
Para Anak Diberkati Tuhan yang terkerangkeng dalam kandang jeruji besi hitam berbentuk kotak di Tempat Pedagang Budak yang sedang kami kunjungi ini, memang sama-sama budak biasa layaknya para Pribumi Daratan Surga. Kaumku. Yang tampak lebih menyedihkan, terkurung, dan terkerangkeng di dalam jeruji besi juga—namun tentu mereka semua memang sama-sama sedang dijual.
Ya. Sebagai. Budak.
Namun berbanding terbalik dengan kaumku yang sudah terbilang lumrah menjadi dan dijual sebagai budak, para Anak Diberkati Tuhan yang menjadi budak memang biasanya disebabkan oleh kelalaian serta kesalahan mereka sendiri. Mereka pasti telah melalukan kesalahan atau kejahatan berat nan fatal, jadi mereka sampai-sampai bisa dihukum menjadi seorang budak oleh pemegang hegemoni wilayah setempat.
Ya. Itulah apa yang sejauh memori masa dewasaku ini ingat.
“Kayaknya budak-budak di sini terlalu lemah,” bisik Angelica padaku, mulai berkeliling seraya menyidik-nyidik beberapa Pribumi Daratan Surga. Kaumku. Yang berada di dalam kandang jeruji besi persegi. “Harga mereka juga terlalu mahal, ihh ... Kita nggak akan punya apa-apa lagi kalo beli salah satu dari mereka!”
Angelica kembali padaku setelah menyidik-nyidik para budak dalam deretan kotak kandang jeruji besi.
Tetapi, ya, ada yang sedikit aneh dan tak biasa. Dia hanya memperhatikan anak-anaknya saja. Entah itu Pribumi Daratan Surga atau Anak Diberkati Tuhan.
“Juga ... Aku baru nyadar kalo kita nggak punya dana yang cukup untuk rekrut bahkan NPC. Pribumi. Di Pedagang Budak ini, Pope,” ungkapnya, melihat jam quantum di pergelangan tangan kirinya. “Urkhh ....”
Aku berkedip padanya.
“Lalu kenapa kita ke sini?”
Aku melihat Pedagang Budak, tempat yang kami berdua datangi, sedang tertidur di bangku resepsionisnya. Kopi hitam yang sudah mendingin di atas mejanya itu sepertinya memang tidak berguna untuk menahan kantuknya.
“Kopi, huh,” gumamku, masih melihat Pedagang Budak tertidur, “Ia merupakan Energi Mentah yang 10 kali lebih mahal dari Nut Point Zero.”
Angelica pada akhirnya kembali padaku, menggelengkan kepala, lalu kemudian mendesah.
“Siapa tau aja ada anak yang lucu, hehehe,” harapnya, terkekeh menakutkan, “Kalo aja ada satu .. aku pasti akan beli—apa pun bayarannya pasti akan kubeli—sekalipun aku emang harus barter dengan item atau bahkan equipment legendaris-ku!”
Aku pikir itu ide yang buruk? Aku tanpa sadar membelalak, seraya melangkah mundur, ketakutan.
Namun pada akhirnya kami berdua tidak membeli siapa-siapa. Kami keluar Wilayah Pedagang Budak begitu saja.
Pada saat ini, setelah kami berdua meninggalkan tempat Pedagang Budak—awalnya aku tidak mengerti mengapa dia mengajakku ke toko perkakas—Angelica hanya membeli beberapa kuas juga sebuah plang kayu ukuran dua meter.
“Uh!? Kita nggak punya cukup koin bahkan untuk cuma share di forum keluarga-ku ... tapi kalo buka rekrutmen di forum global—urkh—kita juga sama sekali nggak punya E Point Koin untuk daftarnya ...” paparnya, berjongok dan mulai menggambar di plang kayu, “Kita bener-bener kekurangan koin emas, Pope! Jadi bantu aku, oke?”
Pada saat ini aku jelas sama sekali tidak mengerti apa yang dia paparkan itu; hanya menganggukkan kepalaku dan memperhatikannya terus menggambar menggunakan kuasnya.
“Selesai!” Angelica menunjukkan padaku plang rekrutmen yang dibuatnya sendiri. “Liat, nih! Bagus, kan?"
Kesampingkan gambarnya yang tak beraturan dan sama sekali tidak presisi. Ya. Aku cukup bisa membaca tulisannya—kendati ia memang terlihat seperti Gelombang Super Sonik yang biasa menghancurkan apa pun yang dilewatinya—tetapi aku pikir—tulisannya masih bisa dibaca orang.
“Aku kira plang rekrutmen buatanmu itu,” pujiku, namun dengan nada enggan nan lirih, “lumayan, Angelica.”
“Hehehe .. Siapa dulu: Aku!” katanya, menyeringai padaku, lalu menjepit plang kayu buatannya di ketiak, dan langsung berjalan pergi, “Ayo kita ke pusat plaza lagi!”
Masih di Wilayah Khusus Bagian Dalam Keluarga Konglomerat Soro Dojo, Pusat Plaza.
Namun. Hari. Telah berganti. Begitu. Saja.
Aku dan Angelica berusaha merekrut anggota party baru kami.
Tetapi. Ya. Memang bukan cuma kami berdua saja yang sedang merekrut anggota/member party, beberapa dari Player serta NPC di plaza yang tidak melakukan perdagangan pun sedang melakukan hal yang sama dengan kami.
Aku tahu ada beberapa yang buat maupun gabung sebuah party untuk sekali meng-grinding dan leveling, namun ada juga yang mencari anggota party baru untuk menjadi anggota tetap dalam party seperti aku dan Angelica.
Kebanyakan dari Anak Diberkati Tuhan maupun Pribumi Daratan Surga yang mencari party sekali jalan pasti hanya akan berteriak-teriak di tengah plaza. Teriakkan mereka semua menjadi riuh dan bergabung menjadi satu dengan teriakkan para pedagang item dan equipment setempat.
Sedangkan. Ya. Para pencari anggota baru tetap, seperti aku dan Angelica pasti memasang plang kayu, besi, kain baliho, atau bahkan puluhan papan plang hologram.
Aku dan Angelica pun memulai open rekrutment anggota baru untuk party kecil kami.
Namun tertulis lumayan jelas di papan plang rekrutmen kami berdua, kalau party kecil kami hanya akan membayar dengan Syringe serta beberapa Stone. Dengan. Tak lupa. Ditambah sebuah gambar tak beraturan dengan warna cat hijau serta abu-abu tergambar jelas di papan plang tersebut layaknya seekor aliens anomali.
Ya. Di sini memang hanya ada NPC Kelas Menengah serta di atasnya saja—kecuali aku. Umpan Daging Angelica. Yang mana aku memang bisa dibilang hanya seorang budak miliknya.
Ya. Juga para budak Anak Diberkati Tuhan dan Pribumi Daratan Surga yang selalu mereka bawa dan pamerkan.
Kami—lebih tepatnya hanya Angelica—yang sudah beberapa kali ditolak oleh anak-anak kecil yang coba dia rekrut.
Aku dan Angelica pada akhirnya sampai pindah-pindah lapak ke kota dan desa, tetapi masih dalam Wilayah Khusus Soro Dojo.
Namun, ya, pada akhirnya sama saja. Mengapa rasanya kami hanya melakukan hal yang sama?
Dan kenapa juga kita malah rekrut anak-anak? Aku bertanya-tanya, melihat ekspresi Angelica yang lebih menakutkan dari biasanya. “Angelica ... seharusnya kita tidak—“
“Tunggu dulu, Pope!” sanggah Angelica, terlihat mulai frustrasi, “Beri aku kesempatan beberapa kali lagi!”
Ya. Pada akhirnya Angelica tetap tidak bisa menahan ekspresi pada wajahnya, dan selalu ditolak oleh anak-anak yang ingin dia rekrut.
Aku hanya melihatnya dari jauh, sambil memegang plang kayu rekrutmen yang dia buat.
Ya. Aku jelas memperhatikan Angelica, yang mana dia benar-benar mengabaikan Anak Diberkati Tuhan maupun Pribumi Daratan Surga yang terlihat kuat.
Sungguh ... kenapa juga kita malah rekrut anak-anak kecil? Aku bertanya-bertanya, melihat ekspresi Angelica yang lebih menakutkan dari biasanya saat mencoba merekrut penyihir kecil berambut kuning kucir kuda mengenakan pakaian penyihir serba putih. Aku kira dia hanya bercanda saat di tempat Pedang Budak kemarin—
“Heh ... Anak Diberkati Tuhan Wanita sama umpan dagingnya itu bodoh banget.”
“Ya. Mana ada orang yang mau gabung party aneh seperti mereka.”
“Dah, dah, dah .. kita gak punya waktu ngurusin kebodohan party lain, ayo kita grinding! Aku bayar kalian. NPC. Bukan untuk mencibir mereka.”
Angelica dan aku dicibir oleh beberapa NPC Kelas Atas, namun Player. Anak Diberkati Tuhan Pria. Pemimpin Party mereka, hanya menoleh sambil melirik tajam ke arahku sejenak setelah mengingatkan anggota party-nya seperti itu.
Pada saat ini aku tanpa sadar mengerutkan kening, menajamkan tatapanku ke mereka yang mencibir Angelica.
“Ya ... Aku kira ini akan gampang, Pope,” desahnya, kembali ke hadapanku, dan melihat plang rekrutmen yang dibuatnya, “Ternyata nggak semudah itu, ya ....”
Dia kembali kepadaku sambil menurunkan bahunya, tampak kecewa dan murung.
Pada akhirnya kami berdua kembali ke Village.0, Taman Kumuh, Negara Adidaya [3].
Dan. Ya. Entah mengapa melihatnya murung serta kecewa oleh hal-hal yang tidak jelas, aku malah menceritakan sesuatu tentang ayahku lagi.
Entah mengapa aku malah menceritakan ini lagi?
Dan. Ya. Mungkin dikarenakan ada sebuah perasaan asing yang memang sangat sulit dihilangkan. Jujur. Ia terasa menyesakkan dan sangat mengganggu selama ini. Sebab itulah aku bertanya ke Angelica.
Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan saat mendengar ceritaku, namun aku entah bagaimana bisa sedikit merasakan rasa rindu dan melankolis aneh pada saat menatap kedua mata sayunya.
Yang mana sorot kedua mata emasnya semakin memudar seraya ceritaku berakhir.
Ya. Aku masih ingat dengan sangat jelas pada saat ini dia berkata, “Wajar aja, sih, kalo kamu ngerasa benci banget padanya—kalo aku juga gak akan pernah maapin papa kalo sampe ngejual mama kayak gitu ..." sambil menunduk, menatap kedua kakinya sendiri yang dia mainkan.
Jadi ia namanya benci, ya? Aku menatapnya, tanpa berkedip. “Tapi, Angelica, aku pikir perasaan ini—“
Ya. Dia tiba-tiba menengokkan kepalanya padaku, menatapku dengan kedua mata emasnya yang tiba-tiba berbinar terang. Ekspresi pada wajah cantik nan menawannya seolah dia baru saja mendapatkan sebuah ide cemerlang.
“Hei, sepertinya mereka sekarang udah lumayan kuat, kan?” sanggahnya, mulai mendekatkan wajahnya tepat ke hadapan wajahku, “Bukannya dulu kamu selalu sama mereka, Pope?!”
Hidung kami hampir bersentuhan; Aku entah mengapa tiba-tiba mengerti apa yang dia maksud.
“Mereka?” Aku berkedip padanya. “Maksudmu ..."
Dia sedang menanyakan anak-anak kecil NPC yang dulu pernah bersamaku menjual Nut.0.
Apa Angelica masih ingat mereka? Dua anak kecil Pribumi Daratan Surga. NPC. Kaum NP layaknya diriku. Yang selama ini aku abaikan seperti aku mengabaikan ayahku dari aku kecil sampai pada memori singkat masa dewasaku ini.***