
Perang Besar tahap akhir akan segera dimulai. Perang Penghabisan. Situasi pertempuran hebat yang memang tak bisa dihindari lagi oleh para Penjajah apalagi para Pribumi itu sendiri.
Penaklukan Gim Serikat Dunia bisa terjadi jika para player berhasil meruntuhkan Pusat Serikat Dunia di Negara Adikuasa [0].
Puluhan batalion player sedang bersiap di Field Dungeon, perbatasan antara Negara Adidaya [13] dan Negara Adikuasa [0].
Perang Penghabisan tersebut dipimpin oleh seorang pria berambut putih. Mamat. Mengenakan zirah yang selaras dengan warna rambutnya yang sedikit keluar dari helm prajurit, dan juga perisai kecil yang menempel di pergelangan tangan kirinya, khas seorang vanguard sejati, dia berada di barisan paling depan Medan Perang bersama party kecilnya.
Kendati Pasukan Batalion Mamat terlihat sedang sibuk menyiapkan senjata penyerbu serta melafalkan sihir serangan, mereka semua sudah siap dengan keadaan apa pun.
Berbagai warna kilauan Senjata Berat Elektromagnetik berderet rapi di setiap titik batalion pasukan Mamat.
Tujuan para player saat ini hanya tinggal menaklukkan benteng terakhir di hadapan mereka semua. Setelah benteng tersebut dikuasai oleh para player, mereka akan dengan mudah untuk langsung masuk ke wilayah kekuasaan mutlak Negara Adikuasa [0].
“Serang ...!!!”
Setelah suara teriakan Mamat menggema dari ujung timur batalion ke ujung barat batalion pasukannya, suara gemuruh mesin membuka moncongnya terdengar sampai ke Wilayah Dalam Negara Adikuasa yang berada jauh dari benteng terakhir. Suara listrik berkumpul di ujung moncong tersebut menggelegar sampai menggetarkan langit, yang ia langsung menembak ke arah benteng. Ia pun langsung meluluh lantahkan sihir pelindung benteng beserta beberapa alat pertahanan di dalamnya.
“Maju ...!! Ini hari kemenangan kita ...!!!”
Mamat menyerukan semangat untuk pasukannya, dan seruannya itu langsung dibalas dengan seruan semangat yang mengguncang Medan Perang. Dari setiap batalion yang dipimpin olehnya, rentetan serangan Senjata Elektromagnetik tak henti-hentinya menembak ke arah dinding metal hitam yang mengelilingi benteng.
Sedari awal Ekspansi Eksekutif Korporat berlangsung, para player dengan sangat mudah menaklukkan 13 Negara Adidaya serta kota-kota kecil milik Guild NPC. Ini seperti perang satu pihak. Pembantaian sepihak. Sebab para NPC seperti tidak memberi perlawanan apa-apa.
Para NPC di dalam Gim Serikat Dunia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk tumbuh menjadi kuat oleh para player game-nya itu sendiri.
Namun, tidak ada yang menyangka seraya perang tersebut berlangsung, akan ada insiden besar terjadi di wilayah-wilayah yang telah dijajah para player.
Dan jauh dari benteng, di Wilayah Dalam Negara Adikuasa [0], beberapa NPC Kelas Atas di Bangunan Utama Serikat Dunia mulai memasang ekspresi aneh. Mereka mengerutkan kening, membelalak dan beberapa NPC pun ada yang tiba-tiba terbatuk sampai jatuh dari kursinya.
Di lantai atas sebuah gedung pencakar langit, seorang pria berkulit putih dengan telinga yang lebih panjang dari telinga manusia semestinya, sedang duduk di kursi takhtanya tanpa ekspresi. Dia tiba-tiba mengerutkan kening; NPC – NPC Kelas Atas yang dia pimpin pun tiba-tiba memasang ekspresi beragam.
“Kita mundur, ” perintah pria bertelinga panjang itu.
Salah satu NPC bawahan pria tersebut berdiri dan membantahnya, “Apa?! Kita sudah rugi terlalu banyak! Pasukan dan jebakan yang kita telah siapkan akan sia-sia!! Kita tidak akan kalah dengan para Anak Diberkati Tuhan itu!”
“Aku bilang kita mundur,” tegasnya, masih duduk di kursinya. “Jika kalian ingin perang, aku akan membiarkan kalian membawa beberapa pasukan.”
Keributan terjadi di dalam ruangan itu.
Namun tidak ada yang berani menegurnya, setelah dia membungkam anak buahnya, dengan acuh tak acuh membebaskan mereka untuk bertempur sendiri—tanpa bantuan darinya.
“Itu tidak mungkin!”
“Kami tidak akan bisa menang jika seperti itu.”
“Iya, Tuan. Tanpa Grand Wizard seperti Anda, kami hanya akan ....”
NPC pria bertelinga panjang itu bangkit dari kursi takhtanya, berjalan keluar ruang pertemuan dan langsung diikuti oleh para NPC bawahannya.
“Aku akan membuat Portal Teleportasi Besar untuk kita semua bersembunyi di Dunia Lain.”
“Aku akan mulai,” ujarnya, mengangkat kedua tangan ke atas kepalanya seraya melafalkan sebuah mantra sihir. “Biarkan mereka menguasai benteng ini ... Kekuatan kita sekarang masih belum cukup untuk melawan para Anak Diberkati Tuhan itu. Kita akan membalas dan merebut semuanya kembali di masa depan!”
Sedangkan di dalam benteng terakhir yang pria bertelinga panjang itu maksud, perlawanan para penduduk biasa serta sisa pasukan NPC terus berlangsung.
“Hei, hei, hei serangga ...!! Aku akan membantai kalian di sini, NPC sialan!”
“Hahaha!”
“Jangan lari sialan!!”
Suara umpatan para player terdengar sampai ke luar benteng, seraya pembantaian mereka berlangsung. Tangisan, jeritan, serta seruan semangat semuanya menjadi satu nan riuh dan tak karuan di dalam benteng tersebut.
Beberapa NPC tiba-tiba mulai tertawa, menangis, serta meneriakkan semangat tidak jelas. Ada dari mereka yang melawan; ada beberapa dari mereka juga yang melarikan diri. Beberapa player tak menyadari keanehan para NPC tersebut. Mereka yang tak menyadarinya terus membantai tanpa henti untuk mendapatkan exp—kendati nama mereka menjadi merah.
Jika membunuh NPC maupun beberapa makhluk astral netral, para player akan menjadi Red Name—merupakan tanda kelakuan jahat dari Tuhan dalam gim yang mereka mainkan.
“Mat,” papar seorang pria menggenggam tombak silver di tangan kanannya, “Ada yang aneh dengan beberapa NPC – NPC di benteng ini.”
“Ya.” Mamat mengangguk. “Kebanyakan dari mereka yang aneh hanya NPC lansia.”
Mamat langsung menyadari keanehan tersebut. Di dalam forum internal batalion pasukannya, dia telah memerintahkan para pasukan di luar serta pasukan pengintai untuk mengepung siapa saja yang melarikan diri dari benteng.
Xiao Tang No bertanya, “Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” sembari menyandangkan Tombak Silver-nya.
“Lanjut saja lenyapkan NPC yang melawan, seperti yang sudah kita rencanakan,” perintah Mamat, menerjang para NPC yang masih melawan. “Yang jelas kita harus terus bertambah kuat!”
Xiao Tang No memasang kuda-kuda bertarungnya, lalu mengikuti Mamat, “Bagus! Ini akan menjadi cukup menyenangkan,” dan juga tak lupa memimpin party kecil-nya.
Seraya Mamat menahan para NPC yang masih melawan, Xiao Tang No melempar Tombak Silver-nya ke atas, dan dia belokkan secara diagonal ke kumpulan NPC tersebut.
“Sangat menyenangkan saat kamu jadi Vanguard-ku, Mat,” ungkap Pria Tombak Silver itu. “Hahaha.”
Seraya bergemanya suara tawa renyah Xiao Tang No, ledakkan energi Tombak Silver-nya langsung memusnahkan satu party NPC yang dihadang Mamat.
“Ayo cepat taklukan benteng ini,” desak Mamat, menerjang kembali para NPC lain, “Kita akan langsung masuk ke Wilayah Negara Adikuasa!!”
Pembantaian dan Penjarahan di dalam benteng terakhir terus berlangsung. Menyertainya suara seruan tegas Mamat disertai riuh semangat batalion pasukannya.
Semua player di dalam Dimensi Game World Guild terlalu fokus pada penaklukan tersebut. Ia ditampilkan pada panel video di setiap Pusat Kota Negara Adidaya yang telah ditaklukkan Mamat.
Mereka sampai-sampai tak menyadari kalau mulai dari sekarang, mereka semua tak akan pernah bisa lagi mengaktifkan Portal Dimensi untuk keluar dari Dunia Dimensi Gim yang mereka mainkan.
Portal Dimensi Game, tidak akan pernah bisa lagi mereka aktifkan dari dalam game tersebut.
Insiden Besar ke-2, di mana seluruh player di Daratan Surga tidak akan bisa lagi World Out dari Dimensi Game yang mereka mainkan.
Sampai pada akhirnya, Mamat dan Xiao Tang No beserta party kecil mereka pun berhasil memasuki Wilayah Dalam Negara Adikuasa—namun—apa yang menunggu mereka di sana membuat mereka semua sangat tercengang.
Tidak ada apa pun sejauh mata mereka memandang.***