
Ya. Rotzell bertanya padaku apakah aku membutuhkan bantuan-nya atau tidak.
Tentu saja tidak.
Dia menggenggam kepala Xiao Tang No. Spear-Man Heroes. Yang disambungkannya ke sebuah rantai hitam.
Itu sangat cepat, huh, demikian pikirku, sedari tadi menatap pria itu dengan tatapan tajam nan dingin.
Rantai Hitam itu adalah Item Artefak. Yangmana jika disambungkan ke Energi Inti Anak Diberkati Tuhan, Skill Respawn mereka tidak akan bisa diaktifkan lagi.
“Jadi ...”
Suara ini? Sialan. Aku sangat mengenalnya. Dia ada di sini?
“Kau ada di sini, NPC bau!?”
Di mana dia? Aku memperhatikan sekitarku; memasang posisi waspada penuh.
“Hahaha. Kau tidak bisa melihatku, huh, sialan. Berkat kesalahanmu selalu berada di samping Angelica—dia benar-benar menghilang di Dunia Nyata!”
“Menghilang? Apa maksudmu, wahai Pahlawan Pengintai?”
Musuh Utama-ku datang, aku, entah mengapa, tiba-tiba mengeluarkan sebuah emosi. Angelica menghilang? Ke mana Dia pergi?
“Hahahaha!” tawa Dry—yang entah mengapa dia tertawa. “Kau sama sepertiku ... memiliki emosi, Pope!”
Aku tahu, pikirku, mengepalkan tanganku. “Ia bernama: ‘Amarah’.”
Ya. Rasanya sungguh memuakkan.
Namun terlepas dari itu, seharusnya dari awal aku sadar bahwa Assassin Heroes berada dipihak Sekte Sesat.
Ya. Dia yang berada di hadapanku ini yang memicu emosi bernama amarah tersebut.
“Kau mempunyai emosi, NPC bau?! Dasar menjijikkan, sialan ...”
“Aku tahu,” pungkasku, mengalihkan pandanganku ke arah dua Pahlawan Wanita yang terpojok. “Aku tahu ini memang sangat menjijikkan—kan—wahai Pahlawan Wanita?”
Menenangkan diri di saat-saat seperti ini memang keahlianku. Namun aku sebenarnya tidak melihat ke para wanita di hadapanku. Aku mulai bisa melihat sedikit siluet hitam Assassin Heroes di belakang mereka berdua.
“Cih. Kami tidak akan menyerah!”
“Ya! Walaupun kami hanya Petarung Jarak Jauh—“
Kedua wanita itu bersikeras meskipun dua musuh di hadapannya telah mengepungnya.
Tetapi tiba-tiba, tengkuk kedua wanita itu digenggam seseorang.
Kedua Pahlawan Wanita itu serempak merinding dengan wajah suram nan panik.
“Halo, cantik ... Apa kabar?”
Menyapa dengan riang seperti itu, Musuh Utama-ku. Assassin Heores, tiba-tiba menampakkan dirinya di belakang kedua Pahlawan Wanita itu.
Dan tepat si sampingku, kedua tangan Pendekar Pedang Aneh tiba-tiba langsung menghunus Pedang Hitam Tajam-nya. Dry langsung memasang posisi bertahan.
Ya. Aura Pembunuh Pahlawan Pengintai memang sangat berbahaya, pikirku, kembali mengalihkan pandanganku ke tiga musuhku, Tidak heran si Dry jadi sangat serius seperti ini ...
Saat keadaan menjadi sangat mencekam dan bisa pecah menjadi pertarungan kapan saja seperti ini, seseorang maju ke hadapan mereka berdua.
“Kita harus menyelesaikan ini segera, Tuan,” ujarnya, mengangkat topi hitam kerucut anehnya.
Dia mengenakan topi hitam kerucut aneh tetapi dia bukan si Mo.
Dua rekan party-ku masih berada di luar Tower Energi—karena aku dan si Dry terlalu cepat.
Aku tahu pria itu bernama: Soro.
Seorang Magic Crusemancer dan Tangan Kanan Rotzell. Merupakan Anggota Terhormat Sekte Sesat dari awal dia memasuki Daratan Surga.
“Oh ... Itu kau, Sor,” tukas Rotzell, memberikan Kepala Pahlawan Tombak ke antek di sampingnya. “Aku harus minta maaf ... Pria itu berhasil lolos.”
“Itu tidak aneh, Tuan.” Cursemancer Sekte Sesat itu menggeleng. “Pahlawan Nasional Utama memang pahlawan yang paling kuat dari semua Pahlawan Daratan Surga.”
Mamat masih hidup? Aku dan Assassin Heroes serentak terkejut.
Rotzell terkejut. “Mamat masih hidup?!”
“Ya ...” Suara pria serak nan parau yang sangat tidak asing, terdengar oleh semua orang di ruangan ini. “T-tentu aku ...”
Kami semua secara refleks menoleh ke asal suara tersebut.
“Tentu ... aku ... masih hidup.”
Pria tampan itu sekarang babak-belur. Zirahnya compang-camping dan sebagian darinya telah hancur.
“”Mamat ...!?!””
Kedua Pahlawan Wanita di depan Pahlawan Pengintai, berteriak khawatir, tetapi dari pandangan mata mereka muncul sebuah harapan.
“Mamat. Sialan!? Kenapa kamu bisa—“
Pahlawan Pelindung itu masih terengah-engah. Dia masih tidak bisa mengucapkan sesuatu—dan ...
“Anda benar di sini!”
... Seorang wanita di belakang Mamat, berteriak seperti itu.
Rotzell tiba-tiba bertanya dengan lembut ke wanita yang baru datang tersebut, “Siapa kamu, cantik?”
Entah mengapa, mata biru Rotzell yang awalnya sangat lembut menatapnya tiba-tiba langsung berubah menjadi sangat tajam.
“Apa kamu yang menyelamatkan pahlawan busuk ini, wanita sialan?!?” bentak Rotzell, menunjuk ke Mamat.
Emosi pria itu secara tiba-tiba berubah total dalam sekejap. Dari emosi lembut menjadi amarah yang langsung memuncak. Wajahnya memerah dengan urat leher yang menonjol seperti sedang menahan sesuatu yang akan keluar dari tenggorokannya.
“Kembalikan Pina padaku ...”
“Pina ...?”
Rotzell memasang ekspresi bingung namun dengan wajah yang masih menunjukkan puncak amarahnya.
“Aku bukan,” kata Cleric Wanita itu, yangmana memang sedari awal dia baru tiba di ruangan Tower Energi ini, dia menatap Assassin Heroes, “bicara padamu ... Aku katakan sekali lagi, Tuan Sol, kembalikan—“
“Oh!? Aku mengerti, aku mengerti ...” tukas Rotzell, akhirnya bisa kembali tenang, setelah dia sepertinya dia menyadari sesuatu, "Bagaimana aku bisa melupakanmu, Sayangku!? Huh, ternyata kamu di ... Kau memang Pahlawan Nyata, ya, Master Vanguard Mamat?”
Pandangan semua orang beralih ke pria tampan itu. Mamat.
“Apa yang kamu lakukan itu Kejahatan Besar, Rotzell,” tegas Pahlawan Nasional Utama dengan tenang, “Menyerahlah ... Aku pasti tidak akan kalah di sini.”
Dunia asal mereka?
Namun kemudian—dengan sangat tiba-tiba—dua Mata Pisau Hitam mencuat keluar dari masing-masing kerongkongan dua Pahlawan Wanita di hadapan kami.
“”Kenap—“”
Assassin Heroes membunuh dua rekan pahlawannya begitu saja.
“Itu Hidden Blade yang sangat indah, Tuan ...”
Dua Hidden Blade di pergelangan tangan Assassin Heroes dipenuhi darah.
“Apa aku harus minta maaf padamu, Rin?” tanya Sol, memasang ekspresi yang sangat dingin.
Mayat kedua Pahlawan Nasional Wanita itu pun langsung menghilang menjadi poligon-poligon warna hijau dan silver, lalu mereka perlahan menghilang di udara begitu saja.
Mamat, Rina, pun aku melebarkan mata.
Pria tampan itu bahkan belum bicara apa-apa ke Assassin Heroes. Dia tampak masih sangat kelelahan dan penampilannya sekarang yang sangat menyedihkan.
“Sol ...”
“Tuan Sol ....”
Pahlawan Pengintai itu menghilang menjadi abu, lalu muncul di belakang wanita terakhir di ruangan ini.
“Kenapa. Kau ...”
Entah mengapa aku merasakan hal aneh di dadaku lagi, saat melihat Assassin Heroes tiba-tiba mendekap Cleric Wanita, yang mirip Angelica itu.
“Hahahaha. Kau marah lagi, Pope! Apa kita langsung bantai saja semua orang di sini?”
Aku mengabaikan Pendekar Pedang Aneh di sampingku; Hanya terus mengepalkan kedua tinjuku dengan erat.
“Apa? Kau menginginkan Rina juga, huh, NPC bau?”
“Lepaskan a—“
“Diam!”
Tidak. Ini bukan perasaanku seperti ke Angelica. Dia hanya perempuan yang mirip denganNya.
"Lepaskan dia, Tuan. Wanita itu milikku," ancam Rotzell, maju selangkah ke depan dengan sopan.
Assassin Heroes itu mengabaikan kedua orang yang menggertaknya; Menjilat wajah Crelic Wanita itu dengan penuh nafsu.
“Milikmu? Hei, Rin ... Orang rendahan itu bilang kamu miliknya!? Hahaha. Itu sangat lucu, sialan—dan hei, NPC ba—“
“SOL ...!!!”
Bukan aku yang berteriak geram seperti itu, pun juga bukan Rotzell.
“Berisik kau, Mamat, sialan! Dan kenapa juga kau harus masih hidup, sih,” decak kesal Pahlawan Pengintai, “Cih. Aku tidak punya pilihan lain ....”
Dia memunculkan sebuah Black Cube di telapak tangannya yang menghadap ke atas.
Mengapa dia mengeluarkan benda itu? Walaupun Item Teleportasi sejenis itu memang langka, tapi ia tidak bisa dipakai untuk bertarung ataupun—
“Kita harus melenyapkan benda itu, Pope,” desak Dry, tiba-tiba.
Entah mengapa perasaanku menjadi sangat tidak enak.
“Aku juga memikirkan hal yang sama—“
Tanpa menyelesaikan kalimatku, aku dan si Dry langsung menerjang ke arah Assassin Heroes.
Namun, Rotzell dan Tangan Kanan-nya langsung menghadang kami berdua.
“Lebih baik Anda tidak menggunakan itu dulu, Tuan!”
“Ya!! Kami masih bisa—“
“Kau mati,” jerit Pahlawan Mamat, terlihat sangat frustrasi, “SOL ...!!!”
Dia menerjang Assassin Heroes, seraya mencoba untuk menebas dengan pedang kecil rapuhnya.
“Aku sudah lama ingin membunuhmu, Mat ...”
Dia melempar Rina ke samping dan menusuk tubuh bagian depan Pahlawan Nasional Utama.
Mamat sangat marah, frustrasi dan putus asa. Wajah tampannya menghilang sepenuhnya. Darah merah mengucur dari mulutnya, lalu menetes ke bahu Pahlawan Pengintai.
“Sol ... K-kau harus selalu ingat—aku. Menjadi. Pahlawan Nasional .. Utama .. Bukan karena hanya bisa ... b-bertahan ...”
Saat aku dan si Dry bertarung melawan kedua Petinggi Sekte Sesat, aku mendengar Pahlawan Pelindung berkata seperti itu dengan sangat tenang.
Apa yang terjadi, pikirku, melirik dua Hidden Blade di tangan Assassin Heroes masih menancap di dada Mamat. “Dengan itu. Bukankah Pahlawan Nasional Utama sudah—“
Kami semua terkejut; Assassin Heroes mundur.
Kami melihat darah yang keluar dari mulut dan tubuhnya berubah menjadi hitam.
Kami semua langsung mengerti ada sesuatu yang tidak beres.
Tetapi aku jelas tahu apa yang terjadi padanya. Ia mimpi buruk untuk seorang kesatria yang mempunyai Kutukan Kuat:
Noir Soldat—Kesatria Hitam
Aku sedikit lengah dan ditambah lawanku adalah Rotzell. Dia menendangku dengan sangat kuat, dan dia langsung kabur terlebih dulu.
Dry—dan Mo serta si Ro yang baru masuk ke ruangan ini berteriak serempak, “Pope,” tepat saat melihatku terpelanting, lalu kemudian terlempar sampai ke jangkauan serangan Noir Soldat.
Mamat langsung menebas kepalaku, kemudian langsung menendang tubuh tanpa kepalaku ke samping dengan tendangan memutar.
“Ah?” desah pasrahku. Sial. Ini ... yang ke-dua kalinya kepalaku ditebas?
Kepalaku yang jatuh di lantai dipungut oleh Assassin Heroes. Dia tersenyum menjijikkan tepat di hadapan wajahku.
“Akhirnya kau mati juga ...”
Sialan, ia terlalu cepat untukku yang sekarang, demikian pikirku, mengabaikan senyum menjijikkannya. Lalu seraya Pahlawan Pengintai mencengkeram kuat kepalaku, pandanganku mulai terhalangi poligon-poligon jiwaku.
“... NPC bau—“
Ya. Aku mati lagi.***