
"Tuan Muda?" tanyaku, mengerutkan kening.
Dia membalas, "Ya. Tuan Muda ke-7 Konglomerat Soro Dojo," paparnya, dengan nada dan tatapan penuh kebanggaan, "Tuan Muda kami: Nanang Soro Dojo ... Ayo .. Kalian harus bangga Tuan Muda ngundang kalian."
Kami bertiga tidak punya pilihan lain selain mengikutinya. Toh ini merupakan Wilayah Kekuasaan mereka dan mereka semua pun telah menyelamatkan aku, Mo dan Ro dari sergapan Konglomerat Wun.
"Keluarga Konglomerat Soro Dojo kami merupakan keluarga terkuat ketiga setelah Konglomerat Tang dan Konglomerat Nojo Sukarno," jelas Assassin Pria, dengan nada acuh tak acuh, dan dia bahkan tidak menoleh sedikit pun pada kami bertiga, "Ikuti langkahku dan jangan menatap langsung orang-orang di sini! Fokus aja ke depan, paham?”
Dia mengatakan itu pada saat kami semua mulai memasuki Wilayah Dalam Konglomerat Soro Dojo.
Tanpa menjawab perkataannya, aku, Mo dan Ro terus berjalan mengikuti Assassin Pria ke arah tempat Nanang. Wilayah Kediaman Mewah Konglomerat Soro Dojo. Wilayah Khusus yang seharusnya tidak boleh kami bertiga masuki.
Apakah aku bisa kembali lagi ke Village Point Zero, kah? Aku bertanya-tanya.
Pada saat ini, mungkin bukan hanya aku yang berpikir seperti itu, Mo dan Ro yang berjalan berdampingan denganku pun pasti memikirkan hal yang sama.
Seluruh Wilayah Khusus Keluarga Besar Konglomerat Soro Dojo sangat luas. Wilayah Kekuasaan mereka ini sangat luas, sampai-sampai terlihat seperti City Factory di Negara Adidaya. Walaupun ia memang hanya Wilayah Khusus, yang biasanya hanya dimiliki Umat atau Sekte Agama.
Konglomerat Soro Dojo berada di titik barat Negara Adidaya [3]—tempatku tinggal dan dilahirkan. Memang cukup jauh melarikan dari Village.0 ke sini. Aku pun hanya beberapa kalo berjalan ke sini bersama Angelica—dulu—dikarenakan jelas, kami berdua pada saat itu kekurangan Koin Emas untuk teleportasi.
Ya. Teleportasi antar Kota dan Wilayah menggunakan Aula Teleportasi di setiap Negara Adidaya maupun Wilayah Khusus memang harus bayar.
Jelas, untuk mengoperasikan Aula Teleportasi membutuhkan Energi yang tak sedikit. Apalagi jika ber-teleportasi ke titik-titik Field Dungeon yang sudah ditandai, Angelica selalu mengeluh karena mahalnya biaya teleportasi.
Ya. Dan Wilayah Khusus Tuan Muda Nanang ini berada di bagian Timur Field Dungeon.
Berbeda dengan Wilayah Khusus Sekte Agama, Wilayah Khusus Keluarga Besar Konglomerat biasanya akan berbentuk seperti Negara Kecil. Dengan sistem kekuasaan dan hukum sendiri, yang mana semuanya terkait kontribusi.
Assassin Pria yang menuntun kami bertiga, berjalan di depan kami seraya menjelaskan berbagai peraturan di Wilayah Kekuasaan Keluarga Konglomerat Soro Dojo ini—peraturan—yang memang tidak mungkin aku, Mo dan Ro bisa ingat semuanya jika dia hanya menjelaskannya dengan satu kali napas.
Yang aku ingat, bahwa di setiap Wilayah Khusus mana pun, Point Kontribusi bisa lebih berharga dari Koin Emas.
Sejauh ini aku bahkan belum pernah satu kali pun menyentuh Koin Emas, demikian pikirku, menengok dua pria disampangku. “Aku, Mo dan Ro hanya pernah melihat Angelica menggunakan itu atau dia bermain-main dengan satu keping koin.”
Aku jelas tahu sampai pada saat ini, mereka berdua pun belum pernah menyentuh apa yang dinamakan Koin Emas itu.
Penjelasan dan peringatan Assassin Pria. Tentang seluruh Wilayah Konglomerat Soro Dojo. Membuat kami bertiga—sebagai Pribumi Daratan Surga—jadi mengerti mengapa para Anak Diberkati Tuhan bisa dengan mudah menundukkan kami semua seraya mengukuhkan kekuasaan dan kedaulatan mereka di Daratan Surga kami ini.
“... Kalian lihat bangunan Penginapan Mewah itu?” tunjuk Assassin Pria ke sebuah Gedung Bertingkat Lima, tanpa menoleh ke kami, “Berbeda dengan di Wilayah Luar, di sini, kalian tidak bisa hanya menggunakan Koin Emas—bahkan hanya untuk menginap di penginapan itu.”
Aku mengangguk. Sedari kami semua memasuki Wilayah Kediaman Mewah, aku telah melihat berbagai Bangunan Mewah—yang aku bahkan tidak tahu bangunan-bangunan tersebut dibuat menggunakan material apa.
Namun, mereka tersusun rapi dan menampilkan lanskap yang enak dan nyaman dipandang. Dan aku pikir, hanya bangunan yang ditunjuk Assassin Pria itu memang satu-satunya penginapan di wilayah ini?
Entahlah.
Jadi kami perlu Poin Kontribusi untuk banyak hal? Aku mulai mengerti apa yang dijelaskan Assassin Pria di depan kami bertiga ini.
Menurut Assassin Pria yang memimpin kami bertiga, Keluarga Konglomerat Soro Dojo memiliki 13 Tuan Muda dengan kekuatan dan spesifikasi skill-nya masing-masing. Mereka sangat kuat, dan yang paling kuat memang Tuan Muda-nya itu sendiri.
Pria Kapak Merah. Nanang Soro Dojo. Pria berambut dan mata silver itu yang paling kuat? Tidak heran dia mampu menahan Anak Diberkati Tuhan Toro itu.
“Kalian harus ingat itu semua kalau masih mau hidup ... Jangan membuat masalah seperti kalian membuat masalah dengan Party Kecil dari Konglomerat Wun itu,” tegas Assassin Pria itu, sekali lagi, tetapi dia pada akhirnya menoleh dan menatap tajam ke arahku, "Camkan itu, paham?"
Kami semua mulai memasuki halaman Kediaman Mewah Tuan Muda Assassin Pria.
“Mungkin kalian bertiga akan dites dulu oleh Tuan Muda,” ungkap Assassin Pria di depan kami, dengan nada menggumam.
“Di tes?” tanyaku, hanya bisa menatap punggung Assassin Pria di depanku.
Apa yang aku tangkap dan masih ingat, kalau nilai evaluasi tes tersebut memang menentukan kami bertiga akan jadi Budak Utuh, Umpan Daging atau NPC Pelayan maupun NPC Petarung. Yang mana NPC Pelayan atau NPC Petarung.
“..., dan akan ada kemungkinan menjadi NPC Bangsawan atau kalian bisa sebut juga Bangsawan Konglomerat Pribumi Daratan Surga,” jelasnya, menoleh kepada kami acuh tak acuh.
Aku, Mo dan Ro benar-benar tidak tahu tes atau ujian yang diberikan Nanang akan bagaimana dan seperti apa. Juga apakah kami bertiga cukup kuat untuk lolos tes tersebut, kami tidak tahu.
Dengan halaman seluas Taman Kumuh Village.0, hanya terdapat satu Mansion Mewah bercat dan beton putih—layaknya sebuah Bangunan Pemerintahan Kuno yang pernah kulihat kelak.
Kami semua masuk ke Mansion Nanang, dan berdiri menunggu di hadapan sebuah pintu cokelat kayu Ruang Kerja Nanang.
Kami semua menunggu sampai pertengahan diri hari.
Mungkin sebentar lagi pagi akan tiba? Sepertinya aku, Mo dan Ro benar-benar tidak akan tidur hari ini, huh, demikian pikirku.
“Kalian bisa masuk,” ujar seseorang dari dalam Ruang Kerja di depan kami semua.
Assassin Pria membuka pintu, kami mengikutinya memasuki sebuah Ruang Kerja.
Seraya dengan suara pintu di belakangku tertutup rapat, aku melihat rak-rak buku berisi buku dengan energi yang sangat kuat—yang sampai-sampai menekan aku, Mo dan Ro.
Apa itu semua yang Angelica bilang ‘Skill Book’? Pikiranku melayang ke saat-saat di mana Angelica bercerita tentang hal acak di Taman Kumuh dan di dalam Dimensi Gate Dungeon.
Sepupu Angelica ini. Nanang. Mungkin akan menjadikan aku, Mo dan Ro untuk jadi Umpan Daging-nya sementara?
“Set sudah menjelaskan semuanya ke kalian, kan?” tanya orang yang dimaksud Tuan Muda Nanang, tanpa berdiri dari kursinya.
Aku, Mo dan Ro mengangguk.
Meja kerja di depan kami berempat lumayan berantakan, dengan sebuah Kapak Merah besar diletakan berdiri di samping meja tersebut.
"Jadi, jika kalian bertiga setuju," ujar Nanang, "Kalian akan dites terlebih dulu ... Set, pimpin pengetesan mereka ini. Bawa aja ketiga NPC ini ke Gate Dungeon biasa, dan jangan lupa untuk langsung serahkan analisis pertempuran-nya padaku!"
"Oke, Tuan Muda."
Di halaman Mansion Nanang dua Anak Diberkati Tuhan pengejar sebelumnya, menunggu kami berempat.
Pria Assassin, Archer, dan Sniper sepertinya akan mengetes kami apakah kami bertiga layak jadi Umpan Daging Tuan Muda mereka?
"Panggil saja saya: Mi," kata Archer di hadapan kami, acuh tak acuh langsung memperkenalkan diri.
"Ri," ucap Sniper Pria di sampingnya.
Assassin Pria yang memimpin kami semua berkata, "Panggil saja saya: Set. Ayo cepat selesaikam tes ini!"
Seperti yang kuduga, Nanang kayaknya benar-benar akan merekrut kami bertiga untuk menjadi Umpan Daging-nya, demikian pikirku.
Tes atau ujian darinya pun akhirnya tidak bisa kami bertiga hindari.
Aku menggumam sangat pelan, “Apa kami bisa kembali setelah Angelica selesai dengan urusannya?” dan berjalan mengikuti tiga orang Anak Diberkati Tuhan dari Konglomerat Soro Dojo.
Nyatanya tidak. Karena. Ya. Angelica tidak pernah kembali ke hadapanku lagi.
Tanpa satu pun Healer dan Dealer Damage Magician utama, kami semua pun memulai pengetesan dan ujian dengan meng-grinding monster seperti yang telah ketiga Anak Diberkati Tuhan Konglomerat Soro Dojo itu instruksikan.
Apa ini bener-bener Party Terbaik? Tanpa Healer dan Dealer Magic Damage utama Anak Diberkati Tuhan? Aku. Ya. Yang mana ini merupakan kesadaranku berada di masa yang lain pun bertanya-tanya.***