RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [3] – [62] Aku (2/2)



"Ternyata nggak ada, huh," desah Angelica, terlihat tampak sangat kecewa, "Kamu nggak punya potensi ternyata, Pope—tapi nggak apa-apa, kok! Tenang aja .. kamu masih bisa tambah kuat dengan cara kamu sendiri—hehehe ..."


Angelica sama sekali tidak menemukan potensi di dalam diriku. Dia memang terlihat kecewa saat melepaskan tanganku yang sedari tadi digenggamnya. Cahaya biru yang keluar dari kedua tangannya perlahan memudar seraya dia menjauhiku.


Dia memang tampak murung, saat berbalik dan menghampiri dua anggota baru party-nya; Namun pada saat ini, aku merasa biasa saja.


Angelica beralih menatap Mo dan Ro; Aku berniat pamit pulang padanya.


“Angelica—“


Tetapi tepat pada saat aku akan pamit padanya, dia malah berbicara dengan penuh semangat ke si Mo.


“Hei, kenapa juga aku harus murung, ya? Kamu bisa jadi Mage, Mo!” ujarnya ke diri sendiri, dan dia membusungkan dada sambil bertolak pinggang menghadap Mo, “Kamu bisa jadi kayak kakak cantik ini, lho! Hahahaha ...”


Aku—kami bertiga, tepatnya, menatap Anak Diberkati Tuhan Wanita yang tertawa aneh di tengah-tengah Taman Kumuh, Village.0 ini.


“Hei, aku—“


Namun, untuk yang ke-2 kalinya, dia memotong lagi perkataanku dengan ekspresi dan nada semangatnya.


“Dan kamu juga Ro!” lanjutnya, tetapi kali ini dia beralih ke pria jangkung di samping Mo, “Kamu juga bisa jadi Archer—itu pasti keren banget! Nanti kita bertiga bisa jadi meriam berjalan sungguhan! Hahahaha ....”


Kedua mata emas yang tampak berbinar terangnya itu membuatku diam—tak mau mengganggu kebahagiaannya. Angelica seperti baru saja menemukan sebuah harta yang sangat berharga. Sorot mata emasnya itu hanya tertuju pada dua pribumi di hadapannya.


Ya. Pada akhirnya aku hanya menunduk, berbalik pergi begitu saja.


Meskipun aku kembali ke Ladang.0 lebih awal daripada si Ro dan Mo, tampaknya senja sudah berakhir dan aku terlambat menjemput kakek untuk pulang.


Ya. Lagi.


Aku melihat kakek dan ayahku berdiri di luar pembatas Ladang.0. Mereka sepertinya memang sedang menungguku.


Ya. Mungkin.


Namun, terlepas mereka menungguku atau tidak, aku melihat jelas perbedaan ekspresi kakek dan ayahku.


Kakekku sedang berdiri antusias dengan penuh ekspresi pada wajah tuanya; Sedangkan ayahku yang berdiri di samping kanan beliau hanya menatap dingin dan kosong ke arahku.


Dia seperti biasa mengenakan pakaian serba hitam, dan dengan ekspresi wajahnya yang sangat dingin.


“Kamu telat lagi, Pope,” tegur Ayahku.


Dia memang menatap dan menegurku dengan ekspresi biasanya, tetapi pada saat dia berbalik dan berjalan pulang begitu saja, entah mengapa aku merasakan perasaan aneh di pusat tubuhku. Perasaan, yang kurasa sama dengan apa yang aku rasakan pada saat aku melihat Angelica hanya memperhatikan Mo dan Ro saja.


Aku dan kakek mengikuti ayahku berjalan pulang.


Kami melewati berbagai rumah dan gubuk kumuh di Village.0. Desa Terbelakang. Wilayah kami bertiga tinggal ini.


Saat di tengah perjalanan pulang ini, ayahku mengingatkan aku kembali untuk menjaga kakek.


Ya. Aku bilang seperti itu karena pada saat ini, aku memang tidak terlalu mendengarkannya.


“... Ingat itu, Pope. Jaga kakekmu dengan benar,” ujar ayahku, tanpa menoleh sedikit pun.


Ya. Sedari awal dia mengoceh, mungkin pada saat ini, aku benar-benar tak sadar, kalau aku sedang mengerutkan kening dan menatap tajam ke arahnya.


“Aku sudah menjual ibumu—jangan sampai buat aku berpikir untuk menjualmu juga, Pope.”


“Hahaha!”


Ya. Jelas. Bukan aku yang tertawa.


“Kamu jahat banget, Nak,” kata kakekku, dengan ekspresi wajahnya tampak berubah drastis menjadi sedih setelah tertawa riang sebelumnya, “Ngejual istrimu gitu aja. Dan. Sekarang kamu mau ngejual Jhone—cucukku ...?!”


Semakin dia acuh tak acuh, aku semakin merasakan perasaan aneh di dalam pusat tubuhku ini. Ia terus menjalar melewati leher dan sampai memenuhi kepalaku. Perasaan ini mungkin tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.


Rasa panas yang berasal dari pusat tubuhku ini lalu menyebar ke seluruh tubuhku.


“Pope, kamu harus mengurus kakekmu dengan benar .. sebelum aku benar-benar akan—“


Aku sampai-sampai menguatkan rahangku saat berjalan tergesa-gesa mendekati ayahku.


Ya. Aku meraih bahu kanannya dengan tangan kiriku—membalikkan badannya ke hadapanku.


Aku tahu ini merupakan perasaan bernama: Amarah. Tak jelas aku pada ini sedang apa, namun, mendengar ayahku menegurku seperti itu untuk yang entah ke-berapa kalinya, di sini, aku meluapkan amarahku padanya.


Ya. Aku menguatkan kepalan tinju tangan kananku dan langsung menghajar wajah tegas ayahku.


Namun, setelah terpukul olehku, dia hanya terdiam—seolah tidak merasakan apa-apa—dan hanya menatapku dengan tatapan dingin nan kosong seperti biasa.


Dia mengangkat tangannya sampai ke atas kepala, lalu membalas seranganku dengan sebuah gamparan kuat.


“Kau kenapa?”


Dia bertanya seperti itu saat aku terlempar tepat ke samping kakek.


“Jhon!!? Kamu gak apa-apa?!” pekik kakekku, mendekat, dan berjongkok di sampingku.


Beliau terlihat sangat khawatir.


Namun, ayahku hanya berbalik dan berjalan pulang begitu saja—seolah kejadian aku memukulnya dan dia menggamparku tak pernah terjadi.


Ya. Pada saat ini aku memang berpikir, Kenapa aku memukulnya? Kenapa aku sungguh berani menghajarnya seperti itu, ya, seraya berdiri dibantu kakekku.


Keesokan harinya tidak ada yang berubah.


Ayahku pergi bekerja sebagai Umpan Daging kembali; Pun aku pergi untuk menjadi Umpan Daging Angelica seperti biasa.


Namun, keseharianku terasa sangat berbeda sekarang ini. Bersama party baru, dan perasaan baru bernama:


Amarah


Entah mengapa perasaan—yang aku tahu ini bernama Amarah jelas dari Angelica—yang rasanya terus membesar saat melihat Anak Diberkati Tuhan Wanita itu hanya memperhatikan dan memberi instruksi ke si Mo dan Ro.


Tidak mungkin aku mengacaukan formasi party yang telah susah payah kami bentuk dengan menghajar dua anak itu—seperti aku menghajar ayahku kemarin, kan?


Aku hanya bisa meluapkan amarahku ini pada saat grinding monster, dengan sesekali menguatkan cengkeraman tanganku ke leher Goblin Futuristik yang kutangkap.


Mengarahkan tubuh kecil Roswell Aliens yang lehernya aku cengkeram ini ke sinar emas sihir Angelica, aku membiarkan tubuh kecilnya meledak di tanganku.


Aku berjalan ke arah Angelica yang tampak senang melihat Ro, yangmana anak itu mulai bisa menembakkan panah tepat ke arah goblin kecil tak jauh dari posisi mereka.


Pada saat ini, hanya aku yang berada di garis depan dan menahan sekaligus menarik sebagian besar aggro monster maupun aliens.


Ini sungguh memuakkan, saat melihat dari jarak cukup jauh, Angelica tertawa bahagia mengetahui si Mo mulai bisa menembakkan sihir hitam ke sampingku.


Ya. Aku melihat seekor monster serigala terkena sihirnya, dan ia langsung tampak melemah.


Seraya dengan tembakkan anak panah Ro yang langsung membunuh serigala tersebut, ini menandakan akhir grinding monster dan aliens di Mini Dungeon hari ini.


Ya. Inilah. Aku. NPC. Pribumi. Yang hanya bisa pulang ke Gubuk Kecil-ku dengan kepala menunduk setelah menjadi Umpan Daging seorang Anak Diberkati Tuhan Wanita—yang bahkan Anak Diberkati Tuhan tersebut mungkin sudah tak mempedulikanku lagi.


Namun, pun pada keesokan harinya, aku akan tetap kembali melakukan hal yang sama, memperhatikan Angelica yang semakin bahagia sebab kami semua pada akhirnya bisa dengan mudah meng-grinding Kelompok Monster Class A. Aliens. Roswell. Aliens.***