
Aku terus dicambuk lengan elastis seekor alien di hadapanku. Namun sekarang, aku tidak langsung terlempar kembali. Aku bisa setengah berdiri seraya melindungi kepala menggunakan kedua lenganku yang menyilang.
“Hp alien itu mulai berkurang, Pope!! Dps-ku udah bisa ngimbangin pemulihannya—aku mau nyerang terus!” papar Angelica, terus menyerang Roswell di hadapanku. “Tapi kalo kamu udah nggak kuat lagi, langsung mundur aja! Ini pasti makan waktu yang lama.”
Sudah kubilang, aku sama sekali tidak mengerti apa yang diinformasikannya itu. Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah menahan serangan cambukkan alien yang kami lawan dengan tubuhku.
Ya. Apa yang kulakukan ini memang sangat menyakitkan, tetapi aku menyadari ia merupakan esensi dari profesi umpan daging itu sendiri.
Dan aku pun tak perlu khawatir dengan luka-luka di tubuhku, sebab akan langsung sembuh seperti semula setelah menggunakan Jarum Suntik Energi. Syringe. Pemberian Angelica. Dia tidak pelit saat memberiku itu—bahkan serum pereda rasa sakit.
Ya. Goblin Furutistik di hadapanku ini sangat kuat dan menyebalkan. Aku melihat ia mulai bisa menghindari tembakkan sihir emas Angelica.
“Sial,” umpat Angelica, melafalkan mantra sihir berikutnya, “Alien ini bisa ngehindarin serangan aku lagi!?”
Dia terus menembakkan sihir emasnya ke arah Roswell. Dan pada saat sinar emas sihirnya kena telak, sesekali ia akan membuat alien itu terdiam beberapa detik. Aku tidak bisa menyerangnya, jadi aku hanya bisa mempersiapkan diri—sedikit menjaga jarak untuk lintasan serangan Angelica berikutnya.
Entah serangan Roswell di hadapanku yang semakin melemah atau aku yang menjadi kuat, tetapi aku bisa berdiri tegap sambil terus menahan serangan Roswell di hadapanku.
Ya. Dan saat Roswell mulai menyerang titik lemahku, tiba-tiba aku mulai melihat lintasan serangan tangan elastisnya.
Situasi di mana aku untuk pertama kalinya bisa menghindar.
Ya. Dari sini pun aku akan mulai belajar menghindar.
Cambuk elastis Roswell terbang tepat ke arah wajahku, tetapi aku tiba-tiba menggerakkan kepalaku ke samping.
“Kamu bisa ngehindar, Pope?!” Angelica terkejut. “Itu hebat! Ayo kita kecoh dia!”
Melihat sorot mata emasnya, entah mengapa aku langsung bisa mengerti apa yang dia rencanakan.
Angelica langsung menembakkan sihir emasnya tepat ke arahku, dan pada saat jarak tertentu aku sedikit menghindar.
Serangan Angelica dengan telak mengenai Roswell; dengan aku yang berlindung di balik tubuh kecil Goblin Futuristik itu.
“Ayo kita coba lagi, Pope!”
Aku hanya mengangguk padanya, kembali menahan serangan alien yang kami hadapi. Kami berdua terus menyempurnakan koordinasi serangan dan pertahanan baru ini.
Ya. Hanya melawan satu ekor Roswell saja sangat sulit untuk kami.
Aku mengerti kenapa ini sangat sulit, pikirku, menghindari cambuk lengan elastis Roswell di hadapanku, Sudah jelas karena aku sama sekali tidak bisa menyerang, kan?
Ya. Namun pada akhirnya, alien itu bisa tumbang juga dengan serangan kombinasi baru kami, setelah beberapa jam kami berdua melawannya.
“Aku tidak menyangka kita bertarung lebih dari satu jam,” gumamku, melihat ke arah partikel ruang kosong yang pecah di hadapanku.
Ia adalah pecahan partikel berwarna putih-hitam dari tubuh Roswell yang baru saja aku dan Angelica kalahkan.
“Yay!” seru Angelica, tampak bahagia, “Ini lebih cepat dari perkiraanku.”
Aku menengok, melihat Angelica masih meninju langit dengan ekspresi semangat anehnya.
“Cepat?” tanyaku, heran. “Tadi itu sangat intens—dan kita melawannya lebih dari satu jam. Biasanya kita selesai tidak sampai dua puluh menit, kan.”
“Nggak gitu, Pope,” pungkas Angelica, menggeleng, “Ia emang sangat sulit, loh ... Yang kita lawan ini punya satu juta hp—satu juta! Kamu tau.”
Aku melihat tubuh Roswell yang kami kalahkan hampir sepenuhnya terpecah menjadi pecahan partikel putih.
“Lupakan itu ...” Angelica menghampiriku. “Aku pingin loot dulu. Apa, ya, yang aku dapet dari Roswell ini ....”
Loot. Adalah kegiatan mengambil hasil dari apa yang didapatkan para Anak Diberkati Tuhan setelah mengalahkan musuhnya. Ia berupa item langka, energi, atau berbagai komponen yang jatuh dari musuh tersebut. Dan aku penasaran ia muncul dari mana?
“Loot Roswell ini lumayan, sih—tapi yang aku butuhin nggak ada ...?”
Angelica berjongkok di hadapanku, sedang memilah-milah jarahannya? Entahlah. Yang kulihat, dia hanya menunjuk-nunjuk udara kosong di hadapannya.
“Aku pikir masuk ke dalam cukup berbahaya,” ujarku, melihat sekitar Gua Metal, “Apa kita tunggu di sini saja?”
Aku memberi saran Angelica untuk menunggu Roswell keluar dari sarangnya satu per satu, atau aku sendiri yang memancingnya keluar lalu kemudian kami melawannya seperti sebelumnya.
“Ya ... aku juga mikir gitu, sih,” balas Angelica, melihat ke arah yang sama denganku, “Tapi—“
Namun, sepertinya mereka tidak membiarkan rencana kami berjalan begitu saja. Beberapa Roswell keluar bersama alien berbentuk aneh lainnya.
“Apa ...!!?”
Angelica mundur beberapa langkah sembari memekik terkejut seperti itu.
Roswell memang sangat berbeda dari monster-monster yang pernah kami hadapi selama ini. Berbeda dengan monster yang hanya mengandalkan kekuatan mutlak, para alien ini seperti sedikit mempunyai kecerdasan. Satu dari mereka saja sudah membuat kami berdua kewalahan. Mungkin jika tanpa adanya aku sebagai umpan daging, ia bisa dengan mudah mengejar penyihir seperti Angelica.
“Aku pikir kita harus mundur? Aku akan mengalihkan perhatian mereka sebisa mungkin—kamu cepat lari.”
“Kamu gila?!! Mereka terlalu banyak! Aku nggak apa mati—tapi kamu jangan sampe!”
Ya. Aku tidak mengerti apa yang dia katakan tentang ‘tidak apa-apa jika aku mati’.
“Aku pikir rencanaku itu tidak terlalu buruk.”
“Nggak! Kita mundur sama-sama sambil bertarung—harus tetap bersama!”
Ya. Angelica terlihat sangat panik dan cemas saat mempersiapkan sihir pertahanannya.
“Pope, cepat pakai Syringe Point Two ini—aku juga akan nge-buff kamu.”
Aku langsung menggunakan Jarum Suntik pemberiannya.
Partikel hijau tiba-tiba keluar dari tubuhku, melayang ke sekitarku dan langsung lenyap di udara. Seraya dengan itu, tubuhku kembali pulih seperti semula.
“Aku pulih,” gumamku.
Tubuh kami berdua tiba-tiba memancarkan sinar emas terang, seraya Angelica terus melafalkan berbagai mantra sihir pertahanannya.
Sudah lama aku nggak ngerasain sihir bernama Buff ini, demikian pikirku.
“Aku akan memisahkan mereka,” kataku, memasang posisi bertarung.
Para Roswell menerjang kami berdua; aku menerjang ke sisi kanan kelompok mereka.
Ya. Di sini aku mencoba untuk menahan Roswell yang terlihat memiliki kecepatan.
Angelica tak jauh di belakangku terus menjaga jarak dari empat Roswell yang terus mencoba menangkapnya.
Ya. Apa yang kulawan ini masih jenis alien yang sama, memiliki kecepatan yang sama dengan Roswell yang kami berdua lawan sebelumnya.
Angelica melawan Roswell dengan tubuh gumpal dengan tentakel di seluruh tubuhnya. Dua dari mereka memiliki satu dan dua buah antena hitam di kepala mereka.
Namun berbeda dengan alien layaknya Goblin Futuristik yang aku lawan, ruang di sekitar Roswell yang Angelica lawan tidak memancarkan apa pun. Mereka lebih seperti monster yang mengandalkan kekuatan kasarnya saja.
Angelica sepertinya bisa menahan mereka, sampai kita ke kaki gunung; Begitu pun aku, mungkin bukan hal yang mustahil untuk kami lolos dari kematian.
Namun, serangan jarak jauh? Aku tiba-tiba dibombardir cannon sinar putih yang melesat dari dalam Gua Metal.
Ya. Beberapa dari mereka hampir meledakkan kepalaku, tetapi untungnya aku sudah sedikit belajar tentang dasar dari bertarung, yakni: Menghindar.
Aku tak perlu menghindari seluruh serangan dari lawan-lawanku ini, sebab itu pasti akan cepat melelahkan konsentrasi dan fokusku.
Ya. Aku hanya perlu menghindari serangan yang sangat kuat, atau serangan musuh yang menurutku itu merupakan serangan fatal.
Tapi ada saat-saat di mana serangan fatal yang sama sekali memang tidak bisa—atau bahkan—mengapa aku malah seperti sengaja menerimanya dengan telak?
“Pope ...!!” pekik Angelica, melihatku terlempar ke belakangnya.
Saat kami sudah semakin mendekat, satu titik cannon putih melesat ke arah Angelica dan aku melompat ke hadapan perempuan itu.
Aneh, bukan? Aku menatap Angelica yang menoleh padaku. “Kenapa aku malah melakukan itu?”
Angelica langsung melafalkan mantra sihir pertahanan kuat. Sebuah barrier emas melindungi kami berdua dari tembakkan cannon putih.
Sial. Aku bahkan tidak melihat bentuk alien itu, demikian pikirku. Aku hanya melihat titik cahaya putih yang melesat ke arahku dan Angelica.
Angelica masih berdiri tegap, melindungiku sambil terus menembakkan sihir emasnya dari dalam barrier. Namun, Roswell bertipe kecepatan yang harusnya kutahan dengan cepat menerjang ke arahnya.
“Sial,” geram Angelica, “Mana-ku hampir habis!”
Ya. Apa aku juga harus menjelaskan apa itu Mana?
Kami berdua terus dibombardir cannon putih dari dalam Gua Metal.
Ya. Aku dan Angelica hampir mati di sini.
Mereka sangat sulit untuk kami lawan; Rencana kami gagal; Kami tidak biasa melarikan diri dari para Goblin Futuristik ini.
Roswell bertipe kecepatan tiba di hadapan kami dan langsung menebas barrier emas Angelica. Ditambah Roswell gumpal yang baru datang pun menabraknya, tentu saja ia akan langsung hancur berkeping-keping.
“Urk ....”
Angelica terlempar ke sampingku akibat ledakan hancurnya sihir barrier-nya.
Tidak ada pilihan lain, aku harus mengerahkan dan menggunakan segala yang kupunya untuk bangkit.
“Hei, Angelica, cepat—“
Namun tiba-tiba, serangan sihir dan tembakan senjata elektromagnetik tiba-tiba membombardir semua Roswell yang akan menghabisi kami berdua.
“Kakak?!” seru Angelica, terkejut, “Kenapa kamu ada di sini?”
Aku yang terbaring di tanah melihat satu party Anak Diberkati Tuhan melenyapkan para Roswell tersebut dengan sekali serang.
Pemimpin mereka menghadap Angelica. Wajah dingin dengan postur petarungnya seperti mengabaikan apa pun di sekitarnya. Xiao Tang No. Pria menggenggam Tombak Silver yang memimpin party tersebut menebas Roswell jenis kecepatan dengan santainya.
“Aku diberi quest untuk melenyapkan sarang alien di daerah sini,” ungkap Xiao Tang No, menyandangkan tombaknya di bahu. “Kamu pulang saja, Lisa. Boss Alien di dalam Gua Metal itu milikku sekarang.”
Angelica mengayunkan lengannya ke samping dengan tegas.
“Nggak! Aku masih sanggup, Kak!”
“Lihat rekanmu itu ...”
Ya. Mereka menatapku dengan tatapan menyedihkan. Angelica yang berjongkok di hadapanku pun tiba-tiba menatapku dengan tatapan kosong.
“Aku masih bisa.”
“Tapi, Pope ... Kamu udah—“
Aku perlahan berdiri. Entah mengapa aku mengatakan itu. Padahal seluruh tubuhku dipenuhi luka dan tak henti-hentinya bergetar.
“Huh ... ya sudahlah,” ujar Xiao Tang No, melirikku dengan tatapan dingin, dan bersiap masuk Gua Metal, “Kalian urus aja Roswell yang melarikan diri dari kami.”
Angelica menunduk, tidak melihat party Xiao Tang No yang sedang melenyapkan satu per satu Roswell seraya berjalan ke arah Gua Metal.
“Aku ...”
“Angelica ... mereka datang.”
“Urkh ... Okelah. Nih, Syringe Point One, Cepet—“
“Aku sudah pakai Serum Kekuatan dan Penyembuh—yang kubeli sebelum ke sini.”
“Apa ...?! Kenapa kamu malah beli, ihh ...? Aku masih punya banyak!”
Karena kami hanya mengejar satu per satu Roswell yang melarikan diri dari party Xiao Tang No, kami berdua hanya bisa mengalahkan 38 Roswell dengan menggunakan koordinasi serangan baru kami. Dan di Roswell ke-38 yang kami kalahkan, apa yang Angelica inginkan akhirnya muncul.
Setelah pertarungan mematikan ini, aku tahu Angelica akan pulang dan menyerahkan item quest-nya, namun di sini, aku masih ingat jelas kalau pada akhirnya dia tidak akan pernah bisa menjadi Pahlawan Nasional—sepupunya—Xiao Tang No—yang malah akan mendapatkan Slot Calon Pahlawan Nasional.***