
Aku berkata, “Angelica,” sambil menatap sekitarku. Berupa Taman Kumuh. Pusat Village.0, Negara Adidaya [3] tempat yang sering aku dan dia datangi sedari aku kecil sampai pada saat ini.
Ya. Pun jelas aku tidak sendirian di sini.
“Ng? Apa, Pope?”
Ya. Yang menjawabku adalah seorang wanita cantik mengenakan zirah putih susu, namun, sedari aku kecil dia sama sekali tidak berubah, dia masih merupakan seorang penyihir.
Penyihir Putih. White Magician - Tier.2.
Aku bertanya, “Para anak diberkati tuhan benar-benar tidak bisa keluar dari Daratan Surga ini,” kemudian menengokkan kepalaku padanya, “ya?”
Penyihir Putih tersebut duduk di sampingku. Kedua mata emasnya sangat menakjubkan nan indah. Sekali melihatnya, entah mengapa pandanganku sama sekali tak akan pernah bisa lepas dari mereka.
Di masa dewasaku ini kami menjadi rekan; Aku dan Angelica adalah rekan. Namun entah mengapa, ada perasaan yang asing, sama sekali tidak aku mengerti, lagi-lagi muncul di pusat tubuhku pada saat aku bilang kata: ‘rekan’.
Ya. Hanya rekan party. Hanya kami berdua. Sebab tidak ada yang mau bergabung dengan party yang beranggotakan NPC lemah sepertiku, benar?
Dan lagi Angelica tidak mau melepaskanku begitu saja. Padahal aku sudah dewasa, yang memang aneh, bukan?
Duduk di kursi taman kumuh bersamaku, Angelica mengangguk, memandang langit senja kembali.
“Iya ... Kami nggak bisa kembali ke Dunia Nyata—aku nggak bisa pulang.”
Nada suaranya berubah menjadi sangat sedih dan melankolis. Aku melihat sorot kedua mata emasnya bahkan mulai memudar.
Ya. Mata, tubuh dan pakaian yang dia kenakan masih sama dengan pada saat dia telah bilang tentang ’update avatar’nya.
Sedangkan aku?
Ya. Aku sudah pasti akan—
“Ah?!”
—Ada suara anak-anak kecil yang tiba-tiba menarik perhatian Angelica. Para anak kecil yang sedang berlarian melewati Taman Kumuh. Mereka lumayan dekat dengan posisi kursi taman panjang yang kami duduki.
Ya. Aku pada akhirnya tahu kalau apa yang dilakukan anak-anak tersebut memang sudah menjadi fenomena biasa di setiap desa. Menjual sisa kacang bercahaya hasil panen dari ladang yang kakek mereka tanam berupa Energi Mentah.
“Mereka itu kayak kamu dulu, lho, Pope,” papar Angelica, “Tapi kamu waktu kecil cepet banget larinya! Aku sampe capek ngejar-ngejar kamu—untung—kamu mau nge-jual kacangmu ke aku.”
Aku hanya berkedip beberapa kali, kemudian menatapnya dengan tatapan kosong dan dingin seperti biasanya.
“Mereka melemah, ya ....” desah Angelica, menggeleng.
Tidak ada yang bisa aku lakukan. Kami—NPC. Memang telah lama dijajah oleh kaum Angelica. Mereka—Player.
Tapi aku rasa ... sampai saat ini tidak apa kalau kami tetap dipimpin hegemoni mereka, demikian pikirku.
Aku mengalihkan pandanganku darinya ke para Penjaga Gerbang Perbatasan. Beberapa dari mereka telah berganti. Tetapi aku masih ingat siapa saja dari penjaga tersebut yang masih bertahan.
Setelah hanya tinggal tiga Negara Adidaya tersisa, aku rasa Anggota Korporat mana pun memang bukan pemegang hegemoni yang buruk. Inilah apa yang aku pikirkan bila Angelica berada di sampingku.
Aku tidak tahu ke depannya, tapi aku pikir ini akan baik-baik saja? Kami hanya perlu bekerja lebih keras untuk mereka, demikian pikirku pada saat-saat tenang dan damai seperti ini bersamanya.
Melihat kembali ke Angelica di sampingku, ekspresi di wajahnya tiba-tiba berubah aneh. Dia bahkan sedikit menganga dengan wajahnya yang mulai merona saat melihat anak-anak masih berlarian di Taman Kumuh.
Ya. Waktu aku sumuran anak-anak tersebut, aku pasti ketakutan jika ditatap olehnya seperti ini.
Dia seperti ingin memakan anak-anak kecil itu hidup-hidup dan tidak mau menyisakan satu pun.
Ya. Namun, mengapa aku masih saja merasa takut? Ini hanya memori masa dewasaku—seharusnya aku biasa saja, kan?
“Daripada aku nantinya kelepasan nyulik salah satu dari mereka—grinding aja, yuk!”
Dia bangkit dari kursi taman dan langsung berjalan sambil terkekeh menakutkan.
Apa katanya tadi? Aku membelalak, menatap punggung indahnya.
“Ke tempat biasa, Pope!” ajaknya, menolehkan tubuhnya padaku, “Ayo cepet kejar aku!"
Dia berbalik kembali dan langsung berlari; Aku yang kembali tersadar pun langsung berlari mengejarnya.
Ya. Namun aku tahu dan masih ingat jelas, jika situasi di Daratan Surga Permukaan setelah ketenangan dan kedamaian ini akan langsung berubah drastis menjadi sangat mencekam saat para Red Name, Sekte Sesat, serta anomali Anak Diberkati Tuhan lainnya masuk ke Daratan Surga.
Berkat Sekte Sesat penyembah para iblis itu, Pribumi Daratan Surga merampok Anak Diberkati Tuhan; atau pun sebaliknya bukan lagi akan menjadi hal yang asing pada era di mana aku telah dewasa ini.
Ya. Pun aku ingat jelas kalau situasi yang akan aku dan Angelica alami setelah ini akan sangat merepotkan.
**
“Ya! Sialan ... Ini ternyata lebih merepotkan dari yang aku kira ....” umpat seorang pria berambut silver, mengenakan zirah vanguard berwarna selaras dengan warna rambutnya. “Apa aku masih bisa membuat jarak yang lebih lebar dari Anak Emas itu, ya?”
Namun berbanding terbalik dengan berbagai jenis equipment yang dia kenakan berwarna silver-silver berkilauan, Senjata Kapak Merah Besar dipegangnya berwarna dasar hitam dengan bilah ganda merah darah.
Dia berlutut seperti akan tumbang—terlihat sangat kelelahan, menggenggam Kapak Merah Besar-nya sebagai penopang yang ujung gagangnya menancap kuat ke tanah.
Darah merah, hijau, serta ungu bercampur menyelimuti Kapak Merah Besar dari bilah ganda sampai ke batang dan gagang hitam yang digenggamnya.
Nanang. Anak kecil berambut silver itu. Beserta Kapak bilah ganda yang merupakan senjata utamanya pun telah tubuh besar.
Namun, wajah Nanang tampak sangat suram dan kelelahan sebab dia telah berlatih dan juga leveling mati-matian di Game World Guild.
“Nyatanya gim ini sangat sialan—ceritanya gak jelas, nama NPC-nya gak jelas, bentuk bangunannya absurd—uh,” umpat Pria Kapak Merah itu, lagi, mengerucutkan bibir, “Kalau bukan karena aku ingin melampaui Anak Emas itu, aku gak mau main gim ini. Dan kenapa, ya, rasanya sulit banget bahkan cuma grinding kelompok monster Class A—arghh ... sial.”
Dia menggelengkan kepala sambil menyandangkan Kapak Merah Besar di punggungnya secara menyilang.
“Mulai dari sini aku harus buat party, huh,” gumamnya, seraya berjalan di antara tumpukan mayat monster dan aliens, yang masing-masing dari mereka merupakan Monster dan Aliens Class B serta kelas monster di atasnya.
Nanang baru saja membantai mereka dengan sekali serang. Terlihat jelas dari mayat-mayat monster tersebut yang baru saja mulai terpecah menjadi poligon-poligon biru, dan mereka akan lenyap di udara.
Dia kemudian merenung, duduk bersila tepat di tengah-tengah hutan mati.
“Levelku sebentar lagi mencapai ambang batas. Setelah level-ku di Tier ini maksimun, aku akan langsung nantang quest untuk Tier 4—maaf—Mat—aku duluan lagi!”
Dia menyeringai penuh percaya diri.
Lalu tiba-tiba, sebuah panel biru berbentuk persegi panjang muncul di hadapannya. Dia melihat item dan loot yang telah dia dapatkan dari meng-grinding monster sepanjang hari.
“Ng ...” gumamnya, melihat deretan daftar Anak Kelas Atas dari Keluarga Besar-nya sendiri, “Apa aku harus masukin anak dari keluarga lain juga?”
Dia menggeleng, menolak gagasannya sendiri.
“Aku pikir itu ide yang buruk,” lanjutnya, selesai memilih beberapa Anak Kelas Atas untuk bergabung menjadi anggota party-nya sendiri.
Dia pada akhirnya tiba tak jauh di atas Negara Adidaya [1], dan terus berjalan menuju Wilayah Khusus Keluarga Besar-nya. Kediaman Konglomerat Soro Dojo.
Selepas World Guild mengalami Insiden Besar. Lock World. Keluarga Besar Konglomerat Pria Kapak Merah itu. Nanang Soro Dojo. Menjadi salah satu Keluarga Konglomerat yang membuat hegemoni-nya sendiri di Daratan Surga.
Hanya tiga level lagi, aku akan jauh melampaui Mamat, demikian pikirnya, menapaki anak tangga dengan penuh semangat.
Tepat di samping anak-anak tangga yang dia pijak, terdapat kawah besar dengan sebuah Tower Metal Hitam Silinder menjulang tinggi menembus langit. Ia merupakan Negara Adidaya [1]. Sebuah wilayah berkedaulatan negara yang dikuasai oleh para Eksekutif Korporat.
Pria Vanguard. Berseker itu. Nanang. Berencana untuk segera menaikkan Level—bahkan Tier-nya. Ia sedikit lebih awal dari jadwal yang Keluarga Besar-nya telah tetapkan.
Nanang Soro Dojo mengumpulkan beberapa Anak Kelas Atas dari Keluarga Konglomerat-nya sendiri.
Pria Kapak Merah itu merupakan player pertama yang berhasil menapaki ranah Tier.3, sejauh yang dia dan Keluarga Besar Soro Dojo tahu; Sedangkan Mamat. Anak Emas itu sendiri. Menurutnya masih jauh untuk biasa mengejarnya.
Tidak mungkin, kan? Mamat bisa ngejar level-ku, demikian pikirnya, menapaki anak tangga terakhir.
Apa yang dia tahu beberapa waktu dia meng-grinding dan leveling di Field Dungeon, Mamat sedang menyelesaikan sebuah quest penting dan baru saja memasuki Tier.3—masih cukup jauh di belakangnya.
“Tes untuk menerobos Tier 3 gak mudah,” gumamnya, menengok ke samping, melihat Tower Energi masih terlihat kendati jaraknya nun jauh dari halaman kediamannya, “Gak mungkin dia bisa ngejar—“
Namun, tepat pada saat dia akan membuka pintu kayu mewah kediamannya, seorang pria paruh baya berpakaian bulter berteriak tiba-tiba sembari berlari ke arahnya.
“Tuan Muda! Ini gawat! Mamat sudah mulai menantang Tier 4-nya!”
“Apa katamu?!”
Nanang langsung menoleh padanya, dengan kedua matanya membelalak.***