RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY

RE: HIGH HUMAN ARTIFICIAL TECHNOLOGY
#REHHAT [2] – [36] Perisai Daging (1/3)



“Ng ...?”


 Angelica memandang Pope.


“Tidak. Bukan apa-apa,” tukas Pope, menggeleng, “Maksudku, kenapa kakak sangat suka anak bernama Mamat itu?”


Angelica terdiam, hanya menatap anak kecil NPC yang duduk di sampingnya itu. Dia masih ingat jelas, sejak mereka pertama kali bertemu, hanya perempuan cantik itu yang selalu bercerita panjang lebar. Dan setiap saat mereka barter Nut.0, Angelica pun selalu menyelipkan cerita masalah hidupnya sendiri walaupun dia pasti hanya akan direspons kosong dan datar oleh anak tersebut.


Anak kecil ini beda banget daripada NPC - NPC lainnya. Meskipun responsnya tetep gini-gini aja, kosong—tapi nggak dingin, aneh dan nyakitin kayak NPC biasanya, pikir Angelica. “Tunggu ... bukannya yang aneh itu malah anak kecil ini?!”


“Mmm? Aneh bagaimana maksudnya, Kak?” tanya Pope, heran.


Menurut Angelica, anak kecil NPC di sampingnya itu memang manis, namun, masih lebih manis dan menawan Mamat kecil—yang memang seorang anak dari Keluarga Konglomerat Ketas Atas—yang pasti lebih terurus.


Aku udah ngejelasin semua hal tentang emosi dan ekspresi—tapi dia tetep gini-gini aja, pikirnya, menatap Pope yang menatap balik dirinya dengan tatapan kosong dan datar, Uh ... Tapi ngebongkar ekspresi dingin anak ini kayaknya menyenangkan!


Angelica tiba-tiba sadar, mulai tergagap.


“Nggak—Bukan—Maksudku—Ya ... g-gitulah ... a-aku cuma suka semua hal tentangnya.”


“Jadi, apa saja yang harus kakak lakukan supaya bisa jadi Pahlawan Nasional itu?”


“Apa?”


Angelica tertegun setelah mendengar pertanyaan Pope. Sederhana, memang. Namun hal itu jadi terasa mustahil untuknya, setelah dia mengingat kehebatan dan kesempurnaan Mamat dalam menyelesaikan sesuatu. Dia tidak mungkin bisa menang melawan Anak Emas itu jikalau hanya mereka berdua saja yang bersaing untuk menjadi Pahlawan Nasional.


“Aku pikir gelar itu tidak mudah untuk didapatkan.”


“Ah!? Iya juga, ya. Kamu bener, Pope.”


Angelica mengangguk-anggukkan kepalanya, sangat paham tentang itu. Dia sangat mengetahui seberapa sulitnya orang yang tak berbakat seperti dirinya untuk menjadi Pahlawan Nasional.


“Seperti itulah. Bahkan rasanya mustahil untuk aku bisa masuk meski hanya ke jajaran Calon Pahlawan Nasional, huh,” desah Angelica, menutup wajahnya sendiri dengan dua telapak tangan, lalu menggeleng, “Buat dapetin Slot Calon Pahlawan Nasional aja pasti sulit banget—tapi aku nggak mau nyerah! Aku mau jadi Pahlawan Nasional—aku pingin bisa berdiri sejajar dengan Mamat!”


Angelica kembali bersemangat kendati sebelumnya terlihat cukup ragu.


“Tapi ... apa kamu mau ngebantu aku, Pope?”


“Bantu apa?”


“Apa aja lah! Nggak tau kenapa, sekarang ini aku ngerasa, selama kamu ada di sisiku semuanya akan jadi baik-baik aja.”


Angelica tersenyum menawan sembari memandangi Pope. Kedua mata emas Anak Diberkati Tuhan Perempuan itu memancarkan cahaya penuh semangat dan tekad.


“Maksud kakak?” tanya anak kecil NPC itu, bingung.


“Tenang, Pope ... aku pasti bayar kamu, kok,” tegas Angelica, menaikkan alisnya, memastikan hal itu.


Namun Pope malah bertanya, “Tapi apa bisa nanti saja? Setelah ayahku sembuh, maksudku,” lalu kemudian berkedip padanya.


Anak kecil NPC itu mengutarakan kekhawatirannya dengan ekspresi datar dan dingin seperti biasa.


Dia mengutarakan sesuatu yang menyedihkan tapi ekspresinya tetep kayak gitu ... Rasanya jadi keliatan aneh banget, demikian pikir Angelica, terkekeh.


“Itu gampang ... bisa diatur,” balas Angelica, “Toh tes untuk masuk jajaran Calon Pahlawan Nasional-nya juga masih lama, kok.”


“Jika seperti itu, saya pulang dulu, Kak. Sampai jumpa lagi besok.”


“Ah? Besok aku nggak bisa ke sini, Pope. Ada pertemuan yang aku wajib datengi.”


Pope menghentikan langkahnya, menoleh. Dia menatap tepat ke arah Angelica yang masih tersenyum menawan padanya.


“Tenang ... hehehe ... Nih!”


“Ini ...?”


Pope menerima dua buah Golden Candy dari Angelica.


“Anggap aja itu uang muka,” kata Angelica, tersenyum lebar.


Pope tiba-tiba terdiam, berdiri memaku di tempat, melihat dua buah permen bercahaya emas di tangannya, lalu menatap kembali Angelica.


“Ya. Kalau begitu—“


“Sampai jumpa lusa nanti!”


Angelica memberi salam perpisahan sembari tersenyum cerah, lalu langsung berbalik pergi begitu saja.


Pope melihat kembali dua buah permen emas di tangannya.


"Besok kami tidak akan bertemu?" gumamnya.


Tiba-tiba dan entah mengapa, tepat di pusat batang tubuhnya, dia merasakan perasaan aneh yang belum pernah dia rasakan. Namun, setelah dia mengkonsumsi satu permen emas, perasaan tersebut langsung menghilang.


Anak tersebut tidak lain adalah Mo. Dia sudah berada di Ladang.0 tak lama sebelum Pope datang. Dia dan Ro menunggunya di tempat biasa, tepat pada saat para kakek mereka belum selesai di ladang.


“Ya. Biasanya semua hasil pertanian energi di setiap desa—seperti Nut Point Zero, Lobak Point One, Kol Point Zero dan sejenisnya harus dijual ke Anggota Korporat setempat untuk kepentingan Negara Adidaya kita ini,” tambah Ro.


“Ya. Kalau kami cukup aman ngejualnya selalu ke para Penjaga Anggota Korporat,” timpal Mo.


Ya. Pope mengabaikan mereka—sama sekali tak menghiraukan dua anak itu—layaknya mereka berdua selama ini mengabaikannya.


Sejak saat inilah Pope mulai mengabaikan mereka berdua; Begitu pula Mo dan Ro akan selalu acuh tak acuh padanya.


Kenapa aku melakukan ini?


Merasa diabaikan, Mo dan Ro hanya bisa diam kembali, tanpa ekspresi dan emosi memandang kakek mereka yang sedang bekerja di ladang. Begitu pun Pope, yang sedari awal memang sengaja mengabaikan kedua anak itu.


Kenapa hari ini aku merasa aneh?


Itulah apa yang dipikirkan oleh Pope pada esok harinya di tempat yang sama dia berdiri kemarin. Dia menengok ke kanan namun tak ada Mo dan Ro di sekitarnya. Pope tahu jika kedua anak itu sudah pergi ke Gerbang Perbatasan Desa.


“Pada waktu seperti ini biasanya aku mendengar cerita-cerita aneh dari Angelica,” gumamnya. Dan, kenapa juga aku merasa seperti ini?


Dia menatap langit dengan ekspresi yang sama.


“Ya.” Pope kembali menatap para kakek yang sedang mencangkul di ladang. Aku ingin sekali bertemu dengannya.


Hari terasa sangat lama berganti baginya. Sampai Mo dan Ro kembali ke ladang pun, Pope tetap memikirkan dan mengingat cerita-cerita aneh yang Angelica ceritakan padanya.


Dia berjalan pulang dengan tempo langkah kaki kakeknya, namun, entah mengapa dia merasa ingin berlari ke Gubuk Kecil mereka dan cepat-cepat tidur.


Tetapi tepat saat dia berbaring di lantai, masih di samping kakeknya, Pope untuk pertama kalinya tidak bisa tidur.


“Ada apa denganku?” gumamnya, bingung.


Pope melihat pintu kamar Ayahnya. Entah mengapa dia bangkit dan mendekatinya.


“Apa ayah sudah pulih?” gumamnya, lagi.


Dia membuka pintu hanya dengan sedikit celah. Mengintip kedalamannya, dia melihat ayahnya sudah lumayan pulih. Luka pada tubuhnya perlahan sembuh dengan Syringe.0 pemberian Angelica.


Aku harus mendapatkan Syringe itu lagi, demikian pikir Pope.


Dia pada akhirnya sama sekali tidak tidur.


Melihat kakeknya pergi ke tengah ladang bersama kakek-kakek lainnya, Pope langsung berlari menuju ke arah Taman Kumuh, tempat dia dan Angelica biasa bertemu. Dia mengabaikan rutinitas biasanya—seperti menghindari kecurigaan Mo dan Ro.


Namun, tidak ada siapa pun di sana. Dia berdiri di hadapan bangku taman untuk waktu yang cukup lama.


“Mungkin dia tidak akan datang hari ini,” gumamnya.


Dia melihat langit, menyadari senja sudah tiba—waktu di mana dia harus kembali.


“Ya. Aku—“


“Kamu nungguin aku?”


Pope menoleh ke belakang bahunya, dan tepat di belakang kursi yang dia duduki, seorang perempuan cantik terlihat olehnya sedang berdiri sembari tersenyum menawan.


“Maaf udah nungguin aku—ada urusan mendadak,” ujar Angelica, lalu menghela napas panjang, “Urkh ...  Maksudku .. Kenapa, sih, hari ini rasanya berat banget.”


Angelica mengeluhkan sesuatu, dan langsung duduk di samping Pope.


Seraya menceritakan apa yang baru saja diketahuinya tentang manfaat menjadi Pahlawan Nasional, Angelica langsung meminta diantar ke segala tempat—yang anehnya memang sudah dia tahu.


Pope hanya diam, mendengarkan apa yang diceritakan Angelica.


Manfaat menjadi seorang Pahlawan Nasional sangat banyak. Seseorang yang memiliki gelar tersebut bisa mendapatkan Sumber Daya, Tempat Tinggal, Kekuasaan dan kekuatan lainnya. Ia pun akan menjadi penguasa di urutan ke-2 setelah Korporat Daratan Utama. Namun yang paling diinginkan semua orang yaitu koneksi ke lingkaran pengaruh Eksekutif Korporat, serta kemungkinan untuk menjadi Eksekutif Korporat.


Pope dan Angelica hanya berjalan-jalan ke luar desa—tempat yang masih terbilang aman. Dari tempat Gerbang Dungeon, Mini Dungeon, hingga perbatasan Field Dungeon. Lalu pada akhirnya, mereka berdua berjalan ke arah Ladang.0 di pusat Village.0.


Ya. Pada dasarnya, perempuan itu memang hanya ingin jalan-jalan saja bersama Pope.


“Maaf aku ngoceh tentang banyak hal ...” keluhnya, sedikit murung, “Hari ini terasa sangat berat untukku.”


“Jadi, apa yang kita lakukan ini, Kak?” tanya Pope, heran, “Aku pikir, kakak tidak akan bisa menjadi Pahlawan Nasional jika hanya berkeliling desa ini?”


Angelica mengangguk-anggukkan kepala, namun dengan ekspresi wajahnya terlihat kebingungan.


“Urkh ... yaa .. kamu bener. Untuk sekarang, aku cuma bisa naikkin level-ku aja, sih?”


“Mmm, Kak ... Apa itu lepel?”***