RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [1] - [15] God Healer & Kill Her



‘Tapi saya tahu bukan itu pasword-nya ....’


Ya. Dulu sekali, aku bilang seperti itu ke penjaga gerbang Perguruan U’Bad Art ini.


70 tahun yang lalu, lebih tepatnya.


Ya. Aku serta rekan-rekan, yang kubawa ke sini, telah melalui banyak rintangan dan latihan keras di tempat ini.


Sungguh nostalgia, huh, demikian pikirku, saat Mentor Beladiri kami berdiri di atas podium Aula Besar Perguruan, memberi pidato terakhir untuk para siswanya yang akan lulus.


Ya. Ini kejadian persis seperti di kehidupanku sebelumnya. Tak ada yang berubah. Namun sekarang, rekan-rekan seperjuangan di sampingku ini sama sekali tidak mengalami cedera yang parah.


Ditambah satu Pria Aneh, tentunya, desahku dalam hati.


Aku yang melindungi mereka dari insiden Perang Pertama berlangsung; pun aku yang membawa mereka semua ke Wilayah Netral ini dengan selamat.


Jadi, tidak apa, kan, aku menggunakan kekuatan mereka untuk kepentinganku?


Selama latihan di sini, aku terus mengumpulkan informasi tentang para Pahlawan Nasional, dan menyimpulkan bahwa mereka semua akan muncul di tempat yang sama dengan waktu di kehidupanku sebelumnya.


Kecuali Pahlawan Mamat yang sedikit mengusikku waktu itu. Mengapa dia berada di Mini Dungeon? Bersama wanita yang mirip dengan Angelica?


Tetapi apapun itu, aku harus tetap melenyapkan semua Pahlawan Nasional dari Daratan Surga-ku ini.


Aku berencana untuk membunuh Healer Heroes terlebih dulu, karena Healer merupakan ‘job’ yang paling merepotkan—apalagi saat ia sudah berkumpul dengan sebuah party.


Di samping itu, Pahlawan Penyembuh cukup mudah untuk ditemukan. Dia akan masuk ke Daratan Surga ini beberapa hari lagi, di Katedral Pusat, Negara Adidaya [3].


“Jadi ...?” tanya seseorang di sampingku.


Dulu dia hanyalah remaja berkacamata kotak yang sangat mengganggu. Dia selalu penasaran dan curiga terhadap hal apa pun. Namun sekarang, dia menjadi sosok kuat berjubah hitam dan topi kerucut di kepalanya yang terlihat aneh.


“... Apa kau masih mau melakukannya?” lanjutnya, “Balas dendam, maksudku.”


Mo membenarkan topi hitamnya setelah bertanya seperti itu padaku.


“Hahahaha! Tenang. Aku pasti akan mengikutimu ke mana pun, Pope!” tukas Dry tiba-tiba.


“Kami pasti akan mengikutimu, Pope. Sebab kamu yang membawa kami semua ke sini,” timpal Ro. “Meskipun apa yang akan kau lakukan itu memang tak masuk akal.”


Dia sekarang memiliki sebuah Long Bow bercorak hijau dengan tali berwarna emas di punggungnya, dan ditambah Tempat Anak Panah di pinggang kirinya membuat dia terlihat sangat memukau.


Perawakanku pun telah berubah sepenuhnya. Aku menjadi sangat tinggi, tegap, dan berotot layaknya pria dewasa pada umumnya. Semakin dewasa, wajahku juga semakin menegas dengan ditambah tatapan tajam mata hitam pekat dan mati.


Rambutku hitam dan tipis seperti tentara pada umumnya.


Ya. Itulah yang Angelica beritahu padaku, tentang sebuah prajurit keamanan negara layaknya Penjaga Anggota Korporat di berbagai Negara Adidaya Daratan Surga-ku.


Aku sangat yakin bisa melenyapkan seluruh Pahlawan Nasional dari Daratan Surga-ku ini, karena pembenahan dan latihan yang telah kami semua lakukan di sini.


Ya. Walaupun latihan yang kami semua lakukan pada umumnya sama dengan siswa lainnya, tetapi pembenahan inti energi kami berbeda dan memang sangat sulit.


Memang sangat sulit untuk memusatkan Main Energy Inner, apalagi kami semua bukan dari anggota Sekte Beladiri mana pun.


Ya. Karena telah dihidupkan kembali, aku jadi mengerti tentang struktur dasar pembentuk tubuh kami, yakni: Kode Biner.


Sekarang aku tahu tubuh ini hanya tersusun dari kode tersebut. Dengan ditambah penguasaan Seni Beladiri Tertinggi: U’BAD, aku sangat yakin kami semua tidak akan kalah dengan para Pahlawan Nasional.


Aku serta rekan-rekan party-ku telah menguasai Aliran Faksi Netral, sedangkan para Pahlawan Nasional pasti akan menguasai Seni Beladiri inti setiap Faksi Daratan Surga. Jadi pada dasarnya, kami semua harus melenyapkan mereka sebelum mereka mencapai puncak kekuatannya.


Setelah memberi salam perpisahan dengan para mentor, masing-masing Party dan Team dikumpulkan di hadapan Gerbang Perguruan.


Ukiran wajah serigala melolong di tengahnya membuat Gerbang Hitam Besar itu sangat menakutkan.


Aku akhirnya akan menuju Katedral Pusat.


Jika dengan transportasi normal, Perjalanan menuju Negara Adidaya [3] akan memakan waktu berbulan-bulan.


Di dalam setiap Wilayah Sekte tidak bisa menggunakan Item Teleport. Hanya eslon atas dan tetua saja yang bisa berlenggang bebas keluar-masuk. Sebab itulah kami semua harus lulus terlebih dulu dari Perguruan U’Bad Art supaya bisa menjelajah Daratan Surga dengan bebas.


Aku sudah mendapatkan Teleport Stone sejak lama. Sebuah batu biru yang bisa mengangkut satu party ke Wilayah Perbatasan mana pun.


Kami semua beberapa kali berteleportasi, lalu dalam sekejap sampai di Wilayah Perbatasan Negara Adidaya [2] dengan Negara Adidaya [3].


Cukup mudah untuk menemukan Katedral Pusat di Negara Adidaya. Bangunannya pasti akan sangat mencolok, menjulang tinggi ke atas langit layaknya Tower Energi.


Healer Heroes tak lama lagi akan datang.


Selagi Party-ku bersembunyi, aku memisahkan diri dari mereka untuk mengintai ke dalam Bangunan Katedral terlebih dulu.


Rencana kami cukup sederhana: Mo akan menyerang dengan Kutukan Terkuat-nya ke semua orang di dalam, kemudian aku dan si Ro menyerangnya secara bersamaan dari jarak dekat serta jarak jauh. Sedangkan Pria Pedang itu. Dry. Harus menahan para Penjaga Anggota Korporat dan Anggota Sekte Agama yang ada di sini.


Tapi, kenapa pria itu ada di sini?


Aku melihat sosok yang tak asing. Wanitanya jelas sudah bertambah. Dia sekarang dikelilingi oleh 4 wanita cantik.


Dan ke mana wanita yang mirip dengan Angelica waktu itu?


Pada saat aku berpikir demikian, tiba-tiba Bangunan Katedral Utama mengeluarkan cahaya putih yang sangat menyilaukan—walau sekarang siang hari. Ini adalah pertanda bahwa Pahlawan Penyembuh tiba di Daratan Surga.


Dilanjutkan dengan Katedral – Katedral Cabang lainnya yang memancarkan sinar terang yang sama.


Cahaya putih terang, yang hampir menutupi seluruh Distrik Katedral Pusat.


“Pope?”


“...” Aku terdiam tetapi sebenarnya, aku sangat terkejut. Bagaimana dia bisa langsung tahu ini aku?


“Apa yang kau lakukan di sini?”


Tubuh Pahlawan Nasional Utama di hadapanku tertutupi cahaya putih terang.


“Aku peringatkan kau, Pope,” ancamnya kemudian, “Jangan macam-macam di sini—atau aku tidak akan segan padamu.”


Aku tidak tahu mengapa dia sangat baik padaku, memperingatiku seperti itu. Namun, aku tidak bisa mendengarkan peringatannya tersebut. Apapun yang terjadi, pertama, aku harus membunuh wanita itu. Queti. Pahlawan Penyembuh ini pasti akan melakukan hal busuk—lebih tepatnya—dia yang menyarankan untuk melakukan ritual pengorbanan para Pribumi Daratan Surga.


Aku langsung memberi sinyal ke rekan-rekanku di luar untuk melakukan penyerangan darurat.


Aku sama sekali tidak memberitahu rekan-rekan party-ku bahwa kebejatan Pahlawan Nasional akan terekspose nanti, beberapa tahun lagi. Jika kami tertangkap sekarang, kami semua pasti akan langsung diadili oleh Kelompok Besar Anak Diberkati Tuhan serta Anggota Korporat Daratan Surga.


Kabut Hitam pekat tiba-tiba menyebar ke dalam Katedral.


“Sudah kuduga ini tak akan mudah kalau kau ada di sekitarku, wahai Pahlawan Mamat.”


“Mundurlah, Pope ... Pergi dari sini, sekarang!”


Orang ini sama sekali tidak berubah. Perawakan Pahlawan Mamat masih sama dengan terakhir kita bertemu. Ya. Lebih dari setengah abad yang lalu kita terakhir bertemu.


“Aku tidak ada waktu untuk berurusan denganmu—“


Rekan-rekan party-ku langsung berlari masuk Katedral bersamaan dari pintu masuk yang berbeda.


Memanfaatkan celah di sekitar formasi mereka, aku berlari ke arah mimbar seraya menitikberatkan energi biru ke kaki kananku; dan bersamaan denganku, satu anak panah berwarna silver yang Ro tembakkan ke arah yang sama.


Kecepatan lariku sekarang hampir secepat laju lintasan sebuah anak panah Ranger Tier.1.


Lalu, dalam jarak yang sudah cukup, aku memindahkan titik energi biru dari kaki-ku ke tangan kanan.


Membentuk tinju kuat, aku pun langsung meninjukannya ke depan.


Satu Tinju Energi dan Anak Panah Silver melesat bersamaan ke arah Pahlawan Penyembuh yang baru saja muncul di atas panggung.


“Sekarang!! Lindungi Queti!!!” teriak Pahlawan Mamat entah pada siapa.


Seseorang di lantai 2 Katedral tiba-tiba mengangkat Tongkat Kayu-nya, lalu bersamaan dengan itu cahaya putih terang langsung menyelimuti seluruh tubuh para Anak Diberkati Tuhan di dalam ruangan.


Kutukannya hilang? Aku terkejut, mengerutkan kening. “Kita harus segera mundur.”


Aku langsung tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini, jadi, aku langsung mengangkat tanganku ke atas.


Rekan-rekanku langsung mengerti saat aku mengangkat tangan—ini adalah sinyal untuk mundur.


Sebuah lingkaran pelindung di atas panggung mimbar perlahan terlihat setelah ledakan energi mereda.


Healer Heroes terlihat sangat terkejut, namun dia baik-baik saja.


“Aku akan menahan mereka, Dry. Kau mundur, bantu Mo dan Ro.”


Memerintahkan seseorang yang mulai terpojok memang tidak akan efektif. Ya. Tetapi aku tidak punya pilihan lain.


“Hahahaha! Oke, tapi—“


“Pergilah. Aku akan menyusul.”


Kendatipun si Dry adalah pengidap Virus-Ir, dia masihlah orang yang paling kuat di antara kami semua.


Pria Pedang itu menguatkan genggaman pedang-nya.


“Aku akan membuka sedikit jalan untukmu, Pope. Hahahaha!”


Aku terlalu terfokus pada pertahananku, sampai-sampai tidak mendengar makian-makian para Anak Diberkati Tuhan di sekitarku. Yang kudengar hanyalah gema suara tawa Pendekar Pedang Kayu aneh itu.


“Kau sudah tidak bisa kabur, Pope,” desak Pahlawan Mamat, “Jika kau ingin mati—oke—matilah!”


Aku lengah.


Dia membuat para wanitanya mengalihkan perhatianku, lalu menyerang titik butaku dengan sangat cepat.


Aku tidak mati? Kenapa—


Aku menoleh ke belakang, dan, sungguh, aku tidak tahu mengapa Orang Tua itu bisa berada di sini.


“... Kenapa kau menyelamatkanku?”


“Bagaimanapun. Kau. Tetap. Anakku,” ungkapnya dengan lirih, “Pope ...”


Pedang Pendek berwarna silver menancap ke jantungnya. Ia memberi waktu untukku mundur dan mengalihkan titik berat Energi Biru kembali ke kaki-ku.


“Kepung NPC itu ...!!!” teriak Pahlawan Mamat dengan sangat geram.


Tidak ada waktu untuk mengasihani kematian Orang Tua itu. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini.


Untuk meloloskan diri dari Penjaga Anggota Korporat yang mulai berdatangan ke Katedral Pusat, aku menggunakan Syringe.3 untuk mempercepat pelarian.


Kecepatan berlariku sekarang hampir sama dengan kecepatan cannon yang ditembakkan Senjata Semi Elektromagnetik. Tetapi, entah mengapa poligon-poligon biru dari jiwa Orang Tua itu bisa menyusulku dan menutupi seluruh tubuhku.


Kami gagal.


Aku sama sekali tidak menyangka, wanita yang mirip Angelica itu mengikuti Vanguard Heroes sampai ke sini. Dan lebih parahnya lagi, dia bisa memurnikan Kutukan Terkuat si Mo.


Wanita itu ... Seorang Cleric?


Terus berlari sambil menoleh ke belakang, aku melihat para Anggota Korporat di belakangku sudah menghilang.


Bagaimanapun aku harus kembali lagi, dan segera membunuh Healer Heroes. Queti. Sebelum dia bergabung dengan Sekte Agama.***