RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [2] – [49] Janji《2/2》



Aku bertemu kembali dengan Angelica. Namun sekarang, aku lihat dia tampak lebih murung dari biasanya?


Ya. Apa ini saatnya aku harus memberinya Syringe.K2 lagi?


Aku pikir hal yang sama tak akan bekerja untuk yang ke-2 kalinya?


Ya. Lebih baik aku dengarkan dulu apa yang membuat Anak Diberkati Tuhan Wanita di hadapanku pada saat ini lebih murung dari biasanya.


“Pope ....”


Ya. Setelah mendengar ceritanya, aku pikir ini masalah yang cukup serius.


Angelica diberitahu oleh salah satu Anak Diberkati Tuhan Wanita lain. Harem. Si Anak Emas yang sangat disukainya, kalau mereka tidak bisa World Out dari Dunia Dimensi-ku ini. Game World Guild. Yang disebut juga Daratan Surga oleh mereka.


Aku terlahir dan hidup di sebuah Dimensi Gim, huh ....


Kendati aku tidak terlalu mengerti apa itu gim, tetapi aku sangat penasaran tempat di mana Angelica tinggal dan dibesarkan.


Angelica sedang merakit sebuah portal dimensi, mencoba untuk World Out.


Ya: World Out.


Angelica telah menjelaskan istilah tersebut dari dulu. Ia berarti keluarnya para Anak Diberkati Tuhan. Player. Dari Dimensi Game yang mereka mainkan, dan mereka semua akan pulang ke dunia mereka sendiri, yang bernama: Dunia Nyata.


Namun mulai pada saat ini, alat untuk melintasi dua dimensi tersebut sudah tak bisa lagi diaktifkan.


“Tuh, kan, bener nggak bisa ... urkh!”


Mungkin inilah alasannya mengapa aku beberapa waktu ini melihat Anak Diberkati Tuhan semakin banyak.


Aku bertanya kepada Angelica, “.... Apa kamu tahu kenapa?”


“Huh? Banyak player yang World In? Ya, kalau gitu, sih, berarti Mamat bener ... para player emang bisa masuk gim ini tapi nggak bisa keluar lagi,” jawabnya, menautkan alis.


Jujur. Awalnya. Anak Diberkati Tuhan Wanita di hadapanku ini sudah seperti kakak perempuanku sendiri. Namun entah mengapa, dia akan terlihat sangat cantik dan anggun mulai dari sekarang.


“Aku pasti kangen papa sama mama-ku ....”


Aku mendengar Angelica menggumam seperti itu, sembari memasang ekspresi sedih dan lebih murung dari biasanya.


“Mama?”


“Uh? Maksudku: Ibu aku.”


“Apa—siapa itu ‘ibu’?”


Ya. Jika aku melihat dari nada dan kalimat yang dia katakan, Angelica mengutarakan seseorang yang sangat penting baginya.


“Ng? Oh, iya, ya. Aku udah liat ayah kamu—tapi ibu kamu selalu di dalem rumah, kah?”


Ya. Sampai pada saat ini aku bahkan tidak tahu apa/siapa itu ‘ibu’.


“Aku ....”


Pulang ke Gubuk Kecil-ku, aku ingat dengan sangat jelas, entah mengapa aku menanyakan hal ini.


“Ayah ....”


“Apa, Pope?”


Ayahku memasang ekspresi dingin nan datar seperti biasa.


“Apa kamu tahu di mana ibu—maksudku—ibu aku?”


Ayahku jelas pulang dengan terluka kembali. Tubuhnya akan terluka lebih parah dan semakin parah nantinya. Namun sekarang, aku tahu mengapa dia bisa terluka seperti itu.


“Kamu ingin bertemu ibumu?” tanyanya kembali padaku.


Aku menjawab, sambil mengalihkan pandanganku darinya, “Ya. Aku cuma ingin ....”


“Ikuti aku,” ajak Ayahku, berbalik pergi tanpa menoleh padaku.


Ayahku menunjukkan jalan ke tempat di mana apa/siapa yang disebut ibu-ku berada.


Kami berdua melewati gang-gang sempit, memasuki wilayah desa terkumuh, dan pada akhirnya kami berdua sampai di perbatasan desa dengan hutan rimbun Wilayah Dalam Negara Adidaya.


Ya. Aku ingat dengan jelas, Angelica pernah menjelaskan kalau ini disebut: Distrik Lokalisasi.


“Aku menjualnya ke tempat yang dibuat para Anggota Korporat Anak Diberkati Tuhan itu, untuk slot menjadi umpan daging,” ungkap Ayahku, masih dengan ekspresi dingin nan datar seperti biasa pada wajah tegasnya.


Ya. Tanpa menjelaskan apapun lagi, dia berbalik pergi—pulang kembali ke Gubuk Kecil kami.


Aku mulai bisa mengingatnya, kalau ibuku memang telah lama dijual oleh ayah ke sebuah tempat.


“Tapi ... tempat apa?”


Entah mengapa pada saat ini aku malah berjalan ke tempat yang ayahku tunjukkan.


Di dalam sana ada ibuku? Aku hanya ingin melihatnya sebentar, demikian pikirku.


Aku berjalan menyusuri jalan setapak, dengan bola-bola lampu taman di kedua sisiku. Entah mengapa cahaya kuning remang-remang yang terpancar dari lampu tersebut membuat jantungku berdebar.


Aku sedikit ingat, Angelica pernah bilang kalau daerah ini memang bukan tempat yang baik, pikirku, mengepalkan kedua tanganku, terus melangkah. “Apa maksud ayahku menjual ibu ke tempat seperti ini?”


Lampu-lampu kecil yang memancarkan cahaya merah muda tiba-tiba terlihat jelas olehku. Ia menempel di setiap dinding dan sisi bangunan. Entah mengapa semakin mendekati tempat yang ayahku tunjukkan, jantungku semakin berdebar.


Poster-poster bergambar wanita kaum aku sendiri. Pribumi Daratan Surga. Bertubuh dan berpose menakjubkan tertempel di dinding bangunan berstruktur kayu namun cukup mewah di hadapanku.


Dan juga terpampang plang besar berwarna merah muda di tengah bangunan tersebut, yang tertulis jelas di bawah neon merah muda berbentuk tubuh wanita menakjubkan:


Rumah Bordil


Siapapun yang sudah mengenal apa yang disebut dengan. Perasaan. Pasti akan sangat tertarik untuk masuk ke dalam sana.


Namun berbeda dengan perasaan yang aku rasakan saat ini. Sebab mulai pada saat ini, entah mengapa, perasaan yang aneh lain muncul. Perasaan yang hanya tertuju kepada ayahku. Mungkin hanya aku di masa depan, yang akan tahu, mengerti dan paham dengan jelas kalau perasaan ini disebut:


Kebencian


“Hei, Nak ...”


Seorang Anak Diberkati Tuhan Pria bertubuh kekar di samping pintu kayu Rumah Bordil, berkata seperti itu padaku.


“Kamu gak bisa masuk ke sini,” tukasnya dengan acuh, melambaikan tangan seolah sedang membersihkan debu, "Hus! Pergi sana!”


“Tuan,” balasku, memelas padanya, “Aku cuma mau—“


Dia berjalan ke hadapanku.


“Pergi ...” usir pria kekar di hadapanku, menendangku dengan tendangan depan.


Aku terlempar cukup jauh.


“... Atau aku gak akan bersikap baik padamu, Nak,” tegasnya.


Aku sama sekali tak bisa menghindarinya? Aku terkejut, tetapi masih bisa bangkit kembali. “Tapi aku hanya ingin bertemu—“


“Hohoho ~” pria kekar itu terkekeh, lalu menyeringai tajam seraya menatapku dengan sangat dingin dan terasa sangat menusuk, "Anak ini ngeyel, ternyata. Sini. Aku akan beri kamu sedikit pelajaran.”


Ya. Aku kira pada saat ini aku sudah mulai menguasai dasar dari pertarungan. Yakni. Menghindar. Namun ternyata, aku masih jauh dari menguasai itu.


“Hei, menjauh dari Pope!!”


Ya. Suara renyah seorang wanita yang sangat tidak asing lagi bagiku, entah bagaimana bisa masuk ke dalam telingaku.


“Kamu nggak apa-apa, Pope?!” Ya. Angelica entah bagaimana bisa datang dan menyelamatkanku. “Apa kamu terluka ...?”


Perasaan baru nan aneh yang aku rasakan di pusat tubuhku tiba-tiba menghilang saat aku melihat punggung ramping nan indah Anak Diberkati Tuhan Wanita ini. Dia merentangkan tangannya—melindungiku.


“Jaga peliharaanmu itu, Nona! NPC Kelas Rendah seperti dia gak bisa masuk Distrik Lokalisasi ini begitu saja!”


“Kamu ...!! Oke. Kami akan pergi—ayo, Pope.”


Angelica menggeram—marah—namun sudah jelas dia tidak bisa melakukan apa-apa; Tetapi entah mengapa Anak Diberkati Tuhan Pria kekar itu pun berbalik pergi.


Apa sesama Anak Diberkati Tuhan dilarang untuk bertarung di wilayah kekuasaan mereka sendiri? Aku bertanya-tanya.


Ya. Namun apapun itu, pada saat ini, memang aku yang salah.


“Bukannya aku udah bilang untuk saat ini kita nggak boleh ke sini dulu—dulu banget aku, kan, udah ceritain hal-hal yang jangan dilakuin ...”


Ya. Aku menceritakan semua kejadian hari ini ke Anak Diberkati Tuhan Wanita di sampingku. Kami berdua duduk di kursi panjang Taman Kumuh seperti biasa.


“Ah,” desah Angelica, prihatin padaku, “Jadi gitu ...”


Namun, ini sudah malam hari.


“Maaf aku nggak bisa apa-apa,” ujarnya, mendesah lagi, “Aku masih dilarang masuk ke Distrik Lokalisasi mana pun, Pope.”


Aku hanya mengangguk karena aku memang tidak merasakan apa-apa lagi saat berada di dekatnya.


Ya. Tenang. Dan. Biasa.


“Tapi bagaimana kamu bisa ada di—“


“Aku juga dalam keadaan lemah karena udah mati—urkh ... kamu tau ....”


Ya. Dia memotong apa yang ingin aku tanyakan, dan mulai mengoceh serta bercerita hal-hal acak kembali.


Angelica tetap diabaikan oleh Anak Emas yang disukainya itu, sebab si beliau—Mamat—dia bilang sedang mulai fokus untuk mengejar title Pahlawan Nasional di dalam gim.


Title? Apa itu? Aku bertanya-tanya.


Angelica pun menceritakan tentang masuknya sepuluh Anak Diberkati Tuhan yang merupakan Calon Pahlawan Nasional.


Ya. Aku masih ingat dengan jelas, mulai dari sini, perang berdarah di antara para Calon Pahlawan pun akan dimulai.


“Gini, Pope ...” ungkap Angelica, menunduk dengan ekspresi sedih, “Aku udah nggak mau lagi, sih, jadi Pahlawan Nasional—berada di samping Mamat. Mungkin. Sih. Hehehe, tapi—“


Dia tiba-tiba menengokkan kepalanya, menatapku.


“... Selagi aku nggak bisa World Out dari Dimensi Gim ini,” lanjutnya sambil tersenyum, “Janji, ya, Pope, kamu harus terus ada di sampingku ... Ayo kita hidup damai aja di Dunia Dimensi kamu ini!”


Senyum menawan nan cerita pada wajah cantik Angelica, membuatku tak bisa menolak janji itu.


Aku mengangguk.


Namun pada akhirnya. Ya. Seperti yang sudah aku pernah bilang, bahwa keadaan kami berdua sama sekali tidak akan pernah mengizinkan kedamaian tersebut terjadi.***