
Monster, Alien, dan Hantu sejenis arwah ataupun Implementer (IMP) di dalam Gate Dungeon sudah pernah kami berdua lawan.
Ya. Ada banyak macam Gate Dungeon yang sejauh ini aku tahu.
Gate Dungeon di luar Negara Adidaya, Village—Desa di mana aku tinggal ini terbagi menjadi tiga macam, meliputi: Gerbang Monster, Gerbang Alien, dan Gerbang Hantu.
Beberapa gate pun bisa ada di Wilayah Dalam Negara Adidaya. Namun memang lebih efisien grinding monster di Field Dungeon, sebab ia akan hancur sesaat setelah monster dikalahkan lalu kembali bermunculan. Mereka akan terbentuk kembali setiap monster dalam jumlah tertentu dikalahkan. Tetapi, ini terlalu berisiko untuk peng-grinding monster yang masih lemah.
“Pope,” seru Angelica, menghampiriku dengan ekspresi semangatnya, “Aku udah tau item yang aku cari—MX-Z021—dropnya di mana!”
Aku berkedip beberapa kali.
“Jadi?”
“Ayolah ... Semangat dikit, kek!! Aku dapet informasi ini susah banget loh, kamu tau ....”
“Kita akan menggunakan strategi biasa? Aku jadi ‘umpan daging’mu, maksudku.”
“Ayolah—urkh—maafin aku ... Maaf kalo aku dari awal nggak jelasin itu ....”
Aku tidak merasa tidak nyaman atau bagaimana—mengapa Anggelica tampak murung dan sedikit cemberut?
Aku memasang ekspresi biasa, menatapnya dengan tatapan seperti biasa, dan berbicara dengan nada yang datar serta dingin seperti biasanya.
Aku tidak tahu, tapi kenapa dia malah murung? Aku tidak mempermasalahkan itu sama sekali, sungguh, demikian pikirku.
“Uh,” desahnya, menyilangkan lengannya. “Maafin aku lah, Pope.”
“Apa yang harus kujawab—kulakukan saat ada orang yang," tanyaku, memalingkan muka, "mengatakan hal itu—minta maaf, maksudku?”
“Ihh ... Apa ...!?” pekiknya, membelalak, “Jadi aku harus mulai dari situ ...? Cih. Oke-oke. Apa boleh buat. Aku jelasin semuanya ....”
Dia mulai mengoceh dan ceria kembali.
“Jadi,” potongku, menghentikannya mengoceh sesuatu yang sama sekali tidak aku mengerti, “Apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Ke mana kita?”
“....” Dia terdiam, menatapku dengan tatapan aneh. “Ihh ... dari tadi kamu denger aku nggak, sih? Yang penting kamu udah ngerti sekarang tentang maaf-memaafkan, kan?”
Angelica menatapku dengan penuh harap.
“Kurang lebih.”
“Apa yang kurang lebih!? Cih. Ayo kita berangkat aja sekarang.”
“Ke mana kita?”
Angelica mengabaikanku, melihat panel biru yang keluar dari jam di tangannya.
“Urkh ... Item yang aku butuhkah ada di puncak gunung—juga lawan Roswell?!!”
“Roswell? Monster apa itu?”
“Entah? Ayo kita pergi ke puncak dan cari aja.”
Kami kembali lagi memasuki hutan di Field Dungeon.
Namun, sekarang kami berdua mengabaikan berbagai ukuran serta warna gate yang bermunculan, seraya terus mencoba menghindari monster-monster yang keluar darinya.
Di sini terlalu berbahaya, demikian pikirku.
Aku melindungi Angelica.
“Hati-hati,” ujarku, meregangkan kedua lenganku tepat di hadapannya, “Tadi hampir saja, huh.”
“O-oke,” katanya, yang entah mengapa dia malah menunduk, namun dia langsung sadar kembali. “Aku mau lenyapin monster di belakangmu itu dulu—awas, Pope!”
Angelica sama-sekali tidak waspada akan sekitarnya.
Aku menoleh ke belakang, melihat satu goblin biru yang terpental cukup jauh. Namun, goblin tersebut mulai bangkit dan menerjang kami kembali.
Dengan informasi yang telah Angelica dapatkan, kami menuju ke sebuah Gua. Namun ini bukan Gua yang terbentuk dari batu, melainkan Gua Metal kuat dengan ruas-ruas kecil layaknya sebuah retakan pada dindingnya yang berwarna biru terang. Ia seperti kotak metal futuristik yang menempel pada sebuah tebing bebatuan di puncak gunung.
Gua ini seperti sarang goblin di dalam Mini Dungeon, tapi terlihat lebih futuristik, huh, demikian pikirku, menengadah ke depan.
“Aku siap-siap dulu, Pope,” bisik Angelica di belakangku, “Kamu intai sekitar Gua itu dulu—kalo ada bahaya langsung kembali ke sini, oke?”
Mengangguk, aku langsung mengintai sekitar Gua Metal.
Pepohonan berbagai ukuran serta rerumputan terus menghambat pengintaianku. Aku memastikan tidak ada monster atau sarang monster lain di sekitar Gua Metal.
Menoleh ke balik bahuku, aku tiba-tiba melihat sinar putih-emas yang memancar terang dengan jalur silinder menembus angkasa.
Ya. Ia merupakan sihir yang sedang Angelica persiapkan.
Namun seraya dengan itu, aku pun mulai merasakan hawa kekosongan dari dalam Gua Metal.
Ya. Sosok yang keluar dari gua tersebut memang apa yang disebut: Roswell.
Seperti yang Angelica informasikan, ia memang berada di puncak gunung ini, demikian pikirku.
Roswell ini sejenis alien bertubuh hitam pekat dengan ruang di sekitarnya terpecah-pecah seperti televisi rusak.
Tak jauh di belakangku, Angelica berteriak, “Aku udah siap, Pope!” seraya berlari ke arahku.
Dengan itu aku mulai memancing Roswell di hadapanku ke samping—agar ia tidak mengunci targetnya ke Angelica.
Aku sekilas melihat tubuh Angelica diselimuti cahaya emas, serta sebuah cahaya padat berbentuk segitiga yang mencuat keluar di tengah punggungnya layaknya sebuah sirip hiu.
“Kenapa tubuhmu bercahaya seperti itu?”
“Ini Skill Berserk-ku!” ungkap Angelica, menjulurkan lengan kanannya ke depan, bersiap menyerang. “Ini cuma tahan 1 jam—dan cooldown-nya 3 hari .. Jadi setelah mengalahkannya, ayo langsung cari Roswell lain!!”
Angelica dengan sangat percaya diri langsung menyerang Roswell yang berada tepat di belakangku.
Ledakan sihir dari lengan Angelica melesat menuju ke arahnya. Tubuhku terlempar ke depan akibat gelombang ledakan. Namun setelah ia meledak tepat di belakangku, hawa kekosongan di area ledakan sihir masih jelas kurasakan.
“Ia masih hidup!?”
Kami—atau lebih tepatnya hanya Angelica yang terkejut.
Roswell di belakangku memanjangkan lengannya dan menebasku secara horizontal.
“Pope ...!!?”
Aku terkena serangan telak, dan langsung terpelanting jauh melewati Angelica, sampai menabrak pohon.
Sudah lama aku tidak terkena serangan telak seperti ini, demikian pikirku.
Aku langsung bangkit, dan memancing Roswell Alien lagi; Angelica menjauh, dan mempersiapkan serangan sihir berikutnya.
Serangan lengan elastis Roswell layaknya tentakel gurita, yang ia langsung mencambukku tanpa henti.
Aku seperti sedang dicambuk bertubi-tubi. Dan. Ya. Ini. Memang menyakitkan.
“Sialan!!” teriak Angelica, menyerangnya kembali, “Menjauh dari Pope ...!”
Namun pada akhirnya, aku hanya bisa meringkuk seraya melindungi kepalaku dengan kedua tanganku.
"Roswell ini punya satu juta hp ...!!!" papar Angelica. “Maafin aku, Pope! Aku pikir kita harus mundur—aku nggak tau kalo Roswell sekuat—“
“Jangan,” potongku, meliriknya di balik kedua celah lenganku, “Aku masih kuat di sini.”
“Tapi—“
Roswell geram dengan tembakkan sihir Angelica. Ia menghentikan serangannya padaku, dan menoleh ke arahnya. Ia akan menerjang ke arah Angelica, namun, aku langsung bangkit dan memancing perhatian Roswell kembali padaku.
"Tapi ia punya satu juta hp, Pope ...!!" papar Angelica, lagi, seraya mempersiapkan serangan berikutnya, “Satu. Juta ...!”
Sampai titik ini pun, aku benar-benar tidak mengerti mengapa dia selalu memaparkan informasi itu. Angelica selalu memaparkan sejumlah angka yang tidak kumengerti saat melakukan grinding pada monster-monster tertentu.
“Percaya saja padaku,” tegasku sambil terus menahan cambukkan Roswell. “Kita—“
Tubuhku tak sanggup menahan serangannya dan langsung terpental, menabrak pohon kembali. Namun kali ini, aku terbatuk dan memuntahkan seteguk darah.
“Pope ...!!” pekik Angelica, menyerang kembali dengan sihir emasnya.
Aku berkata seraya langsung bangkit kembali, "Aku tak apa. Terus saja serang."
Angelica terus menyerang Roswell, sambil tetap menjaga jarak darinya; Sedangkan aku hanya bisa menahan rasa sakit saat diserang alien tersebut, sekaligus tak lupa untuk terus memancingnya agar tidak menargetkan Angelica.
Aku terus dicambuk tanpa henti oleh alien yang kami hadapi. Dan. Ya. Yang bisa kulakukan hanyalah melindungi kepalaku. Seperti tidak ada yang bisa aku lakukan lagi pada saat grinding monster ini—atau lebih tepatnya ini-itu grinding alien?
Tetapi terlepas dari itu semua, aku masih ingat dengan sangat jelas, pada saat inilah aku bisa mulai belajar dasar dari pertarungan, yakni: Menghindar.***