RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [3] – [71] Tanpa Adanya Angelica (2/2)



Ya. Pada saat ini, kami bertiga memang berpencar.


Namun, kami sebelumnya telah sepakat untuk bertemu kembali di titik tertentu di Field Dungeon—di mana kami semua—termasuk Angelica—biasa meng-grinding aliens.


Ya. Gate Dungeon yang terletak memang cukup jauh dari Village.0.


Aku tidak tahu bagaimana bisa Mo dan Ro bisa lolos dari penyergapan tiga Anak Diberkati Tuhan dari Konglomerat Wun itu. Tetapi untukku sendiri, karena aku merupakan seorang Umpan Daging yang terbiasa bertarung di Garis Depan, aku sedikit memiliki kemampuan melarikan diri. Kendati ia memang terbatas, aku masih bisa bersembunyi dari persepsi di bawah Monster Class B. Dengan tidak adanya Anak Diberkati Tuhan yang mengejar kami yang memiliki kekuatan di atas kekuatan Angelica, aku jadi bisa dengan mudah kabur dan bersembunyi dari persepsi mereka.


Ya. Yang aku ingat, setelah kejadian ini, Angelica memang tidak akan pernah kembali lagi ke hadapan kami bertiga.


Dilanjutkan dengan serangan dan sergapan Keluarga Konglomerat Wun ke beberapa budak serta Pribumi Daratan Surga berpotensi lainnya.


Ya. Mungkin pada saat ini, aku, Mo dan Ro jelas tak akan tahu jika itu semua akan terjadi.


Tetapi terlepas dari itu, aku tahu dari Angelica, jika Keluarga Konglomerat Wun memang berbahaya.


Pada saat itu, hanya mengandalkan insting dan perasaan aneh, aku mendesak Mo dan Ro kabur dari mereka begitu saja tanpa memikirkan konsekuensi ke depannya. Konsekuensi yang kami dapatkan seperti sekarang ini.


Dipimpin oleh Archer bernama Jo, mereka bertiga mulai memobilisasi party kecil lainnya untuk mencari kami bertiga ke seluruh penjuru desa.


Mungkin Keluarga Konglomerat Wun sudah mengetahui jika kami bertiga memakan Golden Candy?


Aku penasaran.


Jikalau mereka benar-benar mengetahui hal tersebut, mereka semua pasti akan memburu kami untuk dijadikan budak secara paksa. Keluarga Konglomerat Wun pasti tidak akan mau jika tiga NPC berpotensi, tiba-tiba direbut oleh Keluarga Konglomerat lain.


Aku lupa.


Mungkin beberapa hari aku bersembunyi di dekat Taman Kumuh, dan kadang aku bersembunyi di gang—tanpa mengeluarkan suara dan aura kehadiranku sedikit pun.


Aku harus segera keluar dari Village Point Zero ini, demikian pikirku.


Hanya bermodalkan satu box setinggi setengah tubuh manusia dewasa di tengah lorong gang, aku berjongkok di belakangnya.


Namun tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki dari luar gang.


“Cih! Kemana tiga NPC itu?! Kenapa sulit banget nyarinya, sih!”


“Tenang ... Ayo kita cari ke setiap sudut gang itu.”


Aku berlari kabur; Mereka berdua mengejarku.


“Tangkap dia!!”


Pada saat ini, aku ingat jelas jika aku memang dengan sangat mudah berhasil mengecoh kedua Anak Diberkati Tuhan tersebut, dan berlari keluar Village.0 seraya langsung berlari menuju ke arah Field Dungeon.


Aku menyarankan arah pelarian ke Field Dungeon tersebut karena aku—pun Mo dan Ro—pernah ke sana waktu masih bersama Angelica.


Selagi berlari sekencang mungkin, aku memang tidak selalu menoleh ke belakang pada saat masih dikejar seperti ini.


Setelah keluar Village.0, aku sama sekali tidak melihat siluet satu pun Anak Diberkati Tuhan yang mengejarku.


Di luar Village.0 seperti ini, aku bisa dengan bebas dan lebih leluasa untuk bersembunyi di berbagai tempat. Namun, aku tidak terus menerus bersembunyi di satu tempat yang sama dan selalu kembali berlari tanpa melambat sedikit pun.


Aku pada akhirnya mulai memasuki Wilayah Hutan Mati.


Tujuanku jelas, menuju titik pertemuan di daerah sekitar Kaki Gunung—tempat Gate Dungeon Aliens terlemah—yang biasa aku, Mo, Mo, Ro dan Angelica masuki.


Tak jauh dari titik pertemuan, aku memang menunggu kedatangan Mo dan Ro selama berminggu-minggu.


Ya. Aku memang cukup baik dalam hal bersembunyi di era-era awal aku keluar Village.0 ini, bahkan tanpa adanya Angelica.


Mereka berdua memang tak kunjung datang, namun entah mengapa, pada saat ini aku sangat percaya dengan kemampuan melarikan diri mereka.


Ya. Di Field Dungeon ini, biasanya, Skill Sihir Perisai Biasa Angelica akan menahan beberapa monster kecil yang akan menyerang kami, supaya kami semua bisa segera masuk ke Gate Dungeon.


Apa kami tidak punya pilihan lain selain melawan balik mereka? Aku mengerutkan keningku dengan kuat.


Akhirnya, aku melihat Mo dan Ro yang masih dikejar oleh tiga Anak Diberkati Tuhan dari Konglomerat Wun.


“Sialan! Kenapa mereka kenceng banget, sih, larinya!!”


“Jangan ngeluh ... Aku akan menembak mereka,” ujar salah satu dari mereka, berhenti berlari, dan langsung memasang posisi menembak panah, “Jangan mati, ok?”


Kendati mereka yang mengejar Mo dan Ro memang hanya party pemula, aku pernah bilang kalau kami. Pribumi Daratan Surga. Memang sama sekali tidak boleh meremehkan mereka sedikit pun.


Selagi bertengger di atas dahan pohon yang cukup tinggi, aku mengerutkan kening saat melihat sebuah Anak Panah berwarna silver melesat ke arah Mo.


Ro yang berlari berdampingan dengannya pun sama sekali tak menyadari Anak Panah Silver tersebut; Kedua pria itu hanya terus berlari mengikuti lintasan Anak Panah itu.


“Menghindar, kalian,” ujarku.


Ro dan Mo mendongak, melihatku seraya langsung melompat ke arah yang berlawanan.


Kita benar-benar tidak punya pilihan selain melawan, huh, demikian pikirku.


Mo berhasil menghindari Anak Panah Silver; Ro pun melompat ke arah yang berlawanan.


Mereka berdua langsung berdiri kembali.


“Pancing monster ke sekitarku, Mo,” perintahku, menerjang ke arah tiga Anak Diberkati Tuhan yang masih cukup jauh di depanku, “Ro.”


Para Monster Class B langsung dipancing oleh Mo dan Ro, dan aku segera bergegas menarik aggro mereka seraya menghindari serangan-serangan acak yang tertuju padaku sebisa mungkin.


“Sialan! NPC itu mulai gila!”


“Kak, ayo mundur dulu! Dia mau bunuh diri!! Dasar NPC gila!”


Aku berlari ke arah dua Anak Diberkati Tuhan yang mengumpat padaku itu, untuk mengalihkan aggro para monster ke mereka; Tetapi tepat saat aku berniat mengalihkan aggro monster di belakangku ke dua gadis tak jauh dariku itu, mereka berdua malah langsung kabur.


“Tahan monster-monster itu, Ti,” seru Archer, yang dilewati dua Anak Diberkati Tuhan Gadis itu begitu saja, “Aku akan langsung lenyapkan mereka semua!”


Salah satu Gadis Vanguard cukup jauh di depanku tertegun, "Ng ...?!"


Senja.


Sebuah lingkaran sihir seterang matahari senja tak jauh di atas kami bertiga tiba-tiba terbentuk dan langsung menembakkan ratusan anak panah secara acak. Skill yang dilancarkan Anak Diberkati Tuhan Archer bernama Jo saat ini layaknya hujan deras yang mengguyur area kecil Hutan Mati.


“”Apa itu?””


Bukan aku atau si pengejar yang keheranan serempak seperti itu, melainkan dua pria tak jauh di belakangku—yang mereka berdua memang masih berada di dalam radius lingkaran sihir di atas kami.


“Lari, Mo, Ro,” ujarku, menoleh ke mereka sejenak tetapi seraya masih terus berlari, “Cepat keluar dari radius lingkaran kuning itu.”


Perbedaan skill memanah Anak Diberkati Tuhan dan Pribumi Daratan Surga; Perbedaan skill Ro dan Archer bernama Jo itu memang seperti langit dan bumi.


Dia jelas tak akan bisa menghentikan skill:


AoE. Attack of Area.


Aku tidak punya pilihan lain selain terus menerjang maju ke arah Archer di hadapanku—agar bisa keluar dari radius Skill AoE tersebut—dengan Gadis Vanguard yang tak jauh di samping kirinya sedang sibuk menahan beberapa monster yang lolos dari radius lingkaran sihir.


Untungnya hanya menerjang seorang Anak Diberkati Kelas Ringan, jadi aku bisa langsung meloncat ke samping kanannya, dan langsung berlari kabur begitu saja.


Sekalipun tubuhku dipenuhi luka akibat hujan anak panah—dan beberapa dari anak panah tersebut masih menancap di bahu serta punggungku—pada akhirnya aku—pun Mo dan di Ro bisa bertahan seraya terus berusaha kabur dari penangkapan mereka.


Namun, “Tuan Muda! Anda akhirnya tiba!” salah satu dari mereka menyerukan seorang sosok yang tiba-tiba muncul di langit Hutan Mati ini.


Aku, Mo dan Ro hanya ingin lepas dari penyergapan dan penangkapan party kecil dari Konglomerat Wun itu, tetapi sosok lain dari mereka malah muncul tiba-tiba, melayang di atas kami semua.


Tanpa adanya Angelica ... aku .. kami bertiga ... Bagaimana caranya kami melawan keempat Anak Diberkati Tuhan ini, demikian pikirku.


Aku menggertakkan gigiku saat menatap tajam sosok hitam yang melayang tak jauh di atasku.


Menghadapi situasi seperti ini tanpa adanya dia?


Mengapa rasanya sangat menyesakkan saat tak bisa melakukan apa-apa lagi dan terpojok seperti ini?


Mengapa aku merasa sangat aneh seperti ini—Apa yang salah denganku?


Tetapi, tepat saat sosok hitam tersebut mulai mengumpulkan Energi Pedang berwarna hitam di tangannya, kami semua tertegun saat melihat sebuah celah retakan di Gate Dungeon Aliens tepat di samping kami.


Sosok silver tiba-tiba terlempar keluar dari celah retakan tersebut.


Ya. Setelah ini, berkat sosok silver tersebut, aku ingat jelas kami bertiga berhasil lolos dari empat Anak Diberkati Tuhan dari Keluarga Kecil Konglomerat Wun itu.


Namun, aku ingat jelas juga pada akhirnya Keluarga Konglomerat dari sosok silver itu akan mengakuisisi kami bertiga.


Ya. Aku, Mo dan Ro bertemu sepupu Angelica di sini. Seorang Anak Diberkati Tuhan yang memiliki Job. Kelas: Berseker. Yang mana kelak, di masa yang akan datang nanti, sosok silver tersebut akan menjadi salah satu rivalku.***