RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [3] – [70] Tanpa Adanya Angelica (1/2)



Acuh tak acuh.


Ya. Sikap tersebut memang sikap yang sangat salah untuk kami lakukan saat menghadapi Anak Diberkati Tuhan.


Penjajah. Kami.


Ya. Sebagai Pribumi Daratan Surga, kami ini harusnya selalu bersikap baik terhadap mereka—bahkan kami musti menunjukkan sikap patuh dan takut ke mereka.


Penjajah. Kaum. Kami.


Ya. Kami semua, sebagai Pribumi Daratan Surga, memang tidak boleh bersikap acuh tak acuh ke Anak Diberkati Tuhan mana pun; Sebagai Pribumi Daratan Surga, kaum kami, jelas harus patuh dan tidak boleh sampai menunjukkan sikap yang salah ke mereka.


“Ahh ...” desah Mo, sembari mendongakkan kepalanya, mantap langit biru, “Aku ingin Jarum Suntik Point Tiga ....”


“Ya. Aku juga, Mo,” timpal Ro, di sampingnya. “Kita hanya bisa dapat itu dari Angelica, huh.”


Pun aku, mengangguk setuju. Sebab jelas, aku juga sangat menginginkan Syringe tersebut. Sensasi dari energi Jarum Suntik itu sama sekali tidak bisa aku—kami bertiga tepatnya—lupakan begitu saja.


Aku, Mo dan Ro pada saat ini sedang menjaga kakek kami di Ladang.0 seperti biasa.


Beberapa waktu ini kami bertiga memang tidak memasuki Mini Dungeon, karena kami telah terpergok oleh party kecil dari Konglomerat Wun.


Kami bertiga sudah sepakat untuk berhenti dulu sejenak memasuki Mini Dungeon mana pun; Berhenti sejenak untuk mengambil item, peralatan maupun energi mentah untuk ditukar dengan hal-hal yang bisa kami makan.


“Aku sudah gak tahan,” gumam Mo, menoleh kepadaku, pada ke-esokkan harinya.


Dia menggenggam kepalanya, dengan ekspresi wajahnya yang biasanya ingin dan datar, mulai tampak kebingungan.


“Kita grinding lagi,” ajaknya, menengok ke si Ro di samping kirinya, “yuk?”


“Ya.” Ro pun menoleh padaku yang berada di belakang mereka berdua, dengan ekspresi kedua pria itu yang tak pernah bisa kulupakan. “Ayo kita grinding lagi supaya bisa beli Syringe, Pope. Aku sudah gak tahan hanya makan Green Candy selama ini.”


Di sini, pada saat ini, tubuhku pun memang merasa sudah mulai muak hanya mengonsumsi permen-permen bodoh itu. Aku—kami bertiga tepatnya, pada saat ini, jelas tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuh kami.


Ya. Namun, suatu saat nanti, di masa yang akan datang kelak, aku akan tahu kalau saat ini kami bertiga sedang merasakan:


Rasa Candu


Ya. Kecanduan terhadap energi memang sangat berbahaya bagi kami. Kaum Non Player. NPC. Pribumi Daratan Surga. Yang mana kami bertiga memang kalah oleh rasa keinginan—rasa kecanduan kami untuk makan.


Aku, Mo dan Ro langsung pergi mengintai sekitar Mini Dungeon yang jarang dimasuki Anak Diberkati Tuhan mana pun.


Namun, rotasi mengalahkan satu-dua monster di dalam Mini Dungeon pada akhirnya mulai diketahui oleh tiga Anak Diberkati Tuhan dari Konglomerat Wun yang pernah memergoki kami.


“Apa kita akan dapat masalah? Ketahuan oleh mereka seperti ini.”


Mo menoleh padaku.


“Entahlah ....”


Di luar Gerbang Mini Dungeon, kami pada akhirnya dihampiri oleh tiga Anak Diberkati Tuhan dari Konglomerat Wun.


“Hei ... kalian baru aja keluar dari Mini Dunegon itu, kan?” tanya seorang Anak Diberkati Tuhan Pria. Archer Pria. Ke kami bertiga.


Pada saat ini, hal yang paling kami ingin hindari, yakni dicurigai dan ketahuan oleh mereka, telah memakan olahan energi serta bisa dengan mudah mengambil satu-dua item dari dalam Dimensi Gate Dungeon.


Ya. Di masa hidup kami saat ini, itu memang sama saja dengan mencuri sumber daya energi di dalam Mini Dungeon, yang biasanya ia memang milik kelompok Anak Diberkati Tuhan tertentu.


“Tuan .. nyonya ... kami hanya ....”


Aku yang mencoba berdalih seperti itu. Namun, gadis berpakaian putih di samping Archer Pria di sampingnya itu menatap tajam ke arahku.


“Cuma liat-liat aja? Itu yang mau kalian bilang, huh ...?” desak Gadis Cleric itu, mulai menginterogasiku, “Nggak mungkin kalo kalian cuma liat-liat aja, masuk Mini Dungeon itu terus-terusan!”


Archer bernama Jo itu masih mengerutkan kening dan terlihat curgia setelah mendengar tuduhan gadis tersebut terhadap kami. Dia menatap tajam kami satu per satu, dan tatapan tajamnya beralih ke kantung hitam di pinggangku.


Dia ingin meraih kantung hitam-ku, namun, aku tiba-tiba mendesak, “Mo, Ro,” sembari menghindari tangan yang akan meraih kantung hitamku, “ayo kabur.”


Kami—aku tepatnya—tidak mau memberikan kantung berisi item-item kecil yang telah susah payah kami bertiga dapatkan. Kendati ia bukan Item Kelas Atas seperti yang Mo pegang, item-item di dalam kantung hitam-ku ini masih bisa dijual untuk mendapatkan beberapa Permen Energi.


“Sial?! Kejar mereka!”


Sudah jadi rahasia umum jikalau di dalam Desa, Kota, atau Wilayah Khusus, para Anak Diberkati Tuhan memang tidak bisa mengeluarkan skill mereka.


Ya. Namun, suatu saat nanti aku akan tahu mereka bisa mengeluarkan skill dan kemampuan asli mereka apabila suatu Event Khusus sedang berlangsung.


Event Khusus tersebut harus diaktifkan oleh pemegang hegemoni wilayah tersebut. Salah satu event yang paling aku ingat, hanya: Perang. Dan. Pengorbanan.


Ya. Pengorbanan. Kurban. Merupakan istilah kuno untuk mengorbankan sesuatu untuk memanggil kekuatan tertentu dari Dunia Lain. Event, yang telah aku—kami bertiga lalui—tepatnya—di kehidupan dan kesadaran pertamaku.


Siang ini, kami bertiga pada akhirnya melawan Jo, Mi dan Siti. Archer, Vanguard dan Cleric dari Konglomerat Wun itu pada akhirnya memang tak berhenti memburu kami.


Namun, aku, Mo dan Ro selalu menghindari mereka, sebab kami bertiga tahu mereka itu masih pemula. Pun kami bertiga tahu jikalau ketiga Anak Diberkati Tuhan dari Konglomerat Wun itu memang suka merundung budak-budak pribumi. Bahkan, aku tahu Tuan Muda Wun mereka selalu membuat ayahku terluka parah.


Pada saat ini, kami malah menentang party kecil Konglomerat Wun tersebut, dan kami bertiga ini selalu disergap oleh mereka.


Namun entah bagaimana, aku, Mo dan Ro masih bisa lolos dan kabur dari sergapan mereka bertiga.


“Sialan,” umpat seorang Gadis Cleric, yang hanya gema suara kesalnya saja yang terdengar olehku, “Kenapa mereka cepet banget, sih!”


Kami bertiga sampai berlarian, bersembunyi dan kabur ke desa-desa lain; Karena tidak adanya Angelica, mereka jadi selalu mengganggu kami.


“Sepertinya Konglomerat Wun mulai bergerak mencari kita,” bisikku, ke dua orang yang bersembunyi di gang antara dua Gubuk Kumuh, “Ayo kita ke Filed Dungeon saja!”


Dua orang berjalan keluar dari tikungan gang, dan mereka menatapku.


“Aku pikir itu ide yang buruk?”


“Ya. Kekuatan kita bahkan hanya bisa mengalahkan satu goblin saja. Di sana sangat berbahaya, Pope.”


“Ya. Bagaimana kita bisa bertahan di sana?”


Mereka berdua. Mo dan Ro. Menolak saranku begitu saja saat keluar dari gang tersebut.


“Aku tahu kita tidak bisa ceroboh tanpa adanya Angelica,” ujarku, mengerutkan kening  “tapi ....”


Tetapi aku tahu, pada saat ini, kami tidak punya pilihan lain.


Sebab aku ingat Angelica pernah bilang, kalau Keluarga Konglomerat Anak Diberkati Tuhan mana pun memang sangat terobsesi dengan Pribumi Daratan Surga yang memiliki potensi.


“Heh, ketemu juga kalian!” seru seorang Gadis Vanguard, “Aku nemu mereka! Cepet ke sini—aku ada di pinggir gerbang perbatasan desa Village Point Zero!”


Gadis Vanguard Pemula itu menghadang kami bertiga sambil terus memanggil bantuan rekan party kecil-nya.


Ya. Inilah pertama kalinya aku, Mo dan Ro melawan seorang Anak Diberkati Tuhan, walaupun dia hanya seorang pemula.


Dia memang hanya Player Newbie yang biasa aku, Mo dan Ro temui di Village 0, namun aku tidak pernah meremehkannya.


Ya. Aku sudah pernah bilang bahwa situasi seperti ini memang sama sekali tidak akan pernah mudah.


“Mo, Ro,” ujarku ke dua NPC di samping kanan dan kiriku, “Anggap saja dia ini satu Monster Class D—kita pasti bisa kabur darinya. Dan kita bertemu di tempat biasa kita semua meng-grinding monster dan aliens bersama Angelica ...”


“”Oke.””


Sambil berbisik, “Berpencar,” aku berbalik dan langsung berlari.***