RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [3] – [53] Insiden Terbesar I (1/3)



Sekalipun aku. Pribumi Daratan Surga. Sekarang memang masih aman dan belum terjangkit, aku tahu jika sebuah virus yang menjangkit para NPC lansia itu nantinya akan terus berevolusi.


Dalam ingatan dewasaku ini, aku tahu kalau ia akan membunuh sebagian Kelompok NP. Ya. Itu sebutan baru yang aku tahu dari Angelica, merujuk kepada kami. Pribumi Daratan Surga. Aku ingat jelas. Ia merupakan akronim dari:


Non Player


‘... Juga akronim itu untuk kamu supaya bisa bersikap sopan ke aku! Jangan lupa—kakak cantik ini—juga mau liat kamu sopan ke aku, Pope, hehehe ....’


Ingatan suara renyah seorang wanita namun menakutkan dari penggalan kalimat tersebut, masih bisa terngiang jelas di kepalaku sampai pada masa dewasaku ini.


Wanita itu pada saat ini sedang melafalkan mantra skill sihir emasnya, yang memang sama sekali tidak—ah?


“Awas, Pope!”


Ya. Aku juga tidak mengerti mengapa Angelica dijuluki Penyihir Putih.


Dia hanya bilang kalau itu merupakan salah satu Job Unique Magician dari Faksi Terang-nya.


Ya. Apa itu Penyihir? Bagaimana rasanya bisa menembakkan cahaya padat itu? Aku penasaran.


Pada waktu ini, aku sedang menahan gerombolan Roswell Aliens seperti yang biasa kami lakukan.


Ya. Untuk. Leveling. Angelica. Tentunya.


Aku berkata, “Tidak seperti waktu kita kecil dulu, ya,” sambil meraih wajah Goblin Futuristik, yang aku langsung arahkan tubuh kecil-nya menghadap Angelica.


“Hehehe, tentu! Karena akunya udah makin kuat!!”


Angelica pada saat ini terkekeh lebih menakutkan dari potongan ingatanku sebelum-sebelumnya itu. Dia mengangkat tangan kanan, dengan telapak tanggangnya menghadap langit.


Sinar cahaya emas tiba-tiba muncul di atas telapak tangannya, dan ia terlihat mulai terdistorsi oleh apa yang disebut: Mana. Ia menyerap seluruh Mana di sekitarnya, lalu kemudian berkumpul di atas telapak tangannya dan membentuk bola cahaya padat.


Sebuah Bola Cahaya Emas sebesar bola basket, yang terus dia padatkan sampai sebesar bola bisbol.


Angelica langsung menembakkannya tepat ke arahku.


Ya. Dia memang menembakkan bola cahaya tersebut, karena jika dia melemparnya, pasti tidak mungkin akan secepat ini.


Sial. Ini masih saja menakutkan untukku, demikian pikirku, hampir menutup mata.


Ya. Aku berpikir seperti itu selagi sebuah bola cahaya melesat ke arahku, yang mana aku masih menggenggam wajah seekor alien.


“Rasakan itu, Roswell sialan!!”


Seraya dengan umpatan penuh semangat Angelica, Bola Sihir Emas yang dia tembakan langsung menghantam telak tubuh Roswell—yang sebelumnya telah aku lepaskan tepat pada saat Angelica berteriak.


Dia semakin baik saja mengontrol skill-nya, demikian pikirku. “Kontrol yang bagus atas skill baru-mu itu, Angelica.”


“Aku udah kejebak di game ini cukup lama—nggak mungkin-lah skill aku gitu-gitu aja,” bantah Angelica, mengerucutkan bibir sambil menyilangkan lengannya, “Kamu juga jadi semakin kuat, lho, Pope—apa kamu nggak nyadar?!”


Ya. Skill. Adalah sebuah kemampuan bertarung instan aneh yang dimiliki setiap Anak Diberkati Tuhan.


“Apa? Aku? Kuat?”


Ya. Aku bertanya padanya seperti itu sebab yang kurasakan selama ini menjadi umpan daging-nya, aku hanya bisa menahan monster bertubuh humanoid saja. Kalaupun kami bertemu kelompok monster Class B yang bukan merupakan humanoid, kami berdua pasti akan melarikan diri.


“Monster Kelas B ini tuh, kamu tau,” jawab Angelica, menggelengkan kepala, “Dulu bahkan kamu nggak bisa ngehidar, lho ...”


Sambil sedikit mengatupkan giginya, Angelica menjelaskan lebih lanjut tentang hal-hal acak yang tak kumengerti sepenuhnya.


“Jangan under estimate ke diri kamu sendiri! Tenang aja ada a—“


Sebuah Bola Energi padat berwarna biru berasal dari tembakan Senjata Elektromagnetik sebesar bola kasti tiba-tiba menghantam kepala samping kananku.


“Pope?!! Ada PK?! Pope, ayo kita—!?”


“A-a .. a ...”


“Pope!!?”


Ya. Aku tiba-tiba terkena efek stun; Angelica memekik memanggil namaku.


Apa aku harus menjelaskan apa itu stun?


Ya. Angelica pun langsung mengeluarkan sebuah serum anti stun dari inventory-nya, lalu kemudian langsung menyuntikkannya padaku.


“Sniper ...!!? Tapi di mana?!”


Harusnya dia lebih waspada akan sekitarnya, pikirku, merasa ada yang tidak beres dan aku pun berusaha keras ingin bilang, hati-hati di belakangimu .. Angelica .. ada niat jahat—penuh hasrat membunuh tajam menghampirimu.


“Ada Gunner juga!?”


Aku berusaha berkedip kepadanya seraya mengerahkan seluruh kekuatanku hanya untuk menggerakkan kepalaku ke arah, Niat jahat itu sudah ada di sampingmu, Angelica.


Namun, pada saat ini aku hanya bisa berpikir seperti itu sebab mulutku sepenuhnya terkunci oleh efek lain selain debuff stun dari tembakan Anak Diberkati Tuhan. Sniper. Yang entah posisinya ada di mana.


Silent ... Aku tahu ini ... Angelica pernah menjelaskan tentang efek tambahan debuff beberapa skill, batinku, Untuk saat ini, aku tidak bisa berbicara selama beberapa waktu, huh.


Aku dan Angelica serentak melompat mundur ke dua arah yang berlawanan untuk menghindari tembakan seorang Gunner.


“Tetap waspada, Pope! Kita masih nggak tau di mana posisi si Sniper!”


Setelah tembakan pertama Sniper tersebut, aku memang bisa beberapa kali menghindari lintasan tembakan berikutnya tetapi semakin dia terus menembak, akurasi tembakannya itu rasanya semakin meningkat sampai-sampai ia terlalu tinggi untuk kuhindari.


Aku dicerca oleh tembakan Senjata Elektromagnetik Jarak Jauh, serta beberapa bola api sebesar bola boling melesat tepat ke titik-titik vital tubuhku.


Meski ini sulit, aku tetap berusaha keras bahkan hanya untuk melangkahkan kakiku ke depan.


“Pope—hei!?! Kamu mundur aja! Ngapain kamu malah ke sini? Cepet pergi!!”


Aku sama sekali tak mendengarnya, malah terus menerjang ke arah hawa membunuh tajam tepat di samping Angelica.


Aku menunjuk ke udara kosong tepat di sampingnya sambil menyembunyikan sebuah batu di balik lengan jaket hitamku.


Dan, seperti yang aku duga Angelica hanya mengerutkan kening padaku, dan kemudian menoleh ke samping belakangnya.


“Kamu sebenernya ngapain, sih—“


Dan, pada akhirnya aku sepertinya berhasil membatalkan skill aneh Anak Diberkati Tuhan, yang bisa menjadi tak kasat mata dengan niat jahat, yang mana ia berada tepat di samping Angelica.


“—Steatlh!?” pekik Angelica, melihat sosok buram tepat di sampingnya, dan dia refleks langsung mengaktifkan skill blink-nya. Dia tiba-tiba menghilang-kemudian-muncul kembali dalam sekejap mata layaknya sedang berteleportasi kecil ke tempat yang masih dalam jangkauan tanganku. “Assassin?!"


Ya. Stealth. Skill. Kemampuan. Yang bisa membuat tubuh seorang Anak Diberkati Tuhan menghilang. Ia merupakan salah satu kemampuan yang akan membuat aku muak sepanjang melawan Anak Diberkati Tuhan Assassin pada Waktu dan Dimensi mana pun.


Sosok Assassin. Job Musuh Utama-ku. Kelak. Di masa depan. Mulai terlihat jelas oleh kami berdua. Namun Anak Diberkati Tuhan Pria di hadapan kami pada saat ini jelas bukan orang itu. Musuh aku dan Angelica pada saat ini hanya, "Red Player?! Kenapa mereka ada di sini," seorang pembunuh berdarah dingin biasa.


Angelica membentak seperti itu, dan kemudian mulai melafalkan sihir barrier emas-nya.


Cahaya Emas Padat tiba-tiba terbentuk di sekitar kami berdua dan langsung menahan rentetan tembakan Senjata Elektromagnetik.


Namun melihat kokohnya barrier emas yang dibuat Angelica, Assassin Pria di hadapan kami berdua malah menyeringai; Rentetan tembakan rekan-rekannya pun berhenti; Seraya dengan itu tubuh Anak Diberkati Tuhan Assassin perlahan menghilang menjadi tak kasat mata kembali.


Dia sekarang menghilang sampai-sampai terasa menyatu dengan udara. Hanya seringai tajamnya saja yang masih aku dan Angelica rasakan. Ia memang sangat menakutkan ditambah keberadaan assassin tersebut sudah sepenuhnya menghilang.


Aku pada saat ini mengerutkan kening sebab tidak bisa merasakan niat membunuhnya lagi; Angelica tepat di sampingku membelalak karena menyadari ada sesuatu yang tidak beres.


“Dia Tier 4—!!?” desak Angelica, segera melafalkan mantra skill sihir pertahanan tertingginya, “Kita harus cepet mundur, Pope!!”


Seraya dengan itu, aku tahu jika rafalannya sampai terganggu, skill sihir-nya otomatis akan dibatalkan.


Aku akan menguatkan kepalan tanganku—yang sedari tadi menggenggam sebuah Teleport Stone.


“Y—?”


Aku tidak menjawabnya—dan memotong perkataanku sendiri—sebab pada saat Angelica melafalkan bait mantra terakhirnya, aku merasakan hawa dingin di tengkukku—yangmana membuat tubuhku bergerak secara refleks untuk melindunginya.


“Aku seles—Pope!!?” pekik Angelica, membelalak kembali, saat menengok padaku yang mulai ambruk namun masih bisa menggenggam aksesoris pinggangnya.


Seraya dengan ambruknya tubuhku, dengan kekuatan yang masih sedikit tersisa, aku meremas Teleport Stone di tanganku; tanpa melepaskan Angelica, aku terus menguatkan tanganku bahkan setelah ia berubah dan hancur menjadi abu.


Ya. Aku tersayat sebuah belati hitam entah dari mana; dan darah merah menyembur keluar dari pundakku.


Aku mendengar suara decakkan kesal seorang pria tepat di samping telinga kananku.


Ya. Meskipun bagiku terasa mencekam dan sangat lama, kejadian tersebut hanya terjadi beberapa menit saja.


Kami berhasil lolos dari kematian instan kelompok kecil PK.


Ya. Apa aku belum pernah menjelaskan apa itu PK? Yangmana terlepas dari akronim sederhana dari:


PK (Player Killer)


Pembunuh Pemain (yang seharusnya pemain membunuh pemain). Pada akhirnya mereka hanyalah Anak Diberkati Tuhan berdarah dingin. Dari awal mereka muncul sampai aku dan Angelica lolos, kelompok kecil PK tersebut sama sekali tak mengatakan satu patah kata pun—mereka hanya terus memburu dan mencoba membunuh kami berdua.


Ya. Sekalipun aku dan Angelica pada akhirnya memang bisa lolos dari mereka, tetapi apa seorang Anak Diberkati Tuhan Assassin akan membiarkan mangsanya lolos begitu saja?***