RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [2] – [26] After War (2/2)



Jikalau satu saja Great Satan yang telah meruntuhkan Negara Adidaya Daratan Surga Permukaan kembali, itu akan membahayakan Garis Depan Medan Perang—terutama Keluarga Konglomerat Tang.


Daratan Surga Permukaan sekarang sudah menjadi Medan Perang sesungguhnya. Mereka yang berada di barisan paling depan, terus bertarung tanpa henti untuk menahan gelombang serangan musuh. Hanya ada beberapa Wilayah Khusus dan Negara – Negara kecil saja yang tersisa. Tiga Negara Adidaya di Daratan Surga tersebut telah lenyap, rata tertimbun tanah.


Perang, antar dua kaum yang entah tujuan mereka sebenarnya itu apa; Pertarungan, antar dua kaum ini memang telah berlangsung sejak dahulu kala; Pertikaian, yang terjadi diantara mereka memang telah ada sejak Era Kuno di mana manusia dan iblis tersebut hidup.


Pun pertarungan yang mengguncang di Daratan Surga Bawah saat ini tak kalah menakjubkan dari itu—pertarungan—antar dua orang player yang memiliki Kelas Pendekar.


Tidak ada satu pun monster maupun roswell yang berani mendekati mereka berdua. Mereka semua hanya menatap kedua player tersebut dari bayang-bayang di dalam kegelapan hutan dan pegunungan nun jauh dari posisi kedua player tersebut bertarung


Nanang terus menghindari serangan Pria Tombak Silver di hadapannya. Dia sesekali menangkis menggunakan Kapak Merah Besar-nya, dan terlihat sama sekali tak berniat untuk menyerang balik.


Namun, Nanang sama sekali tak menyadari bahwa dia mulai terpojok.


Di setiap serangan terakhir dari rentetan combo serangan Tombak Silver Tang Tang No, entah bagaimana ia bisa menembus pertahanan dan elakkan Nanang—sampai pada akhirnya ia bisa menyentuh Zirah Merah Darah dikenakannya.


Meski itu hanya sesekali, Nanang mulai mengerutkan keningnya.


Dia heran. Kenapa serangan terakhir combo-nya sangat kuat?!


Nanang sampai-sampai harus melompat mundur saat serangan terakhir Pria Tombak Silver itu akan menusuknya.


“Cih," decak kesal Tang Tang No, namun ekspresi wajahnya tetap dingin. "Kamu menyadarinya?”


Pria Tombak Silver itu tidak memberi satu napas pun untuk Nanang berpikir. Dia langsung menerjangnya kembali.


Seolah-olah berteleportasi jarak dekat, Tang Tang No langsung berada dalam jangkauan serangannya dan menggerakkan Tombak Silver-nya dengan sangat cepat.


Lintasan bilah tombak begitu cepat sehingga Nanang mulai kewalahan.


Namun dia masih bisa menyerang balik, dengan serangan vertikal Kapak Merah Besar-nya tiba-tiba berada tepat di atas kepala lawannya.


Tang Tang No berhasil mundur—menghindari serangan Nanang itu dengan mudah. Dan dalam jarak tertentu, dia berdiri tegap sembari mengacungkan Tombak Silver ke arah musuh di hadapannya.


Angin kencang mengembus ke segala arah saat bilah Kapak Merah Besar Nanang menghantam tanah. Bumi pijakan mereka berguncang tetapi sama sekali tak menggoyahkan posisi tegap Pria Tombak Silver.


“Jadi hanya sejauh ini kekuatan Tier Empat. Grand Berseker yang sudah mendapatkan gelar Pahlawan Nasional?” cibir Tang Tang No, mengerahkan kekuatan lebih pada genggaman Tombak Silver-nya.


Tang Tang No seperti sedang menantang Nanang, namun sorot mata tajamnya tetap memancarkan konsentrasi kesadaran penuh.


“Apa katamu?” murka Nanang, menguatkan rahangnya.


Entah mengapa Pria Kapak Merah itu tiba-tiba marah, dan langsung mengaktifkan salah satu Skill Blessing National Heroes miliknya.


Weapon Blessing!


Kapak Merah Besar digenggam Nanang tiba-tiba memiliki Bilah Energi Emas; Bilah Kapak bercahaya emas yang ukurannya 10 kali lebih besar dari bilah aslinya.


Nanang sangat percaya diri dengan kekuatannya, karena dia merasakan luapan kekuatan dari Skill tersebut. Dan juga dia sadar akan perbandingan dari jumlah poin angka defense dan heal poin mereka berdua yang terpaut cukup jauh. Tetapi Pria Kapak Merah itu mungkin tak akan pernah menyangka jika gim yang dimainkannya ini tak sesederhana itu.


“Aku bilang,” tegas Tang Tang No, “kamu lemah, Nak.”


Tang Tang No tiba-tiba menerjang maju, menusukkan Tombak Silver-nya.


Apa dia bodoh?! Nanang tercengang.


Menggunakan Skill Whirlwind Slash [Tier.4], Pria Kapak Merah itu memilih untuk tetap bertahan.


Putaran angin topan emas-merah terbentuk dari tebasan melingkar Kapak Merah Besar digenggam Nanang. Pohon-pohon di sekitarnya hancur, pijakannya menghilang dan langsung berubah jadi kawah berdiameter 50 meter.


Semua pohon hitam mati sekitarnya hancur, bukit-bukit terbelah, dan beberapa Gate Mini Dungeon di sekitar mereka berdua sampai-sampai menutup dengan sendirinya.


Untuk seseorang yang melawan player memiliki gelar legenda, Pria Tombak Silver itu memang cukup kuat.


Tang Tang No mengerutkan keningnya saat berdiri cukup jauh dari posisi awalnya—Pria Tombak Silver itu terlempar namun langsung berhasil berdiri tegap kembali. Perisai Cahaya Silver tipis yang tiba-tiba mengelilinginya membuat dia bisa bertahan dari Skill Whirlwind Slash [Tier.4] milik Nanang.


Ia merupakan Skill Khusus dari salah satu Legendary Equipment dipakainya.


“Kita harus benar-benar siap untuk kemungkinan terburuk, Tuan Muda!” ujar Nanang, “Bukankah mempersiapkan segalanya dengan cepat akan lebih baik? Kita tidak tahu kapan para Satan Iblis itu akan menyerang lagi.”


Namun, Tang Tang No menerjangnya kembali—sama sekali tidak mendengar nasihatnya.


“Kamu sama sekali tidak layak untuk jadi Pahlawan Nasional Utama,” cibir Tang Tang No, dengan acuh mengayunkan Tombak Silver-nya ke samping seraya terus berlari mendekati lawannya.


“Bukankah Tuan Muda Tang juga kenal dengan Noir Soldat—Pahlawan Nasional Sebelumnya?” ungkap Nanang, sembari mulai menguatkan pegangan Kapak Merah Besar-nya, “Saya cuma tidak ingin kita—sebagai Pahlawan Nasional Baru—berakhir menyedihkan seperti dirinya!"


Wajah Tang Tang No menggelap setelah mendengar itu. Namun, dia langsung acuh tak acuh kembali.


“Siapa peduli.”


Wajah Pria Tombak Silver itu seketika tiba-tiba serasa berada di hadapan Nanang—dan Nanang panik—langsung mengayunkan Kapak Merah Besar-nya dengan sangat kuat.


Namun, ia membentur Perisai Cahaya Silver.


“Cih!”


Pria Kapak Merah itu langsung melangkah maju seraya menyerang dengan membabi buta; dan dia terus menyerang Bola Cahaya Perisai Silver di hadapannya.


Namun ada yang aneh, semakin dia menyerang, bukannya Kapak Merah Besar-nya mengenai orang di dalam Bola Cahaya tersebut, cahaya di hadapannya malah menjadi padat dan semakin padat sampai-sampai membentuk Perisai Kristal.


Kenapa aku tidak bisa menembus pertahanannya!? Nanang mulai mundur. "Skill apa itu?!"


Namun, Tang Tang No terus melangkah mendekatinya seraya kembali melancarkan combo serangannya.


Hentakan demi hentakan serangan terakhir dari rentetan combo Tombak Silver Tang Tang No mengenai dengan telak titik-titik vital tubuh Nanang.


“Sialan! Apa ini!!?” pekik Nanang, melihat bilah Heal Point-nya terus berkurang dengan sangat cepat.


Pria Kapak Merah itu tidak bisa memikirkan apa-apa selain terus menyerang lawan di hadapannya. Dia pun akhirnya mundur dan mencoba membuat jarak, tetapi kelincahan Tang Tang No terlalu tinggi, sampai-sampai tak sampai satu nanodetik, jarak mereka langsung tertutup kembali.


Saat heal point Nanang tinggal 10%, Pria Tombak itu tidak mendaratkan serangan terakhir tetapi malah langsung melompat mundur.


“Aku sudah bilang, Nak: Kamu terlalu lemah ....”


Tang Tang No berhasil dengan mudahnya memenangkan pertarungan.


Pria Kapak Merah itu berlutut di hadapannya; Satu tangannya masih menggenggam Kapak Merah Besar yang tertancap kuat ke dalam tanah.


“Cih. Bagaimana mungkin aku bisa kalah seperti ini?” geram Nanang, menguatkan rahangnya.


Tang Tang No berbalik begitu saja—namun dia tiba-tiba menoleh padanya.


“Karena kamu, yang menjadi Pahlawan Nasional Utama, aku hanya akan membantumu kali ini saja ... selebihnya ... kalau sampai ada lawan kuat—ia akan jadi lawanku!” tegas Pria Tombak itu, yang anehnya menerima permintaan Nanang.


“Huh? Tuan Muda Tang mau membantuku?!” terkejut, kedua mata merah Nanang membelalak menatapnya.


Dia tak langsung menjawab dan berbalik, berjalan pergi begitu saja.


“Camkan saja itu, Nak.”


Meskipun pada akhirnya kalah telak, Pria Kapak Merah itu entah bagaimana berhasil meyakinkan Tang Tang No untuk membantunya mengumpulkan Pahlawan Nasional Baru lainnya.***