RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [3] – [69] Ingatan Terakhir Bersamanya



Aku—kami bertiga tepatnya. Mo, Ro dan aku. Jelas tidak mengerti dengan apa yang dia katakan, tentang:


Selingkuh?


Apa itu?


Kenapa Angelica pergi begitu saja?


Dan dia tidak menjelaskan terlebih dulu apa itu selingkuh ke kami?


Ya. Namun, terlepas dari kami tidak mengerti apa arti dari kata tersebut, aku masih ingat dan tak akan pernah menyangka jika dia benar-benar tidak akan pernah kembali lagi ke kami bertiga setelah kepergiannya kali ini.


Aku pasti akan menahan kepergiannya dengan cara apa saja.


Ya. Jikalau ini bukan hanya sebuah memori acak masa dewasaku. My Adulthood Memories.


Senja, beberapa hari setelah kepergiannya, Ladang.0, Village.0, Negara Adidaya [3].


Aku, Mo dan Ro bertemu kembali seperti biasa di sini. Pun kami bertiga seperti biasa, menatap kakek kami yang sedang riang gembira, mencangkul tanah gersang di tengah-tengah ladang, tak jauh dari posisi kami berdiri.


“Hei, Pope,” panggil pria berambut hitam sebahu di sampingku. “Bagaimana kalau ...,”


Ya. Aku mulai ingat apa yang ingin diutarakan anak pribumi di sampingku ini. Dia jelas mengusulkan untuk kami bertiga meng-grinding—bahkan tanpa adanya Angelica.


“..., bagaimana kalau kita grinding monster lagi?” ajaknya, menengokkan kepalanya padaku.


Pria jangkung di sampingnya pun menatapku; Mereka berdua menatapku dengan tatapan kosong nan dingin seperti biasanya.


Ya. Aku benar, kan?


Namun, aku melihat jelas ada sedikit perubahan yang aneh pada raut wajah mereka berdua—yang biasanya tetap dingin dan kosong.


Ya. Di sini. Bukan hanya aku yang kecanduan; Kami bertiga sakau dan kecanduan Golden Candy—serta juga kami jelas kecanduan Syringe jenis kekuatan.


Penggilingan Monster. Grinding.


Ya. Kami bertiga berencana untuk meng-grinding tanpa bantuan Anak Diberkati Tuhan mana pun—tanpa bantuan Angelica.


Awalnya memang sangat sulit. Butuh berbulan-bulan untuk kami bertiga bisa mengalahkan satu monster kecil layaknya goblin.


Dengan memutar otak kami bertiga, pada akhirnya kami bisa mengalahkan satu-dua monster lalu berlari ke Titik Teleportasi seraya membawa satu item drop. Yang mana item tersebut hanya bisa di-loot oleh si Mo.


Pria berkacamata kotak itu pada akhirnya memang bisa mengambil item kelas atas, walaupun hanya satu item saja yang bisa dia bawa.


Rotasi Mini Dungeon


Ia merupakan Strategi Grinding Monster dengan cara mengalahkan satu-dua monster kecil dari Kelompok Monster di bawah Class C, dengan kami selalu rotasi keluar-masuk Mini bahkan Gate Dungeon, setelah mengalahkan satu atau dua monster kecil.


Aku, Mo dan Ro yang menemukan strategi tersebut, karena sekarang ini kami bertiga memang merasa sangat butuh “makan”.


Kami bertiga mengumpulkan item-item dan peralatan kelas atas selama beberapa hari, lalu kemudian—setelah kami merasa cukup—kami akan langsung menjualnya ke toko Anak Diberkati Tuhan.


““Ya.””


Mo dan Ro yang menggumam seperti itu sembari mendongakkan kepala setelah menyuntikkan Syringe.1 ke bahu mereka masing-masing.


“Inilah hidup ...”


“Apa stok peralatan dan item sudah cukup untuk kita jual lagi?”


Aku yang bertanya seperti itu, mengabaikan raut wajah bahagia dan tenang kedua Pribumi Daratan Surga di hadapanku ini.


Ternyata butuh satu minggu penuh untuk kami bertiga—dengan cara rotasi seraya keluar-masuk Dimensi Dungeon setelah menjatuhkan satu monster—dapat mengumpulkan item dan peralatan yang cukup untuk ditukar dengan Syringe.0 maupun Syringe.1.


“Ya. Tadi kami berdua telah mengecek item dan peralatan di tempat biasa kita sembunyikan—dan ia semua—masih belum cukup untuk ditukar dengan Jarum Suntik apa pun.”


“Jadi kita mulai rotasi lagi?”


Aku juga yang bertanya seperti itu. Namun, mereka berdua serempak menggeleng.


“Bagaimana kalau kita istirahat dulu? Mana-ku sepertinya butuh recovery yang cukup lama,” ungkap Mo, kembali menggelengkan kepalanya, lalu kemudian menatapku, “Aku bukan Anak Diberkati Tuhan layaknya Angelica, ingat?”


Kami berdua. Aku dan Ro. Mengangguk paham.


Selama melakukan rotasi tersebut, kami bertiga memang tidak mendapatkan exp. atau naik level, tetapi kegiatan ini pada akhirnya memang bisa memenuhi hasrat kami akan sebuah “makanan”.


Aku tahu kata kegiatan “makan” dan kata “makanan” itu sendiri dari dua orang di sampingku ini.


Kedua pria bermata hitam mati dengan ekspresi wajahnya dingin nan datar layaknya NPC. Pribumi. Pada umumnya itu entah dari mana mengetahui kata-kata tersebut.


Dan juga pria berkacamata dan memiliki rambut panjang sebahu berdiri tepat di sampingku ini. Mo. Merupakan NPC yang berpotensi menjadi seorang Magician—layaknya Angelica. Sedangkan pria di sampingnya itu. Ro. Merupakan seorang pria jangkung yang memiliki rambut cepak, serta setelah diberi busur dan tempat anak panah—oleh Angelica—dia jadi selalu membawanya setiap waktu.


Pun menurut Angelica, pria jangkung itu memang memiliki potensi menjadi Archer.


Siang hari, setelah memperhatikan kakek kami di Ladang.0, kami bertiga pergi mencari Gate Mini Dungeon.


Melihat tidak adanya Anak Diberkati Tuhan di sekitar salah satu gerbang Mini Dungeon, kami bertiga langsung berlari memasukinya.


Aku—kami bertiga tepatnya—tahu jikalau mereka memang sedang sibuk bertikai satu sama lain, untuk mempertahankan sumber daya yang lebih besar, seperti Gate Dungeon, Field Dungeon ataupun Wilayah World Bos di setiap perbatasan antar Negara Adidaya.


Kerusakan. Damage. Terbesar yang bisa kami bertiga berikan pada saat ini—tanpa adanya Angelica atau Anak Diberkati Tuhan mana pun—entah mengapa, ia malah si Mo.


Harusnya pria berkacamata kotak itu hanya menembakkan sihir energi dasar hitam, yang hanya melemahkan satu monster target kami. Namun, entah bagaimana, dia tiba-tiba bisa mengeluarkan Energi Hitam Padat, yang jika dia lemparkan ke Monster Kelas Rendah layaknya slime, ia akan langsung meledakkannya.


Tetapi sayangnya, pada saat ini kami tidak menargetkan para slime, karena drop item yang mereka jatuhkan hanya bisa ditukar dengan Nut.0 dan juga beberapa bahan Energi Mentah sekelas dengan kacang-kacang tersebut. Yang mana, aku, Mo dan Ro jelas tahu kalau kami memang tak biasa memakan Energi – Energi Mentah itu.


“Nggak, lha! Nggak mungkin pribumi kayak mereka bisa nyelesain Mini Dungeon ... Tuh liat? Warna gate-nya aja masih hitam, berarti masih belum di-clear, kan?”


Bukan kami bertiga yang berbisik seperti itu, melainkan dua orang player. Anak Diberkati Tuhan Pemula. Yang baru saja tiba di hadapan Gerbang Dimensi Mini Dungeon—yang baru saja kami masuki.


“Iya, Jo .. Siti bener ... mereka bertiga palingan cuma liat-liat dungoen—lalu langsung kabur keluar gitu aja.”


“Mungkin kamu bener .. tapi kalian gak tau kalau mereka itu bekas umpan daging Angelica Tang No!”


“Magician Tier Dua berbakat itu?! Berarti mereka bertiga ini bener-bener NPC berpotensi!” timpal salah satu gadis manis, yang rambut silver-nya diikat ke belakang, “Aku denger dia lagi nyoba ujian kenaikan tiernya—jadi ayo kita cepet rekrut mereka!”


Mereka menghampiri kami, yang mana kami bertiga, pada waktu senja ini, memang akan bersiap untuk bergegas kembali ke Ladang.0.


“Hey,” panggil Anak Diberkati Tuhan yang dipanggil Jo oleh salah satu gadis manis itu, “Apa kalian mau jadi Umpan Daging kami?”


Aku pernah melihat Archer Pria dipanggil Jo ini. Kami bertiga—tepatnya—hanya aku yang pernah melihat dia. Dan juga aku jelas tahu dia serta party kecil pemula-nya itu berasal dari Keluarga Kecil Konglomerat Wun.


“Maaf, tuan dan nyonya sekalian,” tolakku, hanya melirik party kecil tersebut, tanpa menghentikan langkah kakiku, “Kami harus segera kembali pulang.”


Kami—aku tepatnya—menolak ajakkan party kecil Konglomerat Wun untuk jadi Umpan Daging mereka dan berjalan tergesa-gesa kembali pulang begitu saja.


Party kecil baru itu menatap kami bertiga dengan ekspresi terkejut, dan ternganga-nganga; Entah mengapa pada saat ini mereka tidak menghentikan kami bertiga, dan hanya berdiri terpaku di tempat.


Ya. Mungkin selingkuh itu, artinya aku, Mo dan Ro tak boleh mengikuti atau bergabung dengan party lain? Dan tetap menunggu sampai Angelica berhasil menerobos ambang batas Tier.2-nya?


Aku pada saat ini mengartikan kata selingkuh tersebut seperti itu—yang mungkin memang salah.


Ya. Sebab kesalahanku itulah, aku ingat, di sini dan pada saat ini, kami bertiga terlalu bodoh dan secara tidak sadar malah menentang ajakkan mereka dengan sikap yang sangat salah.***