RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [3] – [72] Para Dewa Daratan Surga (2/2)



Setelah kembali mengumpulkan beberapa player, Nanang membentuk party kecil baru dengan mereka, dan dia langsung memimpin mereka menuju ke Aula Teleportasi.


Nanang pada saat ini tidak akan leveling atau meng-GB level anggota party barunya tersebut, sebab tiga player anggota baru yang dia kumpulkan itu berada di ranah Tier dan Level yang sama dengannya.


Mereka semua pergi ke sebuah Gate Dungeon untuk menyelesaikan Quest Sederhana.


“Ini akan melelahkan, Tuan Muda,” keluh seorang Assassin Pria, setelah mengintai sekitar Gerbang Dimensi tujuan mereka, “Serius ... ngalahin seribu Anak Minotaur?! Kenapa Sina ngasih quest kayak gini, sih!”


Nanang berujar, “Udah .. jangan banyak ngeluh—ayo masuk!”


“”Oke,”” sahut dua anggota party lainnya.


Memasuki sebuah Gate Dungeon, mereka berempat mulai menerjang monster-monster kecil yang bermunculan dari sebuah gate kecil di dalam Dimensi Gate tersebut.


Party yang dibentuk Nanang saat ini tidak ada healer dan bahkan magic caster. Hanya terdapat dua dealer damage physical utama serta satu pengintai—dan Nanang sebagai vanguard itu sendiri. Dengan damager terbanyak sudah pasti dealer damage physical utama tersebut: Pria Archer dan Sniper di barisan belakang party-nya itu.


Dengan Nanang sebagai vanguard yang selalu bisa bertahan di garis depan formasi party, dua dealer utama di belakangnya jadi dapat langsung serta leluasa melancarkan serangan Skill AoE mereka masing-masing.


Beberapa monster memang tidak mati oleh serangan skill area tersebut, tetapi Assassin Pria tiba-tiba muncul dari kehampaan dan langsung menebas mereka semua.


Satu gerakan tebasan belati hitam di tangan Assassin Pria itu langsung melenyapkan monster-monster kecil di Area Dimensi Gate Dungeon tersebut.


“Bersiap untuk gelombang monster berikutnya!”


“Tiga detik lagi Skill AoE-ku siap, Tuan Muda!”


“Di sini sama!”


Tanpa menunggu poligon-poligon jiwa para mayat monster menghilang di udara, monster-monster lain mulai bermunculan kembali. Namun, Nanang sebagai vanguard di party kecil-nya itu masih tetap tenang dan langsung menarik semua aggro monster-monster yang muncul dari gelombang berikutnya tersebut.


Tak ada satu pun dari monster-monster tersebut yang mengalihkan perhatian mereka dari Nanang. Bahkan beberapa dari mereka mati akibat tertebas Kapak Merah Besar di tangan-nya.


Mereka semua mengulangi strategi yang sama untuk mengakhiri gelombang monster berikutnya, serta gelombang-gelombang monster selanjutnya juga.


Untuk player sekelas mereka, tidak ada yang memperhatikan jenis monster di Area Permulaan Dimensi Gate Dungeon. Sebab ia semua hanya berupa monster acak seperti serigala dan goblin pada umumnya. Bahkan drop item-nya pun tidak mereka sentuh—yang mana item dan perlengkapan memang mulai berserakan di Area tersebut.


“Area Point Satu sudah clear,” lapor Assassin Pria, tubuhnya perlahan muncul di samping Nanang, “Tuan Muda.”


“Ya,” balas Pria Kapak Merah itu, melambaikan tangannya acuh tak acuh, “Cepat buat camp di sini.”


““Oke!””


Nanang serta tiga anggota party-nya membuat basis camp di dalam Dimensi Gate Dungeon.


Area.1


“Bahkan gak ngabisin dua jam kalau nge-grinding sama Tuan Muda, huh.”


“Yaa ~ ini pasti akan menyenangkan!”


Hanya menggunakan satu Tab Portable serta Automatic Barrier, mereka bisa membuat camp sementara di Area yang telah mereka bersihkan dari gelombang monster sebelumnya.


Sampai batas dan waktu tertentu, para monster memang tidak bermunculan kembali. Namun, itu pun tergantung dari besarnya Area yang mereka akan tempati.


Pembagian Number Area Point sampai ke Area Bos dibagi tergantung jenis dan rank Gate Dungeon itu sendiri. Jika itu hanya Mini Dungeon, pasti hanya terdapat satu Area Point Zero yang ia langsung terhubung menuju ke Area Bos.


Namun, untuk Gate Dungeon memang selalu terdapat dua sampai dengan tiga Area—tergantung jenis, rank serta gerbang monster apa di dalamnya.


“Oke kita istirahat dulu di sini,” ujar Nanang, berniat untuk memisahkan diri dari anggota party-nya, “Kalian bebas sampai waktu malam tiba.”


Saat mereka bertiga berbincang dan mulai istirahat, Nanang pergi mengintai sekitar—kendati mengintai memang bukan pekerjaannya.


Ketiga anggota party-nya sama sekali tidak menemani Tuan Muda mereka itu pergi sendirian, sebab mereka bertiga sangat percaya dengan kekuatan dan kemampuan Tuan Muda-nya itu.


“Apa itu?” gumam Nanang, yang tiba-tiba, dia mengerutkan kening.


Dia melihat sebuah Altar Batu berbentuk silinder, dengan satu mayat prajurit di atasnya terlihat sangat mengenaskan. Tubuh mayat prajurit itu tertusuk sebuah Pedang Emas Besar sampai menembus Altar Batu tersebut.


“Apa yang tertancap ituu ... pedangnya sendiri—!!?“


‘Ayo kita uji aja Anak Diberkati Tuhan kecil ini!’


“Siapa itu?!”


‘Tch ... nggak mungkin anak kecil kayak gini layak!’


“Aku bilang siapa kalian!?” bentak Nanang, namun anehnya, suaranya terdengar sedikit bergetar, “Cepat tunjukkan diri kalian!”


Walaupun terdengar sangat berani, Nanang cukup tegang saat mendengar dua suara yang menusuk ke inti kesadaran. Jiwa. Terdalamnya itu secara langsung.


Suara perempuan dan lelaki tersebut seperti perlahan mulai akan merobek avatar-nya. Dua suara yang Nanang dengar itu entah dari masa lalu, masa depan dan bahkan terasa seperti di masa-masa sekarang. Yang dia tahu, jikalau suara-suara tersebut memang tak seharusnya ada di Daratan Surga-nya itu.


Dewa?! Pikiran Nanang berpacu saat membuat dugaan kasar asal dari dua suara tersebut.


‘Hahahaha!’


‘Wawasan kamu cukup luas, Nak! Ya, kamu benar! Kami adalah Dewa yang kalian tahu.’


Kedua mata silver Nanang membelalak. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi situasi tersebut.


Ini pertama kalinya aku bertemu Dewa, pikir Nanang, kebingungan. “Apa yang harus aku lakukan?!”


‘Hahaha! Lawan saja sapi kecil ini ... Gunakan apa saja yang tersedia di sekitarmu, Nak .. Kami berharap kamu berhasil.’


Nanang tiba-tiba dites untuk mengalahkan Bos Monster:


Minotaur Boss


“Sial! Aku harus melawan Monster Bos sendirian?!” gerutunya, berniat untuk langsung menghunus Kapak Merah Besar di punggungnya, “Quest mendadak ini tidak masuk akal!”


Namun Nanang langsung mengingat perkataan Dewa sebelumnya, dan dia tiba-tiba menghentikan tangannya.


Itu ...


Seraya dengan munculnya seekor Minotaur Boss tak jauh di belakang Altar, Nanang berlari dan melompat ke atas Altar Batu tersebut. Dia langsung mencabut Pedang Emas Besar, yang ia tertancap di mayat prajurit sampai menembus Altar Batu pijakannya itu.


“Ugh,” desah berat Nanang, menautkan alisnya, “Aku bukan pengguna pedang—tapi sepertinya tidak ada pilihan lain—sial!”


Seraya dengan hancurnya Altar Batu menjadi bongkahan batu tak beraturan, Nanang langsung melompat ke samping Monster Bos Minotaur.


Nanang menebaskan senjata ditangannya secara diagonal—layaknya dia biasanya menebaskan Kapak Merah Besar-nya seperti biasa.


Anggota party kecil Nanang mungkin tak akan pernah menyangka kalau pemimpin mereka akan melawan Bos Monster sendirian. Terlebih lagi dia melawan seekor Minotaur Boss, yang merupakan salah satu dari Kelompok Monster Class A.


Untuk player normal, mengalahkan seekor Kelompok Monster Class A harus dalam kondisi raid. Apabila hanya mengandalkan party atau squadron saja, tak mungkin bisa mengurangi heal point mereka sampai mati—akan sulit bahkan hanya untuk mengurangi sampai setengah heal point monster dalam class tersebut.


Namun, hanya setelah beberapa pertukaran gerakan, pertempuran berakhir begitu saja setelah Nanang melompat dan membelah secara vertikal tubuh Monster Bos Minotaur menjadi dua.


“Sial,” gerutu Nanang, tak percaya dengan senjata ditangannya, “Pedang Emas apa ini—?!”


Dia sedang menggerutu dan sekaligus kebingungan dengan Pedang Emas Besar di genggaman kedua tangannya itu. Tetapi tiba-tiba, Nanang ditarik paksa oleh salah satu energi petir hebat dari Altar Batu yang telah hancur di belakangnya.


Di mana aku—hah!? Ini, pikir Nanang, hanya menatap Ruang Putih Kosong di sekitarnya, dimensi—Alam Dewa?!!


Dimension Realm of Gods. Dimensi Alam Dewa. Untuk pertama kalinya dia berada di tempat di mana sosok-sosok kuat nan agung tinggal.


Nanang tiba-tiba ditarik ke Alam Dewa Perang serta Dewa – Dewa yang ada di jajaranNya.


Suara para Dewa – Dewi di telinga Nanang Soro Dojo itu semakin jelas, namun di Alam Dewa tersebut, ia tidak menyakiti jiwa. Kesadaran. Pria Kapak Merah itu lagi.


Suara ‘Mereka’ jadi semakin tenang tetapi ia memang masih menekan kesadaran Nanang.


“Hei, Dewi, aku menang!” seru suatu sosok, yang entah berada di mana.


Tetapi Nanang mendengar suara tersebut berasal dari atasnya. Dia langsung mendongak dan tampak kebingungan.


Meskipun dia memang tidak dapat melihat langsung sosokNya, Nanang masih bisa mendengarkan suara gemeresik rantai saat satu-satunya Dewi  yang mungkin Dia sedang menggerakkan tangannya—tidak senang dengan keputusan Dewa Perang.


“Tch ... Terserah kamu aja lah!”


“Hahahaha!”


Nanang dengan tenang mulai mendengarkan perkataan dan Story Quest dari Dewa Perang setelah tawa menggelegarNya itu berhenti.


Perang Dunia merupakan Perang Akhir Zaman, di mana Dimensi Dunia antar Dimensi Dunia lain akan saling berperang untuk membentuk hegemoni baru. Namun sebenarnya, ia tak lebih hanya merupakan event hiburan bagi para Dewa/Dewi dan bahkan mungkin salah satu hiburan juga untuk Tuhan Mereka itu sendiri. Yang mana Dia dan jajaran para Dewa/Dewi serta MalaikatNya memang sangat menyukai melihat makhluk kecil saling bertempur untuk berkembang menjadi lebih kuat.


Seraya mendengar cerita membosankan dari Dewa Perang, Nanang mengingat sebuah rumor, jika tidak menutup kemungkinan untuk para player bahkan NPC, memang bisa berkembang menjadi Dewa—atau bahkan pengganti Tuhan Gim Serikat Dunia itu sendiri.


Namun, dia tak menyangka akan mendapatkan entah itu keberuntungan atau petaka dengan Quest Tersembunyi yang didapatkannya saat ini:


Hidden Quest – War of Worlds


Itulah apa yang didapatkan oleh Nanang dariNya. Dewa Perang. Secara langsung.


Nanang tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya saat melihat panel biru di hadapannya dengan saksama. Dia hanya terpaku pada satu-satunya syarat untuknya bisa menyelesaikan quest tersebut.


“Menjadi pelopor Perang Dunia!”


Dari Quest Sederhana yang diberikan Kepala Pelayan-nya, Nanang malah ditarik secara paksa memasuki Alam Dewa dan diberi Hidden Quest oleh Dewa Perang-nya itu sendiri.


Senja.


Celah Robekan Dimensi tiba-tiba terbentuk di atas Wilayah Keluarga Konglomerat Soro Dojo—ia sampai merobek sebuah Gate Dungeon yang berada tak jauh dari Distrik Plaza Wilayah Kekuasaan Nanang.


Dari awal memasuki Realm of Gods sampai dilemparkan keluar pun, Nanang sama sekali tidak berani melihat langsung padaNya, sebab para player layaknya dia sudah pasti tahu akan hal-hal tabu di dalam gim yang dimainkannya itu.


Nanang terlempar keluar dari Alam Dewa melalui sebuah celah retakan Gate Dungeon Aliens.


Saat terlempar ke udara yang sangat dikenalnya. Daratan Surga. Pria Kapak Merah itu sekilas melihat Pope dan dua NPC sedang dikepung oleh party kecil dari Keluarga Konglomerat Wun.***