita jadi keliatan sama!” papar Angelica, mengeluarkan sebuah cermin dari apa yang disebutnya inventory, “Aku terlalu fokus quest sampai lupa nge-upgrade avatar aku.”
Seperti biasa, dia tiba-tiba menatap ke depan seraya menunjuk-nunjuk udara kosong di hadapannya.
Namun kali ini bukan sebuah barang lain yang muncul, melainkan seluruh tubuhnya tiba-tiba bersinar terang layaknya dia sedang naik level.
“Kenapa kamu tiba-tiba naik level?”
“Nggak. Bukan. Aku nggak lagi naik level—aku cuma up avatar-ku aja.”
“’Up’ .. Apa?”
“Avatar kami—player nggak bisa diatur sesuai keinginan. Tapi pihak developer buat avatar para player sama persis dengan tubuh aslinya. Kami nggak bisa ngubah avatar, kecuali nge-upgrade penampilan sesuai umur asli kami,” jelas Angelica, saat sinar di tubuhnya mulai menghilang. “Aku harap mereka upgrade sistem gim untuk penampilan ... Aku pengen jadi lebih imut ....”
Aku tidak terlalu mengerti apa yang dijelaskannya itu, tetapi yang kulihat sekarang ini sungguh menakutkan.
“Yay ... kamu bisa manggil aku kakak lagi sekarang, Pope!”
Dia berubah menjadi sosok wanita dewasa dengan tubuh yang sangat menakjubkan.
Ya. Namun entah bagaimana, saat ini, aku benar-benar lupa dengan masa di mana dia masih seorang gadis.
Mungkin ia terlalu menakutkan untuk kuingat sehingga aku melupakan masa-masa itu?
Ya. Entahlah.
“Ayo. Kita akan ke mana lagi, Angelica?”
“Cih ... panggil aku: ‘kakak’!”
“Bukannya dulu kamu ingin aku memanggil namamu?”
“Urkh ... Aku berubah pikiran ... lebih enak rasanya kamu manggil aku: kakak—apa lagi kalo ‘kakak cantik ...’, hehehe.”
“Ayolah ....”
Kami menuju ke tebing di perbatasan Negara Adidaya dan Field Dungeon. Tebing yang merupakan batas dari Village.0.
Menapaki ribuan anak tangga, kami berdua menuju ke Field Dungeon di atas daratan Village.0 serta kota-kota Negara Adidaya-nya.
Ini pertama kalinya aku keluar desa.
Biasanya, kami hanya memasuki Gate Dungeon atau Mini Dungeon saja di Wilayah Dalam Negara Adidaya.
“Tempat ini sangat berbahaya, bukan?”
“Tenang ... aku udah cukup kuat, kok.”
Dia menjawabku sembari menyeringai percaya diri.
Ini benar-benar pertama kalinya aku pergi ke atas Negara Adidaya—Field Dungeon, di mana hamparan hutan mati terpampang di hadapanku. Namun jauh dari hutan tersebut, gunung-gunung hijau dengan berbagai ukuran berderet sejauh pandanganku.
Aku dan Angelica memasuki hutan.
Gate Besar serta ukuran gerbang dimensi lainnya pun tiba-tiba bermunculan serentak. Dan berbagai jenis monster langsung keluar dari sana.
“Ayo, Pope! Pancing mereka!”
Berbeda dengan Gate Dungeon dan Mini Dungeon, yangmana setelah monster mati, gate akan menghilang dan kami tinggal keluar dari sana. Namun di sini, setelah monster serta gate menghilang, akan langsung bermunculan gate lain lagi tanpa henti.
Ini cukup sulit, tetapi kami berdua pada akhirnya bisa mengikuti pola hilang-munculnya sebuah gate.
“Kalo kamu udah cape, bilang, oke?”
“Ya.”
Kami berdua terus melakukan grinding monster di tempat yang sama, seharian.
“Ah ... ini melelahkan! Ternyata lebih sulit dari yang aku kira,” gerutu Angelica, saat kami telah berada di tengah hutan. “Ayo mundur, Pope!”
Aku—kami berdua lebih tepatnya—tidak sengaja melihat sosok pria paruh baya berambut hitam keriting, yang sedang bertarung bersama rekannya serta beberapa Anak Diberkati Tuhan.
“Ada party?” gumam Angelica.
Ya. Sosok tersebut ialah ayahku. Dia beserta beberapa pria paruh baya lainnya sedang menahan monster orc setinggi dua meter.
“Ini bahaya!” bisik Angelica padaku.
Angelica menarikku, bersembunyi ke semak-semak. Aku tidak mengerti mengapa kami harus bersembunyi, tetapi aku tetap mengikutinya.
“Pope .. kamu kenal salah satu dari mereka?”
“Ya. Pria yang rambutnya keriting hitam itu ayahku.”
Angelica menyidik seseorang yang kudeskripsikan.
“Ah!? Yang itu?” bisiknya, menunjuk tepat ke sosok ayahku, “Tunggu—selama ini dia jadi umpan daging?!? Pantes aja kamu selalu minta Syringe ...”
“Ya,” jawabku, datar, “Mungkin.”
Aku menjawabnya dengan santai seperti itu kendati aku memang tidak terlalu mengerti apa yang dia maksud: ‘umpan daging’.
“Cih,” decak kesal seorang Anak Diberkati Tuhan mengenakan zirah hitam bercorak merah darah, “Para NPC ini semakin lemah aja ... lah? Dia kayaknya mau mati tuh."
“Biarkan saja,” dengus Anak Diberkati Tuhan lainnya, “Ayo cepat bunuh orc ini! Kita gak punya waktu lagi.”
Aku mulai sedikit paham apa yang Angelica maksud: ‘umpan daging’.
“Mereka dari Konglomerat Wun,” ungkap Angelica, mengerutkan keningnya. “Maaf, Pope, aku kayaknya nggak biasa nolong ayah kamu.”
Aku tidak mengerti mengapa dia meminta maaf padaku, karena sedari awal melihat ayahku, aku memang tidak merasakan apa-apa. Tetapi sekarang, aku mengerti mengapa ayahku selalu terluka.
Angelica tiba-tiba membelalak seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan, saat dia melihat ayahku terkena serangan monster; sekaligus terkena serangan Anak Diberkati Tuhan di belakangnya.
“Menghindar, bodoh!”
“Cih ... Dia terluka.”
“Tinggalin aja NPC itu, kita nggak punya waktu lagi.”
Ya. Mereka pergi memasuki hutan terdalam begitu saja, meninggalkan ayahku, satu-satunya orang yang terluka parah.
“Aku nggak cukup kuat,” ujar Angelica, mengepalkan tangannya, "Maafin aku, Pope—tapi ayo cepet bantu ayah kamu!”
Ya. Aku tidak mengerti mengapa Angelica meminta maaf padaku lagi. Pun aku tidak tahu harus menjawab apa.
Kami berdua pulang ke rumah, membawa ayahku yang terluka parah. Aku menggendongnya sepanjang perjalanan menuju ke Gubuk Kecil-ku.
Ya. Dan, kami berdua sampai di rumahku tepat pada saat kakekku baru saja tiba.
Memang bukan hal yang aneh, pandangan mata kakekku akan sangat berbeda saat melihat Angelica. Aku tidak tahu mengapa namun pandangannya terasa lebih dingin dan menusuk setiap kali menatapnya.
“Ya, Pope ... A-aku mau nyerahin item dulu,” pamit Angelica, mengalihkan pandangannya dari kakekku. “Nih, untuk ayah kamu! Aku pulang dulu, ya, Pope.”
Dia pergi setelah meletakan beberapa Syringe.1 ke kantong hitam di pinggangku.
“Jadi, Pope,” ujar kakek, menatapku dingin dan kosong seperti biasa, “Pada akhirnya kamu tetap ingin menjadi umpan daging seperti ayahmu, ya?”***