RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [2] – [33] Masa Kecilku 《3/3》



Aku hanya berdiri dan terdiam menatap Ro dan Mo pergi tanpa menoleh sedikit pun.


Ya. Entah mengapa aku merasakan hal aneh sekarang ini. Aku sama sekali tidak bisa mengejar mereka. Kedua kakiku seperti terpaku di tempat.


Tidak ada pilihan lain, selain menunggu mereka pergi, kah?


Ya. Sekarang, entah mengapa aku hanya terpaku di tempat ini.


Padahal ... aku masih ingin makan bola kecil berwarna cyan itu, demikian pikirku.


Aku, ingin memakannya lagi? Kenapa aku harus makan itu?


Kembali ke Gerbang Perbatasan, namun aku menemukan Penjaga Gerbang Anggota Korporat telah pergi entah ke mana.


Aku hanya bisa menunduk dan berbalik—tetapi—sebuah cahaya putih terlihat olehku.


Apa aku bisa menjual kacangku padanya? Aku berlari menghampiri cahaya tersebut.


Ya. Tidak ada yang aneh dengan hal ini.


Aku sudah beberapa kali mengintip dan melihatnya. Anak Diberkati Tuhan Perempuan itu masih murung.


Ya. Mengenakan zirah putih susu serta rambut sebahu berwarna emas yang menawan, dia terlihat sangat murung.


Aku memperhatikan sekitarku, lalu keluar dari persembunyian, mendekatinya.


“Kenapa kakak memeluk lutut sendiri seperti itu?” tanyaku.


Mungkin aku tak akan pernah menduganya, tetapi di sinilah waktu, di mana aku, bertemu dengan seorang Anak Diberkati Tuhan—Perempuan Aneh, yang akan menjadi titik awal perubahan besar dalam hidupku.


“Hai, Kak,” lanjutku, bertanya dengan datar seraya menawarkan kacang bercahayaku, “Mau beli kacang ini?”


Aku menyodorkan beberapa kacang bercahaya di tanganku padanya.


Dia hanya mendongak, menatap kosong ke arahku. Kedua mata emasnya berubah sedikit cerah saat melihatku dengan saksama.


Aku pun memperhatikannya dengan saksama, Anak Diberkati Tuhan ini memang memancarkan aura aneh. Berbanding terbalik dengan apa yang pernah dijelaskan Mo dan Ro, kalau para Anak Diberkati Tuhan itu pasti akan selalu memancarkan aura petarung dan aura pembunuh.


“Ah!?” terkejut, dia tiba-tiba berdiri, “Apa katamu tadi?”


Anak Diberkati Tuhan Perempuan di hadapanku ini cukup tinggi, jadi aku menyodorkan kacang bercahayaku sampai melewati tinggi ujung kepalaku.


“Mau beli ini?”


“Ah? Oke.”


Dia langsung setuju begitu saja?


“Kamu, kan, Pribumi Village Point Zero ini,” katanya, menatapku, “Jadi nggak apa-apa aku belinya pake gold?”


Aku masih mendongak, menatap kosong dirinya. Aku tak tahu apa itu 'gold', jadi aku menggeleng.


“Sesuatu yang disebut ...” jawabku, mencoba mengingat sesuatu, “Candy juga tidak apa, Kak.”


“Permen?! Apa nggak apa-apa pake itu?”


Aku mengangguk.


“Ya.”


“Nih, Golden Candy-mu, Dik! Makasih Nut Point Zero-nya!”


Dia memberiku sebuah permen berwarna emas, yang aku langsung masukkan ke dalam kantong hitam.


Aku berbalik dan pergi begitu saja, mengabaikan tindakan dan ekspresinya yang sangat aneh.


“Kalau ada barang lain, beri ke aku aja, oke?”


Aku menoleh padanya, mengangguk.


Tidak ada yang aneh dengan transaksi ini. Aku hanya menjual kacang bercahayaku seperti biasa.


Berjalan pulang seraya mengeluarkan permen emas dari kantong hitam, aku bingung.


“Kenapa warnanya emas?” gumamku, menyidik-nyidik apa yang disebutnya permen di tanganku. Dia bilang ini Golden Candy? Apa bedanya dengan permen yang warnanya cyan?


Menggeleng, aku langsung memasukkannya ke dalam mulutku begitu saja.


Rasanya berbeda? Mungkin aku tidak pernah menyadari jika sekarang ini mataku tiba-tiba berbinar saat bulatan emas itu melewati tenggorokanku.


Aku berjalan pulang seperti biasa, namun ada yang aneh dengan tubuhku. Aku merasa lebih segar, dan persfektif akan sekitarku menajam.


Namun, tepat saat sampai di rumah dan berbaring di samping kakekku—menunggu hari berganti, aku merasakan hal aneh.


Seperti, kenapa aku menginginkan Golden Candy lagi? Apa ini?


Hari berikutnya, saat aku sampai di Ladang.0, situasi menjadi aneh.


Mo dan Ro seakan tidak ingin mengajakku lagi. Mereka pergi begitu saja—bahkan tidak melirikku sama sekali. Dan aku pun, sedari awal, entah mengapa sangat sulit untuk mendekati mereka.


Apa aku tidak punya pilihan lain selain pergi ke Anak Diberkati Tuhan Perempuan itu lagi? Namun, sebelum bertemu dengannya, aku mencoba pergi sendiri ke Penjaga Gerbang Anggota Korporat.


Aku menunggu Ro dan Mo menghilang terlebih dulu dari Wilayah Gerbang Perbatasan. Sampai mereka berdua menghilang dari pandanganku, aku mendekati Penjaga Gerbang sebelum dia akan berbalik dan memasuki pos jaganya.


“Tidak ada permen lagi untukmu, Nak,” tukasnya, hanya melirik tajam padaku seraya lanjut memasuki pos jaganya begitu saja.


Aku hanya terdiam di tempat saat dia menukasku seperti itu.


Menoleh ke kanan-kiri, aku sama sekali tidak melihat berkas cahaya Anak Diberkati Tuhan Perempuan itu.


“Mungkin aku harus menunggunya sebentar?” gumamku, menunggu di ujung gang.


Entah mengapa aku malah menunggunya.


Sekarang ini aku sangat menginginkan Golden Candy—Permen Emas dari Anak Diberkati Tuhan Perempuan itu lagi. Ia entah bagaimana terasa lebih enak daripada apa yang kudapat dari Penjaga Gerbang Anggota Korporat.


Tidak ada pilihan, aku berjalan keluar gang dan bersiap untuk berlari pulang.


“Oh, Dik!? Hai! Kamu punya barang bagus lagi?” teriak seseorang padaku.


Aku menoleh ke belakang.


Tak jauh dariku, Anak Diberkati Tuhan Perempuan itu mengangkat tinggi tangan kanannya sampai ke atas kepala.


“Ya.”


Untuk yang ke-2 kalinya, aku menjual kacang bercahayaku padanya.


“Ini barter yang bagus, Dik,” paparnya, melihat kacang bercahaya pemberianku dengan saksama, “Kalau ada barang bagus lagi, barter denganku aja, ok?”


“Barter?” tanyaku, berkedip, “Bukannya yang kita lakukan ini namanya jual-beli?”


Aku mengetahui hal yang kami lakukan saat ini adalah kegiatan jual-beli dari Mo dan Ro.


“Nggak lah. Kita nggak lagi jual-beli,” bantahnya, “Bukan jual beli ... Kalo kegiatan jual-beli tuh, ya, kamu harus pake gold—kayak ini nih ....”


Anak Diberkati Tuhan Perempuan di hadapanku menunjukkan sebuah koin emas padaku. Koin tersebut memang kecil hingga dia bisa menggenggamnya.


“Maksud aku,” jelasnya, menyentuh dagunya sendiri, “Harus ada benda perantaranya untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan, Dik ...”


Aku mengangguk, lalu berbalik pergi.


“Kalau begitu aku permisi, Kak.”


“Okey! Kalau ada barang bagus, jangan lupa kita barter lagi, oke?”


Aku menoleh lalu mengangguk lagi.


Beberapa hari setelahnya, di Ladang.0, Mo dan Ro seolah melihatku seperti orang asing kembali.


Aku selalu menunggu mereka berdua pulang terlebih dulu sebelum membarter kacang bercahayaku.


Namun, tadi pagi aku perhatikan luka di tubuh ayahku kian bertambah. Luka seperti itu sepertinya sangat sulit untuk sembuh.


Aku tidak berpikir terlalu jauh tentang itu, tadinya.


Namun, entah mengapa aku malah menanyakan ini ke Anak Diberkati Tuhan Perempuan di hadapanku.


“Hei, Kak ... Bisakah aku menjual kacang bercahaya ini untuk sesuatu yang bisa menyembuhkan luka?”


Padahal, aku masih menginginkan Golden Candy lagi. Ia sangat enak dan sepertinya membuatku ketagihan.


“Ah? Tapi harganya beda, Dik. Itu ...” jelasnya, terlihat ragu, “agak mahal nggak apa-apa?”


Sudah kuduga. Tidak mungkin barang seperti itu bisa dibeli dengan kacangku. Mo pernah memberitahuku jika ia hanya bisa ditukar dengan apa yang disebut: Lobak.0.


“Aku punya sepuluh kacang bercahaya, Kak.”


“Sepuluh Nut Point Zero?!”


Dia tampak terkejut.


Aku bisa punya kacang sebanyak ini karena kakekku selalu memberiku lima hingga enam kacang per pekan. Dan, aku hanya membeli—barter satu kacang untuk satu permen saja per hari.


Dia selalu menyebut itu. Jadi kacang bercahaya ini namanya: Nut Point Zero? Aku melihat kantong hitam berisi kacang-kacang bercahayaku.


“Itu cukup, Dik,” ujarnya, memasang ekspresi aneh lagi.


“Kamu cuma perlu siapin tiga kacang untuk satu Syringe Point Zero miliku.”


“Oke.” Aku mengangguk. “Ini, Kak, tiga kacang bercahayaku.”


Aku sudah memberinya tiga kacang bercahayaku, namun entah mengapa dia malah terdiam.


“Kak?”


“Huh? Tunggu sebentar.”


“Bisa cepat beri aku barangnya?”


“Oke-oke.”


Dia tiba-tiba tergesa-gesa dan berperilaku aneh seraya menunjuk-nunjuk ke depan seolah menyortir sesuatu. Anak Diberkati Tuhan Perempuan di hadapanku ini terkadang cemberut dan menggelengkan kepalanya.


Aku menggumam, “Aku harus cepat pulang—“


“Sial!!? Di mana, sih, barang itu?” decak kesalnya, lalu menatapku. “Tunggu sebentar, Dik! Kakak lupa barang yang kamu cari ada di mana.”


Aku melihatnya terus menerus menunjuk ke arahku dengan bola mata emasnya naik turun seolah mencari sesuatu.


Jujur, aku tak tahu dia sedang apa—padahal—yang ada di hadapannya hanya aku tetapi dia sama sekali tidak melihat ke arahku. Pun dia seperti melihat banyak hal ada di atas kepalaku.


“Kak ... kalau memang tidak ada—“


“Ah! Ini dia!!”


Dia berseru seperti itu seraya mengepalkan tangannya. Dan pada saat kepalan tangannya dibuka, partikel-partikel poligon biru muncul dan bertebaran di sekitar tangannya.


Ini sungguh menakjubkan, demikian pikirku, tanpa sadar kedua mataku membelalak takjub. Aku mendongak, melihat wajah Anak Diberkati Tuhan Perempuan di hadapanku mulai tertutupi poligon-poligon biru.


“Nih! Pake aja ini untuk nyebuhin luka apa aja,” jelasnya, singkat, tetapi tiba-tiba dia memasang ekspresi aneh lagi, “Tapi ini nggak bisa nyambungin bagian tubuh yang udah putus ...”


“Ini ... Mmm,” gumamku, melihat sebuah jarum suntik berwarna putih di tangannya. “Bukankah ini mahal, Kak?”


Anak Diberkati Tuhan di hadapanku ini memasang ekspresi yang lebih aneh. Dia langsung mendekatkan wajahnya ke hadapan wajahku—sampai-sampai hidung kami hampir bersentuhan.


“Ambil aja!”


Aku tidak punya pilihan lain selain mengambilnya seraya langsung mundur selangkah—waspada.***