RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [3] – [55] Insiden Terbesar I (3/3)



“... Tapi dia malah benar-benar telah menjual ibuku ke Rumah Bordil itu?” kataku.


Namun. Ya. Pada saat ini aku berkata seperti itu bukan ke ayahku.


Aku sedang duduk di samping wanita cantik berambut dan mata emas. Angelica. Di salah satu bangku hitam panjang sekitar area Taman Kumuh.


Keesokan harinya. Ya. Seperti biasa. Di tempat dan waktu yang sama.


Setelah kejadian melawan Party PK, dan Anak Diberkati Tuhan Assassin itu. Sol. Pada akhirnya dia memang telah menyelamatkan aku dan Angelica.


Di Taman Kumuh. Village.0. Tempat dan waktu yang sama setiap hari kami berdua bertemu ini. Aku menceritakan segala hal yang telah aku alami hari kemarin padanya.


Di mana kemarin aku memang seperti biasa ke Ladang.0 menemui kakek, namun, ayahku datang ingin menjemputnya juga. Mungkin. Karena aku terlambat?


Namun pada akhirnya aku ditegur ayahku, yangmana tentu, aku sama sekali tak menghiraukannya.


Ya. Aku tidak akan pernah lagi berbicara dengan ayahku setelah mengetahui kalau ibuku dijual olehnya.


Ke. Rumah. Bordil.


Ya. Aku juga tidak tahu mengapa diriku jadi seperti ini?


“Sebab itu, mungkin, bahkan jika dia hanya menegurku,” ungkapku pada Angelica, “aku pasti selalu merasa ingin mengabaikannya saja.”


Pun entah mengapa, aku jadi lebih sering menceritakan masalah-masalahku ke Angelica pada saat masa-masa dewasa kami ini.


Padahal dia hanya bisa berujar padaku untuk tetap tenang, sabar, dan berkata kalau semuanya akan baik-baik saja seraya sedikit menyemangatiku dengan ekspresi dan gestur cerianya.


Ya. Mungkin melihatnya ceria seperti ini memang sangat membantuku? Mungkin? Aku tidak tahu.


Seperti biasa. Esok harinya. Aku dan dia pasti bertemu kembali di tempat yang sama.


Ya. Pada memori singkat nan tak beraturan ini, aku akan selalu merasakan sedikit ketenangan setiap kali berada di samping Angelica, memang, jika melihat senyum cantik dan menawannya itu, akan selalu membuat seolah semua masalahku akan berakhir baik-baik saja.


Namun tiba-tiba, entah mengapa, aku bisa penasaran kenapa Angelica masih mau bertemu dengan NPC lemah sepertiku?


Ya. Dan aku malah bertanya padanya tentang itu.


“Ng ...? Kenapa aku masih mau main sama kamu?”


Angelica tiba-tiba mendekatkan tubuhnya kepadaku; dan seperti biasa aku pasti sedikit mundur—sedikit menjauh darinya.


“Ya. Kenapa kamu tidak ber-party dengan Assassin bernama: Sol .. saja? Dia sangat kuat, kan.”


“Tentu.” Angelica mencondongkan tubuhnya; mendekatkan wajahnya tepat ke hadapan wajahku. “Tidak! Untuk. Saat. Ini. Aku ... Pengennya sama kamu aja! Hehehe ....”


Aku memundurkan kepalaku sedikit ke belakang—sedikit menjauh dari seringai menawannya.


“Tapi aku lemah dan aku pikir, Angelica, kamu—“


“Ah!? Akan lebih baik kalo kamu tetep kecil kayak dulu, sih, jadinya aku bisa—hehehe ....”


Ya. Ekspresinya saat terkekeh seperti itu pasti akan selalu membuatku merasakan rasa takut. Aneh. Namun jelas berbeda dengan Rasa Takut Sebenarnya yang dipancarkan niat membunuh si Sol. Calon Assassin Heroes itu. Yangmana rasa takut yang kurasakan ini lebih terasa manis; namun juga memang terasa terlalu manis. Hingga. Ia pun akan jadi agak terasa membuat lambungmu seakan mau meledak.


Seperti itulah.


Aku menjadi pria dewasa, yang, berperawakan dan berpenampilan seperti ayahku.


Namun, ya, aku sudah tidak berbicara dengan ayahku lagi, huh, demikian pikirku.


Ya. Dan pada saat ini Angelica sudah berada di ranah Tier.3. Kendati sampai masa memori dewasa-ku ini pun, aku tidak terlalu paham apa itu Tier dan Level.


System Level Game? Aku berkedip padanya, yang sedari awal aku telah berhenti bercerita padanya, Angelica lanjut mengoceh tentang hal acak seperti biasa. “Sistim apa itu?”


Kami berdua baru saja sampai di depan Gate Dungeon di Wilayah Dalam Negara Adidaya [3]. Aku dan Angelica memang tidak berani lagi grinding monster maupun aliens di Field Dungeon untuk saat ini. Untuk sekarang, kami pada awalnya hanya berencana untuk berjalan-jalan mengelilingi Village.0 seperti biasa.


“Iya ... akan lebih baik juga, sih, kalo NPC. Pribumi. Kayak kamu ini bisa punya sistem level .. Kalo kamu punya sistem level, kita berdua bisa leveling bareng!! Juga nerobos ambang Tier bareng di Tower Energi itu! Hehehe.”


Angelica terkekeh, seperti sedang membayangkan hal yang sangat menyenangkan seraya menatap Tower Energi Metal Hitam yang menjadi pusat sekaligus titik tengah Negara Adidaya [3].


“Kamu, kan, jadi bisa jadi kuat cuma karena makan item buatan kami, Pope,” bisiknya, menghancurkan sebuah batu oranye ditangannya, mengaktifkan Gate Dungeon, “Tapi ... Dah, ah, ayo cepet masuk!”


Ya. Namun pada akhirnya, Angelica dan aku, untuk hari ini pun tetap meng-grinding monster.


Sebuah Gerbang Dimensi Hitam berbentuk oval setinggi manusia dewasa dan selebar kusen dua pintu, tiba-tiba terbentuk di hadapan kami berdua.


“Jangan terlalu berharap aja ... Kita juga nggak tahu gimana caranya keturunan Tuhan ke-11. Elf itu. Bisa jadi sangat kuat. Dia sangat misterius ... Tapi ... aku yakin masih banyak jalan untuk kamu bisa jadi tambah kuat, Pope, tenang aja!”


Kami berdua melangkah masuk, melewati Gerbang Dimensi Hitam.


“Dan—Ah!? Tapi aku dapat ide bagus!” seru Angelica, tiba-tiba, “Mungkin kalo aku lebih kuat, kita bisa nguak misteri gim ini dan jadiin kamu kayak satu-satunya NPC yang sekuat Elf—Anak ke-11 si Tuhan yang ngilang itu!”


Namun terlepas dari rencana Angelica tersebut, aku memang pernah mendengar jika Kelas NPC memang mempengaruhi cepatnya perkembangan kekuatan Pribumi Daratan Surga sepertiku. Apa ia yang disebut dengan: Sistem Level?


Mungkin jika aku menjadi NPC Kelas Atas, aku bisa memiliki ‘Sistem Level’? Bukan ide yang buruk, demikian pikirku.


Setelah kami berdua keluar dari Gate Dungeon, entah mengapa Angelica memasang ekspresi muram. Padahal kami berdua telah berhasil meng-grinding kelompok monster Class D dengan sangat mudah.


“Leveling di sini jadi semakin susah aja, ih,” gerutu Angelica, “Kita harus lawan monster atau bahkan aliens yang lebih kuat lagi, Pope, kayaknya, tapi ...”


Aku berkedip. “Tapi?”


“Kita berdua masih belum cukup kuat ...” desahnya, tanpa daya menurunkan bahunya dan tampak sedikit murung.


Aku entah mengapa pada saat ini rasanya sangat enggan melihat dia murung seperti itu.


“Gimana kalau kita cari anggota baru?”


“Tapi aku nggak mau kalo sama player lain lagi .. Kamu inget, kan, waktu itu ... bukan cuma sekali aja kita hampir—“


Tidak. Angelica. Aku. Tidak. Ingat.  


Ya. Bukannya aku sudah bilang? Kami berdua memang sudah tidak bisa lagi mempercayai para Anak Diberkati Tuhan lain, walaupun aku memang sama sekali tidak ingat mengapa.


Aku dan Angelica hanya bisa mempercayai satu sama lain.


Ya. Namun aku tidak bisa melakukan apa-apa di sini, pada saat ini—sebab—ini semua hanyalah sebuah memori singkat nan tak beraturan masa dewasaku.


Pun terlepas dari itu, pada saat ini, aku dan Angelica memang harus segera mencari anggota baru untuk party kecil kami, sebab kami berdua terlalu lemah untuk meng-grinding kelompok monster maupun aliens Enemy Class B; namun juga terlalu lama untuk Angelica leveling jika kami hanya meng-grinding kelompok monster Class D atau C.


“Ya! Tapi gimanapun juga kita berdua harus cepet-cepet jadi lebih kuat, Pope! Ayo kita kerja keras nyari NPC baru lain untuk jadi member baru party kita!”


Angelica mulai terlihat bersemangat kembali; Berseru dengan penuh semangat seraya memasang pose aneh meninju langit.


Namun, agak berbanding terbalik dengan seruannya itu. Sebab pencarian Anggota Party Baru kami berdua juga kurasa akan memang akan berlangsung cukup singkat?


Mungkin. Menurut. Aku ... Memang. Sangat. Singkat.


Karena memang sudah bisa ditebak, kan, siapa dua anggota party baru kami ini?


“’Harus cepat-cepat' .. menjadi lebih kuat, huh ...”


Aku menggumam seperti itu dalam perjalanan menuju Ladang.0.


“Aku juga harus segera bertambah kuat, ya, supaya—“


“Mole!” seorang Pribumi Daratan Surga Pria Lansia, berpenampilan seperti petani, berseru ke kakekku, “Sampai jumpa besok, oke?”


Dia berseru ke kakekku dengan penuh ekspresi dan semangat, seraya mengangkat cangkulnya tinggi-tinggi.


Lagi.


Ya. Untuk ke-dua lainnya Pria Lansia itu mengatakan hal yang sama; berada di posisi yang sama; dan berekspresi yang sama.


“Oke, Dro,” sahut kakekku, lagi-lagi sama dengan apa yang beliau lakukan kemarin, “Aku juga mau pulang dulu! Hahaha!”


Ya. Virus-IR yang menjangkit kakekku mulai dari sini akan semakin parah.


Dan pada waktu inilah Virus tersebut mulai merajalela di Daratan Surga. Yang merupakan Tragedi Terbesar setelah Tragedi Perang Besar antara Anak Diberkati Tuhan melawan Pribumi Daratan Surga.


Ya. Beliau melihat aku yang berjalan menghampirinya.


“Hahahaha! Kamu pulang juga—ahahaha,” sungguh aneh, melihat kakekku tertawa dan penuh ekspresi layaknya Angelica, “Kamu sehat, Jhone?”


Beliau. Ya. Bertanya seperti itu padaku karena tubuhku pada saat ini memang terluka dan kotor—tetapi—tentu namaku bukan: 'Jhone'.


Jujur. Meskipun ini hanya sebuah memori tak beraturan, namun ia merupakan nama yang sampai kapanpun tak mau aku dengar lagi.


Tetapi. Ya. Mulai dari sekarang sampai seterusnya, beliau akan memanggilku dengan nama seseorang yang paling kubenci.***