RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [2] – [27] Anak Emas (1/3)



Greatest Kingdom [0]


Wilayah Kekuasaan Kerajaan yang sangat besar—lebih besar dari wilayah kekuasaan Negara Adidaya Daratan Surga Permukaan. Dan tidak hanya melingkari Central Town dengan Tower Energi sebagai pusatnya, bangunan para penduduk di wilayah kekuasaan tersebut lebih banyak di bawah lapisan tanah, dengan berbagai hamparan Distrik, Desa serta Kota bawah tanah—layaknya lapisan lantai-lantai basemen dalam bangunan bertingkat.


Dengan bantuan salah satu Tuan Muda dari Keluarga Konglomerat Tang, Nanang pasti akan lebih mudah untuk meyakinkan player-player yang akan menjadi Pahlawan Nasional Baru.


“Jadi,” tanya Nanang, “Apa Tuan Muda tahu pertama-tama kita harus pergi ke mana?”


Tang Tang No, yang akan memasuki Aula Teleportasi, tiba-tiba terdiam.


“Apa kamu bodoh?” umpat Pria Tombak Silver itu, menoleh padanya. “Kita cari informasi ke orang-orang di masing-masing Keluarga Konglomerat lah ....”


Persis seperti apa yang dikatakannya, yangmana memang cukup mudah untuk mencari informasi pemegang Quest Legendary National Heroes. Sebab ia pasti hanya akan dipegang oleh tuan muda - tuan muda terbaik dari Keluarga Konglomerat di Dunia Nyata.


Mereka masuk ke Aula Teleportasi, dan langsung berteleport kembali ke dalam Wilayah Kerajaan.


Lalu mereka pergi menuju Katedral Utama Kerajaan terlebih dulu, karena sudah menjadi informasi umum di mana tempat Umat Beragama—Sekte Agama—tujuan pertama mereka berada.


Ya. Mereka berdua akan menemui pemegang Quest Legendary: Healer Heroes.


Namun berbeda dengan Daratan Surga Permukaan, di mana Wilayah Sekte Agama berada di Wilayah Khusus yang berada di luar Wilayah Kekuasaan Negara Adidaya, Wilayah Sekte Agama di Greatest Kingdom [0] berada di dalam Wilayah Kerajaan dan sangat diterima oleh mereka.


Pun Bangunan Katedral Dewa Rohani di Greatest Kingdom memang terlihat lebih megah daripada Kuil Dewa Perang.


Begitu mereka berdua memasukinya, mereka langsung melihat patung-patung marmer putih berbentuk Dewa & Dewi, mengelilingi aula yang sangat luas nan megah.


Namun, Nanang dan Tang Tang No tak disambut dengan baik oleh para Umat Beragama di sana.


Kendatipun sangat sulit untuk diajak bicara, Nanang menjelaskan ke mereka tentang situasi mendesak di Medan Perang Garis Depan dewasa ini. Dan setelah dia terus mendesak, pada akhirnya, dia berhasil mendapatkan informasi siapa saja pemegang Quest Legendary National Heroes.


Setelah mendapatkan informasi tersebut, Nanang juga pergi ke berbagai Distrik Kerajaan serta Wilayah – Wilayah Khusus lainnya.


Beberapa dari mereka sangat enggan dibantu oleh Nanang; Beberapa dari mereka enggan karena harga diri mereka terlalu tinggi; Dan juga beberapa pertarungan terjadi setelah kedua belah pihak sedikit cekcok. Namun terlepas dari semua penolakan itu, karena adanya Tang Tang No, mereka semua pada akhirnya menerima walau harus sedikit menggertakkan gigi.


Secara keseluruhan, dikarenakan penjelasan Nanang dan Tang Tang No akan adanya bahaya Perang Besar, Calon - Calon Pahlawan Nasional setuju untuk dibantu.


Pun mereka semua memang tak ingin berakhir sama seperti 7 Pahlawan Nasional sebelumnya.


Setelah berhasil mengumpulkan sekaligus meyakinkan para Pahlawan Nasional untuk bersatu, Nanang bersiap untuk membantu menyelesaikan Quest Legendary mereka.


Dulu ... sebelum Insiden Besar terjadi, gim ini sangat menyenangkan—tapi beberapa waktu ini rasanya ... Tapi ... aku pikir ini akan jadi menyenangkan kembali! Aku akhirnya bisa menjadi Pahlawan Nasional—dan lagi sekarang aku seorang Pahlawan Nasional Utama!


Dengan wajah berseri-seri, Nanang memandang rekan-rekan barunya:


Saber, Tomi


Spear, Tang Tang No


Sniper, Siti


Archer, Sena


Assassin, Soi


Healer, Qinarti


Kecuali Nanang—Pahlawan Nasional Utama. Vanguard Heroes, Calon - Calon Pahlawan Nasional di hadapannya sedang berbincang tentang situasi keluarga dan quest mereka masing-masing.


Mereka semua berkumpul di Aula Teleportasi Wilayah Khusus Kuil Dewa Perang.


Mulai dari sini, Pahlawan Nasional Utama itu akan mulai membantu menyelesaikan Quest Legendary mereka.


Namun Tang Tang No, pada akhirnya masih belum menyelesaikan quest-nya. Dia satu-satunya yang bukan seorang National Heroes.


Main Story Quests


“Itu quest-ku,” papar Tang Tang No, menampilkan panel quest-nya ke para Pahlawan Nasional Baru, “Seperti yang kalian lihat, ini akan sangat sulit.”


Nanang dan para Pahlawan Nasional lainnya melihat bagian pertama quest tersebut telah diselesaikan Pria Tombak Silver itu sendiri—dia sudah selesai melatih NPC – NPC Guardian dan mereka semua sudah siap untuk berperang. Untuk Nanang, itu tidaklah aneh, tetapi para Pahlawan Nasional di sekitarnya berwajah suram saat melihat kata:


Perang!


“Quest yang bagus,” seru Nanang, menatap ke langit dengan tatapan tekad penuh, “Setelah Perang Besar, kemungkinan terjadinya Perang Dunia sangat tinggi—jadi kita harus bersiap—setidaknya—sebelum itu terjadi, minimal kita semua harus bisa mencapai ranah Tier lima!”


Dia berjalan tepat di belakang Tang Tang No, sembari menyemangati Pahlawan Nasional Baru lainnya. Namun Pria Tombak Silver itu tiba-tiba menoleh ke belakang, memasang wajah tidak senang setelah mendengar seruannya itu.


Tang Tang No dengan tegas mengingatkan, “Apa kamu tidak baca? Quest-ku termasuk Jalan Cerita Utama gim ini. Yaitu mendeklarasikan perang antara Geatest Kingdom [0] melawan Elf Guild [11].”


Nanang sedang menoleh ke belakang, masih terus mengoceh, “Dan. Ini. Pasti quest terbaik untuk meningkatkan level skill serta kempunan kita! Dan musuh kita cuma—Apa!?” Dia terkejut, mata merahnya yang membelalak langsung menatap Pria Tombak Silver di depannya, “Guild? Maksudmu. Serikat?!! Bukannya mereka udah musnah oleh Anak Emas dari Keluarga Konglomerat Nojo Sukarno?! Kalian semua tahu, kan, Anak Emas itu si—”


**


“—Mamat?”


Seorang anak kecil berambut putih dari Keluarga Konglomerat Soro Dojo, meneriakkan nama itu dengan penuh semangat.


“Ya. Dia adalah anak, yang menjadi Anak Emas dari Keluarga Konglomerat Nojo ... Para Eksekutif Korporat sangat menyukai anak itu.”


Seorang wanita paruh baya telah menjelaskan semua kekuatan serta rival-rival Keluarga Besar si anak berambut putih. Dia menjelaskan semua hal itu, seraya terus menyerang anak tersebut menggunakan Pedang Kayu.


“Tuan Muda Nanang harus paham kalau Mamat dari Keluarga Konglomerat Nojo Sukarno memang bukan lawan yang mudah.”


Nanang kecil saat ini sedang dilatih oleh Kepala Pelayan Keluarga-nya. Sina. Wanita paruh baya itu merupakan pelatih dasar di Keluarga Konglomerat Soro Dojo sekaligus kepala pelayan keluarga tersebut.


Kendatipun mereka berdua berbincang cukup santai, pertarungan antara anak kecil yang menggunakan Kapak Kayu melawan wanita paruh baya menggunakan Pedang Kayu terus berlangsung.


Sina beberapa kali mengoreksi gerakan serta teknik bertarung Nanang kecil.


Kendatipun anak kecil berambut putih itu sedang dilatih, mereka bertarung dengan sangat intens; Dan meski seorang wanita, Sina mengenakan pakaian bulter layaknya kepala pelayan di keluarga konglomerat pada umumnya.


“Gerakan Anda mulai kaku, Tuan Muda.”


“Gak! A .. A-aku—Ugh!?” Terkena pukulan telak, Nanang terpental cukup jauh, “Ugh-h ... Masih kuat, Sina! Ayo lanjut!!”


Dia menerjang kembali wanita di hadapannya walaupun wajahnya terlihat sangat kelelahan, dan tubuh kecilnya penuh dengan lebam ungu.


“Anda beneran masih kuat?”


“Ya! Aku ... aku—aku yang akan jadi Pahlawan Nasional berikutnya!!”


Dia bersumpah seperti itu seraya terus mengayunkan Kapak Kayu Kecil-nya.


“Bu, Tuan Muda ... Sebentar lagi pertemuan dengan seluruh Anggota Korporat akan dimulai.”


Latihan mereka berhenti seketika saat seorang anak perempuan berpakaian maid menghampiri mereka berdua, dan mengingatkan tentang hal itu.


“Aku bingung kenapa keluarga kecilku bisa diundang di Pertemuan Akbar itu—tapi ini sangat bagus! Aku bisa melihat orang-orang hebat dari generasiku!”


Nanang kecil masih penuh dengan semangat walau sekujur tubuhnya penuh lebam dan luka terbuka.


“Oke. Tuan Muda segera masuk Kapsul Regen, saya akan menyiapkan hal-hal lainnya.”***