
““POPE ...!!!!””
Para Pahlawan Nasional Pria meneriaki namaku dengan sangat geram.
“Sialan kau, NPC ...!!” geram Saber Heroes, mulai goyah. “T-tidak mungkin ... Q-Q-Queti!? DD-Dia ....”
Sudah pasti mereka semua sangat marah dan geram.
Aku tidak tahu, tetapi apa para Pahlawan Nasional ini merasa tidak yakin seorang NPC layaknya diriku bisa membunuh mereka?
Kalian semua terlalu menganggap tinggi diri kalian, wahai Pahlawan Nasional, demikian cibirku dalam hati.
Para Pahlawan Nasional sedang terpojok oleh serangan para Anggota Sekte Sesat, lalu aku, Mo, Ro dan Dry secara mendadak menyergap mereka dari belakang.
Bagaimanapun itu sangat memuakkan, benar?
Dengan trik yang aku ciptakan ini, seorang vanguard seperti diriku pun bisa menyebarkan Energi Inti-ku ke seluruh tubuh.
Seluruh tubuhku dilapisi sebuah lapisan Energi Biru yang sangat lembut nan tipis.
“Aku datang, wahai pahlawan,” sarkasku, menerjang orang-orang yang menghalangi jalanku.
Antek-antek Sekte Sesat yang akan mengepung para Pahlawan Nasional pun ikut terlempar, hanya karena gelombang yang dipancarkan Energi Biru tipis nan halus di tubuhku ini.
Para Pahlawan Nasional itu mungkin tak akan pernah menyangka aku akan menjadi sekuat ini.
“MAMAT ...!!!” teriak Spear-Man Heroes, “Jangan biarkan bajingan itu lolos ...!!”
Aku sama sekali tak menghiraukan teriakan geram Pahlawan Tombak itu. Tidak ada waktu untukku meladeni mayat berjalan.
Pria Tombak itu sedang berusaha keras menahan Pemimpin Anggota Sekte Sesat di barisan depan. Dia seorang diri menjadi vanguard karena Pahlawan Mamat sedang mencoba mengejarku.
Tetapi pandangan, laju, serta konsentrasiku sekarang ini hanya tertuju ke arah Pahlawan Pedang yang sangat ketakutan. Pria Pedang bernama Toru itu langsung melarikan diri ke barisan belakang formasinya setelah melihat siluet biru tubuhku.
Namun, anak panah si Ro berhasil menghadangnya seperkian detik. Yangmana pada akhirnya aku pun bisa dengan mudah menyusul, lalu kemudian langsung menendangnya kembali ke tempat semula.
“Sial aku harus—“
“Toru ...!!!”
“Hei!! NPC Sialan—“
Namun, aku sama sekali tak menyangka tubuh Saber Heroes malah terpental tepat ke arah jangkauan serangan Pedang Hitam Tajam si Dry.
Pria Pedang Aneh itu langsung menusuk Saber Heroes.
Bagaimanapun, aku tidak mau membiarkannya mati begitu saja—dan sebelum dia dibelah dua oleh Pedang Hitam Tajam si Dry, aku langsung meraih lehernya, lalu kemudian langsung menarik tanganku ke belakang dengan sangat kuat.
“Toru ...!!!” jerit Pahlawan Nasional Utama. Mamat. Yang berada tak jauh dari posisi kami, “Kau sialan—ugh!?”
Melihat rekannya mati, Vanguard Heroes itu malah terus mengejarku.
Dengan acuh melempar kulit dan tulang leher seorang pahlawan dari genggamanku lagi, aku melihat Mamat akhirnya dihadang oleh Antek-antek Sekte Sesat.
“Ya!? Itu Double Kill yang sangat bagus, Pope!" puji Dry, menengokkan kepalanya ke Vanguard Heroes yang berada tak jauh dari kami berdua, seraya menyarungkan Pedang Hitam Tajam-nya. “Hahahaha!!!”
Tawa aneh Pendekar Pedang di sampingku memanaskan Medan Pertempuran. Sampai-sampai beberapa antek Rotzell serta Tangan Kanan-nya menoleh ke Pria Pedang Aneh itu; Semua orang di Medan Pertempuran serentak menatap ke arahnya.
Aku ingin langsung membunuh Pahlawan Tombak, tetapi dia sedari tadi sedang bertarung melawan Pemimpin Grup Sekte Sesat. Rorzell. Bersama Pahlawan – Pahlawan Nasional lainnya, yang mem-backup Pria Tombak itu dari jarak jauh.
Bukan hal yang aneh, memang.
Aku tahu Anomali Anak Diberkati Tuhan bernama Rotzell ini memang sangat kuat.
Bukan hal yang aneh Spear-Man Heroes tidak bisa mengalahkan-nya.
Sebab Pria Sesat itu. Rotzell. Merupakan Anak Diberkati Tuhan pertama yang mendapatkan ‘Hidden Job’: Fighter.
Calon Pemimpin Besar Sekte Sesat itu sama sepertiku—walau aku tidak akan pernah mendapatkan istilah ‘job’, yang entah tertuju akan mendapatkan apa. Ia hanyalah istilah yang sering dikatakan para Anak Diberkati Tuhan untuk menyatakan jenis kemampuan dan perkembangan mereka sendiri.
Terlepas dari itu, Rotzell seperti diriku yang masih menapaki ranah [Tier.1] Great Human. Yangmana kami biasanya bertarung hanya menggunakan tangan kosong.
Namun, karena Rotzell memiliki ‘Hidden Job’, orang itu bisa menggunakan Energi Inti-nya sesuka hati—tanpa harus menggunakan trik Kombinasi Energi layaknya aku serta rekan-rekan party-ku sekarang.
Bahkan, menurut Angelica, keleluasaan dalam mengendalikan titikberat Energi Inti Anak Diberkati Tuhan yang memiliki ‘job’ tersebut tidak memiliki batas waktu.
Trik Kombinasi Energi yang kuciptakan ini memang hanya sebentar—terdapat waktu jeda—yang bahkan mungkin tidak akan sampai 3 menit.
Dengan keleluasaan dalam menitikberatkan Energi Inti tak dibatasi oleh waktu, ditambah seluruh tubuh orang itu terlapisi Energi Biru Tebal, bukan hal tidak mungkin Pahlawan Tombak sekarang terdorong mundur.
Sekalipun dia dibantu oleh dua Pahlawan Wanita Jarak Jauh, dia terlihat sangat kewalahan melawan-nya. Sedangkan Rotzell? Orang itu hanya dibantu satu Tangan Kanan-nya yang merupakan seorang: Cursemancer.
Ya. Mungkin Tangan Kanan-nya itu lebih kuat dari si Mo, demikian pikirku, menatap Mo yang terus melantunkan Mantra Kutukan-nya; terus melemahkan Pahlawan Nasional Utama. 2 orang memiliki ‘Job Unik’ melawan 3 pahlawan yang belum berada di puncak kekuatannya ... sudah jelas siapa yang akan menang.
Terlepas dari itu, “Apa aku benar-benar harus mengganggu pertarungan orang itu?”
Berdiri tegap di atas sebuah tiang cahaya energi, aku tidak mau terlalu gegabah.
Sedari awal melihat Anggota Sekte Sesat di sini, aku tahu jika Anomali Anak Diberkati Tuhan bernama Rotzell memang sangat kuat. Meskipun memang, di masa depan, orang itu pun akan menjadi musuhku.
“Hahahaha! Kenapa kita jadi diam di sini, Pope?!”
“Orang yang melawan Pahlawan Tombak itu ... masih terlalu kuat untuk kita lawan.”
“Hahaha! Tenang aja aku bisa—“
Pendekar Pedang Aneh di bawahku ini terdiam, saat mendongakkan kepalanya, melihat wajahku yang sangat serius.
Ya. Sejak pertama kali aku melihat para Pahlawan Nasional bertarung melawan Sekte Sesat, aku sangat ragu jika harus mengusik orang itu—apalagi Pahlawan Nasional Utama terus mengejarku.
“Tapi ... aku tidak mau membiarkan orang itu membunuh mangsa-mangsaku begitu saja—“
“Setelah ini ... aku akan membunuh kalian semua, sialan ...!!!” sumpah Pria Tombak itu, saat bangkit, kembali menerjang kedua musuh di hadapannya.
Aku turun dari tiang cahaya energi.
“Oke.”
Aku menjawab teriakkan sumpah Spear-Man Heroes dengan santai dan acuh tak acuh seperti itu.
“Hahaha! Maju sini kalau kamu bisa, Pria Tombak!!” Dry tertawa sombong, membusungkan dadanya, “Hahaha!"
Ya. Aku sudah memutuskan.
Walaupun dia berasal dari Sekte Sesat, selama belum mengusikku, aku pun tidak akan mengusik dirinya maupun Faksi Gelap-nya.
Ya. Aku berkata, “Kita habisi barisan belakang mereka dulu, Dry.”
Pria Tombak itu menoleh padaku dan kedua matanya membelalak, terkejut sekaligus marah.
Aku perhatikan dengan jelas, untuk beberapa saat, dia berhasil sedikit mendorong mundur Rotzell serta antek-anteknya. Dia. Sangat tergesa-gesa setelah mendengar rencanaku?
“Kenapa tidak Pahlawan Nasional Utama terlebih dulu?”
Aku melihat Pahlawan Mamat, yang semakin kewalahan.
“Tenang ... dia sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi.”
Pahlawan Mamat sangat kewalahan menjadi vanguard untuk Faksi Non Player serta Anggota Korporat. Sedangkan musuh yang dihadapinya sekarang ini, hampir semuanya Anak Diberkati Tuhan.
Ya. Bukan hal yang mudah memang, menjadi satu-satunya Anak Diberkati Tuhan di sebuah party, dan lagi harus melawan party yang hanya beragotakan Anak Diberkati Tuhan.
Tak heran Pahlawan Mamat terus terdorong mundur. Terdapat margin yang sangat lebar antara Faksi Umat Manusia dengan Faksi Non Player.
Ya. Untuk sekarang, aku hanya perlu meruntuhkan Barisan Belakang Pahlawan Nasional, demikian pikirku.
Aku mulai kembali menyebarkan Energi Inti-ku ke seluruh tubuhku.
Barisan belakang kami sangat aman sekarang. Di mana para antek Sekte Sesat Rotzell sama sekali tidak menargetkan kami.
“Suti ...!!!”
“Sunih ...!!”
Spear-Man Heroes dan Vanguard Heroes mendesak kedua rekannya yang berada di Barisan Belakang.
“”Mundur sekarang juga ...!!!””
Namun, kedua wanita itu tetap terus menembaki aku dan Dry yang sedang berlari menuju ke arah mereka.
"“Tapi ...”" mereka ingin membantah, “Kami nggak bisa ninggalin—“
“Aku bilang cepat mundur!!” bentak Mamat.
Pria tampan itu masih bisa membentak seperti itu, padahal dia sendiri sedang sangat kewalahan memimpin orang-orang layaknya diriku, yang sering dia sebut: NPC.
Aku masih cukup jauh dari dua Pahlawan Jarak Jauh itu berada.
Namun sepertinya, kedua wanita itu melarikan diri dengan mudahnya.
Seperti tak ada jalan lain lagi, mereka memasuki Gerbang Utama menuju Wilayah Dalam Tower Energi.
Gerbang Super Besar di mana ratusan orang biasa memasukinya secara bersamaan.
Di sini cukup sepi.
Karena adanya penyerangan Sekte Sesat, Sekte – Sekte dari Faksi Umat Beragama, Umat Manusia serta Faksi Non Player pun sedang mempertahankan Wilayah Katedral Pusat, Negara Adidaya [3], yang tak jauh dari Tower Energi.
Aku memperhatikan hanya ada beberapa Anak Diberkati Tuhan, melihatku dari bayang-bayang dengan ekspresi tajam.
Merepotkan memang.
Di mana Archer Heroes dan Sniper Heroes memang cukup hebat dalam hal melarikan diri.
“Melakukan ini sungguh merepotkan, huh,” desahku, mempercepat langkah kakiku, “Ditambah mereka memiliki gelar: pahlawan—membuatku ...”
Apa? Perasan apa ini? Aku menoleh ke belakang. Si Dry, yang tadinya berlari berdampingan denganku, sudah tertinggal cukup jauh di belakang.
"Perasaan aneh lagi? Lupakan," tukasku, menggeleng, lalu kembali menatap ke depan. "Huh ... Sungguh bodoh kalian, wahai Pahlawan Wanita.”
Aku mempercepat langkah kakiku lagi saat melihat mereka memasuki sebuah ruangan—dari deretan ruang pintu masuk berbentuk persegi di Bangunan Tower Energi di hadapanku.
“Kalian benar-benar tidak akan bisa lolos dariku kalau masuk ke sana,” lanjutku bergumam.
Mungkin karena ketidaktahuan mereka akan Tower Energi ini, mereka memasuki ruang tersebut begitu saja.
Seorang Anak Diberkati Tuhan maupun Pribumi Daratan—NPC—seperti diriku pun, paling tidak harus mempunyai ratusan Kristal Energi untuk membuka sebuah ‘gate’ di dalam sana.
Ya. Mereka terpojok.
Aku sampai di hadapan ruang pintu masuk cukup besar yang dimasuki dua Pahlawan Wanita.
Mamasukinya, aku melihat ruangan yang sangat luas dengan bentuk kotak metal sederhana.
Berbagai ukiran rune di dinding metal-nya memang sangat terlihat memukau. Ia menjadi lukisan dinding sekaligus lampu untuk ruangan ini.
Kedua Pahlawan Wanita itu kebingungan karena hanya melihat di tengah-tengah ruangan hanya terdapat dua balok sirver panjang, yang berdiri tegap sejajar dan menancap ke permukaan lantai metal, seperti dua sisi kusen pintu. Tidak ada apa-apa lagi selain itu di ruangan ini.
“Ini jalan buntu!” teriak Archer Heroes, mulai panik.
Sniper Heroes mendengar langkah kakiku, dan menoleh padaku seraya berkata, “NPC itu ... Sunih! Kita harus gimana—“
“Maaf, wahai Pahlawan Wanita,” potongku, berjalan dengan santai mendekati mereka berdua.
Aku akhirnya berhasil mengejar mereka.
“Sekarang kalian sudah tidak bisa melarikan diri lagi ...”
Ya. Archer Heroes dan Sniper Heroes sudah terpojok di dalam ruangan ini. Mereka tidak bisa keluar dari ruangan ini sebelum melenyapkanku dan, “Hahaha. Ya!” juga orang yang baru saja sampai seraya tertawa menjengkelkan, tentu saja.
Dry menggenggam gagang Pedang Hitam Tajam yang masih disarungkan di punggungnya, seraya berjalan ke sampingku.
“Hahahaha! Nona-nona, lebih baik kalian—“
Tiba-tiba, tepat saat Pendekar Pedang Aneh di sampingku ini akan menarik pedang dari sarungnya, kami berdua langsung menoleh ke belakang serempak dan melihat seseorang mendekati kami.
Orang itu berjalan santai menghampiri kami berdua.
“Apa kalian butuh bantuan untuk melenyapkan dua wanita cantik itu, Nak?”***