RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [3] – [59] New Member Party



Seingatku, mencari Anggota Party baru memang selalu tidak akan pernah mudah.


Namun jika hanya berdua, aku dan Angelica terlalu lemah untuk meng-grinding monster yang lebih kuat, dan sama sekali tidak efisien untuk perkembangan level dia.


Sejak kami bertemu dan diselamatkan oleh Sol. Calon Assassin Heroes. Musuh Utama-ku. Kami berdua tahu kalau kami memang harus terus menjadi kuat untuk bisa mencapai mimpi kami berdua, yakni: Hidup tenang dan damai.


Kami percaya jikalau aku atau Angelica memiliki kekuatan seperti orang itu, kami pasti bisa hidup damai dan tenang di Dimensi Daratan Surga. Game World Guild. Ini.


“Ayo cepet anter aku ke mereka!” desak Angelica, bangkit dari kursi taman, dan langsung berlari pergi tergesa-gesa.


Aku ingin menyanggahnya sejenak,  “Angelica, aku pikir, mereka ...”


“Cepet, ih! Mereka masih ada di Ladang Point Zero, kan?” desak Angelica, lagi, menolehkan tubuhnya padaku.


Ya. Mereka yang kami berdua maksud itu sudah jelas: Ro dan Mo. Dua Kaum NP. NPC. Layaknya aku. Yang selama ini kami memang sudah saling tidak menghiraukan satu sama lain.


Aku berjalan menghampirinya, berkata, “Angelica ..." dan mencoba memberitahunya, "dengarkan aku dulu—“


“Kita coba rekrut aja dulu!” ujar Angelica, sama sekali tidak mau mendengarkan perkataanku, “Dan—ah—waktu senja sudah hampir habis. Nanti mereka keburu pulang lagi .. Ayo cepet, Pope!”


Pusat Desa, Ladang.0.


Namun aku masih ingat jelas, tepat pada saat aku dan Angelica baru saja sampai di sekitar Ladang.0, kami berdua melihat dua sosok Anak Diberkati Tuhan lain sedang menghampiri mereka.


“Ini, nih, NPC yang pernah aku maksud, Jo ...”


“Mmmm ... Ya? Mereka berdua? Coba aku liat dulu,” ujar seorang Anak Diberkati Tuhan Pria mengenakan pakaian serba hijau, dengan tempat anak panah di atas busur hijau bercorak emas yang disandangkan di punggungnya. “Aku pikir Tuan Muda akan senang ... anak-anak ini kayaknya emang cukup punya potensi.”


Ya. Aku tahu jika pemegang senjata panah tersebut memang jelas memiliki: Job Archer.


Mo dan Ro yang dihampiri kedua Anak Diberkati Tuhan tersebut, hanya menatap kosong, datar nan dingin seperti biasa.


Ya. Aku dan Angelica baru saja sampai di Ladang.0.


“Keluarga Wun?” gumam Angelica, mengerutkan keningnya, “Kenapa kita selalu berurusan dengan mereka, sih ...?! Dulu aku diem aja liat ayahmu—tapi sekarang nggak! Aku nggak mau! Cuma mereka berdua yang akan jadi member baru party kita!”


“Hei, Nak,” ujar Anak Diberkati Tuhan Archer, “Kalian berbanggalah .. kalian berdua akan kami jadikan—“


“Tunggu dulu!” sanggah Angelica, berjalan tergesa-gesa ke arah mereka, “Aku juga mau rekrut mereka berdua!!”


Aku pun mengikutinya.


Kedua Anak Diberkati Tuhan yang sama-sama dari Keluarga Konglomerat Wun itu mengerutkan kening saat menatap kami berdua.


Aku mengerti mengapa mereka tidak senang padaku dan Angelica. Namun sampai di memori singkat pada masa dewasaku saat ini pun, aku benar-benar tidak ingat dari mana keluarga konglomerat tersebut muncul.


Angelica tidak pernah menjelaskan itu terlalu detail padaku.


Dia hanya menjelaskan kalau hegemoni Keluarga Konglomerat, Sekte Agama, bahkan Negara Adidaya yang dipimpin oleh Eksekutif Korporat di Dunia Nyata mereka, memang jelas berbeda dengan struktur hegemoni di Dunia Dimensi World Guild ini.


Dan jika itu Struktur Hegemoni di Dunia Dimensi Daratan Surga Permukaan. Dimensi Game World Guild. Sejauh yang aku ingat hanya terdapat empat Keluarga Besar yang memimpin:


1.  Konglomerat Wun Nojo


2.  Konglomerat Soro Dojo


3.  Konglomerat Tang No


Dan yang terakhir, satu-satunya Keluarga Konglomerat yang memiliki Hegemoni Penuh di bawah Eksekutif Korporat. Pun. Merupakan. Para Anak Diberkati Tuhan keturunan murni Pahlawan Pulau Surga Dunia Nyata:


4.  Keluarga Konglomerat Nojo Sukarno


Asal. Rumah. Wilayah. Tempat. Dari segala kedaulatan dan kekuasaan Anak Emas yang sangat disukai Angelica itu.


Kalau tidak salah dia bernama: Mamat? Jikalau aku mengingatnya, entah mengapa, ada perasaan aneh namun asing lagi-lagi menggangguku, yangmana perasaan ini sangat menyesakkan dan masih berasal dari dalam pusat tubuhku. “Nojo Sukarno, huh .. Entah kenapa ... aku ingin menjadi bagian dari Keluarga Besar itu; aku mau jadi seperti dia .. bisa jelas disukai Ang—“


“Nggak ...!! Aku nggak mau biarin kalian ngambil mereka berdua!”


“Ayolah, Nona Muda Tang .. Kami yang pertama nemu pribumi—dua calon umpan daging berharga ini ....”


Suara memekik Angelica memotong gumamanku. Mereka sedang berdebat, memperebutkan Mo dan Ro.


Sedangkan hegemoni Di Dunia Nyata Angelica. Dan. Dunia Dimensi kedua Anak Diberkati Tuhan yang sedang berdebat dengannya itu hanya ada 4 Keluarga Konglomerat yang berafiliasi dengan Korporat.0, yang biasa disebut juga Keluarga Kelas Atas:






Konglomerat Tang No. Keluarga Besar Angelica. Yangmana mereka merupakan pertarung garis depan, Penyedia Sumber Daya Militer sekaligus merupakan Kesatuan Militer itu sendiri. Mereka yang memiliki kasta terendah dari keluarga ini merupakan Penyedia Sumber Daya Kesatuan Keamanan Negara Adidaya.




Konglomerat Jowi Pasco. Angelica hanya menjelaskan padaku kalau ia merupakan penguasa para Elit Politik, Dunia Bawah dan dunia-dunia gelap lainnya di Dunia Nyata.




Konglomerat Nojo Sukarno. Jika di Dunia Nyata Angelica, mereka adalah Keluarga Dibawah Naungan Penguasa Korporat. Yang mana terdapat Elit Negarawan, Pemegang Hegemoni Terbesar serta bahkan merupakan Pertahanan Terakhir Negara Adidaya ada ditangan mereka.




Sukarno. Seperti yang sudah aku bilang, mereka ialah Keluarga Konglomerat yang masih merupakan Keturunan Darah Murni para Pahlawan Pulau Surga.


Dan, ah, ya .. apa yang dimaksud Angelica dengan pulau? Aku bertanya-tanya.


“Kami berdua mau ngebayar mereka pake koin emas!” Angelica tiba-tiba berseru saat pikiranku sedang alang-kabut entah ke mana, “Ro, Mo? Gimana?! Aku nggak mau ngebiarin kalian pergi ke party lain gitu aja.”


Hei? Bukannya kita tidak akan menggunakan koin untuk rekrut anggota baru? Aku merasa heran, menatapnya yang berada tepat di samping kananku.


Kami berdua saling memandang sejenak.


Aku dan Angelica pada akhirnya menatap Mo dan Ro; yang mana mereka menatap kami berdua dengan tatapan kosong dan dingin seperti biasa.


Lalu kemudian, mereka berdua menatap kedua Anak Diberkati Tuhan Konglomerat Wun.


“Apa kamu gila?!” bentak Anak Diberkati Tuhan Archer, mengerutkan keningnya, “Untuk Pribumi layaknya mereka, diberi Nut Point Zero aja udah sangat untung, bodoh!”


Namun, Anak Diberkati Tuhan Sniper di sampingnya malah acuh saat menatap jam quantum di tangan kirinya.


“Jo ... Tuan Muda nyuruh kita segera kembali. Ayo pergi!"


“Tapi—“


“Aku pergi .. Kalau masih mau berdebat dengannya, ya, silahkan—daahh ...”


Sniper itu menghancurkan sebuah batu bercahaya biru di genggaman tangannya, lalu kemudian tubuhnya langsung berubah menjadi poligon-poligon biru dan perlahan lenyap begitu saja.


“Cih.”


Anak Diberkati Tuhan Archer itu menatapaku dan Angelica dengan tatapan tajam nan dingin—dan ada sedikit niat membunuh yang kurasakan dalam tatapannya tersebut; lalu kemudian dia melakukan hal yang sama—menyusul rekannya.


“Urkh? Kenapa orang itu harus decakin lidahnya, sih!” gerutu Angelica, namun dia langsung kembali tersenyum saat melihat aku, Mo dan Ro, “Tapi kita semua mulai dari besok akan jadi party baru, oke? Hehehe ...”


Meskipun aku tahu Pada akhirnya kami memang akan menjadi kesatuan party utuh, ini sama sekali tidak akan mudah dan berjalan dengan lancar begitu saja.


Namun kedua Pribumi Daratan Surga layaknya aku, malah mengabaikan Angelica yang sedang semangat-semangatnya, dan hanya menatapku.


Salah satu dari mereka. Mo. Berkata padaku, "Jadi apa yang kamu lakukan selama ini ... cuma menjadi umpan dagingnya, Pope?"


Kesampingkan apa yang Anak Pribumi berambut hitam sebahu itu tanyakan, aku entah mengapa pada saat ini tiba-tiba merasakan perasaan yang tak nyaman saat kedua anak itu bergabung menjadi Anggota Baru Party Kecil aku dan Angelica.


“Mungkin,” balasku, menajamkan pandanganku padanya.


Ya. Susuan Party Kecil aku dan Angelica pun pada akhirnya mulai akan benar-benar berubah.


Angelica yang memperhatikan ketidaknyamanan situasi antara aku dengan Mo dan Ro, malah hanya mengeluarkan suara dengungan dari dalam mulut tertutupnya, “Ng ...” lalu kemudian dia menatap kami bertiga, dan bergumam sambil menyentuh dagunya sendiri, “Akan lebih baik kalo kalian jadi kecil lagi aja kayak dulu, sih, jadi kita semua bisa—hehehe ....”


Ya. Kami bertiga tiba-tiba serentak mundur selangkah darinya—ketakutan.***